
Alice Demelza Reagan, putri sulung dari pria menawan yang namanya mendunia karena kesohorannya dalam dunia bisnis. Apalagi semenjak dia bersanding dengan Demelza Antonic, yang tak lain merupakan ibu kandung dari Alice yang meninggal beberapa tahun silam. Semenjak kecil kehidupan Alice hanya bermain dengan dunia fantasi dan imajinasinya saja, jarang sekali ayahnya menjenguk atau menanyakan kabarnya karena kesibukannya. Karena kurangnya sosialisasi dia menjadi anak pendiam yang takut akan dunia luar, bahkan ia setuju saat ayahnya menekannya untuk mengikuti les privat di bandingkan harus pulang pergi ke sekolah, menurut Reagan itu sangat menyulitkan untuknya. Namun dibalik semua itu, ada sahabatnya yang selalu hadir untuk menemani Alice walaupun tidak setiap hari.
"Bibi, jangan biarkan Alice keluar hari ini...jangan lupa tugas yang di berikan oleh guru privatnya segera ia kerjakan, nanti saya akan mengeceknya sendiri" Tegas Reagan yang langsung berlalu tanpa mendengar jawaban dari Asisten rumah tangganya itu,
"Selalu saja begitu, semenjak nyonya Demelza tiada, nona Alice tidak pernah lagi keluar rumah. Yang aku takutkan dia menjadi anak yang penyendiri selamanya" Batin Alysa yang khawatir dengan masa depan remaja cantik bertubuh mungil itu, kini ia tengah berkutat dengan tugas-tugasnya karena Alice tidak mau mengecewakan ayahnya.
"Nona makan dulu ayo, sejak pagi nona belum sarapan!" Titah Alysa yang khawatir akan kesehatan Alice, apalagi tubuhnya nampak semakin mengurus,
"Aku sudah makan roti sama susu tadi, oh iya bibi Alysa, jangan panggil aku nona lagi. Aku ini Alice bukan nona" Ucapnya yang membuat Alysa terkikik geli.
"Baiklah Alice, tapi anda harus makan terlebih dahulu. Sarapan roti dan susu itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh anda sehari-hari ini" Pinta Alysa yang pada akhirnya dibalas anggukan oleh Alice, sebenarnya Alice enggan untuk makan. Namun teringat seringkali Alysa dibentak oleh ayahnya karena ulah dirinya, Alice sekarang akan menuruti perintah Alysa dengan baik. Asal itu tidak membuat orang kedua yang dia sayang setelah ibunya itu tidak menderita.
"Wah bibi dapat makanan ini dari mana? " Tanya Alice yang begitu semangat melihat menu makanan yang tertera di meja makannya,
"Tadi saya dan beberapa koki dirumah ini membuatkannya untuk Alice, semoga anda suka ya" Balas Alysa yang masih mematung memperhatikan nona mudanya yang mengambil makanan dengan antusias,
"Mau saya bantu Alice? " Tanya Alysa yang nampak merasa tidak enak melihat Alice yang sedikit kesusahan,
"Ah... terimakasih, tidak perlu" Balas Alice dengan senyum nya yang selalu nampak manis, namun tak lama kemudian dahinya berkerut melihat bibi nya itu tengah mematung memperhatikan dirinya, Alysa yang menyadari itu pun langsung meminta maaf kepada Alice.
" Ah maaf Alice, saya lancang" Ucapnya dengan tubuh yang setengah membungkuk,
"Hai bibi, kau ini kenapa? ayo kita makan bersama. Jangan lupa kita ajak pak Angelino dan Althara" Titah Alice yang diberi tanggapan ragu oleh Alysa, sekedar informasi. Angelino adalah sahabat papahnya semenjak mereka kecil, sedangkan Althara adalah anak dari Angelino itu sendiri. Dia memang sering meluangkan waktunya untuk bertemu Alysa bersama Angelino yang dipercaya untuk menjaga Alice sekaligus menjadi kaki tangannya Reagan. Sekalipun mereka punya perusahaan yang hampir besarnya seperti milik Reagan.
" B-baiklah, tunggu sebentar ya Alice" Ucap sang bibi yang sebenarnya merasa tidak enak jika selalu makan bersama dengan nona mudanya. Tak selang beberapa lama, kedua pria yang dipanggil oleh Alice pun datang dengan wajah dan postur tubuh yang selalu nampak menawan, yang satu berwibawa dan yang satu tengil. Siapa lagi kalau bukan Althara yang selalu bersikap petakilan hasil didikan teman-teman di sekolahnya itu.
" Hai Alice, makan yang banyak noh...lo mau cosplay jadi tengkorak? " Tawa Althara yang langsung duduk di sebelah Alice, di samping candaanya itu nampak mata Althara yang menyorot sendu tubuh sahabatnya yang semakin kurus itu,
" Dih, biji ketumbar satu ini kalau ketemu gue selalu aja" Sindir Alice dengan bahasa gaulnya yang memang tertular dari Althara,
"Hei nangka busuk, apa yang gue katakan tuh really okey. Lihat tubuh loh tuh.... makannya sering makan, atau perlu gue suapin lo pake sekop?" Tanya Althara dengan tatapan tajam, bagaimanapun dia tidak ingin jika sahabatnya itu sakit, apalagi dia sekarang jarang menjenguk Alice mengingat dia sudah kelas tiga SMP yang tengah super duper sibuk itu. Dia khawatir jika sahabatnya itu terlalu lama sendiri dan tidak terkontrol.
"Nah gitu dong bagus, gue gak mau ya punya sahabat ceking kaya lo" Sarkas Althara yang langsung melahap makanan yang sudah di sajikan,
" Papa Bear ko melamun? " Panggil Alice kepala Angelino yang memang jika bertemu langsung memanggilnya dengan Bear,
"Saya pusing melihat kelakuan kalian berdua yang sama seperti cacing liar" Ucapnya yang mengandung gelak tawa di meja makan itu, Alysa yang melihat nona muda nya begitu bahagia setiap kali kedua lelaki itu berkunjung pun, ikut tersenyum dengan tingkah mereka yang terbilang konyol.
"Oh iya tadi papa pamitan dulu gak ke papa Bear? " Tanya Alice di sela-sela makan nya itu
"Pamit ko, kebiasaan memang papah kamu itu. Sahabatnya berkunjung dia malah pergi" Ucap Angelino menggeleng-gelengkan kepalanya,
"Papah kan sibuk, apalagi dia banting tulang sendiri buat aku papa bear" Wajah Alysa berubah sendu, mengingat papahnya yang memang jarang bermain atau berbincang dengannya sekarang, Angelino melihat gadis cantik itu akan murung langsung mengalihkan topik.
" Kamu mau gak, weekend nanti kita jalan-jalan ke wahana berbagai permainan? " Tanya Angelino menghibur Alice namun sangat antusias,
"Wah serius, ayo papa bear... kayaknya seru deh" Balas Alice dengan gembira,
"Baiklah, biar papa nanti yang bilang sama ayah kamu ya" Ucap papa bear yang di balas anggukan oleh Alice,
"Aku diajak gak pah? " Tanya Althara yang merasa dianak tirikan,
"Oke deh, lumayan buat pegang barang belanjaan" Jawab Angelino yang tertawa melihat raut wajah anak kandungnya itu berubah masam,
"DASAR ANGELINO TENGIK" Balas Althara setengah berteriak dan itu berhasil membuat mereka tertawa,
"Jadi kamu gak mau nih? " Tanya Angelino yang terkesan sedang menjahili Althara,
" Ikut lah, ya tapi jangan bawa barang juga dong Linooooo" Tekan Althara seperti wanita yang merajuk, padahal tampangnya seperti badboy.
"Oke deh, Viks weekend ya" Kata Alice dengan semangat.