Could It Be Fate ?

Could It Be Fate ?
Dalam masalah



Seperti biasa Kevin, Rian dan Leon setelah bel istirahat berbunyi mereka akan pergi ke kantin entah itu untuk makan atau sekedar untuk nongkrong disana. Tempat paling sering mereka datangi selain rooftop.


Sepanjang jalan, banyak ratusan pasang mata kaum hawa yang tak bisa lepas menatap ketiganya. Tentu saja, tatapan mereka tertuju pada si Cassanova berdarah dingin. Kevin Imanuel Cavindra.


Cowok itu pasti selalu mengundang banyak pujian dan tatapan memuja dari para kaum hawa, walaupun tak sedikit juga yang tak menyukainya karena reputasi nakal dan hobby berkelahinya.


Meskipun terkenal sangat nakal dan bahkan dikatakan sebagai tingkat kenakalan tertinggi di Xavier karena tak jarang membuat ulah dan keributan dengan berkelahi. Namun, dalam hal akademis cowok itu tidak lemah. Kevin bisa dibilang cerdas hanya saja dia malas mengasah kemampuannya. Terlepas dari hal itu ia adalah ketua tim basket kebanggaan Xavier yang selalu berhasil membawa pulang piala kemenangan bersama timnya. Oleh sebab itu Kevin selalu dalam posisi aman.


Belum lagi kakeknya yang merupakan ketua yayasan sekaligus donatur terbesar di Xavier sehingga memungkinkan ia untuk melakukan segala sesuatu sesuai kehendaknya, mungkin itulah yang membuatnya terkenal sangat arogan sehingga tak ada yang berani mengusiknya. Siapapun yang berani mengusiknya tak pernah berakhir baik.


Selain itu, sikap dan karakternya yang keras menjadikannya sulit digapai sehingga banyak kaum hawa yang tak berani mengungkapkan perasaan mereka secara langsung, walaupun ada yang berani mereka hanya akan diabaikan sampai akhir.


****


Rian dan Leon tampaknya sangat menikmati makan siang mereka. Lain halnya dengan Kevin, sudah banyak menit berlalu tapi cowok itu hanya memutar-mutar jus di depannya, matanya tampak tenang, tak ada yang bisa menebak apa yang ada di pikirannya.


Hanya Tuhan yang tahu bahwa sebenarnya matanya tengah mencari seseorang yang ia tunggu sejak tadi namun belum kunjung muncul. Cowok itu bahkan belum memesan makanan apapun, minumannya pun belum ia sentuh sama sekali.


" Kev, lo nggak mesan makan ? " tanya Rian yang sedang menikmati makanannya yang sebentar lagi ludes tak bersisa.


" Nggak selera makan " Ucap Kevin seperti biasa tanpa penjelasan.


“ Kenapa lo ? perasaan tadi baik-baik aja " Balas Rian sebelum bertanya asal menebak " lo nunggu Violette ? "


Kevin tak menjawab, cowok itu hanya diam namun perubahan raut wajahnya bisa Rian lihat jelas.


" Lo beneran sama Violette ? " Rian mengubah pertanyaannya namun dengan maksud yang sama.


" Beneran ?" tanya Leon mengulangi pertanyaan Rian.


Kevin menghembuskan napas berat " Liat nanti "


Hanya dua kalimat itu yang Kevin katakan sebelum beranjak dari duduknya. Dia tak akan menunggu disini.


" Eh, lo mau kemana ? " Tanya Leon. “Woi tungguin Kev” Seru Rian sebelum ia menyusul Kevin bersama Leon.


****


Violette yang sudah selesai dengan tugasnya, merenggangkan jarinya-jarinya yang serasa akan runtuh.


Mengerjakan mengerjakan rangkuman fisika dan matematika, sekaligus mengerjakan masing-masing 5 soal yang ada di akhir bab memang cukup melelahkan otaknya.


Violette berdiri membereskan tempat pensil dan mengembalikan buku yang mereka pakai ke rak buku. " Akhirnya selesai juga, kepala gue udah penuh sama rumus-rumus Fisika dan Matematika "


" Gue juga, ditambah tangan sama punggung gue pegal banget kebanyak duduk dan nyatet. Tapi nggak apa-apa liat tugas udah kelar, hidup gue berasa tenang. "


Grace mengucapkan kalimat tersebut dengan senyum penuh diwajahnya. Gadis itu merasa beban dipundaknya seolah hilang.


" Gue apalagi " tambah Anna


Lain halnya denga Tiara, dia sudah mengeluh minta makan sejak tadi, walaupun soal fisikanya belum selesai ia kerjakan. Tiara tak peduli, toh hanya tinggal satu soal yang belum ia kerjakan, dia sudah lelah dan pusing untuk menggambar grafik lagi.


" Sekarang gue malah kelaparan gara-gara tenaga di otak gue terkuras habis " Celetuk Tiara. " Ke kantin yuk, cari makan gitu " rengek tiara pada sahabat-sahabatnya. " Pengen beli mie ayam, siomay, es, ba... "


" Batagor, cireng, tahu bulat, pisang goreng " ucap Anna yang memotong kalimat Tiara. " Udah hapal kan gue, makanan favorite lo, mie ayam serta gorengan dan jajarannya "


Anna hapal betul makanan yang akan Tiara beli di kantin. Tiara memang sangat mencintai olahan mie dan gorengan serta micin yang banyak. Beruntung bahwa gadis itu mempunyai metabolisme super jadi badannya tetap langsing ditempat.


" Dia kan makannya kalau nggak gorengan ya micin " sindir Grace, namun gadis itu tak benar-benar serius dengan ucapannya, hanya berniat agar Tiara mengganti makananya dengan makanan yang lebih sehat.


" Ra, sekali-kali tu makan sup atau nggak salad, jangan makan yang nggak sehat terus " Tegur Violette, dari mereka bertiga memang Tiara yang sangat doyan makan makanan tak sehat seperti gorengan, apalagi kalau dia sudah bertemu cilok, pisang goreng, dan cireng.


" Kita gini biar lo kurangin makan gorengan " Nasihat Violette. " Nggak sehat Tiara kalau jajan gorengan tiap hari "


Violette lalu beralih ke bindernya, mengambil selembar uang 50 yang dia selipkan disana " Gue nitip makanan yang biasa ya "


Grace, Tiara, dan Anna hanya mengangguk patuh.


" Yaudah, tunggu apa lagi ciwi-ciwi aku. Sekarang kita ke kantin yak, perut gue udah minta makan " celetuk Tiara dengan rengekan anak kecil, sambil menarik lengan Anna dan Grace karena mereka belum kunjung bergerak, padahal perutnya sudah sangat lapar.


“ Iya, iya " Ucap Grace yang berjalan lebih dulu, membuat Tiara bersemangat.


Baru saja sampai di pintu keluar perpustakaan , tiba-tiba Grace berhenti mendadak sambil merentangkan tanggannya. Akibatnya Violette, Tiara dan Anna juga ikut berhenti.


" Lo kenapa sih Grace, berhenti tiba-tiba? " tanya Violette bingung


" Tau ah Grace, gue udah lapar juga, ngapain pakai berhenti-berhenti segala " tambah Tiara


Bukannya menjawab, Grace malah berbalik kearah Violette " Vio, bukankannya lo harus ke kantin bareng Kevin ya ? " ucap Grace teringat sesuatu.


Ini adalah istirahat kedua, mereka sudah melewatkan istirahat pertama mereka dengan hanya berada di perpustakaan, itu artinya matanya tidak salah melihat.


" Sejak kapan gue mau ke kantin bareng Kevin, tadi kan .. "


Satu tangan Grace berhasil menghentikan ucapan sahabatnya sementara tangan lainnya Grace gunakan membenarkan kacamatnya.


" Nah, tuhkan benar, gue nggak salah lihat " Ucap Grace sambil menunjuk kearah depan.


" Sekarang lo liat siapa yang lagi jalan kesini " Celetuk Grace yang langsung minggir, membiarkan Violette melihat 3 orang cowok yang nampaknya memang sedang berjalan kearah mereka, satu diantaranya sedang menatap Violette dari kejauhan dengan tatapan sulit diartikan.


" Oh Geez! " Violette menatap frustasi kearah Kevin yang perlahan tapi pasti telah mendekat, " Dia cenayang ? kok dia bisa ada disini juga ? " Ucapan Violette entah pada siapa seolah meminta penjelasan, kenapa gadis itu berusaha menghindar tapi Kevin malah menghampirinya.


“ Oke, sebelum dia sampai sini mending kita pergi sekarang " Ucap Violette yang kemudian mempercepat langkahnya.


" Mau kemana ? " akhirnya sahutan keras itu menghentikan langkah kaki Violette.


Violette belum membalikan badan, hanya langkah kakinya yang terhenti. " Violette so stupid! lo kenapa berhenti. " Violette merutuki dirinya karena menyadari kebodohannya.


" Berniat mengabaikan ucapan gue ? " Tanya Kevin setelah dia berjalan dan berdiri di hadapan gadis itu " Mendadak amnesia ? lupa ? atau .. “ Kevin menggantungkan kalimatnya bibirnya mengayun menunjukan senyum mengejek menampakan senyum sinis “ Menganggap angin lalu ? “


Dugaannya memang benar, gadis ini menghindarinya. Berniat mengabaikan ucapannya, lihat saja apa yang bisa ia lakukan.


" Oh Tuhan, apa lagi sekarang !?" batin Violette. Cowok di depannya ini kenapa selalu mengeluarkan kalimat yang tidak masuk akal dan menjengkelkan!


“ Setelah sembunyi disini lo mau kemana lagi ? “ Ujar Kevin


“ Memangnya apa urusannya sama lo ? Hah! “ Ingin rasanya Violette meneriaki kalimat itu, namun ia urungkan. Dia memilih diam seolah mengacuhkan ucapan Kevin. Berteriak hingga naik darah pun sepertinya tak akan mempan.


" Selain pelupa, lo ternyata juga udah nggak tau cara ngomong dan mendengar yang baik ya " Kevin tertawa Sarkatis, ia menjadi kesal sendiri melihat tingkah Violette.


Violette masih saja diam, tanpa berniat membalas kalimat apapun, berdebat dengan orang ini pasti tak akan ada ujungnya, dia harus tenang, dan berusaha mengabaikannya.


“ Oke, kalau itu mau lo " Ucap Kevin sambil tersenyum yang membuat Violette bergidik, jelas dari ucapannya ada maksud terselubung. Violette merasa ia akan dalam masalah.   " lo.. lo mau apa ? "


***


Salam hangat


Rachel 🧡