CONTRACT WITH THE DEVIL

CONTRACT WITH THE DEVIL
#5



Leona mencari cara supaya dia tidak melakukan operasi itu. Setidaknya, dia harus bisa mengulur waktu selama sebulan. Satu-satunya cara adalah harus membuat dr. Edward merubah keputusannya. Dan dia sendiri tidak tahu seperti apa caranya. Bukan hal yg mudah untuk membuat dokter itu percaya jika dia harus mengarang bebas.


“Leona…”


Tiba-tiba saja seseorang membuyarkan segala hal yg dipikirkannya. Leona menoleh dan melihat seseorang yg memanggilnya.


Leona terperanjat begitu melihat dan sangat mengenali orang itu. Leona yg saat ini sedang duduk di taman rumah sakit bena-benar tidak


menyangka akan pertemuan itu. Dan seperti biasanya, dia tidak pernah menunjukkan ekspresi apa pun dari wajahnya, poker face adalah andalannya.


“Maaf, Anda siapa?” Tanya Agus pengawal yg mendapat tugas menjaga Leona selama berada di rumah sakit.


Leona dan orang itu melihat ke arah Agus dan mencoba menghalangi dia. Penjagaan yg sangat ketat mengingat betapa pentingnya Leona untuk organisasi dan orang-orang didalamnya.


“Apaan sih, Lu? Ngapain halangin orang yg mau ketemu saudari sendiri,” tiba-tiba seorang wanita yg sangat angkuh berbicara dengan sombongnya.


Tapi dasar Agus. Dia tidak bergeming dari posisinya. Malah, dia menatap tajam kepada wanita itu. Agus tetap tidak membiarkan mereka mendekati Leona.


“Tapi, saya saudaranya…….” kata yg satu lagi.


Agus tidak memercayai begitu saja. Dia tidak ingin mendapat masalah karna lalai akan pekerjaannya. Selain itu, Agus juga tidak mau Leona celaka, yg sudah pernah menyelamatkannya dari maut.


“Cih… saudara,” gumam Leona sambil mendecih meremehkan.


Mereka serentak melihat Leona yang memandang tanaman didepannya dengan senyum sinis tersungging dibibirnya.


“Eh… Leona… sombong banget lu. Sudah hilang selama 10 tahun, tiba-tiba muncul di dini. Emang lu punya uang buat bayar rumah sakit ini?” kata wanita itu dengan angkuhnya.


“HAHAHAHAHHAHAHA….” Leona tertawa keras mendengar ucapan angkuhnya.


“Bayar ya!?” kata Leona sambil menghapus air mata yg keluar dari sudut matanya akibat tertawa yg keras.


Kemudian dia menatap dua orang itu. Setelah itu mengalihkan perhatiaannya ke tanamanan di depannya.


“Anda adalah wanita yg paling memalukan yg pernah saya temui. Dan, Anda benar-benar tidak memiliki klas yg pantas untuk mengenakan pakaian dari perancang terkenal,” Leona berkata tajam dan sangat menyakitkan.


“Leona, kamu kemana selama ini? Kamu tidak berbuat sesuatu yg memalukan, kan?”


Leona menatap tajam kepada orang itu. Agus yg berada tepat di samping Leona bergerak maju, namun dihalangi oleh Leona.


“Agus!!” Seru Leona tegas.


Agus menghentikan niatnya dan melihat kearah Leona.


“Aku mau kopi. Tolong ambilkan,” perintah Leona.


“Maaf, Nona. Anda dilarang keras oleh dokter untuk minum kopi saat ini,” Agus menolak dengan santun.


Leona menatap Agus tajam.


“Tanya dokter. Selain mineral water, apa yg harus atau bisa ku minum,” perintah Leona.


Agus tidak langsung pergi. Dia mengkhawatirkan Leona.


“Jangan bodoh, Agus!!!”


“Mereka bukan apa-apa. Kau tidak bisa membedakannya?”


“Kau harus pelajari lagi. Aku akan suruh Paman Sargas memberikan pelajaran buatmu. Atau aku saja. Dan kau bersiaplah menerima pelatihan dariku.”


Agus yg mendengar pernyataan Leona yg bagaikan sayatan pisau tajam langsung pergi begitu Leona menyelesaikan ucapannya. Dia benar-benar tidak ingin ikut dalam pelatihan yg dirancang oleh Leona.


Mereka yg mendengar itu sangat terkejut dan bingung. Bagaimana Leona memberi perintah pria berbadan kekar dengan wajah menyeramkan dibalik pakaian jasnya yg kelihatan mahal itu. Mereka melihat Agus yg meninggalkan Leona yg duduk di bangku taman.


“Silahkan duduk, kalau mau duduk.......”


Leona memejamkan matanya sebentar sembari menarik napas dan wajahnya masih mengarah ke tanaman di depannya.


“Leon,” sambungnya lagi.


Tapi, Leon dan wanita yg bersama dia memilih duduk di bangku yg ada disamping Leona. Leona melirik sinis ke arah mereka.


“Apa yg kau lakukan di sini?” Tanya Leon.


“Pertanyaan bodoh,” kata Leona yg kemudian melipat kedua tangannya.


Leon terkejut mendengar ucapan Leona. Dia kemudian melihat Leona.


‘Eona, kenapa kamu seperti itu? Sejauh apa perbuatanmu? Kenapa bisa begini?’


Leon bertanya dalam hati.


Leon melihat dengan tatapan penuh menyelidiki. Dan, Leon kemudian menyadari ada yg aneh pada Leona.


“Kamu….. sakit?!?!” Tanya Leon bimbang.


Leon menangkap raut wajah dari Leona yg sudah terlihat lelah dan pucat.


“Sakit apa?” Tanya Leon lagi dan kali ini lebih perhatian dan nada khawatir.


Leona melihat Leon sekilas dengan mata yg dipicingkan.


“Astaga……,” kata Leona berpura-pura heran.


“Memangnya mama kamu tercinta itu tidak pernah memberitahukan masalah ini, Leon?”


Leon tidak menjawab hanya diam menunggu jawaban.


“ck..ck…ck…. kau dibohongi dong kalau begitu,” kata Leona dengan nada provokasi.


“Heh…. Leona. Tidak perlu bertingkah layaknya orang penting ya. Kak Leon nanya ya jawab saja,” kata wanita yg bersama Leon sinis.


Leona memiringkan kepalanya dan menatap wanita itu dengan cara meremehkan.


“Daisy…. Daisy…. Masih saja bertingkah sok manja. Padahal cuma saudari tiri doang,” kata Leona.


Sejujurnya, Leona sudah merasakan sakit hati akan kehadiran mereka.


Daisy langsung berdiri, “HEH….. LEBIH BAIK JADI SAUDARI TIRI!!!! DARIPADA LU…. SAUDARI KEMBAR KAK LEON TAPI TIDAK DAPAT PENGAKUAN.”


“Daisy!!! Jaga bicaramu,” Leon beseru dengan sedikit tegas.


Daisy sungguh keterlaluan. Dia mengucapkan kalimat itu, di tempat terbuka dan dengan suara yg lantang.


“DAISY……!!!”


Suara seorang wanita yg berasal dari arah gedung rumah sakit menegur Daisy dengan keras. Serentak mereka bertiga menoleh dan melihat wanita itu.


“MAMA…..” Leon dan Daisy terkejut melihat si pemilik suara.


Sedangkan Leona, tidak menunjukkan ekspresi apa pun.


Wanita itu mendekati mereka. Sekilas saja, dia tahu kalau gadis yg bersama Leon dan Daisy adalah Leona, kembaran Leon. Walaupun berbeda jenis kelamin, Leon dan Leona adalah kembar identik. Yang memiliki kesamaan wajah sebesar 90%.


“Leona,” sebut wanita itu penuh dengan nada kerinduan.


“Kamu apa kabar, sayang,” katanya lagi sambil meraih tangan Leona.


Leona menjauhkan tangannya.


Ingin sekali Leona memeluknya dan menangis dipelukannya, Mama yg melahirkannya. Tapi, hal itu sangat tidak mungkin dilakukan.


“Eona,” wanita itu memanggil Leona menggunakan nama kecilnya.


Leona cuma menatapnya datar dan tidak menunjukkan ekspresi sedikit pun.


“Leona….”


Kali ini, yg memanggilnya adalah dr. Edward.


“Apa-apaan kamu, hah?!” dr. Edward bersiap mengomel.


“Mau minum kopi dalam keadaan seperti ini. Kamu masih dalam tahap pengawasan. Dalam tahap observasi,” kata dokter itu lagi.


“Astaga, Dok. Saya paham. Saya tidak minum kopi, kok,” kata Leona dengan nada yg berbeda kali ini.


“Tadi Agus datang ke ruangan saya dan mengacaukan meeting di ruangan saya,” kata dr. Edward.


Leona menatap tajam kepada Agus yg berlebihan dalam bereaksi. Leona yakin, kalau Agus memaksa masuk ke dalam ruangan dr. Edward hanya untuk bertanya hal yg tidak penting.


Padahal, Leona hanya mau mengalihkan perhatian Agus sebentar saja.


“Agus, kau kenapa jadi bodoh…!!!”


Leona bersiap hendak meninju Agus.


dr. Edward bisa membaca gerakkan Leona.


“Berhenti. Jangan sekali-kali menggunakan tinju mu di sini,” perintah dr. Edward.


Daisy, Leon dan Mamanya terkejut mendengar perkataan dokter itu.


“Jaga kesehatanmu, Leona. Kurang dari 2 minggu. Ingat itu Leona,” kata dr. Edward. “Dan lagi, siapa yg mengizinkan mu bekerja selama berada di rumah sakit?”


Leona kaget. Selama 3 hari dirawat, Leona memang sembunyi-sembunyi mengerjakan beberapa pekerjaan kantor.


“Asal kamu tahu, Leona. Atasan kamu si Irvin itu memaki ku habis-habisan karena mengizinkan mu bekerja menggunakan laptop rumah sakit,” dr. Edward menyampaikan keluhannya.


Leona menggaruk keningnya yg tidak gatal. Lalu, menatap tajam Agus, yg dia pikir membocorkan informasi selama dia dirawat.


“Kalau bukan kau? Siapa lagi?” Tanya Leona.


Agus menganggkat bahunya tanda dia benar-benar tidak tahu. Sesaat kemudian, Leona baru sadar dan melihat sekelilingnya. Leona kini tahu bahwa banyak pasang mata yg mengawasinya selama di rumah sakit.


“Ah… pengawasan berlapis. Kerjaan siapa ini?” Gumam Leona.


“Irvin Abraham,” kata dr. Edward.


“Siapa lagi kalau bukan dia?!”


Mendengar nama Irvin Abraham disebut-sebut membuat 3 orang yg berbicara dengan Leona mengernyitkan dahi.


‘Leona kenal Irvin Abraham?!’ Pertanyaan yg sama dan mereka tanya dalam hati.


“Sebaiknya kamu masuk ke ruangan. Agus dan ‘yg lainnya’ sedang mengawasimu,” kata dr. Edward memberikan penekanan pada kata yg lainnya.


“Baik, dok,” kata Leona nurut dan tidak menolak.


“Bawa dia, Gus. Kalau dia masih membandel, kau ikat saja tangan dan kakinya,” dr. Edward bertitah.


Agus menatap dokter itu dengan sorot mata takut.


“Jangan takut. Walaupun Leona itu atasan mu, kau dapat perintah langsung dari ku dan disetujui oleh Irvin.”


Mendengar itu, Agus kemudian tersenyum dan mengangguk.


“Baik, dok!”


“Kau…,” Leona berusaha mengintimidasi Agus.


“Maaf, Nona. Saya akan ambil perintah ini. Mari ikut saya. Jika Anda tidak menurut, maka saya atau kami akan mengambil tindakan,” kata Agus dengan tegas.


Leona sudah tidak ingin berdebat. Dia menurut untuk kembali ke kamar.


Kini, di taman itu tinggal dr. Edward dan keluarga Leona.


“Dok,” Mama Leona berbicara.


dr. Edward mengalihkan pandangannya menatap wanita itu.


“Bagaimana keadaan putri saya?” tanyanya.


Pertanyaan itu membuat dr. Edward terperanjat.


“Putri??? Maksud ibu, Leona? Leona Arimbi? Dia putri Ibu?” dr. Edward bertanya tidak percaya.


“Iya, dok. Dan saya Leon. Saudara kembar Leona,” Leon mengambil alih.


‘Jadi, ini keluarga Leona.’


‘Kalian sungguh keterlaluan.’


“Dokter…. Apa yg terjadi dengan Leona saya? Sudah berapa lama dia kesakitan?” Tanya mamanya khawatir.


dr. Edward menarik napas berat. Dia memutuskan memberitahu keadaan Leona yg sebenarnya. Berharap hal baik akan terjadi pada Leona.


“Sudah 10 tahun, Bu”


Leon dan mamanya terkejut.


“Se….sepuluh tahun dia menderita, dok?” leon tidak percaya akan apa yg dia dengar.


“Halah… dokter pasti bohong, kan?” Sambung Daisy sinis.


dr. Edward Luke kaget mendengar perkataan sinis itu.


“Maaf, Nona. Saya sangat berdedikasi untuk pekerjaan saya,” dr. Edward merasa tersinggung atas ucapan Daisy.


“Daisy,” panggil mamanya pelan dan lemah. “Jangan menghina dokter seperti itu.”


“Mama, jangan percaya sama ucapannya. Dia hanya salah satu dari dokter pembual itu,’ hina Daisy.


dr. Edward sungguh geram mendengarnya.


“Hei, Nona. Jaga bicara Anda! Saya Edward Luke bekerja dengan sepenuh hati dan berjuang untuk kesembuhan pasien!” Bentak dr. Edward.


Mendengar nama itu, mereka bertiga kembali terkejut.


“Dan lagi, Ibu. Saya tidak tahu apa yg kalian lakukan 10 tahun yg lalu pada Leona. Jika dia memang putri Anda, kenapa membiarkan Leona hampir mati? Jika dia telat 1 detik saja tiba di rumah sakit ini, kalian tidak akan pernah bertemu dengan Leona atau pun jasadnya,” dr. Edward emosi.


Leon terkejut mendengar kabar itu.


“Leona sakit apa, dok?” Tanya Leon.


“Sakit jantung. Dan penyakit itu adalah sakit yg diwariskan. Dan, kecil kemungkinan untuk bisa sembuh. Cara yg paling tepat untuk dapat bertahan hidup hanya mengandalkan ring,” dr. Edward menjelaskan.


Leon sangat kaget. Dia tidak menyangka berita yg dia terima begitu mengerikan. Selama ini, Leon telah salah paham.


Leon menatap mamanya penuh tanda tanya. dr. Edward meninggalkan mereka tanpa pamit.


“Ma…..” Leon memanggil mamanya lemah.


Mamanya, Ny. Yvonne Cloud melihat Leon dan air matanya terjatuh.


“Kenapa Leon tidak tahu?”


Ny. Yvonne menutup mulutnya. Kini, lututnya lemas. Penyesalan kini menghampirinya. Dia pun duduk di bangku taman itu dan menangis


penuh sesal.


Leon jongkok di depan mamanya. Dia pun tidak sanggup menahan emosinya. Leon menangis.


“Apa yg terjadi pada Eona, Ma? Selama beberapa bulan ini aku bertemu dengan dia untuk urusan bisnis, dan aku memandang dia penuh kebencian, Ma,” suara Leon bergetar.


“Maafkan Mama, Eon. Adikmu lahir dalam keadaan tidak beruntung. Dia lahir 20 menit setelah kamu. Itu pun harus melalui proses


operasi. Kamu lahir dengan selamat melalui proses persalinan normal. Tapi, tidak dengan Eona. Jantungnya lemah. Dia tidak bisa keluar dengan cara yg sama. Mama mengabaikannya. Mama tidak perduli. Mama hanya perduli kelahiran kamu saja.”


Ny. Yvonne menarik napasnya.


“Detak jantungnya yg lemah membuat tim dokter mengambil keputusan untuk melakukan operasi atas dasar kemanusiaan, tanggung jawab moral dan pekerjaan serta kode etik mereka sebagai tim medis. Tidak ada yg membenarkan jika mereka membiarkan atau menuruti keiningan kami untuk membiarkan dia meninggal ketika dilahirkan. Eona berhasil lahir dengan selamat. Eona berjuang sendiri untuk lahir dan hidup,” Ny. Yvonne menjelaskan dengan


tangisan yg memilukan.


Mendengar itu, Leon sangat terkejut. Dia terduduk lemas di atas rumput. Leon menangis. Suara tangisan yg begitu memilukan. Dan seketika itu juga dia membenci dirinya sendiri. Membenci perlakuannya terhadap saudari kembarnya yg seharusnya dia jaga dan lindungi. Dia menangis tanpa  perduli pada tatapan orang-orang disekitarnya.


Leon mengangkat wajahnya. Menatap mamanya.


“Mama mau tahu sesuatu?” Tanya Leon dengan suara yg sesenggukan akibat menangis.


“Waktu SMA, Leon dan teman-teman Leon yg lainnya merundung Leona, Ma,” kata Leon dengan nada penuh penyesalan dan tangisan yg menyesakkan.


Ny. Yvonne terperanjat.


“Leon yg waktu itu masih murid baru malu mengakui Leona sebagai saudari kandung Leon. Karena….” Leon terbata.


“Karena Leona…… penerima beasiswa,” Leon tertunduk.


“Dan… karena dia juga sebagai pelayan rumah makan sederhana…..”


“Dan…. Sebagai tukang cuci piring….”


“Dengan gaji yg sangat kecil. Leon tahu, dia belajar sambil bekerja. Dia bekerja dari jam pulang sekolah sampai jam 11 malam. Dapat makan 2x. Leona bahkan tidak jajan sama sekali demi menghemat. Leon tidak tahu kenapa dia bekerja sekeras itu. Leon juga tidak mau tahu.”


Leon mendongakkan kepalanya. Menatap langit yg sangat cerah. Angin sepoy-sepoy berhembus menemani Leon mengingat semua masa lalunya.


“Leon…..”


Perkataan Leon terhenti karena suara sirine dan pengumuman keadaan gawat darurat dari pengeras suara rumah sakit.


“Kepada dr.Edward Luke, segera menuju ke ruang VVIP kamar Lily. Pasien Leona Arimbi mengalami serangan jantung… diulangi…. Kepada dr.Edward Luke, segera menuju ke ruang VVIP kamar Lily. Pasien Leona Arimbi mengalami serangan jantung.”


Pengumuman itu dilakukan sebanyak 3 kali. Mendengar nama pasien yg disebutkan, Leon dan mamanya yg terkejut bergegas masuk ke dalam gedung dan menuju lantai 13 tempat khusus para tamu VIP dan VVIP.


Baru saja tiba, mereka langsung disuguhkan pemandangan yg mengerikan. Tempat tidur yg dipakai Leona dibawa dengan cepat melewati koridor rumah sakit dengan dr. Edward Luke duduk setengah jongkok di atas Leona yg memakai alat bantu pernapasan menutupi mulut serta hidungnya dan memompa jantungnya dengan kedua tangan.


Dengan cepat Leona dibawa masuk ke dalam IGD. Leon dan Ny. Yvonne mendekat dengan air mata yg tidak berhenti mengalir. Tapi sayang, mereka dihalangi oleh para pengawal yg berpakaian serba hitam. Dengan segera mereka mensterilkan area itu.


’Kenapa sekarang kalian baru menangis?’


Irvin berbicara dalam hatinya begitu melihat keluarga Leona.


Irvin berjalan dengan cepat diikuti Sargas. Mereka melewati kerumunan orang-orang, dan masuk ke area batas ruang IGD. Sargas berbicara sebentar kepada salah satu pengawal setelah itu mengedarkan pandangannya ke seluruh area IGD lantai 13. Matanya tanpa sengaja menatap Ny. Yvonne.


‘Sargas,’ kata Ny. Yvonne dalam hati.


Sargas mengabaikannya dan masuk ke


dalam ruang IGD menyusul Irvin. Perintah Sargas untuk mensterilkan area dilaksanakan dengan cepat. Leon, Daisy dan Mamanya terpaksa harus meninggalkan tempat itu.