CONTRACT WITH THE DEVIL

CONTRACT WITH THE DEVIL
#1



Bertahun yang lalu, Leona Arimbi, usia 18 tahun...


••• °°° ••• °°° ••• °°° •••°°°•••


"Lepaskan aku, Bajingan!!!!!" Teriak gadis itu.


"Gadis kecil, menurut saja.."


"Tidak akan pernah!!!" Serunya lagi.


Gadis itu berusaha lepas dari preman-preman brengsek itu. Tangannya dicengkram sangat kuat. Gadis itu meronta sekuat tenaga. Dia terengah-engah. Menahan sakit disekujur tubuhnya. Wajahnya sudah semakin pucat. Suhu tubuhnya pun turun drastis sangat dingin dan berkeringat. Dia benar-benar berada dikondisi yang sudah sangat prihatin. Tapi, yang dia tahu dia harus lepas dari preman-preman bau itu.


"Lepas!!!!!" Teriaknya sekuat tenaga.


"Hah....hah...hah..." Nafasnya semakin melemah.


Dia tahu dia harus tetap dalam keadaan sadar.


PLAK!!!!


Tamparan keras mendarat di pipinya. Dia terjatuh. Menoleh ke arah orang yang menamparnya. Salah satu dari mereka menampar pipinya.


"MENURUT SAJA KAU!!!"


"JANGAN MELAWAN LAGI!!!!"


"Dalam mimpimu, Bajingan!!!!" Seru gadis itu.


Dia, gadis itu adalah Leona Arimbi diusia 18 tahun. Berada di tangan para preman rendahan.


"Ayah mu sudah menjual mu sebagai alat bayar hutang. Jadi, mari kita permudah," preman berkepala botak berbicara.


"Sudah, bos. Langsung kita bawa saja. Seret saja," sambut yang berbadan sedang.


"Tapi, sebelum kita bawa lebih baik kita colek digit saja, boss," sambung yang tinggi.


GLEG!!!


Leona menelan salivanya. Dia lebih baik mati dari pada harus berada di tangan mereka.


'Ayah.... kenapa kau tega sekali. Aku putri kandungmu,' katanya dalam hati.


Tapi, semua sia-sia. Ayahnya tidak akan mendengar. Kalau pun dia mendengar, dia akan berpura-pura tidak mendengar.


Ketiga preman itu sepakat melecehkan Leona di tempat itu. Di gang kecil, tepat tengah malam. Tidak jauh dari tempat itu, jalan raya yang sudah mulai sepi.


"TOLONG......" Leona berusaha berteriak.


"Hahahahahaa... teriak saja. Tidak akan ada yang dengar," kata si botak mengejek.


"Bos... kita minta jatah juga," si pendek menuntut.


"Iya... lu semua dapat. Gue dapet. Tapi ingat. Jangan sampe perawannya bobol. Bos bisa marah besar. Dia mau dijual. Jangan bikin cupang. Mainnya yang bersih," kata si botak lagi.


Leona semakin ketakutan. Ketiga preman itu sudah merencanakan pelecehan. Dan, benar saja, mereka mulai melakukan pelecehan seksual kepada Leona.


Leona sudah tidak bertenaga lagi. Dia mulai shock. Sejak, tangan busuk preman rendahan itu mulai menggerayangi tubuh mungilnya.


'Akan kubalas. Kalian semua pasti ku balas. Hancurkan saja. Aku akan balas semuanya,' dendamnya dalam hati.


Ketika Leona berteriak minta tolong, saat itu juga seseorang mendengarnya. Dia baru saja menghidupkan asap rokok. Keluar dari dalam mobilnya untuk menghirup udara malam dan melepaskan penatnya.


Dia seorang pria. Berjalan ke arah datangnya suara. Dia jelas sekali mendengar suara meminta tolong. Suara yang sangat menyayat. Begitu dia sampai di mulut gang kecil dan gelap itu dia melihat pemandangan yg begitu menjijikkan. Seorang gadis dengan kekuatan yg sudah mulai melemah berusaha untuk lepas dari tiga orang pria rendahan.


"Ck!!!" Pria itu menyeringai.


Ketiga preman itu berhenti. Mereka melihat ke arah datangnya suara. Di sana gelap. mereka tidak tahu siapa itu.


"SIAPA LU?" Tanya si botak.


"Ngapain lu disitu??" Bentaknya lagi.


"Pergi lu, Brengsek!!!! Kalau gak, lu bakalan jadi mayat Mr. X."


"HAHAHHAHAHAHAHA...." Dia tertawa sarkas dan mengerikan. Ketiga orang itu merasakan aura iblis.


"Kau bilang aku bakalan jadi mayat?!" Dia berkata disertai nada ejekan.


"Atau, kita balikkan saja?"


"......"


"Hmmmm.... bagaimana kalau kau saja yang jadi Mr. X," katanya halus tapi nadanya sangat mematikan sampai-sampai mereka tidak lagi bisa berbicara.


Cahaya berasal dari lampu jalan di depan gang itu, sehingga menampilkan sosok pria itu dalam bentuk siluet. Dia berjalan mendekati mereka. Keadaan yg gelap di tempat itu tidak menghalangi langkahnya ke arah empat manusia itu karena matanya yg tajam itu mampu melihat dalam gelap.


"Siapa kau? Buat apa mencampuri urusan kami?" Tanya si botak kemudian.


"Siapa aku?"


"Hmmmm.... Harus ku beritahu yang mana? Nama asli ku? Atau siapa aku biasa dipanggil?" Tanya pria dalam gelap itu.


Suara dan bahasanya yang begitu mendominasi, membuat ketiga preman itu seketika lemas. Ada aura mematikan dari cara dia berbicara.


"B....bos... kita...kita.... pergi saja dari sini. Cari tempat lain saja," kata yg bertubuh pendek.


"Iya, Bos. Daripada terjadi yg ga kita mau," sambung yg satu lagi berbisik.


Si botak seperti berfikir. Dan, tak lama kemudian, dia mengiyakan kedua orang anak buahnya itu.


Mereka bertiga pun berdiri. Berniat meninggalkan tempat itu. Kedua orang anak buah si botak pun membopong Leona yang sudah tak bertenaga. Leona sudah merasakan sakit pada bagian dadanya. Jantungnya mulai tidak bekerja dengan baik.


Mereka berjalan ke arah pria itu. Tapi, langkah mereka terhenti.


"Mau kemana?" Tanya pria itu.


"Kami akan meninggalkan tempat ini," jawab si botak lagi. Kali ini tanpa nada angkuh.


Pria itu tersenyum. Walaupun keadaan gelap, mereka tetap bisa melihat senyum menyeringai mirip seperti iblis.


"Lalu dia?" Tanya pria itu menunjuk Leona.


"Tentu saja kami bawa. Bos kami sudah menunggu," jawab si botak.


Dia tersenyum lagi.


"Apa kau tahu peraturan di sini?" Tanyanya tajam.


Tidak ada yang menjawab. Mereka tidak berani membuka mulut.


Pria itu berbicara dengan penuh penekanan, arogansi, dan nada yg tidak ingin dibantah.


"Tapi.... tapi, Pak," kali ini si botak mulai berbicara lembut.


Dia tidak menggubris si botak, karena Leona mulai angkat suara.


"Tu...an... to...long.... tolong saya," suara Leona terbata dan sangat lemah hampir tidak terdengar.


Mendengar permohonan Leona, dia tersenyum. Seringai iblis tersungging dari sudut bibirnya.


"Hmm...," pria itu bergumam sambil menggaruk dagunya yg tidak batal dengan ujung jari telunjuknya.


"Apa yg ku dapat kalau begitu?" Tanyanya pada Leona dengan tatapan tajam dan menuntut.


'Baiklah, Leona. Apa saja. Asal kau lepas dari preman menjijikkan ini. Dan kau bisa lepas dari Ayah mu yang hina itu,' batin Leona.


Dengan keyakinan penuh Leona memberikan jawaban.


"Ap.... apa... saja, Tuan. Apa saja yg kau inginkan," jawab Leona dengan sangat yakin dan penuh amarah yang ditahan.


Dia tersenyum senang. Jawaban itu adalah yang dia inginkan. Tanpa berlama lagi, pria itu memanggil anak buahnya.


"SARGAS, KEMARI KAU," panggilnya dengan keras.


Kecuali Leona, semua yang ada di tempat itu gemetar.


"Apa yang kau lakukan?" tanya si botak.


"Dari pada aku bersama kalian para binatang rendah, lebih baik aku masuk ke kandang binatang yg buas," kata Leona penuh emoai ditengah rasa sakit yang dia rasakan.


'Benar, Leona. Kau tinggal tunggu waktu saja. Sedikit lagi kau juga akan mati karena jantung sialan ini yang kau dapat dari keluarga Ibumu,' lagi-lagi Leona membatin.


Pria bernama Sargas datang tergopoh-gopoh begitu mendengar teriakan dari bosnya itu.


"Apa yang kau punya untuk bisa kupakai mencatat?" Tanyanya pada Sargas begitu anak buahnya itu ada di hadapannya.


Pria bernama Sargas meraba dengan cepat seluruh kantung yang ada dipakaiannya. Dan, dia mengeluarkan sapu tangan putih dari kantung kanan belakang celananya.


Dia mengambil sapu tangan itu dan menyodorkannya kepada Leona.


"Berikan tanda persetujuan mu, Nona," katanya dengan senyum manis.


Leona mengambil sapu tangan itu.


"Jangan bodoh!!!" seru si botak. "Kau tidak tahu siapa yg kau hadapi itu."


"Hei, Kau!" Tunjuk pria itu pada si botak. "Kau ternyata mengenalku dengan baik ya?"


"Kita pergi dari sini. Bawa dia," kata si botak memerintah dua orang yg hanya diam saja dari tadi.


"I...iya..iya, Bos," serentak mereka menjawab dengan gagap.


Tapi, Leona tidak bergeming.


"Tuan, mana penanya," Leona benar-benar sudah lemah.


"Aaahh... saya tidak punya. Lalu, bagaimana?" Tanyanya lagi.


Leona berfikir sambil mengedarkan pandangan.


'Di sini tidak ada apa pun yang bisa dipakai untuk menulis,' katanya dalam hati.


'Benar, cuma itu saja caranya," sambungnya dalam hati.


Leona melihat ke arah pria yg akan jadi tuannya itu.


"Apa...apa.. yang ha...harus.. ku ttu..tulis?"


"Berikan saya tanda persetujuan mu, mungkin dengan tanda tangan!?"


Leona kemudian mengangkat tangannya, dan kemudian mengarahkan jempolnya ke mulut. Leona menggigit jempolnya. Dan, dia memberikan tanda sidik jari di atas sapu tangan itu dengan darahnya.


Pria itu tersenyum bahagia. Dia sangat menyukai cara wanita muda ini.


"Hahahahhahaha...."


"Kau hebat sekali. Kau tahu apa yang ku mau."


Dia tertawa dan bertepuk tangan.


Ketiga preman itu tercekat. Si botak membelalakkan matanya melihat kejadian itu.


"Kemarilah," kata pria itu sambil membuka lebar kedua tangannya.


Leona berjalan lemah ke arah tangan yang terulur ke arahnya.


"Tidak bisa!!" Si botak berkata dengan kekuatan nekat yg terpaksa dia buat.


"Tu.. tuan cari saja perempuan lain. Jalang ini biar kami yang bawa," sambungnya.


Pria itu menatap tajam si botak.


"Kau bilang apa? Berani sekali kau menyebut orang ku seperti itu!!!" Katanya marah.


"Tu...tuan... tapi kami harus membawanya. Dan menyerahkannya pada bos kami. Ny. Anita Paulin akan sangat marah."


"Anita Paulin? Rentenir tua yang bodoh itu mau melawanku?"


"Katakan pada dia, semut tua kecil jangan pernah mengusik Irvin Abraham!"


"Aahhh... aku tidak perduli," jawab si botak. Dia menarik tangan Leona. Leona terjatuh dan pingsan.


"KAU!!!! KAU MEMBUATKU MARAH!!!" Irvin meradang.


Dia berjalan mendekat ke arah si botak. Dia mencengkeram kerah lehernya. Meninju si botak tepat di bagian hidungnya berkali-kali. Darah segar langsung mengalir begitu saja. Irvin meninjunya tanpa ampun. Menendang bagian rusuk kanannya. Si botak kesakitan, terjatuh dan dalam posisi telentang. Irvin mendekatinya dan menginjak-injak perutnya tanpa ampun. Emosinya sungguh sangat meledak-ledak. Irvin berjongkok, dia mengeluarkan uang dan melemparkan ke wajah si botak.


"Pergilah, Kau. Jangan pernah berurusan denganku."


"Itu biaya pengobatanmu. Si tua Anita tidak akan memberikannya."


Irvin Abraham pria berkuasa dan kaya raya. Dia bukan raja, bukan orang pemerintahan dan bukan juga bagian dari mafia. Dia, Irvin Abraham, pria yang tidak ingin kalah atau dikalahkan oleh siapa pun.


Jangan pernah mengusiknya. Jangan pernah berurusan dengannya, kecuali sesuatu yang menguntungkan. Jangan pernah melakukan hal yang membuat dia marah. Jangan menyulut emosinya.


Kalau kau tidak mau mati sia-sia.