CONTRACT WITH THE DEVIL

CONTRACT WITH THE DEVIL
#3



RS. Abraham, Senin,


11.30 AM


Rumah sakit Abraham adalah rumah sakit terbesar dan berada diurutan pertama di negara ini. Ada yg berbeda dengan rumah sakit ini. Walaupun sarana dan prasarana perawatan medis terbuka untuk umum, tetap saja yg berkepentingan khusus boleh menerima perawatan khusus di rumah sakit ini.


 


Banyak pejabat, para orang kaya, penjahat kaya, sampai kalangan mafia bersembunyi di sini hanya untuk menghindar dari panggilan hukum atau cuma untuk mengelabui publik. Semua bisa dilakukan asal kau punya uang, dan semua data yg dibutuhkan sudah dapat dipastikan asli.


 


Sudah lebih dari 2 jam Leona dirawat di IGD. Namun, dokter dan tim medis yg menangani belum ada satu pun dari mereka keluar dari ruangan itu. Irvin dan Sargas terlihat cemas di depan ruangan itu. Berkali-kali panggilan masuk ke ponsel mereka, diabaikan begitu saja.


 


Sargas tidak berbicara apa pun, karena dia tidak tahu apa yg harus dibicarakan. Sedangkan, Irvin tidak berbicara apa pun karena dia sibuk dengan pergumulannya sendiri. Kini tekadnya sungguh sangat kuat, untuk melepaskan Leona dari kontrak itu.


 


SREEKKK…


Pintu ruang IGD terbuka.


 


dr. Edward keluar menemui Irvin dan Sargas. Mereka berdua berdiri dengan cepat dan mendekati dr. Edward.


 


“Bagaimana?” Tanya Irvin cepat.


 


Sama halnya Irvin, Sargas pun menunggu jawaban dari dr. Edward. Dokter itu menarik nafas berat. Menatap serius kepada Irvin, bosnya sekaligus pemilik dan pejabat tertinggi di rumah sakit itu.


 


“Masa kritis sudah berhasil dilewati,” jawabnya.


 


“Huffttt…” Irvin menarik nafas lega. “Syukurlah kalau begitu,” sambungnya kemudian.


Dia melihat Sargas dan memukul pelan pundaknya. Sargas membalas dengan tarikan nafas lega. Sama halnya dengan Irvin, Sargas yg sudah menganggap Leona sebagai putrinya, juga merasa sedikit tenang.


“Leona akan segera dipindahkan ke rawat inap,” kata dr. Edward pelan dan dengan nada yg berat.


“Ada apa?” Tanya Irvin begitu menangkap maksud dari tatapan mata dr. Edward.


“Vin, sekarang gue mau ngomong sama lu bukan sebagai seorangnmdokter spesialis jantung. Tapi, gue sekarang mau bicara sebagai Edward Luke,” kata dr. Edward serius.


“Mari ikut ke ruangan gue. Dan, lu lihat kondisi terbaru dari Leona.”


Irvin mencengkram kerah kemeja dr. Edward.


“Lu tinggal ngomong, Ed. Gue mau lu kasih tahu dengan bahasa yg gue fahami. Bukan pake bahasa medis lu itu!!” seru Irvin dengan emosi penuh marah dan cemas.


dr. Edward melihat jelas ketakutan dari dalam mata Irvin.


‘Lu berubah, Vin. Hati lu sudah terbuka untuk Leona. Lu sadar atau tidak!?’ dr. Edward bicara


dalam hati.


dr. Edward melepaskan cengkraman Irvin dari kemejanya. Dia harus mengatakan segala kemungkinan terburuk yg akan dialami oleh Leona.


“Ringnya rusak,” kata dr. Edward.


Irvin terdiam. Seketika saja dia merasa lemas dan lemah.


“Kita ke ruangan gue. Di sana lebih aman. Kita tidak tahu bisa saja salah satu dari mereka adalah penyimpan dendam dan menunggu lu lengah.”


Irvin menurut dan mengikuti dr. Edward ke ruangannya. Sebelumnya, dr. Edward meminta Sargas menemani dan mengawasi keadaan Leona. Dan juga diminta untuk berjaga-jaga.


***********


Ruang kerja dr. Edward.


Mereka duduk di sofa dan berhadapan. Irvin duduk memangku kedua sikut tangannya yg kedua telapak tangannya disatukan di atas lututnya. Dengan posisi condong ke depan, Irvin menatap tajam dr. Edward yg merupakan sahabatnya dari kecil, dan yg dulu membantunya dalam melewati masa sulit.


“Jelaskan!” Perintah Irvin.


“Bukan gue. Tapi, lu yg harus jelasin ke gue.”


“Maksud lu apa? Kenapa harus gue yg jelasin sama lu?”


“Arrrggghhhh…” Irvin menggeram marah. “Lu yg dokter, kenapa lu tanya sama gue?”


Dr. Edward menarik nafas berat.


“Kenapa kondisi Leona sampai bisa sejauh ini? Apa yang sudah terjadi? Seharusnya, hari ini gue menerima Leona hanya untuk kunjungan konsultasi dan peeriksaan biasa,” jelas dr. Edward.


Irvin menyandarkan badan dan kepalanya ke sandaran sofa.


“Dari awal pemasangan ring, gue sudah peringatkan, untuk tidak membebankan Leona dalam hal yg berat. Leona


harus jauh dari emosi yg berlebihan.”


dr. Edward diam untuk sesaat.


“Bahkan, untuk jatuh cinta saja dia tidak disarankan. Karena kondisi jantungnya yg rusak. Dan, gue yakin kalau lu ga lupa sama apa yg gue ucapin, Vin,” dr. Edward berbicara tegas.


Irvin mencengkram kepalanya dengan kuat. Sesaat kemudian, dia melihat dr. Edward dengan serius.


“Gue juga gak tahu detailnya seperti apa,” kata Irvin bimbang.


“Tapi, tadi sewaktu gue tiba di sana, Leona sudah menjadi si Dewi Penghancur,” Irvin menjelaskan.


“Mungkin, kalau gue telat dikit, si tua brengsek itu bakalan habis ditangan Leona.”


“Dan, Leona juga bakalan mati terkena serangan jantung…..” dr. Edward tiba-tiba memotong Irvin.


Irvin terdiam terperangah.


“Maksud lu apa?” Tanya Irvin tajam.


“Kalau lu telat 1 detik aja bawa Leona ke sini, mungkin Leona sudah mati saat ini,” dr. Edward memperjelas ucapannya.


“Se…separah itu?” Tanya Irvin gugup.


“Jauh lebih parah dari yg ada difikiran lu, Vin. Yg harus lu lakuin sekarang adalah, lepasin Leona. Kasihani dia. Sudah 10 tahun, Vin,” kata dr. Edward dengan nada memohon.


“Kasih dia kesempatan untuk merasakan kebahagiaan. Biarkan dia tersenyum. Biarkan dia jalani hidupnya sebagai seorang wanita. Bebaskan dia untuk bisa merasakan disukai atau menyukai. Atau…. dicintai atau mencintai. Setidaknya, sebelum dia benar-benar mati dan meninggalkan dunia yg sudah rusak ini,” dr. Edward memohon.


Irvin berdiri dari duduknya.


“Gue ke ruangan Leona dulu,” Irvin menyudahi pembicaraan mereka.


“Irvin Abraham!!!” Panggil dr. Edward tegas.


Irvin berhenti.


“Dengerin gue baik-baik!” dr. Edward berbicara dengan tegas.


Mereka berdua berada diposisi masing-masing tanpa menoleh satu sama lain.


“Apa pun yg bakalan lu lakuin, jangan pernah menyesal. Keadaan Leona sangat memrihatinkan. Harus dilakukan pemasangan ring setidaknya 5 tahun lebih cepat. Kalau keadaan Leona baik untuk melakukan operasi, secepatnya 2 minggu lagi operasi harus dilakukan,” dr. Edward menjelaskan.


Irvin mengepal kedua tangannya kencang.


“Hm… lakukan saja. Tunjukkan kemampuan Anda, dr. Edward,” kata Irvin dengan nada perintah.


Secara bersamaan, kedua pria itu menutup mata menahan emosi. Irvin berjalan keluar dari ruangan. dr. Edward kembali menarik nafas berat.


“Haaahhh…. Irvin, lu juga ga mau kan Leona mati. Irvin, tanpa sadar, lu sudah masuk dalam keegoisan lu sendiri. Irvin Abraham, sekarang lu sudah masuk dalam jebakan takdir yg udah lu ciptakan,” dr. Edward bergumam pelan.


“Jangan sampai terlambat, Vin. Jangan sampai lu terlambat menyadarinya dan berakhir dalam penyesalan.”


 


*********


*******


*****


“Tuan,” panggil Sargas menyadarkan Irvin dari lamunannya.


“Hmm,” balas Irvin tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun.


“Apakah Anda akan ke kantor? Jika ingin ke sana sekarang, saya akan minta seseorang untuk berjaga di sini,” kata Sargas.


“Tidak. Kau pergilah ke kantor. Nanti malam, kau saja yg menjaga dia. Jangan sampai dia keluar dari ruangan ini tanpa seizin Edward. Bekerjasamalah dengan Edward untuk keamanan Leona,”  Irvin menolak dan memberi perintah kepada Sargas.


“Baik kalau begitu,” Sargas menurut.


“Dan,” sambung Irvin lagi.


“Awasi bawahan Leona yg baru itu. Dari awal dia masuk perusahaan, Leona sudah menaruh curiga. Tapi, Leona tidak sempat mengurusi kecoa betina itu.”


“Baik, Tuan,” Sargas faham maksud Irvin.


“Oh… dan satu lagi,” kata Irvin.


“Harusnya ini pekerjaan Leona, tapi dia sendiri dalam keadaan mengerikan.”


Sargas melihat kearah Leona dan menunggu perintah Irvin selanjutnya.


“Hancurkan Arial, Lte. Hancurkan sampai ke akar hingga mereka tidak sanggup untuk berdiri. Buat mereka


untuk merangkak saja tidak akan sanggup,” perintah Irvin dengan nada bicara iblis.


Sargas melihat ke Irvin. Mata iblis dari tatapan Irvin muncul begitu saja dan penuh amarah. Irvin melihat ke arah Sargas.


“Mereka penyebab Leona seperti ini. Sebelum Leona menyadarinya, kau saja yg bertindak,” perintah Irvin tegas.


Sargas mengangguk faham. Tanpa basa-basi lagi, Sargas meninggalkan Leona dan berada di bawah pengawasan Irvin. Dan mengatur tim untuk keamanan Leona. Baik dari dalam maupun dari luar rumah sakit. Pengamanan yg ketat diberlakukan layaknya mereka menjaga keamanan seorang Presidan atau keluarga kerajaan.


Bagi Irvin kesetiaan bawahannya yg luar biasa harus juga dibalas dengan kesetiaan darinya dengan luar biasa juga. Karena itu, bagi beberapa orang Irvin adalah seorang malaikat yg hidup di dunia nyata. Ingatlah, jangan pernah mencoba mengkhianatinya. Aroma pengkhianatan akan tercium jelas dari aura tubuhmu. Seluruh indera dalam tubuh Irvin, tahu bagaiamana aroma pengkhianatan itu.


\===========


\===========


Irvin duduk di sofa itu sambil menatap lurus ke depan. Di depannya, berbaring seorang gadis berusai 28 tahun, yang sepanjang hidupnya sulit sekali untuk bisa tersenyum. Dia mengingat kembali masa 10 tahun silam, ketika Irvin pertama kali bertemu dengan dia, Leona. Malam itu, saat Leona berada diujung jurang, saat dia menginginkan kematian, daripada harus ikut bersama tiga orang bajingan busuk itu, gadis itu lebih memilih menerima tawaran dari pria yg baru saja datang.


Saat dimana, Leona dipaksa ikut sebagai alat bayar hutang Ayahnya yg brengsek. Hutang kepada rentenir dengan jumlah Rp. 5.000.000,- dan berkembang menjadi Rp. 21.000.000,- dalam kurun waktu 1 bulan saja. Ayahnya berutang kepada lintah darat dengan bunga yg sangat mencekik leher.


Leona menerima uluran tangan dari Irvin, dan memberikan cap sidik jari dengan tinta darah yg dia keluarkan dari gigitan di jari jempolnya, kemudian menempelkannya di sapu tangan putih dan polos milik Sargas. Sejak detik itulah, Leona masuk dan berada dalam pelukan iblis dari Irvin Abraham.


“Leona, 10 tahun yg lalu, aku membawa mu ke tempat ini. Rumah Sakit yg sama, IGD yg sama, kamar rawat inap yg sama. Dan sebentar lagi, ruang operasi yg sama,” Irvin berbicara kepada tubuh lemah yg sedang berbaring di atas ranjang itu.


“Bangunlah. Ada yg harus kita bicarakan,” Irvin berdiri.


Dia berjalan ke arah jendela kamar itu. Menatap tajam pada langit sejauh jarak pandang mata. Setelah itu, dia menundukkan kepalanya, menatap ke bawah, melihat keramaian lalu lintas di bawah sana. Dari lantai 13 gedung rumah sakit itu, Irvin megingat kembali masa lalu, ketika dia membawa Leona ke tempat ini.


10 TAHUN YANG LALU…………..


Irvin berjalan dengan cepat ke ruang IGD, bersama Sargas yg menggendong sorang gadis remaja. Terlihat jelas sekali kalau gadis itu berada diujung nyawanya.


Ketiga orang itu, disambut oleh seorang dokter muda yg sudah ditelepon terlebih dahulu. Dokter itu bernama Edward Luke. Sahabat sekaligus orang yg sangat dipercaya oleh Irvin.


“Ed, selamatkan dia,” Irvin memohon.


“Apa yg terjadi? Ceritakan kronologisnya,” dr. Edward bertanya.


“Aku tidak tahu,” kata Irvin lagi.


“Apa???” dr. Edward heran.


‘Bagaimana mungkin Irvin menerima orang asing dan membawa dia ke sini secara pribadi?’ dr. Edward berbicara dalam hati.


Walaupun banyak pertanyaan dalam hatinya, dr. Edward menerima gadis itu dan melakukan pekerjaannya. Keselamatan pasien adalah yg paling utama. Itulah prinsip dari dr. Edward.


dr. Edward memeriksa kondisi dari gadis itu. Gadis yg masih belia dan dibawa oleh sahabatnya dengan terburu-buru dan cemas. Dokter bertangan dingin itu tidak butuh waktu lama untuk menemukan penyakit yg dideritanya.


“Vin,” panggil dr. Edward


“Bagaimana?” tanya Irvin cemas.


“Dia siapa?”


“Aku tidak tahu,” jawab Irvin seadanya.


“Hah?!” dr. Edward bingung bercampur heran.


“Itu tidak penting, Ed.”


“Penting! Sangat penting! Kita butuh keluarganya untuk mengambil tindakan,” kata dr. Edward.


“……..” Irvin diam dan tidak menjawab dr. Edward.


Bagaimana pun, dr. Edward atau Edward Luke adalah sahabatnya yg tidak bisa dibohongi. Dia tidak tahu harus menjawab apa.


‘Irvin tidak menjawab?’


‘Apa dia melakukan ini atas dasar kemanusiaan?’


‘Apa karena gadis itu seusia adiknya?’


‘Apa Irvin melakukan ini karena dia ingat adiknya, Ingrid yg sudah meninggal?’


Pertanyaan demi pertanyaan muncul dalam hati dr. Edward.


“Vin, dia siapa? Kita butuh keluarganya untuk melakukan tindakan operasi. Dan semua itu harus ada persetujuan keluarganya,” dr. Edward menjelaskan.


“Aku!” Kata Irvin tegas.


“Semua prosedurnya akan disetujui oleh ku sendiri. Tanda tangan yg dibutuhkan atas nama ku.”


dr. Edward terperanjat mendengar pernyataan tegas dari Irvin. Dia sangat memahami situasi ini. Gadis ini sudah menyerahkan kehidupan bahkan kematiannya pada Irvin si Iblis ini.


Melihat sorot mata Irvin, sudah tidak ada lagi yg harus dipertanyakan. Binar mata dari bola mata berwarna biru itu jelas sekali menunjukkan kekuasaan penuh dari Irvin. Edward Luke si dokter tahu betul apa yg harus dia perbuat. Irvin, sudah menguasai gadis ini keseluruhan. Gadis ini, menyerahkan sendiri hidupnya kepada Irvin tanpa paksaan. Dia tahu itu dari kontrak yg ditunjukkan oleh Irvin kepadanya.


……….


Di dalam ruang operasi, dr. Edward menatap gadis belia yg tertidur di atas meja operasi. Dia menatap sendu gadis itu. Tatapan yg begitu iba atau kasihan. Bisa saja dia mengakhiri hidup gadis ini di atas meja operasi tanpa ada yg tahu. Tapi, semua itu akan melanggar janji yg sudah dia buat untuk diri sendiri. Bahwa, dia akan membawa kehidupan baru untuk semua penderita jantung.


‘Hei, gadis kecil. Aku tidak tahu apa yg terjadi pada hidupmu sebelum hari ini. Tapi, apa kau tahu, kau sudah menyerahkan hidup mu pada iblis yg bernafas dan menghirup udara yg sama dengan mu?” Batin dr. Edward.


‘Baiklah, aku hanya akan melakukan tugasku. Tugas mu adalah tugas mu. Keputusan sudah kau buat. Setelah hari ini, kau akan menghirup udara yg berbeda dari sebelumnya.’


dr. Edward memulai operasi jantung Leona. Butuh waktu 22 jam untuk melakukan operasi jantung yg sulit itu. Nyawa Leona kini berada ditanga dokter muda itu. Si jenius dari dunia medis.


----------------


22 jam berakhir dengan mulus. Seperti biasa dr. Edward menyelesaikan pekerjaannya dengan sempurna. Dia keluar dari ruang operasi dengan  membawa hasil yg memuaskan. Dalam keadaan yg letih, Edward Luke keluar sambil tersenyum lelah.


Irvin yg melihat senyum itu pun ikut tersenyum. Tanpa harus bertanya, dia tahu kalau operasinya berjalan dengan sempurna.


“Terima kasih, Ed. Seperti biasa kau memang memberikan hasil yg sempurna,” puji Irvin tulus.


“Yes, Dude. I know that you only want the best. That’s why you gave me that girl,” balas dr. Edward.


Irvin tersenyum, “Kalau saja Ingrid sabar menunggu mu, mungkin dia masih hidup sekarang,” sambung Irvin.


Dr. Edward tersrnyum miris.


“Sudahlah, Vin. Adikmu, Ingrid sudah tenang dan damai di sana. Kau sudah merelakannya sejak 12 tahun yg lalu. Dia meninggal dengan senyuman. Kau menemaninya saat terkahirnya,” dr. Edward menenangkan Irvin.


“Ya…. waktu itu aku dan kau masih sangat muda. Keadaan memaksa kita untuk berjuang keras. Dan…..”


“Tapi, ngomomg-ngomong,” dr. Edward memotong Irvin.


“Siapa nama gadis itu?”


“Aku tidak tahu,” kata Irvin.


dr. Edward melipat tangannya. Dia menatap Irvin dengan tajam.


*****************