
.....
Leona membuka matanya. Melihat jam yang tergantung di dinding, depan kasurnya. Waktu menunjukkan pukul 04.00 WIB. Dia bangun dan mengambil posisi duduk. Duduk di tepi ranjang, memegang pinggiran kasur dengan kedua tangannya, menundukkan kepala.
"Hufffttt... mimpi itu lagi," Leona menarik kedua sudut bibirnya.
"Sudah 10 tahun berlalu sejak malam mengerikan itu."
"Malam terburuk dalam hidupku. Dan aku masuk ke dalam lubang ini."
Leona bergumam sendiri. Selama 5 menit dia menutup matanya. Tidak ada yang difikirkan. Hanya menikmati udara pagi yang masuk dari ventilasi kamarnya.
Leona bangkit dari duduknya. berjalan menuju kamar mandi. Bersiap melakukan pekerjaan hari ini seperti sebelumnya. Leona tidak seperti wanita lainnya. Tidak butuh waktu lama untuk bersiap berangkat kerja.
🍂🍂🍃
Leona sudah ada di ruang makan. Dia terkejut melihat seseorang yang sedang duduk di meja makan menunggu sarapan sambil membaca surat kabar pagi ini.
Leona tidak tahu kalau dia sudah tiba. Padahal, seharusnya dia pulang 2 atau 3 hari lagi.
"Selamat pagi, Tuan? Anda sudah tiba?" Sapa Leona ramah.
Pria itu adalah Irvin. Mendengar sapaan itu, Irvin mengalihkan pandangannya dan menutup korannya itu.
Irvin tersenyum.
"Selamat pagi. Duduk, Leona. Kita sarapan bersama," kata Irvin.
Leona mengangguk.
"Cobalah untuk tersenyum, Leona. Ini sudah 10 tahun," katanya lagi.
"....."
Leona cuma diam tanpa ada niat untuk membalas dalam bentuk ekspresi apa pun. Dia sudah kehilangan senyumnya.
Leona duduk dan menyiapkan sarapan untuk dia dan Irvin. Irvin memandangi Leona.
'Aku tidak tahu dia bisa menjadi wanita seperti ini,' kata Irvin dalam hati.
'Dia mengabdikan dirinya padaku. Kesetiaannya tidak bisa disepelekan. Bahkan, kesetiaan anjing pun kalah oleh kesetiaannya.'
Irvin dan Leona menyantap sarapan mereka. Irvin menyantap makanannya dengan nikmat, sedangkan Leona memakan sarapannya tanpa perduli rasa dan kenikmatannya.
"Nikmati, Leona," kata Irvin.
"Ya, Tuan," jawab Leona datar.
Sejak malam itu, seperti itulah wajah Leona. Poker Face. Tidak dapat ditebak. Dingin, tak terbaca, tak tersentuh, dan kejam. Jangan pernah lupakan itu.
Tap...tap...tap....
Suara langkah kaki yang bunyinya berasal dari suara heels sepatu wanita.
Leona melihat kearah datangnya suara. Dia pun berdiri begitu melihat siapa yang masuk.
"Selamat pagi, Nona Leona," sapanya dengan nada suara manja.
'Rubah betina,' batin Leona.
"Selamat pagi, Nyonya Rina," balas Leona.
Rina Aquilea wanita yang saat ini dekat dengan Tuan Irvin.
Leona memberikan tempat untuk Rina, setelah itu, dia beranjak dari posisinya.
"Leona duduk saja," perintah Irvin. Leona menurut.
"Sayang, kok dia disuruh duduk sih? Aku mau sama kamu," kata Rina manja.
"Bukankah seharusnya kamu menyapa saya terlebih dahulu," jawab Irvin.
"Maaf, Sayang. Selamat pagi," balasnya dengan terpaksa.
Leona menuruti perintah Irvin, bosnya atau lebih tepat majikannya. Jika dia tidak menurut, satu tamparan akan mendarat di pipinya.
"Sayang....,"
"Nona Leona....!!"
Seseorang tiba-tiba saja datang dan masuk ke ruang makan dengan terburu-buru dan memotong pembicaraan Rina.
"Maaf, Nona....." kemudian melihat ke arah Irvin.
"Aaahh... Tuan Irvin. Anda sudah pulang?"
"Ada apa, Sargas?" Tanya Irvin tegas.
Sargas tidak melanjutkan ucapannya karena ada 1 orang lagi di ruangan itu.
Sargas tersenyum sinis kearah Rina. Leona menangkap gerakan Sargas.
"Paman Sargas, ada apa?" Tanya Leona.
"Nona, Petrus Keller sudah kami temukan," kata Sargas sambil melirik ke Rina.
"uhukkk.." Rina tiba-tiba saja terbatuk.
Irvin melihat kearah Rina.
"Kenapa?" Tanyanya.
"Oh... oh... tidak apa-apa. Ya... tidak ada apa-apa," Jawab Rina gelagapan.
"Kau yakin?" Tanya Irvin kepada Rina.
"Iya, Sayang."
"Ya sudah, lanjutkan makanmu," katanya lagi. Dia pun mengalihkan pandangannya kepada Sargas.
"Sargas, kamu......"
Tanpa sengaja melihat Leona. Dia terkejut.
'Mata ini,' batin Irvin begitu melihat sorot mata Leona.
'Wanita ini, apakah akan melakukannya lagi?'
"Leona," panggilnya kemudian.
"Ya, Tuan."
"Hari ini jadwal mu bertemu dengan dr. Edward, bukan?" Tanya Irvin.
Leona tidak menjawab. Dia mengambil handphonenya, dan menelepon seseorang.
"Halo, dr. Edward," sapa Leona.
"Ya, Leona. Selamat Pagi," balas dr. Edward.
"Saya menunda jadwal pagi ini. Saya ganti nanti pukul 01.00," katanya lagi.
"Baiklah kalau begitu. Akan saya re-sechedule," dr. Edward menerima permintaan Leona.
Leona menutup teleponnya. Irvin menatap tajam Leona.
"Kenapa kau lakukan itu?" Tanya Irvin menahan marah.
"Ada pekerjaan penting, Tuan" jawab Leona dengan tatapan datar.
"Saya yg akan urus bajingan itu, Leona!!!" Kata Irvin memerintah.
Sreeekk...
Kursi Leona bergerak.
"Saya sudah selesai, Tuan. Saya permisi," Leona berdiri dan pamit meninggalkan mereka.
"Mari, Paman Sargas," ajak Leona.
Sargas terdiam. Dia tidak bergerak sedikit pun karena melihat tatapan dari Irvin.
"Tapi, Nona...." kata Sargas berusaha mencegah.
Sargas sangat mengenal karakter Irvin. Dan, Sargas tahu Irvin hendak membalikkan keadaan dimana dan apa yang harus Leona lakukan.
Leona tidak menunggu lama. Dia melangkahkan kakinya. Dia berjalan dengan langkah yang mematikan. Percayalah, jika kalian orang awam berada disitu, kalian pasti tidak akan bisa bertahan terlalu lama.
Sargas dan Irvin tidak bisa berkata apa-apa lagi. Leona sudah melangkah pasti. Dia mengambil kunci kendaraan yang akan dia pakai.
Sargas dan Irvin, berjalan mengikuti Leona.
"LEONA!!!" Panggil Irvin begitu melihat Leona langsung memakai sarung tangan kulit.
Leona tidak menggubris. Leona menaiki motor gede miliknya yang terparkir di garasi sebelah kiri mansion mewah milik Irvin.
Leona menancapkan gas motornya. Tanpa memerdulikan Sargas dan Irvin, dia melajukan kendaraanya itu dengan kecepatan tinggi.
"Arrrggghhh!!!" Irvin sangat kesal.
"Dimana sibrengsek Petrus?" Tanya Irvin.
" Di Hell Gate, Tuan."
"Bagus. Beri perintah, bawa dia ke bangsal, dan jangan biarkan 1 pun dari mereka mengizinkan Leona bertemu dengan Petrus," kata Irvin.
Mereka masuk ke dalam mansion. Di ruang makan beberapa pelayan dan juru masak kepercayaan Irvin membereskan meja makan.
"Mana dia?" Tanya Irvin pada salah seorang pelayan.
"Paman Hotman!" Panggilnya dengan tegas.
Hotman yang berusia 56 tahun itu berjalan dengan langkah yang tegas. Dia adalah penanggung jawab Cananga. Nama julukan yang diberikan untuk mansion itu.
"Ya, Tuan," jawab Hotman dengan sangat sopan.
"Suruh dia pulang. Dan, siapkan kamar tamu. Hari ini akan ada tamu dan akan tinggal di sini juga," perintah Irvin.
"Baik, Tuan," jawab Hotman kembali dengan patuh.
"Dan, jangan berikan lagi akses masuk Cananga untuk dia."
Hotman faham ditujukan kepada siapa kata dia itu.
Irvin diikuti Sargas berjalan meninggalkan Cananga.
.....
Diperjalanan menuju Hell Gate, mobil yg membawa Irvin dan dikendarai oleh Sargas melaju kencang.
Sambil menyetir, Sargas berusaha menelepon dengan Assistant Mobile dan headset yg menempel di telinganya.
Berkali-kali Sargas mencoba menelepon, tapi hasilnya sia-sia.
🍃🍃🍃🍃🍃
Leona sudah tiba 15 menit lebih awal dari waktu sebelumnya. Dia menunggu di atas motornya itu. Mengendarai motor dengan kecepatan maximum yg tidak diizinkan sudah menjadi rutinitasnya. Sehingga, tidak ada halangan buat dia untuk tidak melaksanakan pekerjaannya dengan baik.
Dan, yg perlu diketahui siapa pun, dia tidak takut mati dalam kecelakaan. Leona sudah tidak perduli akan kehidupannya. Wanita ini tidak takut dia hidup atau mati.
Semua musuh Irvin yang juga menganggap Leona sebagai halangan, tidak menemukan celah sedikit pun untuk membuat Leona jatuh dan bertekuk lutut kepada mereka. Tidak ada yg tidak tahu, bahwa Leona adalah kekuatan lain dari Irvin Abraham. Pria kejam yg tidak memiliki kelemahan.
Leona menginjakkan kakinya ke tanah. Turun dari motornya dan berjalan menuju mansion yg diberi julukan Hell Gate. Bagi mereka yg mengkhianati Irvan dan organisasinya, dapat dipastikan nafas mereka berakhir di sana.
Tidak ada celah untuk menerobos masuk ke dalam. Jika bukan penghuni, yang tidak berkepentingan dilarang memasuki area itu. Jika masih saja menerobos, bersiap saja, kau akan masuk dalam daftar orang hilang yg diapoorkan ke polisi.
Ah... ya... hampir saja lupa. Kalian harus tahu sesuatu tentang tempat ini. Mansion yg terlihat tua ini, tidak bisa disinggahi alat komunikasi. Jika sudah melangkahkan kaki ke dalam, segala bentuk sinyal dari alat komunikasi akan hilang. Tempat ini, benar-benar dikelilingi dengan teknologi canggih. Dan, tidak tersentuh. Jika pun ada yg melaporkan, laporan itu akan dianggap laporan palsu, karena jangan lupa, Irvin adalah orang penting bagi organisasi besar di negara ini. Mafia dan Pemerintah.
Leona kini berada di dalam ruang rahasia. Dia melihat pria setengah baya bernama Petrus Keller. Dia duduk di lantai dengan menyadarkan badannya di dinding bangsal gelap yg dingin itu.
Leona berjalan mendekat. Dia jongkok tepat di depan Petrus. Lutut kirinya bertumpu ke lantai. Dia menatap pria itu dengan sinis.
"Hi, Petrus," sapanya dingin dan mematikan.
Petrus mengangkat kepalanya lemah.
"Ck... sudah berapa lama tidak makan?"
"Kau siapa?" Tanya Petrus lemah dan pelan.
"Aku?" Leona tersenyum.
Leona mendekat dan kemudian berbisik, "Aku adalah Leona Arimbi."
Petrus tercekat. Dia tidak percaya wanita ini adalah Leona.
"Ka....kau..."
"Apakah kau lupa padaku, Petrus?"
➡️➡️➡️➡️
Di dalam mobil, Sargas masih berusaha menelepon Leona namun hasilnya nihil. Nada sambung berubah menjadi nada non-aktif. Handphone Leona sudah bisa dipastikan hilang sinyal.
"Tuan, Nona Leona sepertinya sudah masuk Hell Gate."
"Aaarrrgghhh... sial!!!"
"Ini salah ku. Aku mengabaikan perihal ini. Aku selalu menunda-nunda memberi perintah kepada kalian, untuk menjauhkan Petrus dan Leona."
"Kenapa aku menyepelekan masalah ini," sesal Irvin.
"Tuan, apa hubungan Petrus dan Leona? Kenapa Leona mengambil kesempatan ini?" Tanya Sargas.
Irvin menarik nafas berat. Dia memberitahukan alasannya. Sargas tercengang luar biasa. Selain bajingan, ternyata Petrus juga sama aja dengan Iblis rendah.
"Sargas, ngebut lah. Aku tahu sejak awal, kau sudah menganggap dia putrimu kan?"
"Kau tidak ingin putrimu itu semakin jadi iblis."
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Sargas menginjak pedal gas dan menaikkan kecepatannya.
.....
Tap...tap...tap....!!!
Derap langkah kaki terdengar begitu jelas. Tampak sekali si pemilik suara langkah kaki itu terburu-buru dan sangat gelisah.
Suara langkah kaki yg bersahut-sahutan itu berasal dari 2 pasang kaki milik Irvin dan Sargas. Semua penghuni tempat itu menunduk hormat dan tidak berani melihat. Bahkan, melirik saja pun tidak berani. Sorot mata kedua pria dewasa itu menunjukkan amarah sekaligus cemas yg luar biasa.
'Leona!! Jangan melakukan lagi. Kau akan ku bebaskan. Kontrak mu cukup sampai di sini,' batin Irvin menyesal.
Sargas masuk ke bangsal itu, dia terdiam melihat pemandangan di dalam. Dia tidak bisa berkata apa pun lagi.
Irvin yg langkahnya terhenti di belakang Sargas melangkahkan kakinya masuk melewati Sargas. Sama seperti Sargas, dia pun tidak bisa menahan ekspresinya yg penuh dengan keterkejutan. Leona yg dia lihat ini bukan lagi wanita yg dulu atau sejam lalu dia temui. Dia sangat mengerikan. Sekarang dia melihat monster cantik sedang menyiksa pria usia 50 tahun itu.
"LEONA!!!!" Panggil Irvin tegas.
"HENTIKAN!!!"
"CUKUP!!!"
Irvin memerintah dengan suara tegas. Tapi, Leona tidak mematuhi perintah itu.
"LEONA!!!" Panggil Irvin lagi.
Leona hanya melirik tajam. Seolah dia berkata, 'Jangan ganggu aku.'
Leona kembali mengalihkan pandangannya kepada Petrus.
Mengangkat tangan kanannya yang memegang kuat palu terak. Leona bersiap mengayunkan tangannya. Matanya yg indah dan bening itu, menatap tajam kepala Petrus. Leona menargetkan bagian tengkorak belakang Petrus, tujuannya membuat pria itu menderita dan tersiksa secara perlahan.
"Le..... ona," kata Petrus lemah.
"Seberapa besar kebencianmu?"
"Bukan aku saja yg terlibat."
Dengan susah payah, Petrus berbicara dan berusaha membela diri.
"Aku tahu, Petrus," kata Leona pelan dan penuh kebencian.
"Kalian akan menerima satu per satu. Kebetulan, kau yg tertangkap lebih dulu. Dan, kau yg cari masalah pada Tuan Irvin,' kata Leona lagi.
"Jadi, Petrus. Kau terima saja nasibmu sebagai pendahulu mereka," Leona kembali berbicara dengan nada mematikan.
Tanpa ragu, Leona mengangkat tangan kanannya yg memegang palu itu, kemudian mengayunkan tangannya, dan.....
Deg....deg....deg...!!!
Leona memegang dada kirinya. Dia kesakitan. Jantungnya kambuh lagi. Akibat emosi yg berlebihan dan baru saja dia keluarkan.
Tapi, niat Leona untuk membuat Petrus tersiksa tidak terbendung lagi.
"Kau kenapa?" Tanya Petrus
"Ka...u... masih bertanya!?" Seru Leona
Nada suara Leona berubah. Irvin sangat memahami kondisi ini. Leona sedang kesakitan.
"Leona, cukup. Hentikan sekarang juga," kata Irvin.
Tapi Leona tidak menggubris.
'Belum waktunya aku mati,' kata Leona dalam hati.
Leona hendak memukul Petrus tepat di tengkorak belakang Petrus, dia harus melihat Petrus menderita.
TAP!!!
Tangan kanan Leona ditahan. Dan, palu itu tidak jadi mendarat di kepala Petrus.
Leona melihat tangan kanannya yg ditahan. Kemudian, dia melihat ke sebelah kiri. Irvin sudah ada disebelahnya, yang menangkap tangan kanan Leona.
Irvin melepaskan palu itu. Dengan lembut, dia menatap manik mata Leona.
"It's time to go. dr. Edward's waiting," kata Irvin.
'sial!!! Matanya!!! Kenapa iblis ini menunjukkan mata itu!!??' Batin Leona marah.
Leona berdiri, tapi, baru saja dia hendak berdiri dengan sempurna, tiba-tiba saja badannya sudah tidak stabil. Badannya terhuyung-huyung. Jantungnya memompa dengan cepat dan Leona hilang keseimbangan.
Beruntung, Irvin masih memegang Leona dan dengan sigap dia menggendongnya dan berlari keluar dari bangsal.
"Le...on...a," Petrus berbicara sangat lemah.
"Maafkan saya."
Air mata Petrus tanpa sadar menetes. Setelah itu, dia pun menangis di ruangan mematikan itu.
Petrus berusaha untuk duduk. Kembali menyandarkan badan dan kepalanya. Mendongak ke atas.
"Ini salahku. Maaf kan aku."
Petrus berbicara dengan pilu. Sangat menyedihkan.
"Maaf, Leona."
"Eona...... maaf."
Petrus menutup matanya.