CONTRACT WITH THE DEVIL

CONTRACT WITH THE DEVIL
Prolog



Pria itu mengenakan pakaian serba hitam. Jelas sekali terlihat kalau dia sedang berduka. Dia berdiri dengan tegak, tidak bergerak sedikit pun. Menatap nanar ke depan. Tak bisa lagi dia ulang semua yang terlewat. Kedua tangannya mengepal kuat. Rahangnya mengeras menahan amarahnya yang meluap. Menyalahkan diri sendiri dan mereka yang menyebabkan keadaan ini.


Dia menangis. Tapi, tidak ada yang tahu. Karena langit tidak mengizinkan orang lain tahu dia sedang menjatuhkan air mata dengan derasnya. Sore itu hujan pun turun dengan derasnya. Tanpa ada petir atau pun Guntur.


Saat itu, tidak ada yang berani mendekat. Sejak gerimis mulai turun, mereka yang awalnya ada disekitar dia berhamburan pergi meninggalkan dia yang masih menatap pilu ke depan.


Hujan semakin deras. Dia mendengar suara derap langkah kaki yang cepat. Suara dari kaki seorang wanita. Dia, pria itu, tidak terpengaruh sedikit pun. Dia tidak menoleh ke belakang, seolah-olah yang datang bukanlah orang penting. Ditengah derasnya hujan, wanita itu datang bersama 2 orang lelaki. Yang 1 masih muda dan yang 1 lagi seorang kakek tua dan masih sangat sehat. Mereka kini berdiri di sebelah pria itu. Wanita separuh baya itu tidak sanggup lagi berdiri. Tiba-tiba saja dia jatuh karena kaki yang lemas. Pria muda yang datang bersamanya ikut jongkok sambil menepuk-nepuk pelan pundaknya menandakan wanita itu harus kuat. Tanpa dia pungkiri, dia pun ikut bersedih dan menangis. Si pria tua itu melihat dan hanya bisa diam. Raut wajahnya menunjukkan betapa dia menyesali keadaan saat ini. Ingin sekali kembali ke masa lalu, tapi tidak bisa.


"Anakku......," ratap wanita itu.


"Bagaimana ini?" wanita itu bertanya dalam tangisannya.


"Kenapa harus seperti ini?"


Wanita itu menangis terus menerus. Jelas sekali kalau dia menyesali semua kesalahannya dulu. Hanya karena keegoisannya dan keluarga besarnya, dia kehilangan anaknya itu.


Pria muda yg datang bersamanya memeluk wanita itu erat. Berusaha menangkan dia. Sungguh berat buat mereka.


'Apa yang harus aku lakukan sekarang? Kita terpisah begitu lama. Tapi, sekarang kau pun pergi jauh,' katanya dalam hati.


'Bagaimana caranya supaya kami bisa merelakan mu?'


'Apa kamu bahagia sekarang?'


'Apa sudah tidak ada lagi kepedihan? Apa senyum itu adalah senyum terbaik mu? Tapi, kenapa senyum itu terlihat palsu?'


Pria muda itu bertanya dalam hatinya. Banyak pertanyaan yang tidak akan dia temukan jawabannya. Kepedihan demi kepedihan, luka demi luka mereka rasakan secara bersamaan.


Wanita itu melihat kepadanya, pria berjas hitam. Dia menatapnya dengan tatapan benci karena tidak bisa menjaga anaknya dengan baik. Ingin sekali dia membunuh pria itu, tapi, jika dia lakukan, masalah baru yang akan dia timbulkan.


Dia mengalihkan pandangannya, melihat pria tua yg bersamanya saat ini. Dia menatap pria tua itu dengan marah. Kemudian dia pun berdiri. Menatap marah pria tua itu. Melihat kemarahan wanita itu, pria itu hanya bisa diam dan bersiap menerima luapan amarah wanita itu.


"Ini semua salah Ayah," teriaknya kepada pria yang ternyata adalah Ayahnya.


Pria tua itu hanya diam.


"Ayah penyebab ini semua."


"Kembalikan dia."


"Huaa.... kem... hiks...kembalikan....hiks kembalikan a... anak....."


"KEMBALIKAN ANAK KU...!!!"


Si pria tua yg dibentak itu cuma bisa diam melihat putrinya yang malang dan sudah kehilangan salah satu anaknya. Kini, dia menyesal. Dulu, tidak membawa cucunya itu pulang ke rumahnya. Sekarang, nasi sudah menjadi bubur. Cucunya itu, sudah terbujur kaku dan sudah di dalam tanah dan terkubur.


"Cih... HAHAHHAHAHAA....!!!" Si pria berjas hitam itu mendecih dan kemudian menertawakan mereka bertiga.


Dia menggeram marah. Dia kehilangan. Dia menatap mereka marah. Ingin sekali rasanya dia memusnahkan mereka sekaligus.


"Kalian yang sudah membunuhnya. Dan Anda," tunjuknya kepada wanita separuh baya itu. "Kalau tidak bisa menjaganya kenapa membiarkan dia lahir?"


"Sekarang berpura-pura kehilangan. Kenapa?"


"Kalian bertingkah sungguh menjijikkan!"


"Segera tinggalkan tempat ini."


"Ini adalah hari terkahir kalian ada di tempat ini."


"Nikmati saat terakhir ini."


Pria berjas hitam itu memberi mereka peringatan dan berlalu dari hadapan mereka.


"Tunggu!!"


Pria muda itu menahan pria berjas hitam.


"Tapi, kami harus melakukan ziarah," katanya.


"Tidak perlu," jawab pria berjas hitam.


"Mereka," tunjuknya kepada orang-orang berseragam hitam lainnya.


"Mereka yang akan melakukannya."


"Tapi, kami keluarganya," kata si pria muda itu lemah menyebut kata keluarga.


"Keluarga apa yang membiarkan anggota keluarganya menderita sendirian di luar dan terjebak dalam lingkaran hidup yang mematikan???" Tanya si pria berjas hitam sarkas.


"Mereka semua adalah keluarganya. Mereka semua setia kepadanya. Karena dia sudah memberikan banyak hal kepada keluarga mereka," sambungnya dengan sinis.


Pria muda itu diam seribu bahasa. Tanpa berlama-lama untuk basa-basi yg menjijikkan, pria berjas hitam pun memberikan kalimat penutup.


"Ini hari pertama dan terakhir kalian ada di sini. Selanjutnya, kalian tidak akan pernah diizinkan masuk ke dalam lingkungan ini."


Sampai tengah malam, pria itu cuma duduk di meja kerjanya ditemani minuman keras kesukaannya The Macallan, scotch termahal di dunia.


"Sekarang apa kau sudah puas hah?" Tanyanya pada udara di ruangan itu.


"Kau memiliki yang orang lain inginkan. Kekuasaan, uang, harta, properti, bahkan semua orang menjual diri dan hidupnya hanya untuk jadi pengikutmu."


"Kau bisa saja memilih wanita yang kamu mau."


"Tapi, kenapa masih mau dia? Dan kau menyadarinya saat terakhir?"


"Ketika dia sudah meregang nyawa, dan kau hanya mendengar suaranya yang sekarat."


"Dia sudah pergi dari hidupmu. Dia sudah menghilang. Sudah menjauh dari pandangan dan jangkauan mu."


Pria itu bermonolog sendiri ditemani The Macallan-nya yang sangat mahal itu.


"Aku menemukanmu di tempat yang tidak seharusnya kau berada. Menyelamatkanmu dan memintamu mengikuti kontrak yang ku sodorkan."


"Kontrak yang mengikatmu dan kesetiaan mu untuk ku."


"Mengabdikan setiap detik hidupmu. Setiap helaan nafasmu. Tanpa sebuah keraguan dalam setiap pekerjaanmu."


"Pekerjaan yang kau jalani bukan layaknya sebuah pekerjaan biasa."


"Kemana lagi kesetiaan itu kucari?"


"Leona Arimbi."


"Selamat atas selesainya tugasmu. Selamat atas berhentinya kau dari pekerjaanmu yang mengerikan itu. Selamat untuk kesetiaan mu yang tak terbatas dan tertandingi."


Lalu, dia mengangkat gelasnya tinggi. Dan bersulang dengan udara di ruang kerja pribadinya.


"LEONA ARIMBI," dia berteriak menyebut lagi nama wanita itu.


"SELAMAT ATAS KEMATIANMU!!!" teriaknya pada udara.


Hening.


Tidak ada yang membalas ucapannya. Dan, setelah diam beberapa saat, dia menangis. Menangis didalam ruangan yang redup itu.


"AAARRRGGGHHHHH!!!" Dia berteriak.


"BRENGSEK!!!" Memaki


"Aku tidak bisa membalaskan dendam ini. Kenapa kau bodoh sekali? Kenapa menyetujui permintaannya?" Dia memaki dirinya sendiri.


"Kau pun mati ditangan saudara kembarmu."


"Leon Ardian."


"Bagaimana cara ku membunuhmu?" Tanyanya geram.


Pria berjas hitam itu masih terus saja merutuki semuanya. Mengingat janji yg sudah dia sepakati bersama Leona saat nafasnya mulai habis. Pria itu, berjanji tidak akan menyentuh keluarga Leona.


Irvin Abraham, nama pria berjas hitam itu. Dia bukanlah pria sembarangan. Dia pria yang sangat berpengaruh. Dia adalah penghubung antara dunia hitam dan pemerintah. Bisnis yang dia kerjakan adalah bisnis legal. Tidak ada satu pun yang merupakan bisnis illegal.


Tapi, cara yang dia gunakan bukanlah 100% cara yang sehat dalam berbisnis. Menurut dia, bisnis memang seperti itu. Dia harus memegang kendali penuh 2 jalur yg berselisih. Pemerintah dan Mafia. Dia bukan bagian dari salah satu organisasi itu. Dia adalah penghubung, mereka menyebutnya Golden Gate.


Bukan hal mudah bagi Irvin untuk sampai pada posisi ini. Pengkhianatan dari sahabat, keluarga, bahkan negara yang membuat dia menjadi malaikat sekaligus iblis. Bagi beberapa orang dia adalah malaikat. Bagi pesaing bisnis, anak buah bahkan musuh, dia adalah iblis yang hidup dalam kenyataan.


Jangan pernah berurusan atau mencari masalah dengannya jika kau ingin hidup dengan baik. Tapi, jika kau bersedia menjadi hambanya yang setia, datanglah, tangannya terbuka dengan kontrak yang akan kau tanda tangani.


Begitu kontrak kau tanda tangani, kehidupanmu ada ditangannya. Jiwa dan raga bahkan setiap helaan nafasmu adalah miliknya. Kau pun tidak bisa menolak.


Jangan pernah berfikir untuk lari darinya. Atau, kaki tangannya yang akan menangkap mu. Beruntung jika kau dihabisi di tempat oleh mereka. Sial, jika mereka membawa mu kehadapan Irvin. Karna pada saat itu juga kau akan bertemu sayap iblis. Jangan berharap nyawa mu langsung lenyap seketika. Dia, -sayap iblis-, akan menikmati jeritan dari setiap siksaan yang keluar dari dalam mulut mu.


Jika kau menjadi hambanya, kebaikannya juga akan dia berikan padamu. Bahkan, untuk kematianmu pun akan dia berikan yang terbaik.


Dia disebut iblis, karena dia tidak akan bisa kau tipu. Dia bisa membaca fikiranmu. Dia bisa tahu isi hati dan otak mu. Bersiaplah jika kau memiliki rencana buruk. Dia akan membiarkan kau melakukannya, karena itu adalah jalan untuk dia menyiksamu.


Kebenciannya terhadap manusia bahkan pada dirinya sendiri, membuat dia menjadi seorang yg sangat mengerikan. Dendam masa lalu atas pengkhianatan.


Leona Arimbi, namanya sangat dikenal. Wanita yang selalu disamping Irvin. Memiliki banyak tugas dan tanggung jawab. Dia juga merupakan sekretaris, asisten pribadi, pengawal pribadi dan sekaligus tangan kanan dari Irvin. Jangan menganggap dia lemah. Karena lirikan matanya saja bisa membuat jantung mu berdetak cepat karena ketakutan.


Wanita ini bukan wanita rendahan seperti yang selalu mencari perhatian dari Irvin. Melalui dia kau bisa bertemu dengan Irvin. Melalui otaknya bisnis yang ingin kau jalankan dengan Irvin bisa berjalan lancar. Jika ingin menjilat, cari muka, mulailah terlebih dahulu padanya.


Jangan pernah berharap dia memberikan senyum. Kau tidak akan pernah menemukannya. Bahkan, Irvin sendiri tidak tahu bagaimana rupanya jika dia tersenyum. Dia adalah bayangan penghancur dari Irvin.


Akui saja, dia memiliki wajah cantik bak seorang Dewi. Tapi, dia juga memiliki tatapan mematikan bagai seorang Dewi Pemusnah. Dia adalah kepercayaan Irvin. Tidak ada lagi yang perlu diragukan dari kesetiaannya.


Kepahitan yang dia terima dan dia telan diusia 18 tahun, membawanya menerima kontrak dari tangan terbuka seorang Irvin Abraham. Membuat dia bukan lagi seorang gadis lemah yang memiliki kelainan jantung bawaan sejak lahir. Dia sekarang adalah Leona Sang Dewi Penghancur.