CONTRACT WITH THE DEVIL

CONTRACT WITH THE DEVIL
#4



Leona sadar dari tidurnya selama 5 jam. Membuka matanya dan menyadari ada bos besarnya sedang menunggunya. Leona berusaha bangkit. Tapi, tidurnya yg lelap akibat pengaruh dari obat penenang dan penghilang rasa sakit membuat kepalanya sedikit sakit.


 


“Aaarrghhh,” Leona meringis kesakitan.


 


Irvin yg mendengar langsung melihat ke arah datangnya suara. Begitu melihat Leona yg berusaha bangkit langsung saja dia mendekati.


 


“Berbaringlah. Tidak usah bergerak. Kau butuh waktu untuk istirahat,” kata Irvin.


 


“Baik, Tuan,” kata Leona lemah.


 


“Apa yg kau lakukan?” tanya Irvin.


 


Leona diam dan tidak menjawab. Karena dia tahu apa pun jawaban yg dia berikan, tidak akan membuat Irvin puas.


 


“Sebelumnya aku sudah memperingatkan mu dalama masalah ini untuk tidak ikut campur. Tapi, kau membangkang?”


Irvin memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celana.


 


“Maaf, Tuan,” Leona masih saja menjawab dengan lemah.


 


“Jangan pernah ikut campur lagi. Aku dan Sargas yg akan menyelesaikannya,” kata Irvin tegas.


 


“Tapi, Tuan….” Leona masih saja berusaha mengambil kesempatan.


 


“Jangan pernah membantah saya, Leona!!!” Irvin bersuara tegas.


 


Leona kembali diam. Dia bisa melihat dengan jelas. Sorot mata Irvin yg marah dan dominan tidak ingin dibantah sedikit pun. Leona melihat jauh ke dalam mata itu. Ya…. Iblis itu. Iblis itu yg sedang berbicara. Leona atau siapa pun tidak akan bisa membantah. Pilihannya cuma 1, yaitu DIAM. Tidak ada lagi pilihan lain.


 


Tapi, tidak kali ini. Leona harus melakukannya.


 


“Tuan, saya mohon. Berikan tugas itu pada saya. Saya bisa jamin dengan nyawa saya. Pekerjaan itu akan beres kurang dari sebulan. Dan, saya tidak akan mengecewakan Anda,” Leona memohon masih dengan suara lemah.


 


“Jangan pernah berharap sedikit pun, Leona. Kau tidak akan pernah mendapatkan tugas itu lagi,” Irvin  memertegas perintahnya.


 


“Tuan, saya mohon. Ini kesempatan yg sudah saya tunggu selama ini,” kata Leona kembali memohon.


 


Leona berhasil mengontrol rasa sakit dikepalanya dan kemudian dia berhasil duduk.


 


Irvin kembali menatap Leona dengan tajam. Dan kali ini, jauh lebih mematikan dari sebelumnya. Sampai akhirnya Leona tertunduk karena dia sudah tidak berani lagi menatap mata yg mengerikan itu.


 


“Tidak ada lagi, Leona. Berikutnya, semua perkerjaan yg kau tangani adalah pekerjaan yg berhubungan dengan perusahaan saja. Tidak lebih!” Titah Irvin.


 


Leona terkejut mendengar perkataan Irvin. Kondisi ini adalah keadaan terburuk yg sangat tidak diharapkannya.


 


“Tapi, Tuan,” Leona masih saja bersuara dan berharap Irvin menerima permohonannya.


 


“SAYA BILANG TIDAK….. YA TIDAK, LEONA!!!” Suara Irvin menggelegar diseluruh ruangan. Mungkin saja suara itu sampai terdengar keluar dari ruangan itu


Kembali Leona terdiam. Kemudian dia menundukkan kepalanya. Tidak berani lagi membantah atau pun memotong.


Dia cuma bisa menunduk menerima perintah itu. Tapi, sorot mata Leona yg penuh dengan amarah, benci dan dendam masa lalu tidak bisa hilang begitu saja.


 


‘Aku tidak akan diam saja. Akan ku balas. Semua rasa sakit dan kehilangan ini tidak akan hilang begitu saja. Aku akan mati. Ya, itu pasti. Tapi, kematianku tidak akan sia-sia. Neraka yg ku tuju. Bukan Surga. Tempat itu sudah tidak layak untukku yg berasal dari dunia ku yg abu-abu ini. Aku sudah ada dititik ini. Jika kalian sudah bertobat, baguslah. Aku…. Dengan tanganku sendiri akan mengirim kalian ke Surga. Dan aku, akan berjalan sendirian menuju neraka. Dan itu hanya untuk ku saja. Aku yg berasal dari tempat mengerikan ini. Tempat yg mematikan ini. Tempat dimana tidak pernah terlintas dibayangan kalian.’


 


Leona berbicara pada dirinya sendiri. Mata itu, mata yg penuh kemarahan sekaligus kepedihan. Mata yg sudah didominasi oleh kebencian. Tidak ada lagi belas kasih atau cinta. Semuanya hilang sejak saat itu. Saat dimana Leona membuka matanya dan bangun dari tidur pasca operasi.


“Leona, kamu mengerti ucapan saya?” Tanya Irvin membuyarkan semua fikiran Leona.


 


“Ya, Tuan. Saya faham. Akan saya lakukan perintah Anda,” kata Leona.


 


“Baik kalau begitu,” kata Irvin lagi.


 


“Di depan sudah ada yg mengawasimu. Jangan berfikir untuk pergi dari ruangan ini. Atau mereka yg berjaga di luar pintu ini akan menanggung akibatnya.”


 


Irvin menarik nafas berat. Mendongakkan kepalanya dan membuang nafasnya. Beberapa saat kemudian dia melihat Leona lagi. Gadis itu masih menundukkan kepalanya.


 


“Jangan pernah menmikirkan strategi apa pun,” kata Irvin seola-olah tahu apa yg ada dibenak Leona.


 


Untuk menghilangkan kecurigaan Irvin, Leona mengangkat kepalanya dan melihat bosnya itu dengan raut wajahnya yg seperti biasa, POKER FACE. Irvin percaya dengan apa yg dilihatnya. Dia yakin, Leona memahami dan akan melakukan perintahnya.


 


“Saya rasa kamu faham. Saya akan meninggalkan mu di ruangan ini. Dan, jika masih ingin membalas semuanya, mari kita bicarakan dan cari solusinya bersama,” kata Irvin.


 


“Baik, Tuan,” Leona menyetujui.


 


Tanpa melanjutkan perkataannya lagi, Irvin berjalan dan meninggalkan Leona untuk beristirahat. Sebelum Irvin meninggalkan ruangan, dia membalikkan badannya lagi dan berbicara kepada Leona.


 


“Secepatnya 2 minggu lagi, kau akan menjalani operasi lagi. Jaga kesehatanmu. Dalam 2 minggu kedepan seharusnya tidak ada penundaan pelaksanaan operasi.”


 


Leona terperanjat. Dia kaget atas berita terbaru itu.


 


“Baik, Tuan,” kata Leona tidak menolak.


 


Irvin keluar dan meninggalkan Leona dibawah pengawasan anak buahnya. Dan memberi perintah pengawasan ekstra ketat sampai Sargas datang untuk berjaga mendampingi Leona.


 


Leona kembali merebahkan tubuhnya. Dia tidak ingin berada di tempat ini. Tapi tadi, dia tidak bisa mengontrol emosinya. Dia ingin sekali menghabisi pria itu.


 


“Kalau saja jantung sialan ini tidak bertingkah. Kau, pasti sudah menghadapi maut mu, Petrus,” kata Leona penuh dendam.


 


“Berterima kasihlah pada jantung busuk ini. Karena jantung ini, penderiaan dan kematianmu jadi tertunda. Dan, Tuhan itu saja masih menyayangi mu. Dia memberikanku jantung yg buruk dan kehidupan yg buruk. Tapi, kau dan mereka diberikan kebaikan-Nya yg luar biasa.”


 


Tanpa sadar Leona meneteskan air mata. Entah dari mana asalnya, sedangkan hatinya pun tidak lagi merasakan pedih atau sakit.


 


Leona menutup matanya untuk menghentikan air matanya yg akan menetes. Menghapus air matanya yg sempat terjatuh dengan kasar.


 


Ingatannya kembali ke masa itu, 10 tahun yg silam. Ketika dia membuka mata pasca operasi.


 


10 TAHUN SILAM


RUMAH SAKIT ABRAHAM


 


“Kau sudah bangun?”


 


Leona menoleh lemah kearah si pemilik suara. Seorang dokter yg masih muda bertanya dan tersenyum padanya.


 


“Iya, dokter,” kata Leona dengan lemah dan yakin pria yg bertanya kepadanya itu adalah seorang dokter dari pakaian yg dia kenakan.


 


Pria yg disapa dokter itu tersenyum padanya.


 


“Kau tahu?? Kau sudah tertidur selama 26 jam pasca operasi,” katanya lagi dengan lembut.


 


Leona ingin sekali tersenyum, tapi rasanya sangat berat. Dia tidak sanggup melakukannya. Leona berusaha menggerakkan anggota tubuhnya yg lain. Tapi, tidak bisa. dr. Edward memahami situasi itu.


 


 


“Jangan bergerak dulu. Nanti saja. Tubuhmu akan sangat lemah dan akan sulit untuk digerakkan. Itu semua hanya sedikit efek samping dari obat bius dan keadaan pasca operasi. Dan, selama lebih dari 12 Jam otak mu pun ikut


tertidur,” dokter itu menjelaskan.


 


Leona mengangguk Paham.


 


“Setelah 4 jam, kamu baru boleh minum. Dan, setelah 8 jam, kamu baru boleh makan. Jadi, tahanlah sedikit lebih lama, kalau kamu haus dan lapar. Nanti perawat yg akan datang membantu kamu minum dan makan. Kamu mengerti?” Sambung dokter itu lagi.


 


Setelah dr. Edward memeriksa kondisi Leona, dia meninggalkan Leona untuk beristirahat. Leona mengingat kembali kenangan itu. Saat malam dia bertemu dengan pria itu, Irvin Abraham.


 


 


Perasaan yg campur aduk. Tidak tahu bagaimana mengungkapkannya. Bersyukur atau tidak. Semuanya masih belum jelas.


 


Sudah berhari-hari Leona menjalani perawatan. Tapi, pria yg mengulurkan tangannya masih belum menampakkan wajah sama sekali. Dia tidak punya keberanian untuk bertanya kepada siapa pun. Dia tidak tahu harus bertanya


apa. Sampai akhirnya,dia menemukan pertanyaan yg tepat untuk memulai pencariannya.


 


“Hm….. dokter. Maaf,” dari suaranya gadis itu terdengar masih polos.


 


“Ya? Apa yg mau kamu tanyakan, Leona?” Tanya dokter itu kemudian.


 


“Saya sampai kapan dirawat?”


 


dr. Edward tersenyum, ”Minggu depan mungkin kamu sudah bisa pulang. Saya observasi dulu cincin yg ada di jantung kamu,” katanya menjelaskan.


 


Leona ragu untuk melanjutkan pertanyaannya. Terlihat jelas antara takut dan bingung.


 


“Ada lagi yang mau kamu tanyakan?”


Leona mengangguk.


 


“Tanyakan saja. Tidak usah ragu.”


 


Untuk beberapa saat  Leona terdiam. Dan dengan yakin dia mulai bertanya.


 


“Dok, mengenai biaya? Berapa totalnya? Dan, bisakah saya mencicilnya?” Tanya Leona pelan dan tertunduk malu.


 


dr. Edward tertegun, ‘Gadis ini, masih belum tahu apa yg sudah dia lakukan.’


 


Leona menunggu jawaban. dr. Edward merubah posisi duduknya.


 


“Tidak usah difikirkan. Seseorang sudah membayarnya,” katanya lagi.


 


“Apakah dia orang yg sama dengan orang yg membawa saya?” Tanya Leona memastikan.


 


dr. Edward mengangguk mengiyakan.


 


Leona tersenyum. Dan menunduk. Dia yakin sekarang, kalau malam itu, apa yg dia lakukan adalah sebuah kesalahan fatal. Leona sudah menyetujui untuk menerima bantuannya. Dan, harus bersedia menerima setiap


konsekuensi dari kepeutusannya yg secara mendadak.


‘Benar, Leona. Lebih baik kau ikut saja bersama pria itu. Kalau pun dia menjualmu untuk menjadikanmu


pelacur, itu lebih baik. Daripada kamu harus ikut si wanita tua lintah darat itu. Lebih baik jadi pelacur untuk kelas atas dari pada jadi pelacur untuk para supir truk bau dan preman rendahan,’ batin Leona menenangkan dirinya.


 


“Jadi, dok, kapan saya bisa bertemu?” Tanya Leona masih dengan kepala tertunduk.


 


“Minggu depan akan ada yg menjemput mu. Dan, minggu berikutnya, kamu akan bertemu dengan dia. Saat ini, dia sedang sibuk sama bisnisnya di London,” dr. Edward menjelaskan.


 


Setelah mendengar penjelasan dari dokter itu, Leona kembali menenangkan fikirannya. Dia tahu tidak ada gunanya untuk lari dari pria itu. Keadaan tidak mendukungnya sedikit pun.


 


‘Lari bukan jalan yg baik untuk ku. Aku sudah menerima dan menandatangani kontrak itu. Kontrak kosong dan memberi cap jempol dengan tinta darah sebagai tanda tanganku. Akan ku ikuti. Semoga saja jalan ini lebih baik.’


 


***********


 


Mansion Cananga.


 


Sudah seminggu Leona tinggal di kediaman mewah ini. Kamar pribadi yg mewah disiapkan untuknya. Dan semakin membuat dia yakin akan apa yg menjadi pikirannya. Sudah seminggu Leona berkeliling di tempat ini. Dia juga melihat beberapa pria dengan tubuh kekar sedang berlatih. Di sudut sebelah sana, ada area untuk latihan menembak. Lokasi tempat tinggal ini berada jauh dari kota.


 


Dan tadi dia mendengar kalau Tuan Irvin akan tiba hari ini. Hari yg ditunggu oleh Leona tiba. Saat dia akan bertemu Malaikat Penyelamatnya.


 


Setelah 3 jam sejak dia mendapat kabar kepulangan Tuan Irvin, Leona pun akhirnya berada di depan pintu ruang kerja pria itu. Pintu itu dibukakan oleh pelayan wanita yg masih muda setelah mendapat persetujuan dari Irvin.


 


Dengan tatapan sinis dan merendahkan, pelayan itu memersilahkan Leona masuk.


 


“Silahkan masuk. Tuan sudah menunggumu,” katanya dengan nada yg membuat siapa pun yg mendengar pasti langsung merendahkan dirinya.


 


Leona masuk, mempersiapkan diri dan terutama mentalnya untuk berhadapan dengan Irvin.


 


“Duduklah,” titah Irvin dengan suaranya yg jelas membuat siapa pun ketakutan mendengarnya.


 


Leona menurut. Pelayan tadi meninggalkan mereka dan menutup pintu.


 


“Aku sudah menyelidiki mu selama kau di rumah sakit,” kata Irvin.


 


“Apa kau ingin membalas dendam?” Tanya Irvin langsung pada intinya.


 


Leona terkesiap. Tanpa komando dia mengangkat kepalanya. Dan entah berasal dari mana, Leona pun mulai berbicara.


 


“Ya, Tuan. Saya mau,” katanya cepat dan terburu-buru.


 


Leona sungguh sangat ingin melakukannya. Irvin tersenyum. Leona terpana melihat senyuman pria itu. Dia terkesima melihat wajah tampan dan berkarakter yg ada dihadapannya itu. Pria blasteran itu adalah majikannya


sekarang.


 


“Aku tidak perduli seperti apa caramu membalaskan dendam mu itu. Yg ku mau, sebelum kau membalaskan dendam mu, kau harus menujukkan kesetian dan loyalitasmu kepadaku terlebih dahulu. Aku tidak ingin menyia-nyiakan waktu dan uang yg ku keluarkan hanya untuk mu,” kata Irvin pongah.


 


“Ya, Tuan. Saya bisa melakukan apa saja. Apa pun yg Tuan mau dan perintahkan,” Leona menyetujui setiap kata demi kata dari Irvin.


 


“Ha….hahahhahahahahaha……” Irvin tertawa meremehkan Leona.


 


“Kau sadar dengan ucapan mu?” Tanya Irvin dengan tajam.


 


“Ya, Tuan. Saya yakin. Saya akan menghasilkan uang yg banyak untuk keuntungan Tuan.”


 


“Dengan apa?” Tanya Irvin dengan cepat.


 


Leona berdiri, “Dengan tubuh saya, Tuan. Saya hanya punya tubuh saya untuk menghasilkan uang dan Anda berhak untuk mengambil uang itu. Asalkan, Anda membantu saya untuk membalaskan dendam saya.”


 


Irvin terperanjat atas pernyataan Leona. Dia paham maskud dari pernyataan Leona. Leona berpikir, kalau dia akan dijadikan pelacur dan bekerja untuknya. Irvin mengangguk dan mengerti.


 


Dia berjalan kearah Leona. Dia melihat Leona. Gadis yg jarak usianya Cuma 7 tahun lebih muda dari dia itu sungguh sangat menaruh dendam dimatanya. Mata yg indah itu benar-benar penuh dengan kebencian.


 


“Aku tidak akan menjadikanmu pelacur. Umur mu masih terlalu dini untuk pekerjaan rendahan itu,” kata Irvin.


 


Leona terdiam. Dia salah. Dia menunggu kalimat Irvin berikutnya. Irvin mendekat.


 


“Aku butuh isi otakmu,” katanya lagi sambil mengetuk-ngetuk pelan kening Leona dengan ujung jari telunjuknya.


 


Leona kembali berterima kasih. Dengan mata yg penuh dendam, dia akan mengikuti aturan main yg sudah diciptakan oleh Irvin. Leona pun keluar dari ruang kerja Irvin. Dan menunggu waktu yg tepat untuk memulai semua.


 


Irvin kembali duduk di kursi tempat dia biasa bekerja. Dia menatap tajam pintu yg baru saja ditutup oleh Leona.


 


Dia mengingat kembali pertanyaannya dan jawaban yg diberikan oleh Leona.


 


    “Kepada siapa kau akan membalaskan dendam mu?” Tanya Irvin


    “Kehidupanku, Tuan. Dia tidak mengizinkan ku hidup dengan baik sedikit pun. Akan ku tunjukkan, kalau aku     akan bisa membalaskan dendam ku pada kehidupanku yg mengerikan ini,” kata Leona menggebu-gebu.


‘Yang terjadi padamu memang sangat mengerikan,' kata Irvin dalam hati.


 


*****************


**************