Complicated

Complicated
•24



Keadaannya bener bener tegang, gak ada yang mau buka suara duluan, Farel sebagai yang termuda sebenarnya gak harus ikut kumpul di Markas kayak gini tapi karena Danny ingin semuanya berkumpul jadi mau gak mau


"ada yang bisa jelasin kek gue soal Marvin?" tanya Danny tapi masih gak ada yang jawab, beberapa dari mereka bahkan memilih mainin ponsel meski cuma keluar masuk beranda


BRAKK.!!!


Semuanya terkejut karena Danny tendang meja di depannya, dari raut wajahnya udah keliatan banget kalau dia marah


Jujur aja, mereka semua gak pernah lihat Danny semarah ini, setegas tegasnya Juna masih lebih tegas Danny, se-berkuasanya Justin bakal tetap kalah sama Danny, Danny emang keliatan banyak diamnya, seolah gak tau apa apa tapi sebenarnya Danny itu, dia tahu semuanya, apa yang terjadi di antara teman temannya dia tahu.


"Pertama, gue minta Justin. jelasin apa yang lo lakuin ke Marvin" ujar Danny


"lakuin apa, bukan gue yang nabrak Marvin sampai koma" jawab Justin dengan santai


Salah satu dari mereka ada yang mengepalkan tangan mendengar penuturan Justin barusan dan itu di sadari oleh satu dari mereka


"Sekali lagi gue tanya, Emilio Justin Ardana. apa yang lo, Devan, Juna, David, Jaden dan Arthur, lakuin sama Marvin sebenarnya di Club?" Yang namanya di sebut agak panik pastinya


Bingung mereka dari mana Danny bisa tahu tentang kejadian malam itu


"Masih ada yang gak jawab ternyata, okay. karena gak ada cara lain.—"


"Kita cuma ajak Marvin minum, gak lebih dari itu. kalau pun main ... cuma David, selebihnya nikmatin musik" Juna membuka suara


"lo yakin dengan apa yang lo bilang barusan, Juna?" Danny natap Juna dengan tatapan yang sangat mengintimidasi dan karena dia yang paling tua di antara mereka, tidak ada yang berani menyela ucapannya


"lo gak percaya sama gue?" Juna yang


anaknya gampang banget ke pancing emosi merasa gak terima sama pertanyaan yang dilontarkan Danny


"Gue cuma memastikan apa yang lo ucap, gak bilang gue gak percaya sama lo, itu lo sendiri yang bilang" jelas Danny


Danny bukan orang bodoh.


Sekali lagi. mudah baginya untuk mengetahui apa yang disembunyikan, jangan salahkan diamnya selama ini. Danny cuma menunggu teman temannya untuk secara terbuka mengatakan yang sebenarnya tapi ternyata engga dan Danny cukup kecewa karenanya


"gak ada yang suruh lo keluar, Arthur." Arthur menghentikan langkah, ekspresi wajahnya tetap datar tapi isi kepalanya gak sedatar raut wajahnya


"Kenapa?" tanya Arthur


"Kembali ke tempat lo, gue belum selesai, apa lo pikir itu sopan?" Arthur tahu apa yang dia lakuin gak sopan tapi jujur aja, dia udah merasa muak banget


"lo tau gue dan lo gak mungkin gak tahu siapa yang sering buat ulah" ucap Arthur


BRAKK.!!


"Berengsek.! maksud lo apaan?!!" Justin yang tersulut emosi karena perkataan Arthur di tahan sama Haris biar gak terjadi keributan, itu anak udah ancang ancang maju mau mukul Arthur


Arthur tersenyum miring "Kalau gak merasa, kenapa harus marah?"


"Justin Stop.!!"


"Minggir Haris, jangan halangin gue, ini anak emang harus di hajar biar dia gak seenaknya kalau bicara"


"lo yang seenaknya bertindak Justin, bukan gue, kalau lo lupa." amarah dalam diri Justin makin menggebu gebu, hawa di dalam markas makin panas karena permasalahan ini


bugh.!


"JUNA.!!!" teriak Danny


Kyle di bantu Kevin nahan Juna biar gak mukul Arthur lagi, sementara Arthur langsung di bantu berdiri sama Danny, meski sudut bibirnya berdarah, dia masih terlihat santai seolah yang terjadi barusan bukan masalah besar, wajahnya juga masih sama, datar.


"Jangan sok suci lo sialan.!" ujar Juna


bugh.!


bugh.!


bugh.!


bugh.!


Bukan Juna yang pukul tapi Arthur karena udah terlalu kesal sama Juna, pertengkaran keduanya gak bisa terelakan, ini orang berdua udah kayak kerasukan setan


"GUE BILANG STOP JUNA.!! ARTHUR!! KEVIN TARIK ARTHUR!!" teriak Danny


"DIAM.! LO GAK USAH BELAIN DIA.!" teriak Juna


bugh.!


bugh.!


Markas udah kacau banget, mana isinya jantan semua yah susah, harus menunggu siapa yang waras disini


Kesabaran orang itu ada batasannya dan mungkin Danny udah setipis itu makanya dia kelepasan pukul Juna


Keadaan hening seketika.


Mereka kaget, gak nyangka kalau Danny bakalan pukul Juna, mana dua kali, Juna itu dekat banget sama Danny udah kek adiknya, gak cuma Juna, semuanya juga dekat tapi yang paling dekat yah si Juna


"Jangan sampe gue pukul lo lagi buat ketiga kalinya, jujur aja Juna. gue kecewa sama lo, gue kecewa sama kalian yang terlibat ngejebak Marvin,  gue gak nyangka, gue gak ngerti kenapa kalian bisa setega itu, terutama lo, Justin. stop bersandiwara, gue udah tahu semuanya."


"lo itu gak tau apa apa." ujar Juna


"Kalau gitu jelasin, jelasin biar gue tahu. apa yang bikin kalian setega itu sama Marvin" jawab Danny