
"Dina.!!" teriak Farhan
Farhan yang mau pergi langsung di tahan sama Azka, kali ini harus serius, gak ada bercanda "Jangan kayak orang bego, lo harus nanya dari pada nyasar, malu lo kalau sampai salah kamar"
Karena terlalu khawatir Farhan gak bisa berpikir jernih, di pikirannya cuma ada Dina dan Dina.
Gimana enggak gak panik, ini mereka tadinya lagi main di Rumah Chandra, soal Dina yang izin karena urusan mendadak udah di kasih tahu sama Farel, tapi tiba tiba teleponnya berbunyi dan itu dari Ibunya yang bilang kalau Dina masuk Rumah sakit
Tanpa Babibu Farhan pergi tanpa pamit sama yang punya Rumah tapi karena Chandra cenayang, dia tahu kalau Farhan gak akan mungkin se-khawatir itu kalau orangnya bukan Dina dan bener aja, emang Dina orangnya, Chandra langsung minta Farhan buat jelasin
Chandra jadi bagian yang nanya ke Resepsionis dan katanya ada pasien yang namanya Ardinata
"Ayo.." Ketiganya berlari di lorong Rumah sakit, Resepsionis bilang Dina di bawa ke Ruang UDG
Sampai disana Farhan gak bisa menahan emosi lihat sosok Justin berdiri di depan Ruang UGD, langsung aja dia menghampiri, dorong Justin dengan kasar ke dinding terus dia tarik kerah bajunya
"Ngapain lo disini?"
"Menurut lo aja kenapa gue ada disini dan ... jauhin tangan lo, harusnya lo berterima kasih, kalau bukan karena gue temen lo mungkin udah ma.—"
bugh.!
Justin jatuh tersungkur, sial pikirnya karena sudut bibirnya kembali terluka
"FARHAN STOP.!!" teriakan Chandra mengundang tatapan semua orang yang berlalu lalang
Azka menghampiri Farhan terus tarik dia menjauh dari Justin "please Han, inget tujuan lo kesini, jangan sampai karena ini kita di usir sama satpam"
Farhan menghempaskan kasar tangan Azka yang pegang dia "gak usah deket deket sampe segitunya juga setan"
Gak salah Farhan kesel, emang kalau di liat, Azka kayak lagi meluk Farhan jadi Farhan agak merasa gimana gitu
Justin bangkit sambil benerin seragamnya yang kusut karena ulah Farhan
Farhan natap dia dengan sinis
"Pergi, kehadiran lo sama sekali gak diharapkan disini" Justin menghampiri Farhan bersamaan dengan itu Chandra ikut yang maju satu langkah
Sakit kepala serius, kalau gak inget umur, udah dia unyel unyel itu si Farhan, ini anak susah banget di bilanginnya, heran. orang orang pada kenapa sih suka main tangan, bukan apa apa, emangnya gak capek tiap ketemu langsung main hajar
Gak habis pikir dia tuh
"Oh ya, kita lihat aja nanti." Farhan yang emang kesel banget sama Justin harus tahan niat untuk gak memukul Justin saat mendengar suara pintu terbuka dan Dokter keluar dari dalam
"Dengan keluarga Nona Ardinata?" tanya Dokter
"Saya Kekasihnya, bagaimana dengan keadaannya Dokter?" Mata Farhan melotot mendengar Justin berucap kayak gitu, gak terima, mau protes tapi mulutnya di bekap sama Chandra
"Please Han, sekali ini aja lo jangan kayak macan lepas, malu ama orang orang" bisik Chandra
"Beruntung Nona Ardinata hanya mengalami cedera ringan di bagian kepala tapi karena ada beberapa luka di bagian tubuhnya, Nona Ardinata di haruskan menginap selama satu minggu untuk pemulihan" Jelas Dokter
"Lakukan yang terbaik Dokter" ujar Justin
"Kami akan melakukan yang terbaik, kalau begitu saya permisi"
Setelah kepergian Dokter, Farhan menghampiri Justin
"Sekarang jelasin ke gue apa yang terjadi sama Dina"
"lo cari tahu aja sendiri" jawab Justin terus pergi meninggalkan Farhan yang emosinya udah di ubun ubun
"Dasar anak setan." gumam Farhan
***
"puas lo sekarang."
"Kerja bagus, tenang aja, gue bakal tepatin janji gue, Perusahaan keluarga lo bakal baik baik aja, gue bakal minta Ayah buat bantu Perusahaan Ayah lo"
"ini Pertama dan terakhir gue bantu lo."
"Gak masalah, tapi jangan sampe orang lain tau, lo bakal abis di tangan gue"
pippp..
Justin jauhin ponselnya dari telinga, emang ada gila gilanya ini cowok
Dia gak sadar kalau ada yang memperhatikan dari balik pohon dari luar Rumah sakit, lelaki berkaca mata mengenakan Hoodie hitam
"Maaf, gue janji bakal minta maaf, kalau perlu sujud di kaki lo Dina." ujar orang itu lalu pergi dari sana
Di sebuah ruangan yang mana itu kamar rawat Dina, ada Farhan, Azka dan Chandra, ketiganya memilih menunggu Dina sampai sadar
"Han, lo yakin gak kasih tahu keadaannya sama Ibunya?" tanya Azka memecah keheningan yang terjadi di antara mereka
Farhan mengehela nafas kasar
"Lebih baik ibunya gak usah tau, gitu kata Ibu gue, barusan ngechat"
"Kok gitu?" tanya Chandra
"Katanya biar aman, Ayahnya lagi diproses karena ada yang laporin dia atas tindakan kekerasan, gue gak tau siapa orang yang laporin tapi yang pasti bukan Ibunya, kata Ibu gue Dina kayak gitu karena di hajar Ayahnya"
"Demi apa?" Farhan menganggukan kepala
"Hidupnya terlalu sulit buat di deskripsikan, kalian cuma harus tahu kalau Dina itu cewek hebat. gue kalau jadi dia gak bakal mungkin bertahan"