Complicated

Complicated
•21



"Bagaimana keadaanya Dokter?" tanya Justin


Helaan nafas kasar terdengar, memecah keheningan diantara mereka berdua


"Mohon maaf nak, kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi teman anda Marvin. mengalami Koma akibat benturan keras pada kepala yang menyebabkan terjadinya pendarahan di dalam otak, untuk saat ini kami belum bisa memastikan kapan Marvin akan sadar, kalau begitu saya permisi. ada Pasien lain yang harus saya tangani, selamat malam." Justin tidak menanggapi


Netranya beralih ke dalam kamar Rawat Marvin, lelaki itu terbaring lemah tidak berdaya di dalam sana


Dan Justin gak bisa nahan diri untuk gak merasa kesal karena Marvin cuma terbaring di ranjang besi itu, bukan pergi untuk selamanya


Sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman, senyuman miring lebih tepatnya "Kenapa Vin, kenapa lo masih hidup?" gumam Justin


"Marvin!!" Suara teriakan menyadarkan Justin, dia menoleh dan mendapati Dina datang menghampirinya


"Gimana sama Marvin? Dia baik baik aja kan, jawab gue jangan diam!"


Seberharga itu kah Marvin buat lo, Ardinata. - batin Justin


"Justin!" Justin menatap tajam ke arahnya


"lo apa apaan sih?!" Dina terkejut ketika tubuhnya di dorong ke dinding


"Tinggalin Marvin." ujar Justin


"Gila lo, minggir!" Justin semakin menekan kuat tubuh Dina ke dinding


"ahk.!"


"lo pilih, tinggalin atau dia gak akan buka mata untuk selamanya."


plak.!


"Bajingan, keren lo bicara kayak gitu. sakit. dia temen lo sendiri, bisa bisanya lo bicara kayak gitu" Justin pegang pipi kanannya yang terasa panas karena tamparan keras dari Dina


Pukulannya gak main main, ninggalin bekas dan itu, bikin kobaran amarah di dalam hati Justin, gak ada cewek yang pernah kayak gini sebelumnya sama dia, cuma Ardinata.


"lo emang suka di kasarin kayaknya"


"Coba aja kalau lo bisa, minggir sialan ... hmmm!!"


Justin membungkam Dina langsung dengan tindakan, gak peduli soal dimana mereka, Justin gak suka di remehin apalagi sama cewek, itu sama aja menginjak injak Harga dirinya.


Justin tarik rambut Dina, yang dia lakukan semakin menjadi jadi, membuat Dina sulit untuk bernapas, dia berusaha untuk teriak dan Justin makin gak suka, itu artinya penolakan dan Justin gak suka di tolak


Sebelum dia kehilangan akal sehat, Dina dorong Justin sekuat tenaga menjauh darinya, Justin merasakan rasa kecut di dalam mulutnya karena sebelum terlepas gigi Dina menyentuh lidahnya, gak terima, Justin natap Dina dengan tatapan menyeramkan


"lo emang gak bisa di perlakukan secara lembut" Justin mengulurkan tangan menarik Dina dan menekan tubuhnya ke dinding, Justin menjerat Dina, gak kasih celah buat dia kabur


"Sekasar apapun lo, sehebat apapun kemampuan lo, tetap bakal gue yang menang Ardinata. gue yang pegang kendali, disini bukan lo."


"Berani beraninya lo sentuh gue.! berengsek.!" Justin tersenyum sinis


bugh.


"argghh.!" Terlampau kesal sama kelakuan Justin, Dina tendang kepemilikannya


"Pelajaran buat lo karena berani nyentuh gue tanpa izin, lain kali bukan cuma itu lo yang gue tendang tapi sekalian tangan lo gue patahin, bajingan." Dina yang hendak pergi di tarik tangannya sama Justin


"Lo gak bakalan bisa lepas dari gue."


bugh.


Satu pukulan mendarat lagi di wajah tampan Justin hingga membuat sudut bibirnya berdarah


...***...


"Argghhh!!!" teriak Vanya, deretan Make up yang tersusun rapih dimeja rias, gak salah apa apa tapi di jatuhin semua sama dia ke lantai


Juna datang mendekat, dia nahan tangan Vanya yang terangkat ke udara


"Jangan sakitin diri lo sendiri Van." Vanya menghempaskan kasar tangan Juna yang nahan dia


"Diam.! tau apa lo hah?! gak usah sok peduli sama gue!" Juna kembali nahan tangan Vanya


"Berengsek! gue bilang. —"


grepp.


"Please stop.


— lo gak seharusnya kayak gini, berhenti nyakitin diri lo sendiri, harus berapa kali gue bilang sama lo Lavanya!"


"hiks..hiks.."


Juna semakin mengeratkan pelukannya mendengar isakan tangis dari Vanya


"Nangis aja Van, tumpahin semuanya. gue tau lo capek sama semuanya" Untuk sesaat Vanya larut namun berapa detik kemudian dia tersadar


Keberadaan Juna disini salah.


Mereka, hanya masa lalu yang gak sepantasnya seperti ini


Vanya dorong Juna " Gak, ini salah Juna. gak, gak, pergi sekarang Juna, gue gak mau lihat lo, lo harus pergi, lo gak boleh.—" Juna menghentikan langkah begitu juga dengan Vanya


Dia natap Juna dengan tatapan yang sulit di artikan "lo masih sama berharga buat gue, dulu atau sekarang. gak ada yang berubah Van."


Air mata Vanya kembali keluar, Juna mendekat, menyeka air matanya menggunakan ibu jarinya


"Jangan paksa gue Van, kalau pun gue harus mati demi lo, gue siap." Juna kembali narik Vanya ke pelukannya


"Gue pastiin Marvin bakal bayar semuanya, itu janji gue sama lo."