
Merasa Marvin punya keinginan buat kejar Dina, Vanya pegang kuat tangan Marvin biar gak pergi samperin Dina tapi namanya tenaga Laki laki jelas bakal kalah, pada akhirnya Vanya gak bisa cegah Marvin buat samperin Dina
"Marvin.!!" teriak Vanya
grep.
Marvin berhasil meraih tangan Dina terus tarik dan peluk si empunya erat banget "Maaf, demi Tuhan aku gak bermaksud nyakitin kamu Dina, please. kamu harus percaya, aku.—" Pelukan terlepas karena Dina mendorong Marvin menjauh darinya dan cukup membuat Marvin kaget
Dina nolak dia.
"gak ada yang namanya cinta kalau udah nerima hati yang lain." Dina mau pergi tapi sama Marvin di cegah
"Dina dengerin aku.."
"Berhenti Vin."
"Dina please.."
Kecewa.
Dina bukan Marah lagi tapi kecewa, kalau kata orang kecewa itu amarah terbesar yang tersimpan dalam diri setiap orang, bedanya ini gak pakai emosi tapi lebih kek 'Terserah lo, gue gak mau tau lagi, gue udah capek."
"Dina aku.—"
plak.!
"STOP AKU BILANG.!" teriak Dina
Tangan kanan Marvin bergerak pegang pipi sebelah kanannya yang terasa panas karena tamparan keras dari Dina
Dina angkat sebelah tangannya ke udara, tanda buat Marvin untuk jangan melanjutkan perkataannya
"Kita selesai, aku gak mau ada lagi hubungan sama kamu, kita selesai sampai disini, makasih buat kenangan singkat tapi indah juga lukanya" Dina mengalihkan pandangan melihat Vanya yang berdiri tidak jauh dari mereka
Netranya kembali menatap Marvin dengan mata berkaca kaca "aku sayang kamu Marvin." Setelah mengatakan itu Dina pergi meninggalkan Marvin yang diam tidak berkutik ditempatnya
Kedua tangannya mengepal kuat, memperlihatkan jelas urat uratnya yang menonjol, bersamaan dengan itu Hujan turun membasahi bumi, bunyi petir menggelegar memenuhi semesta
Vanya tersenyum miring di belakang sana menatap kepergian Dina, Gadis itu terlihat sangat menyedihkan di Matanya kali ini, Vanya merasa kalau dia adalah Pemenangnya, namun saat Marvin berbalik, senyumnya terganti dengan tatapan sendu, menunjukkan seolah seolah dia ikut merasakan kesedihan yang Marvin rasakan
"PUAS LO SEKARANG HANCURIN HUBUNGAN GUE?!! PUAS LO?!!" teriak Marvin tepat di depan wajah Vanya
"Kamu bicara apa sih Vin, aku gak ngerti apa yang kamu omongin"
"Gak usah pura pura sialan. jangan lo kira gue gak tau.!" Marvin mendekati Vanya, jarak antara wajah mereka hanya berapa jengkal saja
"Lo, Justin, Devan dan yang lain, kalian kan yang rencanain ini semua?" Wajah Vanya langsung pucat pasi mendengar penuturan Marvin
"Seenaknya? gue? ngaca lo kalau bicara, apa perlu gue kasih bukti seenaknya lo dan keluarga lo maksa Perjodohan ini ke keluarga gue?"
"Marvin.!"
Plak.!
"Lo semua itu Bajingan." gumam Marvin
"Gak usah mimpi lo bakal nikah sama gue, kenapa? karena cuma Ardinata yang ada di hati gue, inget itu." Marvin berbalik badan, yang harus dia lakukan sekarang adalah menyusul Dina
"Marvin!!!!!! Lo gak bisa giniin gue!!! kembali Marvin!!!"
Tidak jauh dari Rumah Marvin, ada sebuah Mobil Van hitam terparkir di pinggir jalan, di dalamnya terdapat Justin yang ternyata menyaksikan semuanya dari dalam mobil
"Menakjubkan, Drama yang sangat bagus tapi sayang sekali karena sekarang adalah waktunya bagi sang Pemeran utama." Justin menjalankan mobilnya meninggalkan Rumah Marvin
Soal Justin yang mengintai tidak di ketahui sama sekali oleh Vanya, jadi Gadis itu tidak sadar kalau mobil yang barusan lewat di hadapannya adalah Mobil milik Justin
Hujan semakin turun deras, petir menyambar di langit membuat kilatan cahaya kecil, Justin terus mencari dimana keberadaan Marvin dan Dina namun tidak kunjung menemukannya sampai dia melihat dengan mata kepalanya banyak sekali orang berkumpul di tengah jalan
Terdengar juga suara tangisan yang familiar di telinganya, beberapa orang terlihat menempelkan telepon genggam ke telinga dan berbicara untuk segera mengirimkan ambulance, karena penasaran Justin turun dari mobilnya dan memaksa masuk ke dalam kerumunan, perlu sedikit perjuangan agar bisa sampai ke barisan depan
"enggak, enggak, jangan tutup mata kamu Vin, Marvin! — siapapun tolong cepat panggilan ambulance!" Tubuhnya seolah membeku, Justin tidak tahu bagaimana menanggapi apa yang dia lihat dengan mata kepalanya sendiri
Marvin terbatuk yang langsung mengeluarkan darah, membuat Dina tidak bisa tidak menangis
"Kamu bodoh, kenapa kamu harus nolongin aku?! seharusnya kamu biarin aku mati! aku lebih baik mati dari pada kamu yang terluka Marvin!" Tangan Marvin terangkat, di belainya lembut wajah Dina, menatap Gadis itu dengan mata berkaca kaca
"Harus bahagia, janji sama aku?" Dina gelengan kepala
"Dina, sayang...dengerin aku, kamu harus bahagia, cantiknya aku gak boleh sedih, aku gak apa apa asalkan kamu baik baik aja, apapun aku kasih buat kamu sekalipun itu nyawa, jadi kamu. —uhuk .. uhuk .. ahk.."
Dina menggeleng ribut sembari menepuk nepuk pipi Marvin yang sudah tidak sadarkan diri di pangkuannya, seseorang berpakaian Perawat menghampiri dan mengambil alih Marvin dari Dina
"Enggak, enggak, jangan bercanda kamu Marvin, Marvin! buka mata kamu Vin! AKU BILANG BUKA MATA KAMU MARVIN!!"
"ENGGAK!! LEPAS!! GUE MAU SAMA MARVIN LEPAS!! GAK! MARVIN!!"
Marvin di bawa masuk ke dalam ambulance dan Dina berada di pelukan Justin, lelaki itu memeluknya dengan sangat erat, mengusap sayang puncak kepalanya meski tangisan Dina tidak kunjung berhenti sampai akhirnya dia tidak sadarkan diri di pelukan Justin
Justin menatap Dina yang tidak sadarkan diri dalam dekapannya dengan tatapan sulit di artikan
"Maaf." gumamnya pelan