Complicated

Complicated
•19



Hari demi hari sosok Marvin gak keliatan, Dina jadi makin di buat bingung karena gak ada yang tau kemana perginya Marvin, kalau dia izin gak masuk pasti ada suratnya tapi ini gak ada sama sekali, berkali kali Dina hubungin Marvin juga gak di angkat, telepon darinya selalu di reject, lewat Bubble Chat juga gak di bales, sebenarnya apa yang terjadi sama Marvin dan kenapa dia kayak gitu?


Haris yang liat Dina ngelamun mendesah berat, bingung dia gimana mau bilang yang sebenernya sama Dina soal Marvin, tiba tiba ada tangan nepuk pundaknya pas di liat Devan pelakunya


"Kenapa?" Haris lama lama jadi gak respect sama Devan, secara Devan ikut ikutan dalam rencana Justin buat hancurin citranya Marvin


Tapi raut wajahnya atau dari tingkah lakunya selama beberapa hari ini malah biasa biasa aja, seolah gak terjadi apa apa padahal yang di jahatin temennya sendiri loh, temen yang udah kayak keluarga banget tapi kok tega


"Liat apa lo, serius banget" tanya Devan


"urusannya sama lo apa?" jawab Haris ketus


"Santai aja kali, gue kan cuma nanya, kayak cewek aja lo sensi"


"Bodo amat." Devan natap kepergian Haris dengan tatapan bingung


"itu anak kenapa sih, gak jelas."


Devan, Devan, orang mah sadar ini merasa bersalah aja engga


"woi Bang Devan, ngapain lo di depan kelasnya Kak Dina, nyari mangsa lo?" tanya Farel yang kebetulan lewat


"Negative thingking mulu lo ama gue, gue tadi tuh lagi ngobrol sama Haris"


"Terus Bang Harisnya mana?"


"Pergi"


"Kemana?"


"ya mana gue tau Arkana Farel Adhitama, gue bukan Ibunya" Farel natap kepergian Devan dengan tatapan bingung


"Kenapa sih, sensi amat kek Cewek lagi kedatangan tamu, orang cuma nanya" Farel beralih menatap Dina yang melamun sambil melihat keluar jendela


Berhubung lagi free class karena Guru pada rapat jadi kondisi kelasnya sepi, bukan muridnya gak mau pada belajar terus bolos, gak boleh pikiran jelek.


Farel masuk ke dalam kelas terus samperin Dina "Kak Dina, sendirian aja, mau Farel temenin gak?"


Farel maksudnya apaan coba ngomongnya gitu, ini kalau ada Farhan habis dia di roasting


"Oh, Farel. iya, lagi males keluar" jawab Dina seadanya


"Farel, mau nanya boleh?" Farel menganggukan kepala


"Kamu tau gak kemana Marvin, beberapa hari ini gak keliatan" Dina udah gak peduli kayaknya kalau sampai hubungan mereka berdua di ketahui sama orang lain


Farel berpikir sebentar, masa iya dia kasih tau apa yang terjadi sama Marvin sekarang, sebenernya Farel udah tau soal Dina sama Marvin yang backstreet dan itu jelas dari mulut asal ceplosnya si Haris, gak sengaja doi ngomong begitu pas lagi pada ngumpul di Rumahnya, tenang aja, waktu itu cuma ada Haris, Farel, sama Arthur


"hm, Farel gak tau kak, kita kita juga belum di kabarin sama Bang Marvin, tapi biasanya sih kalau lagi begini Bang Marvin lagi ada urusan penting" Farel ngomongnya lancar banget kayak gak ada beban padahal mah nyesek dalam hati karena bohong


Maklum, anak masih polos, murni belum terkontaminasi jadi masih takut dosa dianya


Jelas enggak dong, iya kali langsung percaya, Dina gak segampang itu buat di bohongin


"Farel, boleh minta tolong?"


"Boleh Kak, apa kalau boleh tau?"


"izinin gue, bilang kalau gue ada urusan mendadak, bilang juga sama Farhan, lo tau kan mereka bertiga kalau mereka nyariin gue" Belum Farel menjawab Dina udah hilang aja dari hadapan dia


Sepanjang jalan Dina terus kepikiran soal Marvin, bukan lebay apa gimana, maksudnya kalau dia punya salah atau Marvin lagi ada masalah, setidaknya kasih kabar atau apa, bukannya menghilang kayak di telan bumi


Rencananya Dina mau datang ke Rumahnya Marvin, Dina emang gak pernah main ke Rumahnya Marvin tapi dia Ketua Osis, kalau cuma cari tau alamat Rumah anak anak di Sekolah mah gampang buat dia


Perumahan Edelwis, jalan anggrek nomor 35.


Jaraknya lumayan jauh, perlu satu jam buat sampai ke sana, itu juga kalau jalanan gak macet dan masalahnya ini mendekati jam 12 siang, jamnya orang orang kantor pada keluar istirahat makan di cafe atau ke resto, emang Sekolahannya ini dekat banget sama gedung gedung perkantoran


Taxi yang di pesan pun datang, Dina masuk ke dalam lalu Pak Supir segera menjalankan mobilnya meninggalkan area Sekolah, Dina gak sadar kalau ada yang merhatiin dia dari tingkat 3 dan orang itu adalah Juna


Beralih ke Dina, Taxi sudah sampai di Perumahan tempat tinggal Marvin


"Terima kasih Pak" ujar Dina


Dina menatap Rumah besar di hadapannya lalu masuk ke dalam dan mulai menekan bel beberapa kali tapi belum juga mendapat respon


"Gak ada orangnya mungkin" Dina berbalik hendak pergi tapi tak lama terdengar suara pintu yang akan buka


"iya, selamat siang, cari.—" Keduanya saling menatap tak bergeming


Vanya.


Lavanya Keisha Kaluna.


ngapain dia di Rumahnya Marvin?


"Siapa Van.—" Dina tersenyum sinis menatap mereka berdua bergantian


Vanya dan Marvin.


"Dina, kamu kok.—"


"Jelasin dengan alasan yang masuk di akal biar gue bisa ngerti." Dina ngeliat Vanya peluk mesra tangannya Marvin dan Marvin gak nolak sama sekali


"Sayang, ayo kasih tau dia kalau kita udah di j.o.d.o.h.i.n." Dina semakin di buat gak percaya apalagi waktu denger penjelasannya Marvin


"okay, congrats."


Dina natap keduanya bergantian sebelum pergi dari sana, Marvin natap kepergian Dina dengan tatapan sendu