Complicated

Complicated
•22



'kasih tau dia kalau kita udah di jodohin.'


'Harus bahagia, janji sama aku?'


Kedua tangan Dina terkepal kuat, air mata yang sedari tadi di tahan keluar juga akhirnya, deru nafas beradu dengan bahu yang naik turun, netranya melihat ke dalam kamar rawat Marvin


Dari kejauhan, Justin yang melihat merasa puas, dia puas karena udah berhasil hancurin Dina


Setelah mendapat info dari Juna, gak pakai babibu Justin langsung tancap gas ke Rumahnya Marvin. Justin jelas senang bukan main, karena apa yang udah dia rencain berjalan dengan lancar tanpa kegagalan sedikit pun


Dina udah hancur, terluka hatinya karena orang yang dia sayang dan bonusnya Marvin kecelakan. itu cewek makin hancur. pikirnya di awal bakal susah buat hancurin cewek modelan Dina tapi ternyata gak sesusah yang dibayangkan, itu cewek boleh kuat fisik, pandai membela diri tapi soal hati dia nol besar, gimana pun dia tetap cewek, lemah kalau udah pakai Hati


"Kena lo." gumam Justin


Justin tersenyum miring "gue gak pernah tahu kalau lo ternyata se-cupu ini kalau soal hati, kasihan." ucapnya


Detik dan menit terlewati, satu jam lamanya Dina terus menatap ke dalam kamar rawat Marvin sampai akhirnya dia memutuskan untuk pergi, pulang ke Rumah lebih tepatnya untuk mengganti pakaiannya yang kotor karena Darahnya Marvin, dengan Justin yang ikutin dia secara diam diam


Sesampainya di Rumah, terdengar suara gaduh dari dalam, reflek Dina berlari terus ketuk pintu Rumahnya berulang kali dengan kencang sambil teriak manggil Ibunya tapi gak ada balasan dari Ibunya melainkan suara Ayahnya yang berteriak keras kemudian di susul suara barang pecah


prank.!


tap..!! tap..!!


tap..!! tap..!!


"Buka pintunya.!!!" teriak Dina, tak lama terdengar derap langkah kaki berjalan ke arah Pintu


clek.


PLAK.!!


Dina hampir jatuh kalau gak berpegangan sama daun Pintu yang satunya lagi, tamparan keras mendarat di pipinya


"JAM SEGINI BARU PULANG.!! HABIS JUAL DIRI KAMU HAH?!! JADI ANAK BIKIN MALU AJA BISANYA!!" bentak Dito


Rasa kesal dari kejadian sebelumnya yang belum hilang membuat Dina ngerasa jengkel dan natap Ayahnya dengan tatapan tajam


"Berani kamu natap ke arah saya kayak gitu, merasa hebat kamu?!"


"lepas.!!" Dito terdorong ke belakang karena dorongan keras dari Dina


"Memang dasar anak gak tau diri.!!"


plak.!!


plak.!!


"Mati aja sana kamu.!!"


bugh.!


Dito sama sekali gak ada malu hajar anaknya sendiri di luar Rumah, udah gak peduli lagi dia apa kata orang orang kalau lihat, tapi memang orang orang di sekitar Rumahnya udah biasa lihat Dito kayak gitu sama anak dan istrinya jadi mereka gak mau ikut campur urusan rumah tangga orang. walau kasihan sama Dina dan Ibunya


"akh.!"


Dito dari pada Ayah kandung lebih keliatan kayak Ayah tiri, Dina ditarik rambutnya terus di seret kayak binatang masuk ke dalam Rumah


"lepas Ayah, s-sakit.." mendengar rintihan Dina bukan di lepas, Dito malah semakin menarik kuat rambutnya Dina


"Kenapa, sakit? rasain, makanya gak usah banyak tingkah jadi anak"


"A-Ayah mau ngapain, lepas.!"


"ahk.!!"


bugh.!


Dina di dorong kuat terus di hantam kepalanya ke tembok, jelas langsung kerasa pening, sumpah, dia gak kuat, sakit banget tapi Ayahnya gak ada niatan lepasin dia


"Mau tahu satu hal, saya nyesel punya kamu sebagai anak saya, gak berguna jadi lebih baik, kamu mati aja sana nyusul kakek kamu" ucap Dito


Denger kayak gitu, Dina cuma pasrah, karena dia udah lemas banget, gak bisa ngapa ngapain, Ibunya yang gak jauh keadaannya sama dia gak bisa berbuat apa apa selain berharap dalam hati ada orang datang menolong mereka


"Kamu itu, anak yang gak saya harapkan kehadirannya"


"Kalau aja kamu gak lahir, hidup saya pasti masih baik baik aja"


"Sejak kamu lahir, saya dan istri jadi lebih sering bertengkar dan itu semua karena kamu, anak sial."


"Mati, itu lebih baik buat kamu" sebelum tangan itu sampai, tangan yang lain datang mencegah


"ORANG GILA! GAK WARAS LO MAU BUNUH ANAK SENDIRI!" liat ada orang lain ikut campur, Dito jelas kesal


"SIAPA KAMU?! BERANI BERANINYA ORANG ASING MASUK, KELUAR.!!"


Justin gendong Dina yang keadaanya setengah sadar ala bridal style terus natap Dito dengan tatapan tajam


"Tunggu aja, gak lama lagi polisi bakalan datang dan gue pastiin, lo membusuk selamanya di penjara"


Dito natap kepergian Justin dengan tatapan tajam, sementara Ibu Dina menatap anaknya dengan tatapan sendu campur lega


"heh, cewek jadi jadian, buka mata lo, jangan tidur, gak ada yang izinin lo tidur di mobil gue, kalau sampe lo tidur, liat aja." ucap Justin


Dia gak bisa buat gak liat Dina karena matanya berkali kali mau ketutup terus


"heh! buka mata lo sialan.! gue bilang jangan tidur.! tuli lo.!!" tepat setelah Justin teriak, Dina gak sadarkan diri


"Kim Dina sialan.!"


Niatnya cuma ngikutin dan Justin gak expect kalau dia bakalan bantuin Dina, sebelum kejadian dia mau langsung pergi tapi pas denger suara ribut ribut gak jadi pergi karena penasaran


"lo gak boleh mati sebelum lo berlutut sama gue, Ardinata." ujar Justin