
Clara tengah menempelkan ponsel milik teman satu kos-nya di satu telinganya. Rasanya mau mati saja kalau tidak mempunyai ponsel. Ia harus meminjam ke sana kemari kepada sembarang orang, Ia harus mengenyahkan rasa malunya.
Clara sudah bulat dengan keputusanya. Keputusan untuk menerima tawaran kerja sama itu. Ia memang tidak mempunyai pilihan lagi. Ia harus menerima tawaran itu. Dan Ia rasa tugasnya tidak terlalu berat, hanya berpura-pura akting supaya terlihat meyakinkan dan terkesan natural di depan seorang Nenek.
Tak lama suara seorang pria sudah terdengar di ujung ponsel. Membuat lamunan Clara terbuyar seketika itu.
Clara memejamkan mata kuat-kuat. “Setelah saya memikirkan matang-matang kerja sama yang anda tawarkan itu. Setelah melalui banyak pertimbangan yang kuat dan mendalam-”
Clara menghentikan kalimatnya lalu membuka mata.
Apa yang baru saja aku katakan. Rasanya bukan seperti aku banget. Wah aku mau gila aja nih kayaknya. Bicara terlalu formal begini, sudah seperti orang yang bekerja di kantor aja. Berasa kaya sekretaris aja nih. Gumam Clara terkikik geli.
Clara merasa geli juga dengan perkataanya barusan. Lagi pula kenapa pria itu bisa mengajaknya bicara formal?
Tak ada balasan dari ujung ponsel. Hanya terdengar helaan napas saja. Mungkin Andrian tengah menunggu apa yang akan Clara katakan selanjutnya.
“Saya mau menerima kerja sama ini, saya mau berpura-pura menjadi calon istri anda di depan Eyang anda.” Setelah mengatakan itu Clara menghembuskan napas lega. Benar-benar lega.
“Baik, kalau begitu, besok kita akan bertemu lagi. Saya akan menjemput anda!”
“Apakah anda meminjam handphone milik orang lain?” tanya Andrian kemudian.
“Iya, habisnya, saya belum bisa membeli handphone baru.”
Clara cengengsan.
Terdengar helaan berat lagi di sebrang sana.
“Besok kita bisa pergi ke counter HP, menyebalkan kalau harus begini. Bikin susah aja.” Decak pria itu.
Komunikasi pun terputus. Lebih tepatnya, Andrian yang mematikan panggilan secara sepihak.
“Dasar cowok gila! Aku bukan anak sultan yang bisa membeli apa saja yang aku mau!” Decak Clara tepat di layar ponsel. Kembali sebal sendiri.
……
“*Eh gila, ada cowok tampan banget di depan!”
“Sumpah ganteng banget, udah gitu bawa mobil mewah lagi, tuh cowok pasti tajir melintir.”
“Udah ganteng, tajir, baik. Duh sempurna banget tuh cowok.”
“Iya idaman banget tau enggak*!”
Cewek-cewek rempong itu kini tengah asyik ber-gossip ria dengan topik pria tampan yang sedang menunggu seseorang di luar kos-kosan. Tidak ada yang tahu siapa yang sedang ditunggu oleh pria itu.
Pria itu tak lain dan tak bukan adalah Andrian yang tengah menunggu Clara.
Clara yang baru saja keluar dari kamar mandi, seketika terkejut mendapati teman-teman satu kos-nya pada berkumpul di depan kamar mandi. Bisa dibilang agak banyak dari biasanya.
Apa mereka ada acara semua? Jadi pada berebut untuk mandi? Pikirnya.
Clara memilih kos-kosan yang murah. Sehingga kamar mandi berada di luar. Tidak enaknya itu kalau pas ramai pada ngantri di depan seperti ini, seperti halnya mengantri sembangko saja. Karena tentu saja untuk menghemat pengeluaran. Kalau memilih kosan yang kamar mandinya di dalam, pasti akan mengeluarkan biaya yang banyak.
Tiba-tiba ada seorang cewek yang tengah berjalan nyaris setengah berlari menghampiri gerombolan para cewek-cewek yang sedang berjubel itu.
“Di mana Clara?!” ujar wanita itu setengah memekik. Wajahnya kelihatan tegang sambil clingukan mencari keberadaan Clara.
Sontak semua pasang mata cewek-cewek itu langsung tertuju pada Clara.
Clara yang jadi pusat perhatian menjadi heran sendiri. Apa ada yang salah dengan dirinya?
“Kenapa Cik? Ada apa manggil gue?” Jawab Clara dengan kening berkerut.
“Anu-anu, elo udah ditunggu cowok ganteng di depan kos-kosan!” pekik cewek bernama Cicik.
Clara yang paling kaget, sekaligus penasaran dengan seseorang yang oleh Cicik barusan. Perasaan dia sedang tidak ada janji dengan siapa pu.
Namun kemudian kedua mata Clara melebar dengan sempurna. Langsung teringat dengan pria itu yang hendak mengajaknya bertemu hari ini.
“Clar, itu pacar lo?”
“Wah, gila lo Clar, lo beruntung banget bisa dapetin cowok ganteng dan tajir gitu.”
Kembali mereka berebut bertanya kepada Clara.
Clara tidak menghiraukan pertanyaan-pertanyaan yang ngawur itu. Masalahnya kalau dia jawab sekarang, bisa sampai berjam-jam di depan toilet. Sedangkan dirinya harus segera menemui pria itu.
Clara bergegas masuk ke dalam kamar langsung memilih baju yang paling bagus di almari begitu sudah berada di dalam. Tetapi tidak ada yang bagus sama sekali. Membuatnya berdecak sebal.
Akhirnya Clara hanya mengenakan pakaian yang norak. Jeans dan dilengkapi dengan jaket saja. Awalnya Clara tak percaya diri untuk keluar.
Tapi kemudian dia tak peduli dengan penampilan. Ia langsung keluar dari kamar dan bergegas mengenakan sepatunya dengan cepat. Teman-temanya yang tadi berjubel masih berada di sana. Masih asyik ber-gossip ria.
Clara langsung menyampirkan tas di bahunya dengan sembarang lalu berjalan ke depan setengah berlari.
Bahkan saat Clara menuju depan kos-kos an untuk menemui pria itu. Semua teman-temanya pada mengikutinya di belakang dan diam-diam mengintip dari balik pagar untuk melihat apa yang terjadi dengan mereka berdua.
“Ck, berapa yang anda habiskan untuk dandan? Anda telah mencuri waktu-waktu berharga saya. Bisakah anda menghargai waktu!” Clara langsung disambut omelan dari Andrian begitu sampai sana.
“Maafkan saya, saya habis mandi dan saya tidak tahu kalau anda mau datang sepagi ini.” Terang Clara, masih ngos-ngosan.
“Masuk ke mobil!” perintah Andrian kemudian.
Clara mengangguk dan langsung masuk ke dalam mobil. Andrian hendak menyusul, namun urung lalu melirik ke arah para cewek-cewek yang tengah memperhatikan dirinya dari balik pagar sesaat.
Begitu mereka ketahuan mengintip, mereka langsung membuang muka dan jadi salah tingkah sendiri.
Andrian hanya menggeleng kepala lalu segera masuk ke dalam mobil. Dan menarik pedal. Seketika mobil melesat bergabung dengan kendaraan yang lalu lalang.
“Hari ini anda akan saya ajak ke rumah Eyang saya, kalau Eyang bertanya yang macam-macam, jawab sebisa anda, jangan tunjukan kegugupan di depan Eyang!”
Ujar Andrian sambil fokus menyetir.
Clara langsung membulatkan mata. “HARI INI?!” pekiknya.
“Saya-saya belum siap, saya belum mengarang kata-kata yang akan saya ucapkan. Saya belum berlatih.”
“Baiklah, besok saja.”
“Ck, dasarr!”
lanjut Andrian tetap menatap lurus ke depan.
“Lalu, kita mau kemana sekarang?”
tanya Clara dengan kening berkerut.
“Ke counter HP, ke mall, ke salon.”
“Wah, benarkah? Tapi, saya tidak punya uang.”
“Tidak ada yang tanya, apakah anda punya uang atau tidak.”
Jawab Andrian kalem.
Tuh menyebalkan. Kenapa dia judes banget sih.
“Sepertinya ada banyak dari anda yang harus diperbaiki, sebelum nanti ketemu dengan Eyang.”