Clara & Andrian

Clara & Andrian
Kerja Sama?



Andrian dan Clara kini tengah duduk berhadapan. Kecanggungan juga terjadi di meja kafe itu. Hanya ada mereka berdua di ruangan itu. Andrian memilih ruangan khusus. Sejenis ruangan VIP.


Andrian mengajak Clara untuk bertemu dan di kafe itu menjadi tempat pertemuan mereka. Awalnya Clara terkejut bukan main, mengira kalau pria itu akan menagih uang yang dipinjamkanya. Sedangkan dirinya belum mendapatkan uang itu.


Tetapi kemudian Andrian bilang kalau dia tidak akan menagih uang itu. Ada hal lain yang ingin dibicarakan kepadanya.


Clara kini dipenuhi oleh banyak pertanyaan. Sebenarnya apa yang akan pria itu bicarakan. Bahkan mirisnya keduanya belum saling mengenal satu sama lain.


Apa dirinya melakukan kesalahan? Apa ada yang salah dengan dirinya?


Clara sudah paranoid sendiri. Agak merasa takut juga karena pria misterius ini tiba-tiba ingin mengajak bertemu.


Clara juga tidak berani memandang kedua bola mata pria itu saat ini karena sungguh menakutkan sekali. Akhirnya Clara memalingkan muka ke berbagai arah, sembari salah tingkah sendiri di bangku.


“Apa hidupmu sesusah itu?” tanya Andrian kemuidan memecah keheningan.


Clara menoleh dengan cepat. Tentu saja tersadar kalau barusan ada suara yang berasal dari mulut pria di depanya ini.


Hidupku memang susah semenjak Ayah meninggal, apa dia sedang mau mengejeku?


“Anda mau menghina saya ya?!”


Andrian menghela napas berat. “Saya ini hanya ingin bertanya, apakah hidup anda, sesusah itu?”


“Hidup saya memang susah, saya bukan dari keluarga yang kaya raya.” Dengus Clara.


“Itu sebabnya kamu tidak bisa langsung membeli smartphone baru? Kamu harus berjualan online untuk memenuhi kebutuhan?”


“Apa anda sedang mengejek saya lagi? Apa anda pikir, saya tak mampu mengembalikan uang yang saya pinjam? Saya pasti akan kembalikan uang itu kok.” Clara sedikit tersinggung dengan ucapan Andrian barusan.


“Ck, bodoh! Memangnya saya akan menagih uang itu sekarang? Saya sudah bilang kalau saya tidak akan menagih uang itu sekarang!”


Clara langsung menundukan kepala. Sadar kalau yang Ia lakukan itu tidaklah sopan.


“Dari perkataan anda itu sudah dipastikan anda akan menagih uang dan anda meremehkan saya, apakah saya bisa mengembalikan uang itu atau tidak.”


Andrian kembali menghela napas berat. “Ceritakan kehidupanmu sekarang!” suruh Andrian dengan nada seakan tak bisa dibantah.


Clara membelalakan mata dalam tunduknya. Shock berat mendengar ucapan pria itu barusan. Belum mengerti arah pembicaraan pria ini. Tetapi kembali dia dibuat semakin tak mengerti.


Apa-apaan sih cowok ini! Apa dia itu sebenarnya detektif? Wah gawat ini!


Sepertinya aku sedang diintrogasi! ****** deh.


“Apa-apa salah saya, kenapa saya harus menceritakan hidup saya?” Clara menjelaskanya dengan terbata.


“Ceritakan saja kehidupanmu!” Ulang Andrian.


Clara jadi gelagapan. Bingung juga harus menceritakan kisahnya mulai dari mana. Clara juga heran kenapa pria ini meminta dirinya untuk bercerita mengenai kehidupanya?


Clara lalu menceritakan semua kisah dirinya dan keluarga yang mengalami kesusahan ekonomi semenjak ditinggal oleh Sang Ayah. Termasuk dia harus berhenti kuliah dan bekerja di sebuah Kafe untuk bisa memenuhi kebutuhan dirinya dan membantu biaya pendidikan adik-adiknya.


Awalnya Clara bingung hendak menceritakan kisah hidupnya mulai dari mana. Namun pada saat sudah bercerita, mendadak dia bercerita sampai kemana-mana. Yang semua isinya adalah tentang kisah hidupnya yang sedih dan terasa berat. Sampai Clara tidak peduli dengan pria di depanya saat ini.


“Ah, saya jadi teringat itu lagi, kalau teringat itu rasanya jadi enggak kuat. Duh, kok aku jadi emosional gini sih!”


Clara merasakan matanya menghangat setelah selesai bercerita. Entah kenapa sehabis cerita pasti kisah hidupnya yang menyedihkan, Ia akan seperti ini lagi. Mendadak menjadi emosional dan mudah baper.


Andrian sedari tadi tidak merespon apa-apa. Diam-diam menajamkan pendengaranya dua kali lipat untuk dapat mengerti apa yang diceritakan oleh wanita ini.


“Apa anda memerlukan tisu?” tanya Andrian tetap dengan nada suara datar.


“Ya! sepertinya saya membutuhkan tisu sekarang!” Ada helaan napas berat setelahnya.


Dasar cowok aneh! Cowok enggak peka! Bisa-bisanya malah menanyakan hal yang enggak penting, di saat aku lagi sedih begini! Keluh Clara.


Andrian lalu melambaikan tangan kepada pelayan. Tak lama seorang pelayan menghampiri meja mereka lalu segera menanyakan apa yang dibutuhkan.


“Tolong ya Mbak, kasih kami tisu untuk menyeka air mata wanita cengeng ini.” Jelas Andrian kepada pelayan itu.


Pelayan itu hendak ketawa namun dia tahan. Dia tahu diri kalau yang sedang makan di kafe itu adalah pelanggan istimewa.


“Baik Pak, sebentar ya. Saya ambilkan dulu.”


“Saya tidak akan menangis seperti ini kalau anda tidak akan meminta saya untuk menceritakan kehidupan saya!” cerocos Clara begitu pelayan itu pergi dari sana.


“Saya juga enggak selemah yang anda pikirkan tauk!” Dengus Clara.


Clara mendadak kesal sendiri dengan pria di depanya yang memikiki wajah dingin dan datar. Bisa-bisanya mengatakan kalau dirinya itu cengeng.


Andrian tidak mempedulikan kekesalan wanita itu. Ia sedang berusaha keras supaya tawanya itu tidak pecah. Sungguh lucu melihatnya begini.


Tak lama kemudian, pelayan itu sudah kembali dengan membawa satu kotak tissue lembut.


“Silahkan Mbak,” ucap pelayan itu. Lalu langsung beranjak dari sana.


Clara langsung menarik beberapa helai tissue dan mulai menyeka ujung mata dengan perasaan dongkol.


“Ceritamu menyedihkan sekali, coba saja kalau ada produser film yang mendengar ceritamu barusan. Pasti akan langsung dijadikan film layar lebar.” Goda Andrian.


“Jangan-jangan, anda produser film? Anda mau merekrut saya untuk bermain film? Wah kalo anda benar produser film, saya akan langsung kaya dan terkenal pastinya.” Decak Clara. Tambah sebal.


“Tidak usah berharap lebih!”


Rahang Andrian lalu mengeras, tampak memikirkan ucapan Clara barusan. Bahwa wanita di depanya itu sepertinya sudah tak kuat menjalani kehidupanya. Walaupun sebenarnya terlihat tegar, tetapi dalam lubuk hati yang paling dalam, dia tidak ingin mengalami kehidupan seperti itu.


“Tapi saya akan mengajak anda untuk bekerja sama dan saya akan membuat anda bisa merasakan kehidupan yang lebih baik. Bahkan anda bisa membiyayai pendidikan adik-adik anda juga, membahagiakan Ibu anda.”


Kening Clara langsung mengerut, tidak bisa mencerna perkataan pria ini dengan cepat. Clara lalu memperbaiki posisi duduk.


“Kerja sama? Maksudnya- kerja sama apa ya?”


Andrian menarik napas panjang dan menghembuskanya dengan kasar.


“Saya ingin mengajak anda bekerja sama-”


“Saya enggak bisa berbisnis Pak!” potong Clara.


Kalau mendengar kata kerja sama, pasti menyangkut masalah bisnis. Begitu yang dipikirkan Clara. Sedangkan dirinya tidak mengerti dunia bisnis sama sekali.


“Saya belum selesai bicara!” Ujar Andrian setengah membentak. Jadi berdecak sambil menggeleng kepala.