
Kedua tangan pria itu langsung meraih helm begitu turun dari motor harleynya. Rambutnya masih terlihat rapi karena mengenakan minyak rambut. Setelah merasa percaya diri dengan penampilanya, pria itu melangkah masuk ke dalam rumah yang keadaanya cukup lengang.
Begitu masuk ke dalam rumah itu dan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Seorang wanita paruh baya menghampiri dengan senyum merekah.
“Den Andrian!” Ujar Bi Lasmi setengah memekik, pembantu di rumah itu.
“Mau ketemu sama Eyang?” Tebak Bi Lasmi.
“Iya Bi, gimana keadaan Eyang?” Tanya Andrian sembari melepaskan tas yang sedari tadi melekat di tubuhnya.
“Eyang baik-baik saja, Den. Sekarang lagi duduk di belakang rumah. Mari, Den!” Bi Lasmi berjalan mendahului Andrian untuk menunjukan keberadaan Eyang saat ini. Sedangkan Andrian langsung mengikutinya di belakang.
Begitu sampai sana, Ia mendapati Eyangnya tengah menatap lurus ke depan.
“Eyang lagi ngapain?” Tanya Andrian sambil memegangi bahu Eyangnya dengan lembut.
Eyang lalu menoleh dengan pelan, senyum langsung tercetak di bibir pucatnya. Wajah sendu itu kini berubah menjadi berbinar saat mendapati sang cucu ada di belakangnya.
“Andrian!” Kata Eyang setengah memekik. “Lama sekali kamu tidak berkunjung ke rumah, Eyang kangen sekali ingin bertemu denganmu. Eyang ingin bercerita banyak hal sama kamu.”
Andrian mengambil posisi berjongkok dan menatap lekat Eyangnya. “Maafkan Andrian Eyang, Andrian sibuk sekali akhir-akhir ini. Jadi, baru kali ini Andrian bisa berkunjung ke rumah.”
Eyang manggut-manggut lalu menghela napas berat. “Bagimana keadaan Kafe-mu? Banyak pembeli kan?” tanya Eyang kemudian.
“Sejauh ini baik-baik saja, Eyang. Pembeli masih berdatangan tanpa henti, sampai Andrian memperkejakan karyawan lebih untuk dapat berganti shif.”
“Wah, Eyang senang mendengarnya.” Kedua mata Eyang langsung berbinar.
Eyang dan Andrian lalu melanjutkan mengobrol apa saja di belakang rumah. Bersama dengan burung dalam sangkar yang tergantung di belakang rumah. Suaranya saling sahut-sahutan. Sementara sinar mentari yang belum begitu panas menerpa kulit dan wajah keduanya.
Eyang kini mendadak ingin membicarakan hal serius. Andrian langsung bisa menebak, tetapi Ia akan menunggu sampai Eyangnya itu selesai bicara lebih dulu.
“Jadi, kapan kamu akan membawa calon istrimu ke kemari? Eyang ingin kamu segera menikah dan berumah tangga. Dengan begitu, Eyang akan sangat bahagia sekali melihat cucu Eyang ini menikah.” Ada harapan yang lebih seperti paksaan yang tidak bisa ditolak oleh seorang Andrian.
Kalau mendengar Eyangnya mengatakan itu, rasanya Andrian tidak tega. Hatinya langsung luluh. Tetapi Ia tidak bisa menuruti permintaan Eyangnya begitu saja.
“Eyang tak usah pikirkan itu, kalau Eyang memikirkan itu terus, Andrian takut Eyang akan sakit lagi.” Andrian mengalihkan pembicaraan.
“Maka dari itu And, kamu cepatlah menikah, agar Eyangmu ini tak merasa cemas!” Tandas Eyang menatap lekat kedua bola mata cucunya.
......
Di sela jari tengah pria itu terselip sebatang rokok, sesekali dihisapnya ujung batang rokok itu dan seketika mengeluarkan asap yang mengepul bebas -terbang bersama udara di sekitar.
Andrian terus-terusan memikirkan ucapan Eyangnya tadi pagi. Sudah beberapa bulan Eyangnya mendesak untuk segera membawa calon istri di hadapan Eyangnya.
Andrian sudah berusaha mengalihkan pembicaraan agar Eyangnya itu tidak lagi membahas hal itu. Tetapi setiap dirinya mengalihkan pembicaraan, Eyangnya pasti mengingatnya. Sebenarnya, Andrian malas sekali kalau harus membahas hal itu saat ini.
Andrian lalu membuang sisa batang rokok ke asbak, masuk ke dalam kamar setelah sebelumnya menutup pintu balkon.
Ia menjatuhkan diri di kursi kerja, langsung membuka laptop begitu duduk di kursi. Namun sedetik kemudian, pandanganya tertuju ke arah sebuah benda berbentuk persegi panjang berwarna biru langit.
Andrian urung membuka laptop. Ia malah meraih benda yang ada di tepi meja itu. Seketika Ia teringat dengan kejadian beberapa hari lalu. Ia menolong seorang wanita yang kehilangan barang lalu dirinya meminjamkan uang kepadanya.
Andrian terpaku pada KTP milik wanita itu beberapa saat hingga kemudian melemparkan kembali dengan sembarang di atas meja.
Pria itu menarik badan dari sandaran kursi, mendadak rahangnya mengeras, sedang memikirkan sesuatu.
Untuk saat ini, Andrian benar-benar sedang tak ingin memikirkan masalah wanita dalam hidupnya. Ia ingin menikmati masa lajangnya untuk beberapa tahun ke depan.
Bukan karena dia menuyukai sesama jenis, bukan! Melainkan sedang dalam fase malas jika harus membahas masalah wanita sekarang. Entah beberapa tahun lagi. Bisa dua tahun atau tiga tahun. Baru, Ia akan kembali membuka hatinya untuk wanita.
Demi membuat Eyang bahagia, bagimana pun caranya, Andrian harus bisa membawa calon istri di hadapan Eyangnya dalam waktu dekat ini.
Karena Eyang adalah satu-satunya keluarga yang paling amat Ia cintai dan satu-satunya anggota keluarga yang Ia miliki sekarang.
Hidup tanpa kedua orang tua sejak kecil membuat Andrian memiliki jiwa ambisius. Terbukti sekarang ini saja Ia sudah mempunyai dua bisnis. Satu Kafe yang menyediakan makanan dan minuman. Kafe satunya lagi adalah Kedai kopi yang ramainya minta ampun kalau malam hari.
Soal kekaguman para wanita sudah tidak bisa ditanyakan lagi. Banyak wanita yang secara blak-blakan ingin mendekati dirinya. Bahkan ada pula yang langsung mengatakan kalau ingin menjadi calon istrinya.
Karena selain sukses di usia yang sangat muda. Andrian ini memiliki wajah yang tampan, tinggi yang menjulang, serta mempunyai kulit yang putih dan garis rahang yang tegas.
Namun, sikap Andrian terkesan dingin dan judes ketika berhadapan dengan wanita yang ingin dekat denganya. Karena tentu saja Ia sedang tak ingin memikirkan wanita dalam hidupnya sekarang ini.
Andrian lalu bangkit dari duduknya karena merasakan perutnya baru saja berbunyi. Sebelum dia beranjak dari kamarnya, dia sempat mengecek smartphone-nya lebih dulu. Ada panggilan masuk sebanyak 20 kali dari nomor baru. Ada 5 chat masuk pula, dari nomor yang sama.
Ketika Andrian membuka chat itu, ternyata nomor itu adalah nomor handphone wanita yang dia tolong waktu itu.
Memberitahukan bahwa dia akan secepatnya mengengbalikan uang. Wanita itu juga memberitahukan untuk tidak menyimpan nomor itu karena nomor itu bukan nomornya, melainkan nomor adiknya.
Wanita yang sepertinya sangat pekerja keras! Tipe wanita yang memiliki tanggung jawab yang tinggi. Wanita yang harus bekerja keras untuk bisa memenuhi kebetuhan hidupnya dan mungkin keluarganya. Wanita itu sepertinya bukan seseorang yang tinggal minta uang kepada orang tua dengan mudah. Kalau dia orang yang berada, mestinya dia tidak akan berjualan online seperti itu dan pasti akan langsung membeli ponsel.
Begitu yang Andrian pikirkan, lalu mendadak Ia memikirkan calon istri yang akan dibawa di hadapan Eyangnya kembali. Namun Ia buru-buru menghalau pikiran yang ngawur itu.
Ia melanjutkan melangkah keluar dari kamar untuk mengisi perutnya, makan seorang diri.