Clara & Andrian

Clara & Andrian
Musibah



Di mana tasku! aku menaruhnya di sini padahal, tetapi kenapa sekarang udah enggak ada!


Clara mondar mandir mencari tas dan ponselnya yang hilang ke berbagai tempat di sekitar halte tunggu.


Ia sudah mencari di bawah bangku halte, di belakang bangku, bahkan sampai sekitar tempat itu. Namun tak ditemukan.


Clara langsung panik. Ia merasakan matanya memanas. Ia menangkupkan wajah menggunakan kedua telapak tanganya nyaris mau menangis dalam tangkupan tangan. Ia pun menjatuhkan tubuh di bangku kembali dengan lemas.


Pesanan barang orang-orang dan ponselnya telah hilang!


Clara menyesal karena telah ceroboh ketiduran di halte yang menyebabkan pesanan orang-orang dan ponselnya menghilang. Dia hanya bisa merutuki diri sendiri saat ini.


Clara memikirkan bagimana caranya pulang. Bagimana caranya memberitahu para pembelinya. Bagimana caranya menghubungi orang-orang yang hendak Ia mintai bantuan. Sedangkan Ia saat ini sudah tidak mempunyai apa-apa. Ponselnya juga ikut menghilang.


Perempuan itu tadi hendak COD dengan para pembeli dari online shop-nya. Sembari menunggu pembelinya datang, dia pun memutuskan untuk menunggu di halte itu. Tetapi tiba-tiba saja kantuk menyerang dirinya dan Ia ketiduran di halte tersebut.


Sementara di dekat tempat itu seorang laki-laki tengah melakukan jogging. Keringat sudah membasahi wajah dan badanya yang terlihat kekar dengan balutan kaus berwarna putih.


Laki-laki itu memutuskan untuk duduk di bangku halte untuk istirahat sebentar. Ia pun menjatuhkan tubuh di samping Clara yang masih menangkupkan wajah disertai dengan isakan tangis.


Napas Andrian terdengar ngos-ngosan, dia langsung meneguk air mineral yang dibawanya. Sesaat lamanya Andrian baru tersadar kalau Ia dari tadi mendengar isakan tangis seorang perempuan yang sedang duduk di sampingnya. Andrian pun menoleh.


Kenapa perempuan ini menangis di sini! Ck, membuat malu saja! Pikirnya.


Alih-alih menanyakan sebab apa perempuan itu menangis, Andrian malah bangkit berdiri dan hendak melanjutkan joggingnya. Tetapi naluri di dalam hatinya masih berfungsi.


Sepertinya perempuan ini habis mendapat musibah! Pikirnya lagi.


Laki-laki itu pun duduk kembali disertai dengan helaan napas berat setelahnya.


“Mbaknya kenapa?” tanya Andrian dengan malas.


Perlahan, tangisan perempuan itu terhenti, Clara menarik kedua telapak tanganya dan menoleh ke arah seorang laki-laki yang sedang menatap dirinya. Ia yakin sekali kalau laki-laki itu bertanya kepada dirinya.


Clara segera memperbaiki rambutnya yang tampak berantakan karena sedari tadi Ia tak mempedulikan dirinya.


“HP saya hilang Mas! Tas saya juga, tadi padahal ada di samping saya. Tidak tau kenapa saya bisa ketiduran di tempat ini. Terus waktu saya bangun, tas dan HP saya sudah tidak ada lagi.” Ujar Clarrisa dengan terbata.


Ceroboh sekali! Bisa-bisanya ketiduran di halte! Seharusnya dia sudah tau, kemungkinan besar akan kecopetan! Desis Andrian.


“Sekarang saya sudah tidak punya apa-apa lagi. Saya bingung harus bagimana.” Lanjut Clara tertahan.


“Ck, bodohnya, memangnya anda sedang ngapain di sini? Menunggu bus?”


“Saya sedang menunggu pembeli saya, itu adalah barang-barang yang akan dibeli dan sekarang telah hilang.” Suara Clara melemah.


“Saya hanya bisa mendoakan saja Mbak, semoga pembeli tidak menuntut apa-apa.”


Habis berkata seperti itu, Andrian langsung bangkit berdiri.


Kau hanya mau mendoakan saja? Aku kira, kau akan membantuku. Gumam Clara.


Clara pikir laki-laki itu akan menolong dirinya. Ia sangat membutuhkan pertolongan untuk saat ini. Terpaksa dirinya lah yang harus meminta pertolongan kepada laki-laki itu.


“Heiii tungguuu!” seru Clara.


Andrian menghentikan langkah dan balik badan. Menatap perempuan itu dengan malas.


“Bisakah anda menolong saya, saya juga sudah tidak punya uang sama sekali. Saya tidak tahu pulangnya gimana.” Ujar Clarrisa kemudian dalam tundukan kepala.


“Maaf, semoga ada yang memberikan bantuan, saya bukan orang yang tepat untuk membantu anda.” Andrian melanjutkan berjalan.


Tak lama sebuah motor berhenti di depan halte. Dua orang perempuan turun dari motor dan langsung menanyakan perihal barang yang dibelinya kepada Clara.


Clara bingung setengah mati. Tapi akhirnya dia menjelaskan musibah yang menimpa dirinya baru saja. Dua perempuan itu kaget bukan main dan lebih tidak percaya.


“Mbak gimana sih, kok bisa barangnya hilang. Mbaknya seharusnya hati-hati dong!” Ujar salah satu perempuan itu.


“Pokoknya kami enggak mau tahu Mbak, mbak harus balikin uang itu sekarang.” Sambung perempuan satunya.


“Saya janji saya akan mengganti uang itu, tapi tidak bisa sekarang, saya udah tidak punya apa-apa lagi.”


“Maafkan saya,” lanjut Clara.


“Enggak bisa gitu dong mbak! Bukanya apa-apa, tapi kami jaga-jaga dengan orang asing, kami tidak mau tertipu.”


“Berapa yang harus Mbak ini ganti?!” Tanya suara yang terdengar berwibawa, Andrian sudah bersama di dekat mereka.


Sontak kedua perempuan itu langsung menoleh ke arah sumber suara. Clara yang paling terkejut akan hal itu. Sedetik kemudian Ia merasa lega. Laki-laki itu mau menolongnya.


“Masnya ini siapa?”


“Saya Kakaknya, berapa uang yang harus dia ganti!”


Salah satu perempuan itu menyebutkan nominal uang pembelian barang itu. Lalu Andrian segera mengeluarkan uang yang diminta. Menyodorkanya ke perempuan itu. Kedua perempuan itu pun segera beranjak dari tempat itu begitu menerima uang.


“Mas, terima kasih banyak karena sudah menolong saya, saya janji, saya akan menganti uang itu.” Ujar Clarra bangkit berdiri.


“Tidak usah!” Andrian langsung balik badan hendak pergi.


Clara buru-buru mengejar dan meraih lenganya.


“Biarkan saya mengganti uang anda, saya mohon, saya akan ganti.”


“Bukanya anda tidak punya uang?”


Benar juga apa yang dikatakan laki-laki ini, aku kan sedang enggak punya uang sama sekali!


Sebuah ide tiba-tiba terbesit di kepalanya. Ia menjulurkan tangan ke dalam saku celana, mengeluarkan KTP dari sana. Untung saja dompetnya masih tersimpan di dalam saku. Tapi benar-benar tandas isinya. Tidak ada uang sama sekali di dalam dompet.


“Ini untuk jaminan dan tolong berikan nomor HP anda!”


Andrian menggaruk kepala. Dengan terpaksa dia meraih KTP itu.


Tapi baik Andrian dan Clara benar-benar bingung sekarang. Clara tidak mempunyai ponsel untuk mencatat nomor handphone milik Andrian.


Andrian pun menggeleng kepala. Tidak habis pikir dengan perempuan ceroboh ini. Dirinya juga ikut bingung dengan cara memberikan nomornya.


“Saya akan menghapalnya!” ucap Clara tidak kehabisan akal.


“Apa anda yakin?” Andrian menautkan kedua alisnya.


“Yakin-yakin sekali!”


Andrian lalu menyebutkan nomor handphone miliknya sebanyak empat kali. Setelah perempuan itu dapat menghapal nomor ponselnya. Dia langsung beranjak dari sana tanpa berbasa basi lebih dulu. Tidak mau masalahnya akan menjadi semakin runyam.


Seketika Clara menghela napas lega. Pria itu seperti dewa penyelamat. Entah bagimana jadinya jika tidak ada laki-laki itu.


Dan dirinya masih saja bodoh, lalu bagimana caranya pulang ke kos-nya? Jalan kaki memang pilihan terakhir.