
Clara tengah berdiri di depan rumahnya. Sebenarnya Ia tidak ingin pulang. Namun Ia baru saja mendapat musibah. Ia sudah tidak mempunyai ponsel sekarang. Hidupnya begitu hampa tanpa adanya ponsel di sisinya.
Bukan apa-apa, karena ponsel itu sangat penting. Kebutuhan ponsel itu nomor satu. Karena dengan ponsel dapat mengetahui informasi dengan cepat.
Kalau Ia saat ini tidak mempunyai ponsel, bagimana Ia akan bisa bertahan hidup?
Belum lagi Clara harus memikirkan cara untuk segera mendapatkan uang untuk mengembalikan kepada pria kemarin yang telah menolongnya.
Sepertinya hari ini adalah hari tersial bagi Clara.
Clara menarik napas panjang dan menghembuskanya dengan kasar. Melangkah masuk ke dalam rumah, menyapu seisi ruangan. Menemukan Sang Ibu tengah menonton TV dan Rizal, si bungsu tengah bermain dengan ponselnya.
“Clara!” seru Bu Sari sambil bangkit dari duduknya. Matanya mendadak berbinar.
Clara segera menghampiri Sang Ibu lalu mencium punggung tanganya. Rasa kangenya sedikit terobati setelah satu bulan lamanya tidak bertemu.
“Tumben sekali kamu pulang ke rumah, biasanya satu bulan sekali.” Kata Bu Sari. “Tapi Ibu sangat senang sekali kamu pulang, ayo kita makan bersama, Ibu sudah siapkan makan siang. Kebetulan sekali Ibu masak banyak hari ini, pas kamu pulang, Clara.” Wajah yang mulai menua itu kini kembali ceria.
“Iya Bu, kebetulan Boss Clara menginjinkan Clara pulang hari ini. Jadi Clara pulang deh, kan lumayan satu hari libur.” Jawab Clara sambil menuju meja makan bersama Sang Ibu.
Bu Sari dan Clara lalu duduk di kursi makan, langsung mengambil nasi beserta lauk dan meletakan di atas piring. Ibu dan anak itu lalu segera menyantap makan siang sesekali dengan saling tersenyum. Sesekali ngobrol hal ringan di meja makan.
Kedatangan Clara ke rumah sebenarnya hendak meminta uang kepada Ibunya. Namun Ia juga tidak berani bilang kepada Ibunya bahwa Ia habis mendapat musibah. Ia tidak mungkin meminta uang kepada Ibunya. Apalagi sampai meminjam uang untuk membeli ponsel baru. Sungguh tidak memungkinkan!
Sari, adalah seorang Janda yang mempunyai 3 anak perempuan dan 1 anak laki-laki. Suaminya telah meninggal karena kecelakaan dua tahun yang lalu.
Waktu itu, Clara masih berada di bangku kuliah. Sehingga Ia Ia harus berhenti kuliah karena sudah tak ada biaya lagi. Sari juga hanya sebagai seorang Ibu rumah tangga.
Kondisi ekonomi keluarga itu sedang memburuk saat ditinggal oleh seorang penopang ekonomi keluarga. Clara yang anak pertama mau tak mau harus ikut membantu Ibunya menopang ekonomi keluarga. Jika Ia tidak bekerja, maka pendidikan adik-adiknya akan terlantar.
Akhirnya Clara bekerja di sebuah Kafe sudah satu tahun lamanya. Selama bekerja, Ia memutuskan untuk tinggal di kos an karena jarak rumahnya dari Kafe tempat Ia bekerja agak lumayan jauh. Apalagi Ia tidak mempunyai sepeda motor, sehingga untuk berpergian amat lah susah.
“Kamu sedang memikirkan apa, Clar? Kok melamun begitu?” tanya Bu Sari karena mendapati Clara sedang melamun.
“Ah tidak memikirkan apa-apa kok, Bu.”
“Oh ya, Sinta sama Thera, mana Bu?” tanya Clara kemudian mengalihkan pembicaraan.
“Sinta belum pulang, kalau Thera katanya masih belajar kelompok sama teman-temanya.” Terang Bu Sari.
Clara manggut-manggut lalu kembali mengambil nasi dari piring dan menyuapkanya ke dalam mulut.
“Keadaan toko bagimana, Bu? Apakah ramai?” Tanya Clara kemudian.
“Alhamdulilah ramai, apalagi kalo malem, banyak anak-anak yang bermain di sekitar sini, jadinya pada beli jajan di sini.” Jelas Bu Sari lagi.
Sebenarnya Clara juga merasa kasihan kepada Ibunya yang harus banting tulang mencari uang demi keluarga. Tetapi kalau tidak demikian, adik-adiknya tidak akan bisa makan.
Seketika Clara menghempas keinginan untuk meminta uang kepada Ibunya. Ia akan memikirkan lagi hal itu.
.......
Clara tengah berfikir dengan keras, Ia sedang menghapalkan nomor handphone pria itu. Tapi dua digit terakhir mendadak lupa karena kepalanya sedang pusing setengah mati.
Clara menekankan ke empat jarinya di pelipis dengan kedua matanya terpejam. Ia juga tidak tahu apakah cara ini manjur atau tidak!
Setelah yakin kalau Ia mengingat nomor yang benar. Clara membuka mata lalu bangkit dari duduknya dan menghampiri Rizal, adik laki-lakinya.
“Rizal! Kakak pinjam HP-nya dulu bentar dong!” Seru Clara sambil menghampiri adiknya.
“Enggak boleh! Rizal masih main game nih!” sahut Rizal ketus tanpa menoleh ke arah Kakaknya.
Clara pun berdecak. Kalau dengan Rizal harus mengeluarkan tenaga ekstra. Harus sabar pula, agar bocah itu dapat luluh hatinya.
“Sebentar aja Zal!" keluh Clara. "Besok kakak beliin pulsa, gimana?” Mendadak ide itu baru saja melintas di benaknya. Biasanya Rizal akan luluh kalau di iming-imingi sesuatu.
“Bohong!” Rizal langsung tidak percaya, jari jempolnya masih menekan-nekan layar smartphone.
Clara melorotkan bahu, “Beneran Zal! Tolong Kakak, kakak janji besok bakalan kakak kirim.” Terpaksa Clara memohon seperti ini. Karena kalau main merebut ponsel yang ada di genggaman sekarang. Bisa-bisa bocah ini akan langsung menangis dan memporak-porandakan seisi rumah.
“Yaudah nih!” Rizal akhirnya menyodorkan ponselnya kepada Clara.
Bukan apa-apa, dia baru saja kalah bermain game di ponsel, jadinya ngambek. Rizal juga belum makan, akhirnya bocah itu berjalan menuju meja makan.
Betapa senangnya Clara dengan itu. Ia pun langsung mencoba mengetikan nomor itu pada layar ponsel. Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.
Setelah itu Ia mengecek pada aplikasi whatsapp, menggulir layar. Namun tidak ada profil nomor tersebut. Berarti nomor yang baru saja Ia ketikan itu salah. Ia pun kembali mengarang dua digit terakhir. Namun tetap sama saja.
Clara sudah berkali-kali mengarang dua digit nomor itu nyaris mau membanting ponsel karena saking kesalnya. Tapi Ia buru-buru ingat kalau ponsel yang sedang digunakanya itu bukan miliknya. Kalau seandainya ponsel itu jatuh sampai hancur, masalah akan semakin menggila saja nantinya.
Clara mencoba lagi tanpa menyerah kali ini disertai dengan doa. Nomor itu pun ada. Kedua mata Clara langsung melebar dan kegirangan heboh sekali.
Clara pun langsung menghubungi nomor itu, berharap nomor itu dapat mengangkat panggilanya.
Clara sangat-sangat berterima kasih kepada Pria yang sudah menolongnya kemarin. Kalau saja tidak ada Pria itu di sana, mungkin dirinya sudah dicaci maki habis-habisan oleh para pembeli.
Walaupun Pria itu tampaknya tak peduli dengan janji dirinya akan mengembalikan uang. Tapi Ia akan berusaha dengan keras untuk dapat menepati janji itu.