
Fio dengan telaten mengobati luka luka diwajah diki.
Sesekali diki meringis menahan sakit, karna fio tanpa sengaja menekan luka diki.
"Sorry" kata fio singkat
Diki tersenyum.
Setelah selesai fio membereskan p3k nya.
"Makasih ya fi"
"Hmm" balas fio dengan deheman
"Mau makan apa? Biar gue pesenin gofood" tanya fio
"Biar diki masak aja, sayang duitnya terlalu boros"
"Emang ada bahan makanan?"
Diki menggeleng.
"Ck. Terus apa yang mau lo masak diki?" Tanya fio
Diki nyengir
"Yaudah lo ganti baju, kita belanja dulu" ucap fio
Diki mengangguk. Dan bergegas menuju kamarnya untuk mengganti pakaian.
***
Diki memakai kaos putih polos, dan celana jeans panjang, tanpa kacamata. Sesaat fio terpana, tapi dia langsung sadar dan berdehem untuk menetralkan penglihatannya.
"Udah siap? Yok"
"Din, kak diki sama kak fio pergi dulu ya, jaga rumah" ucap diki
"Siap bos" ucap dinda sambil menggerakkan tanganya seperti hormat bendera.
***
Fio menjalankan mobilnya menuju mall. Saat berhenti diparkiran mall dan masih berada didalam mobil
"Fi, kenapa ga kepasar aja?"
Fio bingung, bukannya ga mau, tapi fio tidak pernah kepasar, dia juga tidak tau dimana pasarnya.
"Hah? Emang kenapa kalau disini, ini kan lebih deket dari rumah" alibi fio.
Fio tidak ingin dibilang sombong karna belom pernah menginjakkan kakinya di pasar.
"Kalau dipasar kan harganya bisa ditawar fi, kalau dimall kan gabisa, lagian kita lebih bisa menghemat uang belanja kita" jelas diki
Fio bingung gimana lagi nyari alesan yang tepat buat ga ke pasar.
"Yaudah deh, disini aja. Lagian kita juga sudah parkir kan, yuk turun" ajak diki
Fio langsung turun dari mobil dengan diki
Saat belanja ditempat sayuran
"Fio" panggil seorang cowok, sontak fio dan diki menoleh.
Didapatinya zigo dan anton yang juga sedang berada disana.
"Lo ngapain disini" tanya zigo yang melihat fio bersama cowok berada ditempat bahan pokok.
"Lo buta" jawab fio ketus
"Fi lo kasar banget sih, gue kan nanya baik baik" ucap zigo
"..." fio diam, sebenarnya fio tidak ingin bicara kasar apalagi dengan zigo, tapi mengingat tadi dia melihat zigo bersama nopi, hati fio memanas.
"Ehem.. mau makan bareng ga?" Ucap anton mencairkan suasana
"Sorry, kita duluan" jawab fio sambil menggandeng tangan diki dan mengajaknya pergi.
Anton dan zigo menatap kepergian fio dan cowok itu.
"Ton lo tau siapa cowok itu?"
Anton menggeleng
"Kayaknya mukanya ga asing deh"
Ucap zigo
"Maksudnya lo pernah ketemu tuh cowok"
Zigo mengangguk.
"Tapi gue lupa dimana" anton menoyor kepala zigo
"Ah elu, ya udah ga usah dipikirin. Yok cari makan laper gue" ajak anton
Zigo lupa dengan diki, sebab diki tidak memakai kacamata seperti saat disekolah, rambut diki juga ga disisir rapi, kayak pas disekolah, penampilannya juga terlihat berbeda, apalagi dengan wajah lebam disudut bibirnya, membuat zigo lupa lupa ingat.
Dilain sisi fio juga mengajak diki makan, tadinya mau didalam mall saja, tapi diki menolak, diki tau harga makanan dimall pasti berlipat lipat mahalnya. Dan akhirnya mereka makan dipinggir jalan.
"Makan disini aja ya" ucap fio
Diki tersenyum dan mengangguk.
Mereka memesan nasi goreng dan es jeruk, karna hari juga sudah gelap. Tak ingin berlama lama, karna mereka meninggalkan dinda sendirian dirumah.
Tak lupa mereka membungkuskan nasi goreng untuk dinda.
Tbc