BLAZE II

BLAZE II
05. RAIN YANG SEBENARNYA



"Ternyata itu namamu, ayo menuju taman. kita akan mengecheck ex-mu," timpal Chen sembari berjalan menuju pintu pada sudut ruangan.


Benda apa itu yang dinamakan ex? Setahuku, ex mengartikan seorang mantan.


"Woah, Kau aneh sekali dalam gaya berpakaian," celetuk gadis kecil yang bisa kuperkirakan berumur 10 tahun.


Dia menghina seragam sekolahku yang modis. Asal tahu saja, aku bersekolah di International Culture HighSchool yang bersikan kaum elite dan tentunya berbeda dari yang lain. Bahkan seragamku yang mengenakan almamater navy sangat terlihat keren.


"Cathlina, sopanlah pada tamu," bentak Wanita yang terlihat lebih dewasa ke arah gadis kecil yang menyebalkan di hadapanku ini. Ternyata namanya Cathlina.


"Jangan mengaturku, Jack!" Cathlina membalas dengan tak kalah meninggikan suaranta. Apakah dia tadi baru saja menyebut wanita sexy itu Jack? Nama yang aneh untuk seorang wanita. Itu 'kan nama untuk pria.


Mendadak nafasku sesak.


Kemudian, muncul memori menyakitkan lagi di dalam benakku yang menampilkan tayangan mengenaskan pada Cathlina dan Jack. Kedua tangan mereka telah terpaku di dinding yang begitu gelap dan pandangan yang menunduk disertai dengan lumuran darah yang tampak masih sangat segar. Menyebalkan, penampakan horror itu membuat diriku mual dan pusing.


Secepatnya aku menampar wajahku hingga berhasil sadar dan kembali normal. Pada saat yang sama, Shiro telah keluar dari ruangan ini dalam memasuki satu pintu. Aku pun mengikutinya tanpa diikuti orang-orang aneh ini. Selanjutnya, aku sampai pada sebuah tanah kosong yang dikelilingi pohon lebat. Ini tidak pantas disebut taman sama sekali.


Seketika aku sadar bahwa sedari tadi Chen sedang jongkok di hadapanku. Dia mengeluarkan empat batu kecil yang berbeda warna. "Lihat ini."


"Untuk apa?" Aku bertanya sembari menunjuk salah satu batu.


"Ini adalah batu element. Lihat dan pahami." Chen mengambil satu batu yang berwarna merah dan seketika sebuah percikan api kecil muncul dari batu tersebut yang membuatku tampak takjub.


Sulap yang keren!


"Batu-batu ini menunjukan ex-mu dan element apa yang tertanam pada dirimu ini," ujar Chen bak guru yang memberikan materi pada muridnya. "Seperti ini, elementku adalah api. Penyebabnya adalah faktor keturunan dari orang tuaku yang dimana percampuran ras salamander dan Elf."


"Omong-omong, ex itu apa?"


"Ex adalah stamina untuk sihir, seperti bahan bakar dalam pertarungan. Berbeda dari tenaga biasa yang digunakan untuk menjalani aktifitas umum." Chen menjelaskan secara jelas hingga bisa kupahami. "Jika tenaga biasamu habis, itu akan membuat tubuhmu lelah dan tak bisa beraktifitas. Terutama bertarung. Ini adalah penjelasan umum yang tak perlu kujelaskan. Namun, otomatis ex itu juga takkan berguna merki dalam kapasitas penuh."


Aku memutar bola mataku dan menghenbuskan nafas berat. "Ternyata sihir hanyalah kekuatan sampingan. Tidak menarik."


"Tapi, jika ex-mu habis, kau bisa bertarung tanpa sihir," sergah Chen buru-buru.


"Hal yang utama bukanlah tahu apa sihir tersebut. Tapi, bagaimana caranya meningkatkan tenaga. Aku malas berolah raga, apalagi makan banyak yang bisa membuatku gendut!" tukasku sembari membayangkan bagaimana penampilanku jika gendut. Mengesalkan, apabila aku seperti itu, maka takkan ada cowok tampan yang akan memberi cintanya padaku.


"Setidaknya kau coba untuk memeriksa sihirmu," jawab Chen dengan air muka kesal dalam menatap tingkahku.


"Baiklah, aku ingin coba."


Aku mengambil batu berwarna biru dan menunggu apa yang akan terjadi dalam menunjukan elemenku. Hingga beberapa detik berlalu dan tak ada yang terjadi.


"Element air tak ada padamu. Ambillah satu persatu batu ini hingga dapatkan elementmu." Chen menyodorkan sisa ketiga batu padaku dengan paksa.


Mulai dari warna coklat yaitu tanah, merah untuk api dan putih untuk udara. Akhirnya semua sudahku coba namun tak ada hasil.


"Apakah kau cacat?" tanya Chen dengan perkataan yang menusuk. Menyebalkan, cacat adalah kekurangan fisik, sedangkan aku sempurna!


"Hei, jaga ucapanmu!" sergahku dengan mata melotot yang nyaris terlepas dari rongganya. "Aku ini manusia normal! Bukan makhluk campuran sepertimu, tanam itu di otakmu."


Dia telah menghinaku, aku tak kalah membalasnya dengan perkataan rasisme.


Chen yang berdiri di hadapanku mulai menyatukan tangannya dan mulai merapalkan mantra hingga muncul sebuah lingkaran kecil yang menyelimuti wajahku. "Epitheó risi."


DAR!


Sebuah ledakan muncul tepat di depanku, namun tak memberi efek apapun padaku. Akan tetapi Chen terpental jauh dan membuat sebuah suara yang memancing Shiro untuk mendatangi kami. Aku tidak memerhatikan cewek itu sedari tadi sedang apa.


"Apa yang terjadi?" tanya Shiro tanpa ekspresi yang muncul secara tiba-tiba.


"Menjauhlah Shiro, dirinya adalah ras iblis!" perintah Chen yang masih saja menghinaku. Dia yang terbaring di atas tanah menjadi bangkit dan menatapku dengan was-was.


"Tadi kau menyebutku cacat, sekarang iblis. Apalagi yang ingin kau ucapkan untuk menghinaku?" bentakku tak senang.


Cowok itu benar-benar tak bisa memahami penjelasanku untuk menyimpan di otaknya bahwa aku adalah manusia. Jika orangtuaku tahu hal ini, maka dia akan dimarahi habis-habisan.


"Apa kau serius?" Shiro bertanya dengan menatap Chen lekat-lekat. "Dia hanya manusia aneh biasa."


"Hei!" aku menbentak dengan tak senang. Mereka hobi sekali menghinaku. "Dimana sopan santun kalian? Meledekku cacat, iblis bahkan manusia aneh. Dasar mahkluk tanpa otak!"


"Aku tak merasakan aura kegelapan pada Yuzu. Bagaimana kau mengetahuinya?" Shiro bertanya pada Chen dan sama sekali tak mempedulikan ucapan protesku.


"Mantra pemeriksa telah kuberikan padanya. Ia menyembunyikan aura hitamnya di balik ex dengan kapasitas tanpa batas," ujar Chen sembari mendekatiku.


Serta merta aku memasang tampang datar akibat moodku telah rusak. "Aku tak paham."


"Aura hitam menandakan bahwa orang tersebut berelement kegelapan. Hanya ras iblis yang memiliki elemen tersebut. Pada umumnya mereka tak bisa menyembunyikan bau dan aura kegelapan di sekeliling mereka." Shiro menjelaskan dengan jelas ke padaku.


"Hei, aku bukan iblis! Jangan katakan jika kalian buta," hardikku sembari menunjuk-nunjuk mereka berdua.


Chen mengangguk dengan wajah polos. "Itulah yang membuatku bingung. Apakah mungkin kau bisa bertransformasi menjadi manusia murni untuk menutupi identitas aslimu?"


Seketika kugertakan gigi dan menatap malas Chen yang sedari tadi mengucapkan kalimat tak menyenangkan di telingaku. "Kau bicara lagi, akan kuhajar habis-habisan, Chen."


Chen langsung menelan salivanya.


"Sekarang ikuti kata-kataku," perintah Shiro sembari mengambil tanganku dan membuatku menadahkan tangan bak peminta-minta.


"epitheó risi," ucap kami serentak. Tidak serentak juga, aku hanya berusaha mengikuti.


DRANG!


Sebuah cahaya muncul pada tadahan tanganku hingga menyinari wajah kami. Adapun kami sampai tak sadar perasaan terkesima akan pemandangan tersebut. Tak luput pula Chen mendekat untuk melihat cahaya di tanganku.


Mereka berdua saja terkesima, apalagi denganku.


Kembali lagi sebuah potongan memory melintas pada benakku. Sebuah Cristal Jear yang telah menghilang dan masuk ke dalam tubuhku menjadi muncul dengan cahaya yang sedikit redup.


Rasanya seperti telah dibukakan gerbang menuju dimensi lain ke padaku. Selanjutnya, keadaan sekelilingku berubah total menjadi sebuah area peperangan.


Sebuah Kejadian yang sangat memecahkan emosi hingga dapat membuat bulu kuduk merinding. Mataku membelalak dalam menatap seorang gadis yang sangat mirip denganku, namun keadannya begitu naas. Luka-luka terdapat di sekujur tubuhnya yang bisa kuperkirakan akibat sebuah pertarungan. Ia berdiri dengan nafas terengah-engah di depan seorang pria perkasa yang besar bak titant memakai baju ala romawi kuno.


"DENGAN CRISTAL JEAR, KUPUTAR ULANG WAKTU DI SAAT JIWAKU TELAH MENERIMA TUBUH BARU UNTUK BER'REINKARNASI! " Setelah gadis yang malang itu mengucapkan kalimat tersebut, ia menoleh ke arahku. Tatapannya seakan-akan ia tahu akan kehadiranku yang jauh dari posisinya.


Air matanya mengalir. Wajah yang awalnya begitu pongah, sekarang terlihat welas asih dan sangat lembut. Pada akhirnya seluruh memori gadis tersebut merasukiku.


Spontan diriku terkesiap dan tak percaya tentang apa yang telah kuterima dari gadis tersebut.


"Aku adalah kau," lirih gadis tersebut dalam menatapku dengan perasaan yang begitu rapuh.


Kusadari satu hal, aku lah dirinya. Aku lah bentuk dari reinkarnasi seorang ratu yang berhasil memenangkan suara kandidat Coral yang telah jatuh ke dalam lubang kesengsaraan dan kegagalan. Sekarang, tugasku adalah memperbaiki dan memenuhi dendam yang begitu dinanti-nanti.


Reinkarnasi adalah terjadi, perputaran waktu terjadi, dendam yang belum dibalaskan.


"Penuhi dendamku," sambung gadis yang aku telah ketahui bernama Rain. Matanya yang sayu telah menggambarkan sebuah kepahitan telah dia alami hingga kini.


Malangnya Rain. Bukan, maksudku adalah malangnya diriku. Melebihi kemalangan hidup tanpa cinta di dunia modern.


"Element Cahaya! Kau memiliki Element keturunan anggota kerajaan, benar-benar kandidat sejati."


Seketika diriku tersadar dari menonton kejadian menyeramkan tadi ketika Chen berteriak akibat takjub ke pada elemen yang kumiliki.


"Apakah orang tuamu seorang anggota kerajaan yang menikah dengan iblis?" tanya Chen dengan polos.


Agh, mulutnya begitu cerewet dan menyebalkan sekali jika didengar. Ingin sekali aku membungkam mulutnya yang begitu banyak kalimat penghinaan untukku.


Sekarang aku telah mengetahui apa tujuanku ke di dunia aneh ini. Satu hal, yaitu membalaskan dendam pada Hephaetus dan melindungi nyawa-nyawa yang hilang akibat perbuatan Rain hingga dihantui dengan horor.


Tapi, satu hal yang tak bisa kupahami. Mengapa ada sebuah fantasi aneh yang menunjukkan kesengsaraan pada orang-orang di kediaman ini? Rain atau aku tidak pernah menemui mereka sama sekali. Lantas, apakah itu bertanda bahwa mereka adalah korban baru? Aku tidak bisa membiarkan hal ini terjadi.


- ♧ -