
Angin yang berhembus kencang, detak jantung menjadi begitu cepat. Sampai-sampai membuat rasa panik akan dihampiri kematian sedanf terasakan olehku ketika dasar jurang menampakan dirinya.
"Shiro!!!" teriakku yang penuh ketakutan.
Apakah malaikat maut akan menjempuku sekarang? Apa perlu bernegosiasi agar waktu pencabutan nyawaku diundur dahulu. Sangat mengesalkan.
BRAS!
Kami terjatuh pada tumpukan dedaunan yang sangat menggunung.
Syukurlah, setidaknya itu menjadi alas mendarat agar tulang punggungku tak retak. Tebing dengan curah yang tinggi mulai tampak di depan mataku saat kepalaku menghadap ke atas.
"Kalian ini, membuatku menyapu ulang. Merepotkan saja,"ucap seorang lelaki yang membawa sapu disertai berpakaian ala anak desa dan kemungkinan sebaya dengan kami.
"Nyawaku hampir saja hilang," desisku sembari berusaha bangkit bersamaan dengan Shiro yang terbangun dan mengibaskan roknya.
"Apakah kalian sudah selesai berbincang? " tanya lelaki asing tersebut.
"Diamlah Chen, para Shefro itu akan membakarmu jika kau terus mengoceh," hardik Shiro pada manusia yang terpanggil Chen tersebut.
"Kau selalu memancing mereka, kali ini apa yang kau curi?" Chen tak kalah berbicara dengan nada ketus ke pada Shiro sembari menyapu kembali dedaunan tersebut.
Apa, mencuri? Apakah Shiro yang kutemui ini adalah seorang bandit kecil? Perkiraanku tentang dirinya murni orang baik ternyata salah. Agh, tak perlu dipikirkan. Lagi pula diriku tak membawa barang berharga untuk ia ambil.
Pantas saja kumpulan peri berelement api itu mengejar Shiro.
"Lihat," tunjuk Shiro yang mengeluarkan sesuatu dari kantongnya.
"Cristal Jear dari lencana milik salah satu kandidat Coral? Apa ingin kau jual?" tanya Chen dengan sebelah alis yang terangkat.
"Benda apa yang kau pegang?" selaku dengan rasa ingin tahu.
"Ini adalah cristal dari sebuah pin lencana kerajaan kota tadi. Milik salah satu kandidat yang disembunyikan oleh pemerintah," ujar Chen sembari mengambil cristal tersebut dari tangan Shiro. "Tidak ada gunanya jika si pemilik tidak ada. Jadi, memang lebih baik dijual saja."
"Akan kujual dengan harga tinggi. Lagi pula tak mengandung sedikit pun sihir dalamnya," balas Shiro.
"Kau siapa? mengapa bersama shiro?" Chen memandangku dengan tatapan selidik.
"Dia hanya pejalan biasa yang tak tahu arah balik. Aku akan menampungnya di markas," balas Shiro seraya merebut kembali cristal tadi dari tangan Chen.
Di tengah obrolan kami yang membahas akan barang curian, sontak muncul seorang wanita yang sangat menampakkan kemolekan tubuhnya, perawakan yang penuh menggoda, diiringi oleh suara tawa yang cablak yang mirip sekali seperti ibu tiri cinderella.
"Kalian di sini rupanya. Sangat lelah diriku mencari-cari," ujarnya wanita tersebut sembari mengibaskan rambut panjangnya yang berwarna merah darah.
Keren. Apakah di sini ada salon hebat yang bisa mewarnai rambut sekeren itu?
Chen dan Shiro mulai memasang kuda-kuda untuk memulai pertahanan diri. Aku yang tak tahu harus melakukan apa hanya bisa mematung.
"Wah-wah, ada gadis blonde bersama kalian. Apakah dirinya anggota baru kalian?" lanjut wanita itu dalam menatapku penuh menggoda seperti waiter yang ada di bar dan kelab.
"Pergilah Belatrich, kami tak ada urusan denganmu," ucap Chen dengan wajah seriusnya.
"Tentu ada. Cristal Jear yang ada di tanganmu ingin sekali aku..." ucapan wanita yang terpanggil Belatrich tersebut mengambang dan membuatku menunggu kelanjutannya.
TAK!
"Rebut!" sambungnya dengan bernada mellow sembari melemparkan belati berukiran silver yang meleset dalam mentargetkan Chen.
"Aspída fotós," teriak Chen sembari menjulurkan tangannya dan spontan memunculkan sebuah perisai cahaya dengan ukiran-ukiran tulisan kuno.
Apa-apaan ini? Apakah mungkin aku berada di dunia game?
Dari perisai Chen telah memancarkan cahaya seperti leser yang dapat menghanguskan objek yang mengenainya. Lihat saja pepohonan yang terkena sinar tersebut telah menjadi hangus setelah Belatrich menghindar bak akrobatik handal.
Setelah kulihat-lihat, aku perlu mengacungi jempol pada Belatrich. Dia bergerak dengan lincah dalam keadaan memakai pakaian ketat di bagian pinggang dan mengembang pada roknya yang berenda-renda.
Shiro berlari mendekati Belatrich dengan skill pertarungan jarak dekat. Entah itu silat, taekwondo, ataupun karate, yang aku lihat semua teknik telah dikeluarkan oleh Shiro. Pada akhirnya, mereka berdua mulai beradu pedang dan belati. Bahkan percikan disertai suara pantulan yang dihasilkan dari senjata diadu tersebut menambah kekaguman di mataku. Selama ini aku hanya melihat pertarungan seperti ini di televisi, namun kali ini ada di depan mataku!
Area pertarungan mulai menjadi berantakan akibat mereka serangan-serangan mereka. Bahkan tak terkecuali dengan daun-daun kering yang sudah disapu oleh Chen.
TRANG! TRANG!
Gerakan yang lincah Belatrich dapat menolak serangan jauh dari Chen dan membalik lawan pada Shiro. Hebat, dengan tubuh lentur namun goals tersebut telah menambah nilai plus dariku. Andai saja aku bisa berteman dengan wanita sepertinya.
Seketika Shiro menjadi lengah dan dapat ditendang oleh Belatrich yang mulai memasang ekspresi menyeramkan. Shiro terpental jauh dan Chen menggantikan posisinya untuk menyerang jarak dekat.
BRAK! TRAK!
Tubuh Shiro mencapai dinding tebing hingga retak. Aku bisa mendengar benturan tubuhnya mengenai dinding batu itu. Pasti menyakitkan dan perlu dipijat.
Pada saat yang sama, cristal yang Shiro bawa terlepas dan melambung pada udara. Diriku memiliki inisiatif untuk mengambil barang yang dilindungi tersebut dan langsung berlari lalu melompat tinggi. Alhasil, aku berhasil menangkap Cristal tersebut.
"Yey, aku dapat!" teriakku penuh kemenangan.
Rasa akan sebuah kebencian seperti menghantui jiwaku ketika menyentuh cristal ini. Rasa sakit dan ketidaktenangan menyelimuti ragaku. Apakah ini kutukan karena menyentuh benda keramat? Mungkin tak seharusnya diriku menyentuh barang tak jelas ini.
"Rain! bangkitlah dan balaskan dendammu!"
"Sadarlah, kau telah kembali untuk dendam ini."
Suara-suara yang bergema dan asing telah terdengar memekik telingaku. Tak sadar bahwa air mataku mengalir di pipi tanpa sebab. Ini pasti karena mataku kelelahan akibat terlalu banyak melihat layar ponsel.
Mendadak Belatrich mendekatiku dengan cepat dan aku tahu bahwa dia bertujuan untuk merebut Cristal Jear yang ada di genggamanku, sedangkan diriku masih melambung di udara hanya bisa panik. Kutarik kesadaranku dengan utuh dan langsung melihat Belatrich mendekat sampai-sampai hidung kami bisa saling berpapasan.
DAR!
Seketika sebuah tameng yang menyinari sekelilingku telah muncul dan membuat Belatrich terpental hingga jatuh lalu dirinya terbaring di tanah.
"Sial, ternyata kalian curang juga." Belatrich bangkit dengan tertatih-tatih seraya menatapku dengan tajam.
Rasa bingung muncul di benakku karena sebuah cahaya dari kristal tersebut menyelimutiku hingga tibuhku melambung tanpa henti. Apakah aku telah dikutuk? Atau tubuhku sedang diambil alih oleh penghuni cristal ini? Agh, aku takut!
"Sial, sejak tadi jika diriku tahu bahwa dia kandidat Coral. takkan kudekati," omel Belatrich.
Cristal dalam genggamanku seketika menjadi sebuah serpihan debu yang bersinar lalu sirna. Apakah diriku telah menghilangkan Cristal ini? Atau mendadak rusak? Aku tidak melakukan apa-apa, sungguh! Shiro pasti akan memarahiku dan meninggalkanku di sini. Menyebalkan sekali cristal ini.
Saat mendapatkan kesempatan dalam celah yang longgar, Chen melepaskan sihirnya dan menyerang Belatrich yang sedang sibuk menontonku.
"Agh, Dasar orang-orang licik!" Belatrich terlempar jauh dan wajahnya mulai mencium tanahm
Aku mendarat di tanah dengan perlahan dan menghadapi sebuah tatapan kebingungan dari Chen bersama Shiro. Pasti mereka murka karena cristal tadi telah menghilang di tanganku.
Suara kekehanan dari Belatrich terdengar hingga membuat kami serentak menoleh padanya.
"Sangat disayangkan cristal itu telah kembali ke pemiliknya. Jadi, aku akan pergi dulu. Jangan merindukan diriku, ya," ucap Belatrich dengabn bernada dan langsung secara menghilang perlahan. Dia pasti menggunakan jurus teleportasi
Sontak Shiro yang berjalan tertatih dan matanya membelalak dalam menatapku, sedangkan Chen mengarahkan tangannya yang penuh cahaya sihir padaku. Sudah kuduga jika mereka marah karena cristal tadi.
"Apakah kau membohongiku untuk merebut cristal itu?" tanya Shiro dengan tubuh yang terasa sakit.
"Apa yang kau inginkan? Memenggal kami?!" bentak Chen yang bersiap menyerang.
"Aku tak tahu apa-apa! Maaf!" ujarku dengan rasa panik. "Jika kalian ingin aku mengganti rugi cristal ini, aku akan menggantinya dengan uang!"
Aku pun merogoh saku rok seragamku dan beruntung mendapatkan lima puluh ribu rupiah. Serta merta aku menyodorkan uang tersebut pada Shiro dan Chen. "Ini uang untuk kalian! Jangan hukum aku!"
Serentak Chen dan Shiro merubah ekspresi dengan aneh.
"Kau tak tahu apa-apa? Sungguh?" Chen menghetikan sihirnya dan menatapku dengan keki.
"Sungguh!" tegasku.
"Kurasa dia benar-benar hilang ingatan." Shiro menggeleng ke arah Chen, lalu kembali menatapku. "Cristal itu milikmu. Ia kembali tertanam pada pemilik aslinya yaitu kau."
Aku menggedik bahu. "Terserah apa kata kalian. Intinya, aku tak tahu apa-apa. Kalian tidak ingin uangku?"
"Uangnya aneh. Pasti terdapat racun, lihatlah warnanya begitu biru terang." Chen menatap geli uangku. Padahal dengan uang ini, aku bisa membeli lima mangkuk bakso.
"Terserahmu," balasku.
"Tunggu sebentar." Chen menpleh pada Shiro lalu memiringkan kepalanya untuk kembali menatapku. "Apakah kau keturunan Aella, si kandidat yang menghilang itu? Dan kini kembali karena tahu cristal itu telah dicuri? Lalu, sekarang amnesia?"
"Aku tidak terluka atau habis terbentur batu! Sudahlah, aku tidak amnesia! Aku ingat namaku, namaku Yuzu! Yuzu Rain!"
Chen dan Shiro saling menatap dengan panik, lalu melangkah mundur perlahan.
"Kau benar-benar tak tahu apa-apa, bukan?" Shiro mulai memastikan ucapanku. Agh, aku harus berapa kali mengatakan jika aku tak tahu apapun?
"Hei, aku tak tahu apa yang kalian bicarakan. Kandidatlah, sihirlah, kerajaanlah, ini itu, blablabla. Aku hanya gadis SMA yang nyasar ke dalam dunia ini!" jelasku yang penuh akan tekanan batin.
Chen pun mendekati Shiro.
"Apakah orang-orang kerajaan gaya bicaranya aneh seperti itu?" bisiknya yang terdengar olehku. "Dan blablabla itu apa?"
"Entah. SMA itu apa?" balas Shiro yang tak kalah berbisik.
"Sekali lagi, aku bukanlah orang yang kalian pikirkan!" bentakku murka.
Orang-orang bodoh ini hanya kuat namun tak menggunakan otak untuk memahami kalimatku. Pada segi gaya bicara saja memang jauh berbeda dariku. Apakah mereka berbeda bahasa denganku namun diriku dapat memahami mereka dengan subtitle otomatis di pendengaran? Hmm tebakan yang masuk akal. Kurasa tidak.
"Jadi, kau adalah..."
- ♧ -