BLAZE II

BLAZE II
01. YUZU RAIN



BRAK!


Sebuah tangan memukul keras meja dan sontak membuat kami terkejut. Bukan hanya kami, seluruh penghuni caffe mulai menjadikan kami sebagai sorot pandang.


"ayolah Yuzu, apakah kau yakin akan pindah dari kota ini?" tanya Sherly, si gadis yang telah memukul meja tadi. Bahkan mulutku berhasil terbuka lebar seperti goa kosong karenanya.


"iya benar, kau akan meninggalkan kami?" sahut Megan yang berada di sebelah Sherly.


Kami bertiga sedang berbincang dengan judul topik 'perpisahan' di Caffe cate-cate dekat sekolah menengah kami. Tepatnya sepulang sekolah, kami berinisiatif nongkrong untuk terakhir kalinya sebelum aku meninggalkan kota. Bahkan kami saja masih menggunakan seragam sekolah menengah yang lumayan nyaman untuk dipakai ke mana pun.


"Ibuku telah dipromosikan dan harus pindah ke perusahaan pusat yang jauh dari kota ini. Mau tidak mau, aku tetap harus ikut. Walaupun aku tak rela meninggalkan kalian juga," ucapku sembari melambai-lambai kecil ala mengipas diri sendiri.


"Jadi, apakah kekasihmu juga akan kau tinggalkan?" tanya Megan.


Aku mulai menahan tawa.


Lucu sekali. Selama dua tahun bersama mereka bersekolah di SMA atau nama aslinya adalah international Culture High School, aku telah bercerita bahwa diriku mempunyai pacar laki-laki tampan dan sangat kaya. Sesungguhnya, sema itu hanya bualan belaka. Bodohnya mereka mempercayai itu semua, dasar konyol!


Andaikan saja jika benar-benar ada laki-laki tampan dan kaya-raya yang mencintaiku, tak mungkin diriku menjomblo terus seperti ini. Jika dilihat-lihat, diriku tak terlalu buruk. Bahkan Pak Bejo alias guru matematikaku pernah memujiku cantik. Om-om saja tahu bagaimana kriteria gadis cantik, lalu, kenapa tak ada satupun laki-laki yang mendekatiku?


"Ah, iya. Baru saja kemarin diriku melakukan ciuman perpisahan dengannya," ujarku dengan memasang wajah pongah yang bertujuan agar Megan dan Sherly sedikit iri padaku.


"apa? Ciuman?!" teriak Megan dan Sherly yang tercengang dan sesuai dengan dugaanku.


Kukibaskan tangan dan tertawa kecil. "tentu saja."


Aku pun memeriksa jam tangan bermerk terkenal pada pergelanganku yang telah dibelikan oleh Ibuku. Sekarang adalah waktunya untuk pulang dan membereskan barang-barang pindahan, sebaiknya aku tidak boleh terlambat.


"time to go home, aku pergi dulu ya!" pamitku sembari beranjak dari bangku kami.


"Bye Yuzu, jangan lupa menelfon kami, ya." Megan melambai-lambai ke arahku dan tersenyum lebar.


"Ingat! awas saja kau melupakan kawan-kawanmu ini," ancam Sherly yang terlihat galak namun tetap imut.


Agh, mereka sedikit agresif hingga membuatku mengira jika melupakan mereka akan terjadi sesuatu yang mengerikan.


Kulangkahkan kakiku untuk pergi meninggalkan caffe dan berjalan di trotoar yang sangat ramai akan pejalan kaki. yeah, untuk di siang hari sangatlah wajar.


Tak sengaja diriku melihat sebuah taman di seberang jalan. Mungkin hal yang menyenangkan jika aku mampir sebentar.


Aku menghampiri bangku taman yang terlihat kosong dan mendudukinya sembari mengeluarkan ponsel untuk memeriksa notifikasi pesan.


TLING!


Suara notifikasi dari ponselku berbunyi. Mungkin dari Ibu, pikirku sebelum membuka notifikasi tersebut.


Inbox || Unknown Number : 'Hai, apakah kau percaya sihir?'


Sebuah pesan tanpa nama dan nomer yang berkesan acak berkesan aneh telah membuatku mengerutkan dahi. Apakah ini adalah operator nakal yang ingin mengerjaiku? agh, lupakan dan tak usah dipedulikan.


Aku mematikan ponsel lalu menikmati pemandangan taman yang sangat asri nan nyaman. Menghembuskan nafas segar untuk terakhir kalinya di kota ini tidak akan menjadi masalah.


Anak-anak kecil yang sedang bermain tampak menghiasi pemandangan taman. Orang-orang yang sedang berpacaran, tukang kebun menyiram bunga-bunga, sekaligus burung merpati yang berjalan-jalan di tanah untuk mencari makan.


TLING!


Muncul suara notifikasi lagi yang berasal dari ponselku. Aku memeriksanya dan melihat pesan yang telah terkirim oleh orang yang sama sebelumnya.


Inbox || Unknown Number : 'Oh ayolah, pasti kau percaya tentang sihir!coba lihatlah.'


TLING!


Inbox || Unknown Number : 'Kau harus percaya'


Pesan aneh lagi yang terkirim beruntun. mengesalkan, lebih baik diriku kembali pulang daripada memandangi ponsel melulu yang isinya hanya beberapa pesan dari orang aneh.


Kumatikan daya pada ponsel yang berchasing pink, hingga terpantulkannya bayanganku pada layar hitam yang mengkilat ini.


Tanganku menyentuh bangku taman dan merasakan sesuatu yang aneh. Terasa sedikit kasar dan beda seperti sebelumnya. Reflek diriku melihat ke tempat yang kududuki.


Mataku memicing untuk berusaha fokus akan apa yang telah kulihat.


Yang benar saja, kursi ini berubah menjadi Susunan batu besar! Bukan hanya kursi yang rasanya mengganjal pada benakku, suara-suara di sekitarku mulai berubah.


Kepalaku reflek menoleh secara perlahan, lalu mengedarkan pandangan ke segala arah.


Sebuah taman yang kudatangi seketika berubah menjadi desa yang berkemungkinan pada abad pertengahan. Bukan taman berbunga yang diisi oleh orang berpacaran ataupun anak-anak kecil. Justru yang kulihat adalah para wanita dengan gaun lusuh, pengendara yang menggunakan kuda, para penjual buah keliling. Bahkan yang awalnya kulihat burung merpati bertebaran dimana-mana, justru yang ada hanyalah ayam-ayam liar.


Apa-apaan ini?!


Sontak diriku memutar tubuh dan melihat bahwa bangku yang kududuki telah berubah menjadi kolam air mancur yang terletak di tengah-tengah tempat asing ini.


Mataku membelalak dalam memandangi area sekitar yang berubah total. Rasa shock dan bingung yang menyelimuti diriku membuat sebuah amarah terpercikkan dalam hati.


Mungkin aku sedang tertidur di taman hingga bermimpi aneh seperti ini. Atau sebenarnya tidak. Apakah ini dunia lain? Atau diriku baru saja melintasi dunia parallel? Mungkin waktu yang berjalan mundur? apa-apaan ini, tolong siapa-pun beri tahu diriku!


TLING!


Inbox || Unknown Number :'Selamat datang! '


Notifikasi yang sama muncul lagi, apakah dia dalang dari semua ini? dia yang mengirimku ke dunia aneh nan primitif ini? Menyebalkan! .


TRAK!


Karena amarah yang tak terkontrol, diriku melempar dengan keras ponsel yang membuatku terlempar ke tempat asing ini. Kulihat ponsel tersebut berhenti tepat di depan seorang gadis asing yang berpenampilan lumayan berbeda dari gadis-gadis lain di sekitar kami.


Ia memungut ponselku dan berjalan mendekat. Lalu, dia mengembalikan ponsel itu padaku. Jadi, apakah aku harus berterima kasih? tapi apakah dirinya mengerti akan bahasaku?


"punyamu,bukan?" tanyanya sembari menyodorkan ponselku.


Baguslah, bahasanya sama sepertiku.


Setelah kuperhatikan, rambutnya bermodel bob dan memiliki tinggi yang sama denganku. Mungkin gadis ini sebayaku. Pakaiannya seperti di animasi televisi yang pernah kutonton. Jubah merah se-siku dengan hoodie bertengger di belakangnya. Manset putih tanpa lengan, sekaligus celana panjang berwarna hitam. Alas kakinya adalah sepatu boot bertali selutut.


Keren. Apakah dia tahu tentang fashion? Ah, lupakan. Mana mungkin dia paham tentang kehidupan modern.


"iya, terima kasih," jawabku seraya menerima ponsel itu.


Wajah tanpa ekspresinya telah memberi kesan jutek kepadaku. Bisakah dirinya membantu orang asing sepertiku?


Ketika gadis itu hendak melangkah pergi meninggalkanku, sontak diriku menahan tangannya dan berhasil membuatnya berhenti. Kepalanya menolehkan kepadaku dan sinar harapan telah terbayang dari wajah garis ini.


Aku memandanginya secara welas asih dan mulai berkata, "Hei, bisakah kau menolongku? Kumohon!"


...-♧-...