BLAZE II

BLAZE II
PROLOG



Rasa sakit dan kekecewaan menjadi satu. Kulihat area sekitar yang begitu hancur Tak luput pula dengan danau darah yang terhiasi oleh mayat-mayat tanpa dosa.


Tangan yang sangat gemetar telah terselimuti keringat dan percikan darah hingga membuatku sedikut mual. ingin sekali aku memejamkan mata yang sedang menyaksikan begitu banyak kesengsaraan agar semua ini terasa tak pernah terjadi.


Kobaran api dimana-mana dan awan yang gelap tampak mendukung suasana mencekam ini. Sambaran petir dan kilat hingga dihiasi oleh tatapan-tatapan penghinaan dari sekeliling. Orang-orang yang masih berusaha akan bernafas telah menjadikanku sorot pandang dan membuatku ingin lenyap secepat mungkin.


"Mati lah kau! tak pantas dunia ini menerima manusia mahkluk seperti **m**u!"


"Matilah dan bertanggung jawab atas tindakan mu! "


"Tubuh yang dilumuri darah tak berdosa sangatlah tak pantas untuk berdiri di dunia!"


Cacian-cacian dan kalimat kutukan yang terlintas hingga menghantui pikiranku sedari dulu. Sampai-sampai membuat kewarasanku semakin sirna hingga mencapai ketidaksadaran.


Aku berlutut dan menatap secara mendalam ke arah Hephaetus yang sedang berdiri angkuh di depanku dengan kedua bola mata yang mengalirkan darah. Jarak di antara kami hanya sampai 30 hasta, namun terasa jauh dan tak tergapai.


"APA?! APA KAU PUAS MENATAPKU SEPERTI ITU?" hardikku sembari berdiri dan tertawa cablak, sampai-sampai seluruh penjuru dapat mendengar.


"Menjijikan, matilah!"


"Pergilah ke neraka, kau tak pantas lagi untuk hidup."


"Kemarilah, rasakan sakit yang sama seperti kami!"


Agh! Suara-suara kutukan itu lagi memenuhi pendengaranku hingga membuatku reflek menutup telinga dengan kedua tangan. Kukeluarkan seluruh teriakan traumatis yang melengking dan nyaring untuk berharap agar semua kalimat-kalimat itu menghilang dariku.


Mendadak pandanganku menjadi gelap dan pudar. Kurasakan sebuah kehampaan dan keheningan mengeliling ku. Tempat yang berawal penuh akan kehancuran seketika sirna menjadi ruangan gelap yang kosong hingga tak ada sebutir debu pun terlihat.


Muncul seseorang yang tampak menggunakan kimono putih dan rambut dengan tatanan braided bun. Penampilan yang begitu anggun sedang berjalan mendekatiku. Bahkan wajah dinginnya tak luput hadir dalam menatapku.


"Rain...mengapa..." ucapnya lirih dan mengambang yang membuatku menunggu akan lanjutan kalimatnya. "Mengapa..."


Dia terdiam sebentar.


"Mengapa kau tak mati saja?" sambungnya dengan semakin lirih sembari memegang leherku dengan kedua tangannya. "Semua ini salah mu. Maka, tebuslah dan mari rasakan apa yang kami rasakan ini."


Wanita tersebut semakin mempererat cekikannya padaku.


Seketika muncul topeng-topeng polos yang hanya berlubang-kan di bagian mata dan mulut dengan berbagai macam ekspresi dan begitu tampak mengerikan. Mereka mengitariku seperti ada yang mengontrol benda mati ini.


"Mati bersama kami, Ayo."


"Rain...."


"Ayo matilah."


Suara yang bergema dan tampak persis seperti kalimat-kalimat kutukan yang selalu menghantuiku di setiap saat. Inilah mereka yang berhasil menunjukan wujud padaku dengan disertai mengulangi kalimat-kalimat yang sama.


Pekikan mereka membuat kewarasanku terkikis sedikit demi sedikit. Diriku sadar bahwa perempuan berkimono tadi telah sirna dan membiarkanku sendirian bersama para topeng-topeng peneror ini.


"Hentikan!" bentakku disertai isakan pahit.


Kini, aku benar-benar harus belajar cara tak mempedulikan teriakan teror tersebut.


Pada akhirnya, aku kembali memandang Hephaetus dengan mata membelalak seraya menyunggingkan mulut yang sudah mengalirkan darah di ujung bibir.


"Kau kira aku akan mati di tanganmu seperti para bidak-bidak sampahmu dan makhluk-makhluk yang tak bersalah ini?" ucapku dengan pongah.


Sudah kuputuskan bahwa aku tidak akan mati di sini secara sia-sia.


Kutarik nafasku perlahan untuk mempersiapkan diri. Lalu, aku melotot ke arah Hephaetus seakan-akan menantangnya untuk mencabut nyawaku.


"AKU! RAIN....SANG PENGUASA MAES GARANCHER SEKALIGUS KETURUNAN MURNI AELLA, KINI AKAN MEMBALAS DENDAM ATAS KEKEJIAN KALIAN PARA PENGIKUT HEPHAETUS! " kataku dengan satu tarikan nafas yanf penuh gairah dan tawa tak waraskan diri.


Kukeluarkan pedang kebanggaanku yang muncul tanpa merapalkan mantra lalu melepaskan Cristal Jear yang berada pada pangkal alas gagang.


Aku mengggenggam Cristal suci itu dengan tenang seraya mengangkat tangan disertai nafas yang terengah-engah.


"DENGAN CRISTAL JEAR, KUPUTAR ULANG WAKTU DI SAAT JIWAKU TELAH MENERIMA TUBUH BARU UNTUK BER'REINKARNASI! "


TRANG!


Tepat seperti yang kuekspetasikan. Cahaya yang sungguh bersinar dari Cristal Jear sontak menyelimutiku hingga diriku melambung di udara.


"Tidak! apa yang kau lakukan!?"


"Dasar keparat! dia menggunakan Cristal itu sebagai kunci pelarian!"


"Meskipun kau mengulang waktu, kejadian yang sama akan tetap terjadi! kau hanya merasakan siksaan ini untuk kedua kali-nya!"


Suara-suara yang terdengar olehku akan protesan dari kaum pembantai. Mereka yang mengelilingiku dari jauh mulai berlarian mendekatiku dan hendak mencegah perbuatanku yang mereka anggap sebagai bencana.


"Siapa pun, hentikan wanita gila itu!"


"Cepat! Hentikan dia!"


Sebuuah perisai dari Cristal jear telah melindungiku dari segala serangan yang menghampiriku. Tidak ada lagi harapan menyertai mereka semua dalam menghentikan keinginanku.


Rasa sejuk dan melegakan memancar mulai di hadapanku. Terlihat seekor roh penuntun kecil begitu putih dan transparan telah mendekati wajahku. Ia membelai pipiku dengan begitu lembut hingga nyaris aku tak menyadari bahwa posisiku sedang berada di tengah-tengah area peperangan.


"Akan kutuntun jiwamh untuk berreinkarnasi dan mencapai tujuanmu...." ucap sang roh dengan lembut hingga membuat hatiku seperti tersentuh perlahan.


Dan inilah untuk terakhir kalinya, semua rasa sakit dan kekecewaan, rasa putus asa akan kekalahan, teror dan ancaman akan lenyap dalam seketika. Aku akan kembali untuk merenggut apa yang harus kumiliki sepenuhnya.


Air mataku mengalir yang mendefiniskan sebuah ketenangan telah hadir dan beban-beban menjadi hangus dari tubuhku.


Dan semuanya akan berakhir hingga balas dendam akan dimulai dari sini.


- ♧ -