
"Jadi kau adalah ...," Perkataan Chen melambung yang membuatku sangat penasaran.
"Aku bukan siapa-siapa, jangan asal menebak," selaku.
Untuk keamananku sendiri, lebih baik kurahasiakan saja tentang kejadian tadi yang menimpa alam bawah sadarku tadi. Suara-suara menggema seperti hantu dalam opera membuatku merinding sedari tadi. Sepertinya aku benar-benar digentayangi oleh pemilik asli cristal tadi.
"Tak usah dipikirkan, ayo kembali ke markas," sahut Shiro sembari mengusap darah pada tepi bibirnya.
Chen nenggertakan giginya dalam memandangi Shiro. "Lalu, siapa yang membereskan area ini? Jean pasti akan memarahiku."
"Kau selalu mencari masalah hingga dihukum oleh Jean," sergah Shiro sembari berjalan menuju pintu keluar lembah. Oh, ya, aku baru sadar jika kami berada di lembah. "Ayo pergi."
Sontak diriku dan Chen berlari menyusul Shiro. Kami berjalan bersandingan dengan keadaan sedikit luka, kecuali diriku.
TLING!
Notifikasi dari ponselku berbunyi, tak kusangka daya hidupnya akan jauh lebih lama.
Inbox || [Unknown Number] :Kau keren, Semangat menjalani hidup baru.
Akan kukutuk si pengirim pesan ini. Tidak seharusnya diriku meminta ponsel pada Ibu jika pada akhirnya akan menghasilkan nasib seperti ini. Sungguh menyebalkan.
"Yuzu Rain, bangkitlah. balaskan dendammu."
Suara aneh itu lagi. Suara yang terdengar begitu mistis dan mengutuk. Sangat mendalam seakan-akan seseorang ingin menyadarkanku oleh sesuatu ketika menyentuh cristal Jear. Akan kuselidiki sendiri hal ini.
"Benda apa yang sedang kau pegang?" kata Chen yang menatap ke arah ponselku.
"Oh, ini ponsel." Aku menyodorkan ponsel menyebalkan tersebut ke Chen. "Mau mencoba menggunakannya?"
Chen mengambil ponselku dan aku menekan tombol hidupkan daya, namun tak ada respon. Ini aneh, tadi baterainya masih penuh dan bisa kugunakan.
"Apakah ini cermin hitam? Keren." Chen menatap wajahnya dari pantulan layar ponsel. Dia mengembalikan ponselku dan aku kembali mencoba menghidupkannya.
Berhasil hidup. Kurasa ponsel ini akan hidup hanya di tangan pemiliknya, yaitu aku. Pasti si operator nakal itu yang sudah menghack ponselku.
Perjalanan yang memakan waktu cukup lama hingga kakiku nyaris kram. Apakah mereka tak bisa menggunakan kuda atau transportasi?
Sebuah goa yang gelap nan lembab kami masuki. Eww, apakah mereka serius jika markas persembunyian berada di sini?
Shiro mulai merapalkan sihirnya dan cahaya lingkaran mulai menyelimuti pangkal goa. Sebuah portal terbuka dan mereka langsung melangkah masuk tanpa memikirkan-ku yang sedikit terkejut dengan hal baru ini. Ku beranikan diri dengan melangkah ragu memasuki portal tersebut.
Sebuah cahaya menyelimuti, ruangan yang tampak sangat besar dan mendefinisikan inilah tempat penerimaan tamu yang berisikan sofa, meja dan perabotan lain-nya.
"Hallo, siapa yang kalian bawa ini? lumayan menawan," sambut laki-laki perawakan badut yang sangat tinggi plus memakai jubah berwarna navy. Penampilannya cukup aneh.
"Menjauhlah, dia bukan bidakmu," perintah Chen dengan nada kesal.
"Sombong sekali dirimu," ledek Badut tersebut.
"Panggilkan madame Rich!" teriak Shiro sontak beberapa penghuni muncul dengan penampilan unik.
Seorang wanita paruh baya dengan berpakaian ala pengembala domba pun hadir dan menduduki sofa utama. Kami hanya berdiri seperti patung menatapnya tanpa kedip dan aku hanya mengikuti sikap mereka tersebut.
"Aku memintamu membawa Cristal Jear, dan siapa gadis lucu ini." Madame Rich menatapku bak seorang ibu yang teramat senang dalam melihat anaknya.
"Tidak hanya Cristal, aku sekaligus membawa pemiliknya," balas Shiro.
Seisi ruangan mengerutkan dahi seakan-akan mencoba mencerna kalimat tersebut.
"Dia adalah kandidat Coral yang hilang dan keturunan Aella. Dia telah kembali," sahut Chen. Memangnya, siapa itu Aella? Presiden kota ini?
Seketika suara pekikan bak toa yang rusak dan nyaris membuat telingaku sakit. kuluaskan pandangan sekitaran dan melihat bahwa orang-orang itu tidak merasakan hal yang sama padaku.
"Rain, Sadarlah. Bangkitkan dendamku."
Suara itu lagi.
Semua orang terkesiap ketika mengetahui diriku adalah pemilik barang yang mereka curi. Apakah ini menjadi hal buruk? Ah, sudahlah. Aku hanya perlu berdiam diri alias tak berkutik agar tak menimbulkan masalah.
"Bagus, kita mendapatkan kartu As untuk menggulingkan Orang-orang bajingan itu!" teriak Madame Rich yang membuat semua orang tersenyum.
Bajingan? Apakah mereka sedang melakukan kudeta? Atau peperangan antar wilayah? Mungkinkah pemberontakan? Terlalu banyak pertanyaan pada benakku.
"Selamat datang gadis kecil. Apa kau mendatangi kami untuk membantu para pemerintah busuk itu?" tanya madame Rich kepadaku yang tak tahu apapun tentang apa yang dia bicarakan.
"Eh ...," Aku melirik ke kanan dan ke kiri. "Apa yang sebenarnya kalian bicarakan?"
Semua orang terkejut menatapku, bahkan Chen dan Shiro menepuk dahi mereka secara serentak. Apakah yang kuucapakan salah? Aku hanya berusaha jujur karena jujur adalah yang terbaik.
"Kalian apakan dia sampai tak tahu maksud kita?" celetuk salah satu orang di deretan duduk Madame Rich dengan penampilan gadis kecil mungil dan rambut berwarna merah muda. "Hei Shiro. Apakah kau memukul kepalanya hingga dia seperti itu?"
"Jika aku melakukan itu, aku sudah tewas lebih dahulu." Shiro memutar bola matanya tanda tak senang saat dilemparkan pertanyaan tersebut. "Aku menemukannya dan dia hanya pejalan kaki tak tahu arah yang mengamuk dan membanting barang."
"Barangnya adalah cermin hitam, keren!" sahut Chen seraya menyenggolku dalam mengkode menunjukan ponsel.
"Dari mana kau tahu apa yang diucapkan Shiro?" bisikku pada Chen seraya mengeluakan ponsel dari saku rokku.
"Shiro yang menceritakannya padaku tanpa sepengetahuan kau." Chen tak kalah berbisik dalam meresponku.
Semua orang terpana dalam menatap ponselku, sama seperti Chen sebelumnya.
"Asalmu dari mana?" tanya Badut tadi.
"Bisa ditebak diriku bukan berasal dari dunia ini. Bahkan aku tak bisa menggunakan sihir dan bela diri seperti kalian," kataku sembari menggarukan kepala belakang yang tak gatal.
"Kau pasti dari negri barat!" celetuk gadis yang berada di sebelah Madame Rich.
"Tidak juga," kataku seraya membayangkan negri barat adalah eropa. Apakah wajahku terlihat blasteran? Kurasa tidak.
"Tak kusangka orang penting sepertimu bisa seaneh ini," cemooh Badut tadi. Kalimat yang dia ucapkan seperti penghinaan.
Aku menghitung orang yang hadir berjumlah sembilan. Aku, Shiro, Chen, si badut, Si gadis yang masih bocah, Madame Rich, dua pria yang berdiri di bekalang sofa dan satu lagi wanita sedang berdiri di samping si badut. Penampilan mereka seperti pemain sirkus yang telah pensiun.
Secara tiba-tiba, wajah-wajah mereka membangkitkan kenangan yang tidak kuduga telah kumiliki.
Sebuah tanah lapang yang begitu luas dan gersang. Teriakan kekalahan dari orang-orang berwajahkan sama seperti mereka telah melengking masuk ke telingaku. Kupandang tanganku yang begitu berselimutkan debu dan percikan darah yang begitu menjijikan hingga membuat mulut kuternganga lebar.
Aku menoleh dan melihat para wajah-wajah yang telah kulihat tadi tengah terpuruk dalam keadaan cukup sama sepertiku.
"Hentikan, jangan! "
"Siapa-pun, tolong ..."
"Kumohon."
Dalam seperkian detik, muncul sebuah suara yang tak menyenangkan di otakku.
"Beginilah penampakan di masa yang akan datang jika kau tak memulai pembalasan dendam untuk diriku."
Aku menoleh ke segala arah dan menjadi kebingungan. Siapa dia, dan apa yang dia maksudkan dendam?
Lamunanku berhasil terpecahkan oleh teriakan dari Madame Rich yang begitu pongah.
"Yeah, simpan saja manusia itu. Kita akan membimbingnya agar bisa memenangkan pemilihan kandidat penerus kerajaan nanti," ujar madame Rich dengan aura kepemimpinannya.
Madame Rich pergi meninggalkan kami dan beberapa orang kembali pada kesibukannya.
"Hei, Aku Jean.. Apakah kau tak tertarik untuk berkenalan denganku?" sapa seorang laki-laki dengan perawakan kekar dan sok tampan.
"Tidak! jangan lakukan itu! " Seketika muncul wajah Jean dengan begitu banyak sayatan dan darah tengah tersungkur dalam menahan kakiku dengan tangannya.
"Aku Yuzu, senang bertemu denganmu," balasku dengan canggung dan kusadarkan diri gaya bicaraku telah menjadi gagap.
Benar-benar pemandangan yang cukup mengerikan. Aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
- ♧ -