BLAZE II

BLAZE II
02. DUNIA ASING



Apakah hidupku bisa tak sesial ini? Memasuki dunia yang sangat jauh berbeda dengan asalku, apakah ini berbeda universe? ah, konyol. Kemungkinan ini semua adalah mimpi, namun tampak nyata.


Aku, yeah diriku. Gadis remaja berumur 17 tahun, bercita-cita mendapatkan seorang pangeran yang akan melamarku agar kisah percintaan remajaku tak kosong bak buku baru. Lalu, sekarang sebuah nasib buruk mampir kepadaku, yaitu berpindah pada dunia lain tanpa sebab. Semua ini pasti ulah si operator nakal itu.


Kembali pada nasibku.


Mataku berbinar mengharapkan sebuah pertolongan dari gadis yang berhadapan tepat padaku. Matanya yang sayu dan tatapan kosong membuatku menciutkan harapan.


"apakah kau seorang Elf?" tanyanya tanpa mengubah raut wajah dan berhasil membuatku sedikit senang.


Baiklah. Aku harus berhati-hati dalam berbiara agar gadis di hadapanku ini mau menerimaku. Ayo Yuzu, jangan membuat dirinya kecewa dalam gaya bicara mu. Ini adalah harapanmu satu-satunya untuk menemukan pendamping.


Agh, apa yang sedang kubicarakan dalam menyemangati diri sendiri?


"bukan, aku hanya manusia biasa yang tak tahu arah," balasku dengan menggeleng.


"seorang petualang?" tanyanya lagi.


"bukan "


"Archmage?"


"Bukan juga."


"Warewolf?"


"Tidak."


Pertanyaan yang beruntun tersambar ke arahku, seperti reporter yang menanyai tentang kejadian heboh selebritis. Identitas yang ia sebutkan seperti mahkluk di cerita dongeng. Apakah penampilanku seperti apa yang ia tanyakan? Padahal, jelas-jelas aku hanya seorang gadis cantik. Yeah, aku memang cantik, kuakui. Bahkan diriku hanya memakai seragam sekolah dan rambut blonde se-pinggang. Mungkin aneh untuk orang peradaban sepertinya melihat style ku.


"Dan apakah kau ..."


"aku hanya manusia biasa dan tolong hentikan pertanyaan itu," balasku dengan perasaan kesal.


"baguslah, jadi kau ingin apa?" ucapnya langsung ke inti.


"Bisakah aku pergi bersamamu untuk sementara? Dari perlakuanmu yang telah mengambil ponselku, sepertinya kau orang yang baik," ujarku sembari menatap ponsel dengan layar yang retak akibat lemparanku tadi.


Dirinya menatapku dari ujung kaki hingga kepala seperti seorang OSIS yang memeriksa kelengkapan seragam anak-anak sekolah.


"Tentu, ikutlah denganku." Gadis tersebut berbalik badan dan melangkah pergi lebih dahulu.


Bingo! Keberuntungan memihakku. Dia menerimaku tanpa bertele-tele. Agh, kuharap diriku tak melakukan tingkah aneh hingga terusir olehnya.


"emm, omong-omong siapa nama mu?" tanyaku sembari mulai berjalan secara bersandingan.


"Nada bicaramu terdengae asing, namaku Shiro," Kata gadis tersebut, maksudku Shiro.


"Namaku Yuzu, senang bertemu denganmu," ucapku yang berusaha ramah.


"Aku tak bertanya akan namamu, tapi kau memberi tahu dengan sendirinya." Apa-apaan model bicara Shiro, sangat tak sopan. Apakah seperti ini cara orang zaman sekarang memperlakukan orang yang baru dikenal?


"Aku bukan dari sini. Jadi, aku tak tahu harus ke mana, melakukan apa, dan apa yang telah terjadi sebenarnya. Lalu, apakah kau bisa menjelaskan secara detail tentang kota ini? Atau mungkin ini adalah desa?" ucapku yang memulai topik pembicaraan agar perjalanan kami tak terasa hambar.


Tanpa aba-aba Shiro terdiam sejenak dalam menampakan ekspresi sedikit terkejut. Spontan ia menarik tanganku dan berlari sangat cepat tanpa memikirkan diriku yang nyaria tersandung dan jatuh.


" Hei, ada apa ini?! " teriakku.


Shiro tak meresponku dan hanya sibuk pada langkahnya yang begitu cepat.


Kerumunan, jalanan setapak, menabrak beberapa orang dan nyaris tertabrak oleh orang-orang yang berkuda telah kami lewati. Tak sadar perlarian kami sudah menginjak pada hutan rimbun hingga dedaunannya menutupi sinar mentari masuk. Lembab dan gelap membuat diriku sedikit merinding.


"bisakah kita berhenti sejenak?" pintaku.



DAR! DAR!


Suar ledakan yang jauh dari jarak kami telah terdengar dan membuatku terkejut.


Suara yang berat dengan intonasi tinggi. Biar kukebak, suara itu dari seorang pria yang sedang memerintah. Tunggu dulu, memeritah? Berarti, akan ada jumlah orang yang banyak untuk melaksanakan peritah tersebut dalam melakukan ledakan seperti tadi? Apa-apaan ini?


Shiro mengubah arah perlariannya dengan membelok 30°.


Aku memberanikan diri menoleh ke belakang untuk memeriksa apa yang telah terjadi.


Kepanikan dan terkejut tak bisa kubendung saat mendapati hal tak masuk akal telah terlihat olehku. Sekelompok orang bersayap putih bak capung sekaligus bergender laki-laki telah mengikuti kami. Mereka tampak seperti peri jahat saat memakai pakaian berseragam ala prajurit dengan warna merah terang.


Mereka mengeluarkan Bola api dari tangan mereka dan bersiap melemparkan ke arah kami. Apakah suara ledakan tadi berasal dari mereka? Yep, tebakanku tak salah lagi.


Ini adalah hal buruk, mereka akan melemparkan bola-bola api itu ke pada kami. Gawat, jika itu benar terjadi, maka aku akan terlihat jelek dan gosong. Kematianku akan menjadi sama sekali tidak aesthetic.


"Hentikan langkah kalian sekarang!"


DAR!


Sebuah satu tembakan dari mereka meleset pada satu pohon yang terbakar dan sudah hangus setengahnya.


Mengerikan.


Seketika Shiro melemparku ke udara seperti barang yang ringan. Reflek diriku berteriak karena erkejut dan panik oleh ketinggian yang terhitung bisa melintasi rata-rata jalur terbangnya burung.


Tubuhku yang terlempar dengan wajah menghadap ke bawah pun dapat melihat jelas bahwa Shiro memberhentikan langkahnya dan mulai berhadapan dengan para peri-peri berkekuatan api tersebut.


Sekarang aku tahu alasan mengapa Shiro melemparku ke atas.


Shiro mengeluarkan sebuah benda kecil dari udara dan seketika berubah menjadi pedang dalam sekejap mata. Apa yang kulihat benar-benar spektakuler!


Beberapa kali bola-bola api tertembak, namun Shiro menyambutnya dengan tangkisan lincah. Tak hanya itu, sesekali dia melempar balik bola api tersebut hingga serangan berbalik target. Pertarungan semakin sengit. Melawan satu orang dengan cara berkeroyok sangatlah tidak etis.


Shiro membuka penutup sebuah botol yang bisa kuperkirakan terbuat dari tanah liat. Dia membuang air dari botol tersebut dengan disertai tubuhnya yang memutar bak penari balet.


"Rantíste agiasmó kai psekáste to!" teriak Shiro dengan kalimat mantra yang tak dapat kupahami.


BYURR!


Semburan air yang berkilauan telah menyambar dan berhasil mengenai para musuh hingga membuat mereka merintih dan berteriak. Aneh, hanya terkena air saja berteriak.


"Agh... tak sempat mengeluarkan tameng!"


"Tidak, ia menonaktifkan sihir kita!"


"Serang balik! Cepat!"


Teriakan-teriakan para musuh mulai terdengar. Aku yang tengah sibuk menonton mereka dari udara mulai sadar jika sebentar lagi akan terjatuh mencium tanah.


Inilah saatnya berteriak lebih keras.


Terikanku membuat Shiro reflek melihatku dan menaikan satu tangannya ke atas seperti orang yang akan menangkap bola baseball.


"emfanízetai o aéras " ucapnya dalam merapalkan mantra.


Dalam seperkian detik, diriku melambung seperti gravitasi telah menghilang. Dengan perlahan, aku mendarat dengan mulus dan serentak Shiro menarikku kembali untuk melanjutkan perlarian.


"Hei, siapa orang-orang bersayap tadi?" tanyaku dengan panik.


"Mereka adalah Red Shefro, tak perlu mujelaskan secara rinci," balas Shiro yang fokus berlari.


Yeah, diriku bisa mendefinisikan sendiri para mahkluk-mahkluk tersebut setelah melihatnya sendiri. Mengerikan sekali dunia yang telah kupijaki. Apakah si operator nakal itu ingin diriku mati di dunia lain? Dewi fortuna kali ini pasti tak memihak diriku.


Sebuah cahaya terang terlihat pada penghujung hutan. Tampak seperti sebuah jalan keluar akan menghampiri kami. Sedikit harapan untuk selamat telah terlukiskan oleh wajahku dengan ekspresi tenang.


Cahaya itu terhampiri oleh kami. Namun, alih-alih sebuah kebahagiaan yang mendatangi kami, justru sebuah kejutan datang hingga membuatku panik dan berteriak.


Sebuah jurang telah terlompatkan oleh kami. Ingin rasanya diriku mengumpat dan memaki Shiro yang sudah mengajakku untuk simulasi bunuh diri. Jadi, apakah Shiro mengajakku untuk mati bersama? Aku tak ingin mati untuk saat ini karena umurku masih tergolong muda. Agh, tolong!


- ♧ -