
"PRIL!"
Prisilla tersentak kaget mendengar teriakkan itu, ia mendongak dan memperhatikan semua mata yang ada di meja itu mengarah kearahnya.
"Lo kenapa melamun? Gue panggilin dari tadi," keluh Adit melihat Prisilla yang masih setengah linglung.
Sejak memperhatikan Kenzo dan ketahuan oleh cowok itu Prisilla memilih menundukkan kepala hingga memikirkan berbagai hal random di kepalanya tanpa sadar.
"Gak papa, Lo mau bilang apa?" Prisilla kini menatap penuh kearah Adit untuk meyakinkan.
Adit menghela nafas, "Jadi gue hari ini mau ngundang kalian makan malam, bisa?"
Ketiga cewek yang ada di meja itu saling pandang, pasalnya mereka ingat kalau ulang tahun Adit sudah lewat beberapa bulan yang lalu.
"Dalam rangka?" Tanya Abel mengernyitkan dahi.
Mendengar pertanyaan itu wajah Adit berubah, ia berbinar dengan senyum yang memang alami di wajahnya tanpa di buat-buat.
"Jadi...gue udah resmi ambil alih salah satu restoran milik bokap gue! Wah akhirnya gue bisa jadi orang kaya,"
Prisilla menggeleng-gelengkan kepala melihat Adit yang antusias, apalagi perkataannya yang akhirnya menjadi orang kaya padahal memang sedari dia lahir keluarganya merupakan salah satu orang berpengaruh di indonesia.
"Jadi menurut lo selama ini lo miskin?"
"Bener banget, gue kemarin pengen beli motor keluaran terbaru, tapi bokap gue gak ngebolehin, jadi sekarang gue bebas bisa beli apa aja,"
"Nabung pinter! Kalo bangkrut kan bisa makan,"
"Doa lo jelek sha, gue kan baru kerja masa di bilang bangkrut," protesnya pada Aisha.
"Gue cuma mengingatkan,"
"Yah kalo gitu selamat deh, gue gak nyangka bokap lu bisa percayain salah satu asetnya sama lo," ujar Prisilla membuat Adit melayangkan tatapan protes.
"Jahat lo pril, bahkan Kenzo aja udah ngambil alih salah satu hotel bintang lima waktu masuk SMA,"
Kini tiga cewek di meja itu menatap cepat kearah Kenzo yang sedari tadi memainkan ponselnya dengan santai, melihat para cewek meliriknya bahkan terang-terangan menatapnya Kenzo menaikkan alis kebingungan.
"Wah sultan, pantes handphonenya beda dari minggu lalu," Ucap Aisha menggelengkan kepala takjub.
"Lo sering merhatiin handphone dia sha?" Tanya Abel heran.
"Iya, gue suka merhatiin ponsel orang lain, apalagi yang mahalan kek Kenzo,"
Prisilla dan Abel menghela nafas kasar mendengar hobi aneh Aisha, pantas jomblo dari lahir, karena ia tidak tertarik dengan wajah cowok ganteng melainkan barang-barang yang di pakai.
"Kemarin lo perhatiin mobil mereka sekarang handphone? Besok jangan-jangan dalaman mereka lagi," Mendengar perkataan langsung Abel otomatis Adit dan Kenzo bergidik, ngeri membayangkannya.
"Enak aja, walaupun gue gila tapi gue masih ada kewarasannya dikit,"
"Bagus deh kalo gitu," syukur Prisilla, ia tidak bisa membayangkan berteman dengan seseorang yang punya kelainan seperti itu.
Karena mereka terus mengobrol sampai tidak terasa bel yang menandakan kelas akan di lanjut berbunyi, mendengar itu kompak seluruh penghuni kantin bergegas meninggalkan kursi dan kembali ke kelas masing-masing.
Melewati beberapa jam pelajaran yang menurut kebanyakan siswa melelahkan akhirnya berakhir. Untuk bel akhir yang mereka tunggu bahkan dari jam pertama kelas di mulai berbunyi tiada kebahagiaan yang bisa menandinginya untuk sekarang.
Prisilla keluar kelas dengan Abel dan Aisha di belakangnya, kini mereka berencana untuk mencari pakaian untuk di pakai malam ini. Memang dasarnya wanita, mau sebanyak apapun baju di lemari tetapi ketika ingin bepergian pasti merasa tidak punya baju.
Ketiganya sepakat untuk mencari bersama dan saling meminta bantuin untuk memilih walaupun kebanyakan harus Prisilla yang memilih karena menurut teman-temannya untuk masalah pashion Prisilla jagonya.
Setelah sekiranya 2 jam mereka membutuhkan waktu untuk mengelilingi mall akhirnya mereka memutuskan untuk makan.
"huaa gue capek, ribet ya jadi cewek," Keluh Aisha saat menemukan tempat duduk.
Prisilla dan Abel saling pandang dan tertawa, di antara ketiganya hanya Aisha yang tidak suka berbelanja langsung karena jurusnya adalah belanja online.
"Lo terima nasib dong sha, kalo mau rubah kelamin lo bisa ke negara tetangga,"
Setelah makanan datang ketiganya tidak lagi bersuara, hanya sesekali saling menanyai rasa di piring mereka dan akhirnya saling berbagi makanan.
...---...
Prisilla berjalan ke arah cermin di kamarnya, ia mengenakan kaos hitam dipadukan cardigan biru dan rok di atas lutut berwarna biru muda dengan rambut terurai dengan jepit kecil.
Setelah memakai make up tipis Prisilla menatap dirinya di cermin. Satu kata, pervect. Bukan narsis atau gimana tapi Prisilla memang mengakui jika wajahnya memang lumayan cantik dan berpenampilan seperti malam ini membuatnya lebih cerah.
Setelah di rasa tidak ada yang ketinggalan, Prisilla berjalan menuju ruang tamu yang di mana kini kedua sahabatnya sedang duduk dengan kegiatan masing-masing mengurus penampilan.
"Sil, bedak gue gak terlalu kan?" Tanya Abel saat melihat Prisilla datang menghampiri mereka.
"Engga kok, dah cantik kek boneka," ujarnya membuat Abel terkikik.
"Boneka Annabelle maksudnya,"
"sialan lo," Prisilla tertawa puas melihat wajah cemberut Abel.
"Sil gue rasa baju gue terlalu mencolok deh," Kini Aisha yang merasa kurang pas, Aisha memakai baju panjang selutut berwarna lilac.
"Engga kok, gue udah milihin baju yang sederhana buat kita, jadi dari pada nanti tambah telat mending kita berangkat," Akhirnya ketiganya menaiki mobil dan berangkat menuju tempat acara.
Begitu sampai dan ketiga nya keluar mobil mereka bisa melihat sebuah bangunan yang seperti villa namun lebih besar dan luas.
Tak lama seorang lelaki usia sekitar 40an mendatangi mereka yang ternyata adalah mengurus tempat itu dan membawa mereka ke dalam. Tempat yang dituju adalah rooftop yang memperhatikan pemandangan kota.
Ketika Adit melihat tiga cewek yang sangat di kenalnya ia segera mendekat dengan senyum merekah.
"Halo para cewek cantik! Wah kalo udah dandan aura ceweknya keluar ya lo semua," candanya membuat tiga cewek itu mendengus.
"Pujian lo gak ikhlas," Dengus Abel.
"Oh ya jelas, kalo mau pujian ikhlas dari gue lo harus daftar tes jadi calon istri gue," Ucapnya dengan bangga.
Abel seketiga berlagak muntah,"Bahkan bi Iyas juga gak akan mau sama lo."
"Udah berhenti, gak kelar kalo kalian debat," Prisilla mencoba menengahi mereka sebelum waktu terbuang sia-sia hanya karena adu mulut mereka.
Akhirnya mereka berjalan menuju meja di mana sudah ada Kenzo, Berald, dan juga Diki. Saat semua sudah duduk dengan saling mengobrol yang hanya diisi candaan dari Adit, Abel, dan juga Berald yang merupakan orang yang mudah bergaul.
Prisilla memilih menikmati makanan di depannya, ia memang pecinta makanan dan tidak sibuk memikirkan berat badan yang hanya segitu saja bahkan Prisilla akan bersyukur jika dirinya naik dua atau tiga kilo dari berat badannya sekarang.
"Santai Pril, makanannya masih banyak kok, gak bakal abis," Adit tertawa setelah meledek Prisilla dan mendapat tatapan sinis dari cewek itu.
"Wah Sil, harus minta bungkus berarti," Aisha berbinar, ia dan Prisilla jelas pecinta kulineran sedangkan Abel merupakan cewek yang harus selalu mengatur pola makannya agar tubuhnya ideal.
Prisilla hendak mengangguk tetapi matanya tak sengaja melihat tatapan intens seseorang, ia menjadi teringat saat pertama kali melihat seorang Kenzo, itu saat Prisilla hampir tertabrak mobil Kenzo.
Flasback
Prisilla menggerutu karena lupa mengisi kuota bahkan pulsa pun tidak ada, ia jadi bingung bagaimana menghubungi supirnya untuk menjemput.
Ia melihat ke kanan dan kiri di gerbang tetapi karena ini sudah hampir gelap dan bahkan anak-anak yang lain juga sudah pulang semua jadi lah hanya dia sendiri karena tadi sepulang sekolah ia di minta membantu memeriksa hasil ulangan wali kelasnya.
Akhirnya Prisilla memilih berjalan menuju parkiran, berharap masih ada kendaraan lain yang bisa ia minta tolong pinjamkan handphone. Sesekali ia menyeruput es jeruk yang sedari tadi di pegangnya, itu adalah hadiah dari wali kelas karena sudah mau membantunya.
Tetapi suara klakson mobil seakan memekik ditelinganya dan mobil itu bahkan hampir menabrak tubuhnya, dengan kesalnya Prisilla melempar es jeruknya mengenai body belakang mobil itu.
Setelahnya ia sadar dan panik apalagi saat mobil itu berhenti, ia takut jika ternyata yang berada di balik kemudi merupakan salah satu gurunya.
Tetapi sebelum kabur Prisilla melihat seseorang dengan seragam yang sama dengannya turun.
Prisilla mengakui cowok itu tampan tapi segera ia sadar dan mulai panik karena cowok itu menatapnya tajam dan juga melirik mobilnya yang basah karena minumannya.
Akhirnya setelah mengumamkan kata maaf seraya menunduk Prisilla lari dari sana tanpa menoleh, dan itu yang membuat Prisilla tidak suka bertemu Kenzo karena cowok itu terus menatapnya tajam karena insiden mobilnya.