Beloved Enemy

Beloved Enemy
BAB 5



Pagi ini Prisilla mendapati Adit berdiri di depan rumahnya, setelah kemarin seharian tidak muncul, kini cowok itu dengan muka lesung pipinya tertawa lebar.


"Halo Pril, kangen gue ya?"


Prisilla memutar bola mata jengah, mengapa ia harus di kelilingi oleh orang-orang yang tidak tahu malu.


"Gue rasa, gue masih bisa deh tahan gak ketemu lo setahun,"


"Jahat lo Pril, gue kan gak bisa hidup tanpa lo,"


Prisilla bergidik mendengar humor Adit, walau sering mendengar omongan seperti ini, namun Prisilla masih belum terbiasa.


"Kemarin gak ketemu tapi kok lo belum mati?"


"Astagfirullah, lo doain gue mati Pril?"


" Sumpah deh ya, ini kita bakal telat Tia,"


Adit segera melihat jam di tangannya, memang benar sekitar lima menit lagi gerbang sekolah akan di tutup.


"Tenang, gue bawa motor," Adit segera menaiki motornya dan memberikan helm pada Prisilla.


Motor itu melaju membelah jalan yang kini ramai, Walau sering di bawa kebut-kebutan oleh Adit tapi Prisilla selalu merasa tegang dan hanya bisa memejamkan matanya.


Tapi siapa yang sangka ia akan di kejutkan oleh rem mendadak dari Adit, tanpa sadar tangannya menampar helm di depannya.


"Gila lo ya?" Keluhnya.


Adit segera menoleh ke belakang dan menatap wajah cemberut Prisilla, andai saja cewek itu tidak memakai helm Adit pasti sudah mengacak-acak rambutnya sampai dia marah."Sorry pril, tadi kucing lewat,"


Prisilla memutar mata malas, akhirnya motor melaju dengan kecepatan normal dan Prisilla tidak menutup mata seperti tadi.


Sebenarnya dari mereka berangkat Prisilla sudah tahu hari ini ia mempunyai nasib yang jelek. Saat sampai yang hanya bisa di lihat gerbang tinggi yang sudah tertutup.


"Ini kita harus gimana pril?" Adit jelas tidak mempunyai pengalaman di hukum karena telat karena walaupun sering telat ia akan lebih memilih pulang atau bermain di warnet.


Prisilla juga sebenarnya ingin pulang dan melanjutkan tidurnya yang tertunda, namun ia ada ulangan harian dari guru killernya.


Tanpa di duga gerbang yang tadi tertutup rapat kini terbuka, menampilkan sosok guru BK yang terkenal galak.


"Ngapain kalian masih di sana?! Masuk!"


Keduanya tanpa kata segera masuk dan di giring ke arah lapangan, dari kejauhan ia bisa melihat dua siswa berdiri dan menghormati bendera. Tepat ketika sampai di dekat mereka, Prisilla bisa melihat wajah Kenzo dari samping dan juga seorang cowok yang tidak di kenal Prisilla.


"Lo masuk Ken?" Tanya Adit heran, pasalnya jika tahu akan telat Kenzo akan lebih memilih melanjutkan tidurnya.


"Hm, banyak hal menarik di sekolah," gumamnya seraya melirik ke samping.


Prisilla mendengus melihat lirikan cowok di samping kanannya berdiri dan hanya menatap depan di hadapan tiang bendera untuk menjalankan tugasnya, adapun Adit di sebelah kiri memilih diam melihat keduanya.


Selama menjalani hukuman pandangan Adit tertuju ke samping, memperhatikan Prisilla dan itu membuatnya risih.


"Lihat tuh depan Tia, bukan muka gue,"


Tapi Adit hanya terkekeh mendengar sindiran cewek itu, "Gue takutnya lo pingsan tiba-tiba Pril,"


Tak lama seorang guru berjalan terburu mendekati lapangan membuat mereka yang kini ada di lapangan memusatkan perhatiannya. Sampai guru itu berdiri di hadapan Prisilla dengan raut khawatir.


"Prisilla, ibu dapat kabar dari mama kamu kalau kamu belum sarapan, ikut ibu ke UKS ya," itu bu Lani, wali kelasnya dan merupakan sahabat baik mamanya.


Prisilla hanya tersenyum, Wajahnya memang pucat tetapi tubuhnya tetap tegap dengan tangan berhormat ke tiang bendera "Sebentar lagi bel, tanggung bu,"


Bu Lani menghela nafas mendengar jawaban Prisilla, "Kalau begitu setelah bel kamu harus ke UKS," peringat bu Lani dan di balas anggukan oleh Prisilla.


Setelah bu Lani menyampaikan pesan dan yakin jika tidak ada apa-apa, ia meninggalkan lapangan karena kelas yang ia ajar masih berlangsung.


"Dasar keras kepala,"


Suara kecil itu bisa di dengar oleh Prisilla jadi ia melirik sinis ke arah seseorang yang tadi berbicara.


"Dasar mulut cabe," balasnya sinis.


Untungnya bel menghentikan adu mulut mereka, jika tidak entah harus membutuhkan berapa jam untuk mereka bertengkar.


Tanpa berlama-lama Kenzo menyampirkan tasnya dan melangkah menuju kelas sedangkan Adit kini membawa tasnya beserta tas Prisilla dan membawanya ke UKS.


  Setelah meminum obat Prisilla menolak untuk istirahat di UKS, ia ingin belajar untuk ulangan harian kimia. Setidaknya ia harus mendapat nilai rata-rata, tidak tinggi maupun rendah.


Prisilla berpisah dengan Adit dan berjalan sendiri menuju kelas, untungnya guru belum datang.


"Lo telat Sil?" itu adalah sambutan setelah membuka pintu kelas, mata di ruangan itu kini beralih ke arah Prisilla dengan muka pucatnya.


"Apa ini sambutan?" tanya Prisilla menatap sekeliling. Segera, kelas mengalihkan perhatian dan melanjutkan aktivitas mereka kembali.


Prisilla berjalan menuju bangkunya dan duduk di sebelah Abel, mengambil buku di tas dan mulai membaca beberapa rumus di bukunya.


"Heran, lagi sakit masih juga otak nya di buat mikir rumus," Abel menggeleng-gelengkan kepala.


"Daripada otaknya lo cuma ada oppa-oppa lo itu," balasan itu datang dari belakang tempat mereka duduk. Abel melirik sinis ke arah Aisha.


"Iya deh Ustadzah Aisha," dengus Abel sedangkan Aisha hanya terkekeh kecil.


Tepat ketika mereka selesai adu mulut, guru kimia datang dengan tumpukan kertas. Yang mereka yakini adalah ulangan harian hari ini akan terasa berat.


Prisilla masih bisa santai, walau tidak terlalu pintar tapi ia percaya bisa mengerjakan beberapa dengan benar, peringkatnya memang tidak tinggi namun ia tetap bangga dengan masuk ke sepuluh besar.


Butuh waktu dua jam untuk pelajaran kimia berhasil, Karena di bagi menjadi dua kelompok, Prisilla menunggu Abel yang masuk duluan untuk mengerjakan ulangan dan setelahnya barulah Prisilla dan beberapa anak yang juga ikut bagian kedua.


Tepat saat bel istirahat berbunyi mereka segera ke kantin untuk memenuhi perut mereka karena lapar.


"Tertekan dengan kimia bikin lapar," Aisha dan Prisilla mengangguk membenarkan ucapan Abel.


Mereka memilih tempat duduk dan segera memilih makanan masing-masing. Prisilla merasa tidak enak badan jadi ia membeli bubur ayam dan air mineral.


"Sil, gue rasa lo harus istirahat deh di UKS," Ujar Abel melihat Prisilla yang lemas apalagi tadi tenaganya di pakai untuk mikir soal.


"Gue keliatan kek penyakitan deh," ucap Prisilla terkekeh.


"Sembarangan! Masalahnya lo kalo sakit bisa berminggu-minggu,"


Prisilla termasuk anak yang jarang sakit, namun jika sudah sakit ia bisa menghabiskan waktu berminggu-minggu di rumah ataupun rumah sakit. Itu sebabnya banyak orang terdekatnya was-was jika Prisilla merasa tidak enak badan.


"Bahas apa nih?" Memdengar suara, ketiga cewek yang ada di bangku menoleh dan mendapati Adit dengan senyum lebar di wajahnya tetapi terdapat satu sosok lagi di belakang cowok itu membuat Prisilla mendelik tak suka.


"Mau tau aja urusan cewek," Itu jawaban Abel, seperti biasa memulai perdebatan dengan Adit.


Kenzo tanpa aba-aba duduk di kursi depan Prisilla membuat cewek itu menajamkan matanya, padahal di depan Abel juga kosong.


"Btw pril gue denger ghibah tentang lo," Prisilla menaikkan alisnya mendengar ucapan Adit dan menunggu cowok itu melanjutkan ucapannya.


Kini wajah Adit menjadi serius, "Kemaren lo muji Ken ganteng, emang iya? Kok gak adil sih lo Pril, gue temen lo udah bertahun-tahun tapi gak pernah dipuji,"


Prisilla dan yang lain memutar mata jengah, di kira Adit akan berbicara penting taunya tidak berguna sama sekali.


Kenzo tidak memperdulikan mereka, ia asik bermain game di ponselnya, sesekali alis cowok itu berkerut namun wajahnya tetap tanpa ekspresi, sekiranya itu lah yang terlihat oleh Prisilla.


Merasa di perhatikan Kenzo mendongak dan menemukan mata terkejut cewek itu karena dirinya tiba-tiba mendongak.


Prisilla belum sempat membuang muka saat melihat seringaian cowok itu yang malah membuat cowok itu mempesona.