Beloved Enemy

Beloved Enemy
BAB 2



Prisilla, Abel, dan Aisha berjalan menuju kantin saat kelas sudah selesai. SMA Tubardjo mempunyai kantin di setiap lantai membuat mereka tidak perlu lagi turun ke bawah.


"Adit kemana?" Tanya Abel, karena sebelum ke kantin, cowok itu bilang ingin makan bersama.


"Ada urusan katanya," Jawab Prisilla dan duduk dibangku kantin.


"Nih tulis mau makan apa," Abel menyerahkan beberapa kertas.Berbeda dari kantin sekolah biasanya. Disetiap meja terdapat kotak yang isinya kertas dan pulpen untuk memesan. Disini untuk memesan makanan harus menulis menu dan nomor meja dan memberikannya pada penjualnya.


Setelah selesai menulis mereka memberikannya pada Abel, bukan apa-apa, walaupun tingkah dan gaya pakaiannya tidak bisa dibilang anak baik-baik tapi Abel merupakan gadis yang ramah dan baik hati.


Walau sekolah ini milik keluarganya, ia tidak pernah semena-mena kecuali urusan penampilan.


Setelah sampai mereka memakan dengan sesekali membahas hal random. Dan yang lebih mendominasi percakapan adalah Abel dan Aisha karena Prisilla malas bicara apalagi ketika makan.


Tak lama datang sosok Adit membuat mereka berhenti makan. Cowok itu tanpa dosa meminum es teh Prisilla membuat sang pemilik memutar bola mata jengah.


"Tau aja gue haus, thanks udah beliin," gumamnya seraya tersenyum manis.


Tangan Abel yang sudah gatal akhirnya memukul cowok tidak malu itu membuat cowok itu mengaduh sakit.


"Tanya dulu Supri! jangan asal minum aja,"


"Emang punya siapa? Pril? punya lo?" Adit bertanya pada Prisilla karena cewek itu diam saja masih memakan nasi gorengnya.


"Iya itu punya Sila dit, Sila kan minumnya pas beres makan," Aisha mencoba menjelaskan membuat Adit menganggukkan kepala. Jangan salahkan Adit, ia kan tidak tau apalagi di depan Prisilla terdapat botol air dingin sedangkan Abel dan Aisha meminum es jeruk.


"Habisin dit, belum gue sentuh juga kok,"


Adit tersenyum, Prisilla tidak pernah marah padanya walau sering terlihat muka kesalnya tetapi tidak pernah mengucapkannya.


"Jadi sayang deh sama Pril, jadi pacar gue aja deh ya?"


Kali ini bukan pukulan yang ia dapat melainkan tendangan di bawah meja mengenai tulang keringnya.


"Shhh...Gila! makan apa sih lo?! galak banget jadi cewek, pakaian aja yang minim, kelakuannya kaya preman pasar," sembur Adit yang masih meringis kesakitan. Abel yang di katai hanya memutar bola mata, malas berdebat.


Selesai memakan, mereka kembali ke kelas, sebelum benar-benar sampai Prisilla menghentikan langkahnya membuat ketiga sahabatnya menoleh bingung.


"Kenapa?" tanya Adit.


"Gue lupa minjem buku, ada yang mau gue cari,"


"Sama gue, yok," Adit menarik tangan Prisilla, sedangkan Abel dan Aisha melanjutkan jalan mereka.


Sampai di perpustakaan Prisilla menjelajahi matanya menatap beberapa rak yang padat dengan buku. Ia berfikir untuk mencarinya di layar komputer, dan setelah ia cek ternyata terdapat di rak paling ujung.


Prisilla bergegas menuju rak tersebut, tidak perduli kemana hilangnya Adit. Ia hanya ingin segera dapat buku dan kembali ke kelas.


Ia menemukannya, namun ada di rak paling bawah, Prisilla mendengus, biasanya tokoh wanita dalam novel akan mencari buku dan terdapat di atas rak setelah itu sang pria tampan datang untuk membantunya.


"Menggelikan," Prisilla terkekeh geli dengan apa yang baru saja ia pikirkan.


Prisilla berjongkok dan sedikit menundukkan kepala karena buku itu terjepit. Belum sempat menarik buku, pinggangnya merasakan tendangan keras.


"SAKIT...Mama...," gaduhnya memegangi pinggang. Karena teriakkannya membuat beberapa orang yang ada di sana berkumpul untuk melihat, sedangkan yang menendangnya hanya menaikkan sebelah alisnya.


"Mata lo gak berfungsi?! ini badan bukan bola!" Prisilla mencoba menahan suaranya agar tidak menciptakan kebisingan di dalam perpustakaan.


Melihat Prisilla menahan marah membuatnya menatap tajam "Lo ganggu jalan, kalo mau duduk jangan disitu, kursi banyak, dan juga gue bisa bedain mana lemak dan mana bola," Jawabnya enteng.


"Gue ngambil buku bukan duduk! sengaja kan lo?!"


Wah, Prisilla merasa gerah, berdebat dengan seorang Kenzo Ragil Abraham memakan rasa sabarnya. Inilah yang membuatnya tidak suka dengan cowok itu, selain suka berdebat dengan lawan ia sangat suka blak-blakan, ingin rasanya ia sodorkan cabe setan.


"Pril, ayok ke kelas," Adit datang entah dari mana menarik tangan Prisilla dan meninggalkan tempat itu.


Setelah sampai di pintu kelas Adit melepaskan tangannya dan mengamati wajah Prisilla yang merah menahan kesal.


"Lo gak papa?" Adit mencoba memastikan, ia memang tidak melihat kejadian tadi namun ia mendengar suara jeritan Prisilla di sana.


Prisilla yang sedari tadi menatap tembok akhirnya menatap Adit yang memasang wajah khawatir. Adit tidak akan diam saja kalau Kenzo kelewatan, walaupun Kenzo juga merupakan sahabat masa kecilnya.


"Udah baik-baik aja, gak usah khawatir," Walau masih dongkol Prisilla mencoba sabar, ia menghela nafas beberapa kali dan masuk ke dalam kelas.


Beberapa jam terlewat sampai bel sekolah menggema, setelah guru keluar dari kelas barulah kelas gaduh berseru pulang.


"Mau bareng?" Tawar Aisha, cewek itu teman sebangku Prisilla. Prisilla tersenyum seraya menggeleng.


"Aku minta jemput Pak Rahmat,"


Setelah Aisha pamit Prisilla mengeluarkan ponselnya dan meminta jemputan. Ia melangkah menuju depan gerbang dan duduk di bangku khusus untuk menunggu angkot.


Ia tidak sengaja melihat Adit bersama dengan seorang cowok tinggi. Ia tidak bisa mengenalinya karena selain jauh cowok itu membelakanginya.


Lama ia perhatikan tapi ia malah semakin di buat penasaran dengan ekspresi serius Adit ketika berbicara dengan cowok itu. Prisilla sebenarnya tidak suka mencampuri urusan orang lain bahkan sahabatnya sendiri jika bukan mereka yang dengan sendirinya cerita atau meminta saran padanya.


Tapi yang membuatnya lebih terkejut adalah sosok itu adalah cowok yang beberapa jam lalu membuatnya kesal, Kenzo Ragil Abraham.


Prisilla memang sudah tau kalau Adit dan Kenzo merupakan sahabat dari kecil, bahkan Adit beberapa kali menceritakan seorang Kenzo kepadanya dan kedua sahabatnya.


Prisilla memilih tidak perduli, itu masalah mereka, bahkan kalaupun mereka adu tinju ia tak akan pernah perduli.


Tak lama mobil jemputannya datang dan sebelum benar-benar masuk Prisilla kembali melirik kearah tempat tadi yang kini sudah tidak ada siapa-siapa lagi.


Tanpa memusingkan itu, ia duduk dengan nyaman dan mobil itu melaju meninggalkan halaman sekolah.


ponsel Prisilla bergetar, ia melihat panggilan masuk dari Abel.


"Hallo,"


"Sil, gue nginap ya di rumah lo,"


"Oke," Setelah mengucapkan itu, Prisilla menutup telponnya dan memejamkan mata.


Sampai rumah ia langsung menuju kamar dan merebahkan diri di kasur, rasanya ingin segera tidur namun badannya butuh mandi agar merasa segar.


Selesai mandi ia mengecek ponselnya, ada pesan dari Adit.


'Besok gue jemput ya?'


Prisilla mengiyakan saja, Toh mamanya sudah mengenal Adit lama dan mempercayai cowok itu bisa menjaganya.


Suara bel terdengar, ia menebak itu Abel.


Dan tak lama pintu kamar terbuka menampilkan sosok cantik Abella.


"Selamat sore putri Prisilla,"


"Selamat datang Putri Anabelle,"


Keduanya tertawa seakan itu adalah lelucon paling lucu, keduanya duduk di atas kasur dan menyiapkan beberapa cemilan, malam ini mereka sepakat untuk menonton film.