Beloved Enemy

Beloved Enemy
BAB 1



...~~~...


Di sebuah bangku yang berhadapan langsung dengan luasnya danau, seorang gadis dengan Laptop di pangkuannya tampak sibuk mengetik sesuatu, beberapa kali keningnya tampak berkerut seakan sedang mencoba berfikir keras kemudian kembali menulis.


Saat sedang asik dengan kegiatannya, matanya tanpa sengaja melirik kearah jam di tangan yang menunjukan pukul 5 sore.


"Mampus! gue sampe lupa tadi belum pamit sama mama,"


Gadis itu segera membereskan barang bawaannya dan berlari menuju rumah yang hanya berjarak beberapa meter dari taman.


"Prisilla! kamu itu dari mana? keluar malam-malam tapi gak pamit!"


Seorang wanita paruh baya berdiri dengan berkacak pinggang saat gadis itu baru membuka pintu.


"Maaf ma aku tadi keluar cari angin buat lanjutin nulis aku, tadi mama aku cari gak ada,"


Prisilla Dewi Anthareksa, gadis dengan kepribadian ramah dan ceria ini adalah anak dari Robby Aldan Anthareksa dan Intan Bellen Anthareksa yang merupakan pengusahawan sukses di berbagai bidang seperti hotel juga restoran dan merupakan anak pertama sedangkan adik laki-lakinya kini tinggal di kota Jogja bersama neneknya.


Intan memperhatikan anak perempuan satu-satunya itu yang kini tumbuh dengan baik, walau selalu di kekang dengan berbagai peraturannya tetapi anak itu selalu menurut.


Intan menghela nafas melihat Prisilla menunduk "Ya sudah lain kali pamit, mama tau kamu terbebani dengan segala peraturan mama, tapi itu semua karena mama khawatir sama kamu,"


Prisilla yang sedari tadi menunduk langsung mendongak menatap Intan yang kini menatapnya sendu. Prisilla selama ini selalu menuruti perkataan Intan wa?lau kadang hatinya ingin memberontak.


Intan tersenyum getir, kenangan masa lalu saat dirinya nyaris kehilangan anaknya akibat kecerobohannya muncul begitu saja padahal itu sudah terjadi sepuluh tahun yang lalu bahkan ia tidak pernah berhenti bersyukur karena Prisilla tidak membencinya.


"Mama sangat ingin menjadi seperti ibu-ibu yang lain, tapi sepertinya mama gagal,"


Prisilla terdiam, tidak tau harus berkata apa, tidak berniat juga membantah karena itu memang fakta. Ia tidak merasa kesal dengan segala peraturan Intan padanya, lebih tepat mencoba, karena Prisilla menyayangi Intan.


"Sekarang mama akan mencoba menuruti semua keinginan kamu," Intan tersenyum hangat membuat Prisilla tidak bisa menahan senyum bahagianya.


"Terus Papa gimana? dari kemarin gak bisa di telepon,"


"Sebentar lagi juga pulang, dia belakangan ini sibuk,"


Prisilla hanya mengangguk mengerti, tidak ada yang perlu di khawatirkan, keluarganya kembali utuh walau belum sepenuhnya dan itu merupakan kebahagiaan di hidupnya sekarang.


...---...


Prisilla terbangun karena bermimpi buruk, ia melirik kearah alarm di meja nakas, 30 menit sebelum alarmnya berbunyi. Ia memilih langsung mandi dan bersiap-siap.


Prisilla berjalan menuruni tangga untuk menuju ke dapur, disana sudah ada bi Iyas-asisten rumah tangga- yang sedang memasak nasi goreng.


"Pagi bi,"


"eh non Sila, masih terlalu pagi padahal non,"


Prisilla memilih duduk di kursi meja makan seraya mengeluarkan handphone dari dalam tas.


"iya bi, kebangun tadi, mau tidur lagi takut labas," ujarnya seraya memainkan ponsel. Ia membuka aplikasi chat dan mengecek grup kelas untuk melihat info karena tadi malam ia sama sekali belum membuka ponsel.


Beberapa menit sarapan sudah selesai di hidangkan tepat dengan datangnya Intan yang sudah rapi dengan baju casualnya.


"Mama mau pergi?"


"Kamu berangkat bareng mama aja,"


Intan sebenarnya tidak suka Prisilla berangkat menggunakan angkot atau ojek online, tetapi anaknya bersikeras tidak ingin di antar-jemput supir apalagi membawa kendaraan pribadi.


Prisilla tidak ingin lagi membantah, lantas ia hanya mengangguk. Toh, mamanya selama ini tidak pernah mendengarkan keinginannya.


Intan dan Prisilla sudah berada di mobil, kendaraan itu mulai berjalan meninggalkan halaman rumah. Prisilla menolehkan kepala kearah jendela mobil, menikmati pemandangan pagi ini yang masih sejuk.


Saat sampai dan menyalami tangan Intan, sebelum benar-benar keluar dari mobil ia mendengar Intan memanggilnya.


"Pulang sekolah bilang pak Rahmat untuk jemput, jangan naik ojek," Pesan Intan dan di balas anggukan singkat Prisilla.


Prisilla berjalan menelusuri koridor sekolah, kelas 11 Mipa 2 yang merupakan kelasnya berada di lantai dua. Tidak banyak yang Prisilla tau tentang teman-teman sekolahnya, ia begitu membatasi diri untuk mengenal teman baru. Namun karena wajahnya yang menurut teman-temannya cantik, ia banyak di perhatikan oleh orang, itu membuatnya sangat risih.


"Hai Pril,"


Sapaan itu membuatnya menoleh ke arah belakang, di sana terdapat seorang cowok tinggi dengan lesung pipi mendekat kearahnya tanpa melepaskan senyum tipisnya. Dan dia merupakan sahabat cowok satu-satunya yang dekat dengannya.


Dan jangan heran mengapa hanya cowok itu yang memanggil namanya 'pril' padahal nama aslinya adalah 'Prisilla'. Karena menurut Prisilla cowok yang kini berjalan di sampingnya itu aneh dan gila, bahkan ia tidak habis fikir mengapa cowok itu bisa jadi sahabatnya dua tahun ini.


"hm, masih punya muka lo habis mukul anak orang nyampe masuk rumah sakit kemarin?" tanyanya dengan muka datar, cowok itu hanya terkekeh tanpa dosa di sampingnya.


"Gak gitu Pril, gue kan cuma gak suka ada yang gangguin lo," jawabnya tanpa beban. Prisilla menghentikan langkahnya menatap cowok itu seksama yang dibalas tatapan bingung cowok itu.


"Tia, lo--"


"Nama gue Aditya Bargatama Pril!" gemas Adit


"Dan nama gue Prisilla bukan prily Latuconsina!" balas Prisilla memutar bola mata. Terlalu sering berdebat dengan Adit membuatnya lelah.


"Masih pagi sayang-sayangku, heran deh nih pasangan debat mulu," kedatangan cewek dengan seragam minim dengan jalan anggunnya membuat kedua orang itu menoleh.


Adit menyilangkan kedua tangan, "Badut dari mana sih ini? ganggu pemandangan aja,"


"What?! seriously? muka cantik gini dibilang badut?! buta mata lo!" cewek itu tidak terima, enak saja mukanya di bilang badut, bahkan ia harus memakan waktu satu jam untuk berias.


"Boneka Anabelle," Sapa Prisilla melambaikan tangan pada cewek di hadapannya yang masih menggerutu.


"Ini lagi anak satu, nama gue Abella Dwi Tubardjo!"


"Kan, ikut debat juga kan lo?"


Abel mendengus dan Prisilla tertawa sedangkan Adit terkekeh. Akhirnya mereka berjalan menaiki tangga menuju kelas karena sebentar lagi bel akan bunyi.


Prisilla pamit ke toilet saat pelajaran masih berlangsung, beberapa menit lagi bel Istirahat akan bunyi tapi ia mengantuk.


Setelah mencuci muka, Prisilla hendak kembali ke kelas, Namun ia malah bertabrakan dengan seseorang saat akan berbelok.


Prisilla hendak meminta maaf namun saat tau siapa seseorang di hadapannya, ia memilih diam. Begitupun dengan cowok di hadapannya hanya diam menatap selanjutkan pergi tanpa sepatah kata.


Prisilla memperhatikan kepergian cowok itu hingga hilang di balik tembok.


"Muka tembok!" gerutunya.