
Sejak keluar dari kantin bahkan hingga bel pulang berbunyi Prisilla tidak mengeluarkan suara sepatah kata pun.
Abel dan Aisha mencoba mengajak bicara namun tidak ada jawaban dari sahabatnya itu, kini dua orang itu sedikit menyesal atas kesalahan mereka.
Prisilla tidak menyukai kerumunan atau bahan pembicaraan banyak orang, dari dulu ia selalu tertutup dan setelah berteman dengan Abel dan Aisha, lambat laun Prisilla mulai membuka diri pada mereka.
Tidak banyak yang mereka tau tentang Prisilla, namun jelas dua orang itu orang pertama yang di beri kepercayaan padanya untuk menjaga rahasia di masa lalunya.
Prisilla membereskan barang yang ada di meja dan beranjak dari sana, mencoba mengabaikan tatapan sedih kedua sahabatnya. Ia rasa memang pantas sahabatnya merasa bersalah dengan perbuatan mereka. Untuk hari ini ia ingin menjahati dua perempuan itu.
Sampai di gerbang Prisilla mengeluarkan ponsel, ia sampai lupa mengabari supirnya untuk meminta jemputan. Mengetahui ponsel supirnya tidak aktif Prisilla berdecak kesal. Dengan sedikit berjalan keluar dari gerbang dan berdiri di gang yang biasanya terdapat angkot ataupun bus lewat.
Sekitar lima menit menunggu dan belum juga ada kendaraan umum, Prisilla mencoba menginstal aplikasi ojek online. Cuaca sore itu sedikit mendung, dan sialnya Prisilla memang tidak pernah membawa payung dalam tasnya.
Saat menunggu penginstalan aplikasi, suara klakson mengejutkannya, ia berdiri di samping gang dan sama sekali tidak menutupi jalan, lantas mobil itu apa-apaan.
Belum mengumpulkan kekuatan untuk memarahi orang di balik kemudi, pintu itu sudah terbuka menampilkan sosok cowok dengan rambut acak-acakan begitupun dengan seragamnya, namun dengan di bantu wajah yang bersinar itu membuat penampilannya mempesona, eitss masalahnya ketidaksukaan Prisilla menentang telak pesona cowok itu.
"Baru bisa bawa mobil? apa baru ganti klakson?" Sindirnya langsung.
Cowok yang di sindir itu hanya menaikkan alisnya, setelahnya memasang senyum remeh.
Prisilla menahan kesal, "Ck, hidup lo gak tenang kalo gak bikin gue kesal hah?!"
Bukannya marah cowok itu malah terkekeh, "Cerewet,"
Mendengar ucapan cowok itu jelas Prisilla tidak suka, pujian bahkan hinaan jika lewat dari mulut seorang Kenzo rasanya tidak akan ia terima.
Sebelum mengeluarkan suara, ponsel yang ada di genggaman cewek itu berdering.
Melihat layar yang menunjukkan nomor supirnya ia pun lantas mengangkat.
"Pak, Sila ada di depan gang," Terdengar kalimat manja dari ucapannya, tidak menggambarkan sosok dengan muka marah beberapa detik yang lalu.
"Maaf ya non, Bapak tidak bisa jemput, bannya bocor,"
Karena suara pak Rahmat lumayan kencang, Kenzo yang berada di sampingnya mendengar dengan jelas membuatnya tertawa mengejek.
"Pak, terus aku pulangnya gimana? Adit dari tadi pagi engga kelihatan," keluh Prisilla. Hanya Adit yang biasanya mengantar pulang Prisilla di saat seperti ini.
Namun tanpa di sangka cowok di sampingnya berdeham dua kali.
"Itu non sama siapa?"
Prisilla menatap tajam sosok di sampingnya, memberi isyarat untuk tetap tutup mulut.
"Sila lagi di jalan, ada kakek-kakek lagi berteduh karena panas," Penjelasan Prisilla begitu santai tidak menyadari hawa di sekitarnya yang menjadi dingin akan tatapan mematikan.
"Waduh non, tungguin bapak aja ya sebentar lagi di bengkel, nyonya tau non naik angkot nanti di marahi,"
Prisilla mendengus, tapi tidak bisa membantah. Semua pergerakkan Prisilla tidak luput dari pandangan Kenzo yang sedari tadi memperhatikan.
Tanpa di duga Kenzo mengambil alih Ponsel Prisilla membuat pemiliknya melotot tak terima.
Setelah memberi isyarat pada cewek di hadapannya untuk tetap diam, Kenzo mendekatkan ponsel itu ke telinganya.
"Saya saja yang mengantar Prisilla pak, saya temannya,"
Mendengar ucapan itu jelas Prisilla tidak suka, ia memutar bola mata jengah.
"Alhamdulillah, tolong ya nak, bapak terima kasih sama kamu,"
Kenzo langsung mematikan sambungan dan tersenyum miring ke arah Prisilla yang kesal. Tingkah Prisilla yang seperti itu membuat suasana unik dan itu menyenangkan.
"Naik," Ucapan itu terdengar seperti perintah dari pada mengajak, Sedari tadi Prisilla tidak bisa menyembunyian raut kesal dan tidak sukanya yang membuat Kenzo terkekeh. Padahal beberapa jam yang lalu cewek itu berani memujinya di depan umum.
Keduanya sudah masuk ke dalam mobil dan sepanjang perjalanan hanya ada keheningan, keduanya tidak ada bicara dan itu membuat canggung.
Kaki Prisilla tidak bisa terus diam, tingkahnya seperti orang gelisah di mata Kenzo.
"Kenapa? gerogi sama gue?" Kalimat itu mampu membuat Prisilla terdiam beberapa detik dan setelahnya berpura-pura mual.
"Sok kegantengan banget sih," Kesalnya.
"Gue juga baru sadar kalo gue ganteng beberapa jam yang lalu karena ada seseorang yang ngakuin," Ujarnya kalem.
"Fine! toh wajah bukan segalanya,"
Kenzo menaikkan alisnya, "Jadi segalanya itu menurut lo apa?"
"Sikap, kesetiaan, dan kekayaan,"
Kenzo manggut-manggut saja seolah mengerti dan Prisilla menoleh sinis. Mengapa ia malah mengobrol dengan cowok itu? Dari kesekian kalinya mereka bertemu, ini merupakan rekor tertinggi untuk mereka saling bicara.
Alhasil Prisilla memilih diam dan hanya mengarahkan jalan menuju rumahnya. Walaupun Kenzo suka menjahili namun ia merupakan orang yang bila serius akan membuat banyak orang bergidik.
Prisilla merasakan suasana mencekam, melirik kearah cowok di sampingnya yang tenang namun tatapan mata setajam elang itu berfokus kearah jalan. Padahal baru beberapa saat yang lalu mereka berdebat tak ingin kalah, sekarang hanya ada suara dari nafas mereka masing-masing dan beberapa kendara dengan klakson mereka.
Berhenti di sebuah rumah dengan pagar tinggi akhirnya Prisilla bernafas lega, hampir ingin berlari turun jika saja ia tidak mendengar kekehan sosok di sampingnya.
" Selama di jalan lo tahan nafas? Heboh bener nafasnya, tapi emang sih kalo di deket orang ganteng itu wajar grogi, jadi gue bakal maklum," Dengan seenak jidat berbicara santai begitu, Prisilla mengepalkan tangan agar tidak meninju muka songongnya itu.
" Orang ganteng itu gak akan mengakui kalau dirinya ganteng, inget itu!" Tekan Prisilla.
"Gue beda, karena berkat seseorang, akhirnya gue percaya diri akan fisik gue,"
Tepat tiga detik setelah berbicara itu sebuah tas mendarat di mukanya, Kenzo merintih memegangi hidungnya dan menatap Prisilla dengan muka marahnya.
" Lo tuh kenapa sih Kenzo?! Kenapa hari ini lo jadi banyak omong!"
Bukannya menjawab Kenzo malah tertawa puas karena bisa melampaui batas kesabaran seorang Prisilla. Cewek ini cukup menyenangkan bagi Kenzo, dan ia tidak sabar melihat air mata dari cewek keras kepala ini.
" Pertemuan-pertemuan kita selanjutnya masih banyak, tungguin ya,"
"Ogah!"
Setelah mengatakan itu Prisilla turun dari mobil dan membanting pintunya, jelas ia bisa mendengar suara tawa kencang dari dalam mobil.