Beloved Enemy

Beloved Enemy
BAB 3



Alarm menggema membuat Prisilla segera membuka mata dan mematikannya. Melihat Abel yang masih terlelap, Ia diam untuk mengumpulkan nyawa sebelum melangkah menuju kamar mandi.


Selesai dengan ritual mandi ia menemukan Abel yang sudah bangun dan memainkan ponsel.


"Cepet mandi, terus nanti langsung ke bawah,"


Abel lantas mengangguk dan melangkah menuju kamar mandi dengan handuk di tangannya.


Setelah keduanya selesai dengan pakaian lengkap, mereka turun dan melihat makanan yang sudah rapi di meja.


"Pagi bi," ucap keduanya kompak dibalas senyuman bi Iyas.


Pagi ini Prisilla harus merasakan kesal lantaran Adit yang kemarin bilang ingin menjemput tetapi tidak memunculkan diri dan handphonenya mati. Akhirnya karena tidak ingin terlambat mereka meminta pak Rahmat mengantar.


Beruntungnya saat mereka sampai pintu gerbang masih terbuka walau hanya celah kecilnya saja.


"Bel duluan aja ke kelas, gue mau ke toilet," Saat sampai di pertengahan jalan Prisilla berhenti dan Abel mengangguk sebelum kembali jalan menuju kelas.


Prisilla berjalan menuju toilet di lantai satu dekat tangga, untungnya sekarang tidak banyak yang berada di luar kelas karena sebentar lagi bel jadi Prisilla bisa bebas bercermin tanpa malu di lihat orang lain.


Setelah merapihkan rambut dan buang air kecil, Prisilla berjalan menuju kelas, di sana teman-temannya sudah berkumpul.


"Kelas kita jam kosong pagi ini, bu Riri kasih tugas," Itu ucapan ketua kelas tepat saat Prisilla baru duduk, yang lain bernafas lega karena tidak jadi ulangan fisika.


"Karena kita kosong, gimana kalo main TOD," Tawar Aisha menatap Prisilla dan Abel berbinar.


Abel dan Prisilla saling tatap sebelum mengangguk bersama, kesamaan gerak tubuh mereka seperti anak kembar, begitulah pemikiran orang lain tentang keduanya.


Aisha segera mengambil botol yang tadi ia beli di kantin dan menaruhnya di atas meja.


"Nah, gue yang mutar pertama,"


Aisha memutar botol dengan antusias, ketiganya memperhatikan botol yang memutar itu dengan serius takut tutup botolnya mengarah ke mereka.


"Yeay, Abel lo kena!" Ujar Aisha semangat saat botol itu mengarah ke Abel yang mendengus.


"Gue pilih truth," Ucap Abel malas.


"Dih gak asik," Protes Prisilla dan mendapat anggukan setuju dari Aisha. Sedangkan Abel hanya memutar mata.


"Oke pertanyaan dari gue, pernah selingkuh apa di selingkuhin?"


"Pertanyaan pertama padahal Sil, udah berat aja," Aisha terkekeh.


Abel menghela nafas, "Enaknya gimana?"


Prisilla dan Aisha menaikkan alis bingung, kok jadi pertanyaan balik?.


"Lo jawab nying, bukan balik tanya, kalo gue sih mending di selingkuhin terus jambak rambut ceweknya dan cari yang baru deh, kelar," Prisilla membenarkan ucapan Aisha, cewek itu tidak suka hal ribet.


"Dua-duanya, gimana dong?"


"Alasan?" tanya Prisilla, ia memang tau kalau Abel pernah di selingkuhi tapi tidak tertarik untuk tau.


"Dia selingkuh sama anak sekolah lain, tapi cewek itu juga udah punya pacar dan gue deketin deh tuh cowok, akhirnya kisah percintaan gue dan cewek itu juga kelar," Sangat enteng penjelasannya, Abel bahkan sedikit malas menceritakannya. Menurutnya itu adalah masa lalu yang paling tidak ingin dia ingat.


Aisha mengangguk, "Oke, kalo gitu pertanyaan dari gue, Kenapa lo nolak ketua kelas kita?"


"Karena gak suka cara dia ngomong, lebay," oke, Abel sangat blak-blakan untuk membicarakan orang yang bahkan ada di ruangan yang sama, dan untungnya Morgan -ketua kelas- sedang memakai headset.


"Udah kan?, sekarang gue yang mutar," Abel mengambil alih botol itu dan memutarnya, sampai akhirnya botol itu mengarah pada Prisilla.


"Nah Sil, Gue yang bakal pilihin lo dare karena tadi lo komen gue pilih truth," Abel menyeringai membuat Prisilla meringis, game sialan.


Abel dan Aisha saling berbisik membuat Prisilla yang melihatnya jengah, kenapa tidak sekalian saja mereka keluar dan berbicara dari pada saling bisik di hadapannya.


"Oke! Hukuman sudah ditentukan! pokonya lo harus siap," Prisilla hanya berdehem.


"Lo harus bilang Kenzo ganteng sambil bertingkah imut,"


"Bangsat," Prisilla menutup mulutnya setelah sadar mengumpat. Sedangkan kedua orang yang memberikan hukuman tertawa keras membuat beberapa pasang mata menatap tajam mereka karena terusik dari belajarnya.


"Ganti!" Tekan Prisilla, ia tidak akan sudi memuji orang yang tidak ia sukai, apalagi di hadapan banyak orang. Abel dan Aisha jelas mengetahui bagaimana ketidaksukaan Prisilla pada Kenzo, menurut pendapat Prisilla Kenzo itu selain mulut cabe juga sok ganteng dan suka tebar pesona.


"No! gak boleh ganti, hukuman yang lain masih menanti," Aisha tertawa ala Antagonis.


Prisilla menghela nafas panjang, "Oke! istirahat pertama,"


Setelah itu mereka melanjutkan permainan dengan seru, melupakan tugas yang di berikan ketua kelas mereka. Morgan sang ketua kelas hanya bisa mendengus, sedikit menyesal terpilih menjadi ketua kelas di sini yang muridnya bertingkah seperti dakjal.


Beberapa jam berlalu, setelah bel istirahat berbunyi, Prisilla merasakan kepalanya berdenyut. Memang bukan sesuatu yang sulit untuk memberikan pujian pada orang lain, tetapi masalahnya Kenzo itu sosok yang menyebalkan, pasti ia akan mengejek dirinya. Memikirkan itu membuatnya mencak-mencak kesal.


"Yuk ke kantin," Abel mendekatinya, memasang senyum terbaik yang membuat Prisilla ingin sekali menoyornya.


Dengan berat hati ia berjalan bersama Abel dan Aisha. Baru kali ini ia lemas pergi ke Kantin, tempat kesukaannya. Dan semua ini salah dua sahabatnya yang tampak antusias menuju kantin.


Begitu sampai Prisilla mengedarkan pandangannya ke seisi kantin dan menahan nafas saat melihat Kenzo yang sedang mengarahkan pandangan padanya. Prisilla hampir panik, namun sebisa mungkin ia kembali memasang wajah biasa.


"Kenzo lagi mandangin lo, sekarang waktunya jalanin hukuman," bisik Abel tanpa mau tau kalau sekarang Prisilla gelisah antara bergerak maju dengan tatapan tajam Kenzo padanya atau berlari keluar kantin dan memilih kelaparan di kelas.


"Gak ada pilihan makan dulu gitu? perut gue udah demo," Prisilla bukan hanya sekedar alibi, perutnya memang lapar sejak tadi.


"hm, iya juga, kita pesan makanan dulu," Aisha segera mencari tempat duduk dan mengambil kertas untuk memesan bagitupun dengan kedua sahabatnya.


Saat makanan mereka datang tidak banyak yang mereka bicarakan dan lebih fokus makan.


Prisilla mencoba menetralkan rasa gugupnya, jangan sangka ia gugup karena Kenzo, itu tidak akan terjadi. Dirinya gugup karena melihat kantin yang ramai dan ia sangat membenci tatapan banyak orang terhadapnya.


Saat memikirkan itu tanpa sadar nasi goreng miliknya sudah habis sedangkan Abel yang memakan bakso dan Aisha yang memakan somay belum tuntas.


"Wah sil, lo lapar apa semangat?"


Mendengar ucapan Aisha membuat mood Prisilla tambah buruk. Bahkan Abel kesulitan menahan tawa melihat muka masam Prisilla. Jarang sekali mereka bisa membuat Prisilla kesal.


Prisilla berdiri tiba-tiba membuat kedua sahabatnya diam, kebingungan. Tidak menghiraukan sahabatnya ia berjalan kearah Kenzo yang diam memperhatikan temannya ribut.


Tepat di samping meja Kenzo Prisilla berhenti, membuat cowok yang sayangnya memang tampan itu menaikkan alis seakan bertanya.


Prisilla menarik nafas, "Kenzo lo ganteng,"


Hening, tidak ada yang mengeluarkan suara bahkan untuk para penjual yang ada di kantin memusatkan pandangan mereka pada dua siswa yang menjadi pusat utama.


Kenzo diam beberapa detik tanpa menunjukan ekspresi apapun selain datar. Seisi kantin juga sepi, tidak ada yang berani bicara duluan memecahkan keheningan.


"Gue tau," Kenzo mengucapkan itu dengan enteng dan mengangguk-anggukan kepala paham. Prisilla yang ada di dekatnya seketika bergidik ngeri. Prisilla bahkan menghiraukan perkataan Abel yang menyuruhnya bertingkah imut.


"Lo kemana aja selama ini, baru sadar sekarang kalo teman gue ganteng," Berald, salah satu teman baik Kenzo menyahut tidak bisa menyembunyikan kekehannya.


"Lupain omongan tadi, gue juga gak ikhlas mujinya," Setelah mengatakan itu Prisilla membalikkan badan dan berjalan meninggalkan kantin yang di ikuti sahabatnya yang lain.


Kenzo masih memperhatikan punggung cewek yang menurutnya aneh itu sampai hilang dari pandangannya. Kantin kembali ramai membicarakan kejadian beberapa menit yang lalu, dan Kenzo sama sekali tidak mendengar bisik-bisikan itu, pikirannya saat ini mengarah pada hal lain.