Being Mama

Being Mama
Terabaikan



"Ibu akan sangat merindukanmu Jane"


Ibu memeluk ku erat. Tak kusangka aku akan meninggalkan rumah dan pindah kerumah suamiku secepat ini. Kukira aku akan tetap dirumah ini sampai usiaku menginjak angka 25 atau 26 tahun. Bahkan aku belum sempat mengucapkan salam perpisahan pada kamar yang selalu menemaniku. Boneka boneka kecil, bantal dan guling kesayangan ku.


Ini terlalu cepat bagiku, meninggalkan kenangan dengan rumah yang telah membesarkan ku, kenangan bersama Ayah, dan ibu. Ya.. kedua ibuku.


"Aku juga akan sangat merindukan ibu."


Kubalas pelukan hangat ibu, aku tau dia menyayangiku, aku pun tau ini juga hal berat baginya.


" Nak Dave, tolong jaga Jane seperti ibu menjaganya"


Ibu melepas pelukan hangat nya dariku dan berpaling menghadap Dave. Pria yang sedari tadi berdiri di samping ku, Pria yang dapat ku baca ada raut khawatir di wajahnya.


"Tentu saja bu, aku akan menjaga Jane dengan baik."


Dave membalas dengan sangat sopan.


"Terimakasih nak Dave, dan tolong sampaikan salamku pada Nyonya Enjela"


"Maaf bila ibu tidak bisa menjemput Jane bu,"


"Tidak papa nak Dave, ibu mengerti."


Kulihat ibu tersenyum pada Dave. kuharap setelah aku pergi, ibu akan tetap tersenyum seperti itu.


"Baikalah bu, kami akan berangkat sekarang"


Dave berpamitan pada ibu sambil mencium tangannya.


"Hati hati mengemudi nak Dave"


"Baik bu,"


Dave membukakan pintu mobil untukku.


Mobil yang di hiasi banyak bunga sebagai penanda ada sepasang pengantin bahagia di dalam nya.


'oh...., benarkah kami pengantin bahagia itu?'


Pertanyaan tak yakin dan bimbang selalu menghantui ku akhir akhir ini. Menghantui setiap kehidupanku Sejak lamaran keluarga Dave berkumandang di telingaku. terngiang dan berputar putar tanpa henti.


Aku memasuki mobil yang di susul oleh Dave. Kudengar suara mesin menderu, dan aku tau saat nya sudah tiba. Saat untuk meninggalkan rumah tempat ku di lahirkan.


Kulambaikan tanganku pada ibu saat mobil mulai menjauhi rumah. Tak mampu menahan, air mata yang berontak ingin di bebas kan sejak tadi, kini terlepas membasahi pipiku. Aku tak tau kenapa, hanya ada perasaan takut dan gelisah. Tak ada yang memulai pembicaraan sejak roda - roda mobil ini bergerak melaju, hanya ada kebisuan di antara kami.


Rasa canggung dan mungkin rasa belum mengenal. Sampai sesaat kemudian, Dave berucap


"Jane, kuharap kita bisa berteman baik"


Betapa terkejud aku mendengarnya, namun kegelapan menyembunyikan ku dari pandangan matanya.


Jadi ini yang Dia maksud dengan meraih impian?, Yang dia maksud dengan tak membuat semua ini sulit bagiku.


'Oh..., apakah ini yang harus kuterima?'


Hanya itu yang bisa ku ucapkan, hanya kata itu yang bisa keluar dari bibirku, menyembunyikan ku semakin jauh dari sosok asli diriku saat ini.


Mobil terus melaju menuju rumah Dave. Angin malam serasa lebih bersahabat sekarang. Menatap malam dari balik jendela kaca dan melihat bintang bintang yang enggan bercahaya.


*******


"Jane, ibu sangat senang melihat mu.


Sekarang kau adalah anakku dirumah ini"


Ibu Enjela memelukku sayang.


"Terimakasih bu"


Balasku.


Rumah Dave cukup besar, bahkan sangat jauh berbeda dengan rumahku. Ada banyak sekali pelayan dirumah ini, berbaris rapi di belakang ibu Enjela menyambut kedatangan ku dan Dave.


"Ibu, dimana loly?, apa dia masih demam?, dengan siapa dia sekarang?"


Dave melangkah masuk tanpa memperdulikan ku dan ibu Enjela.


"Dave, tenanglah loly tidak papa"


Ibu Enjela menyusulnya dan berusaha menenangkan Dave. Saat ini, Dave terlihat sangat khawatir.


"Tapi aku harus menemui loly bu"


Dave meyakinkan ibu Enjela lebih.


"Dave, tolong hargai ibu"


Aku masih dapat mendengar percakapan Dave dan ibu Enjela walau mereka sedikit menjauh dariku.


"Ibu... loly membutuhkanku sekarang."


Dave masih tetap berusaha


"Dave, kalau kau tak bisa menghargai ibu, tolong hargai Jane sebagai istrimu."


kudengar ibu Enjela menekankan kata 'istrimu'


Tak kulihat perlawanan lagi dari Dave, Sesaat dia berbalik dan berjalan kearahku.


"Ayo kita masuk Jane."


Dave, putra kedua dari ibu Enjela ini mengajak ku masuk setelah mengabaikan keberadaan ku tadi.


Oh.... apakah ini yang akan aku terima?, bisakah aku tetap tinggal di sini? tetap tinggal di rumah Dave,? dirumah Suami yang bahkan menganggap ku tak ada.


***********


Shisilia-kou