Being Mama

Being Mama
Sama



'Deg....degg...deg..'


Jantungku tak juga berhenti sejak tadi saat aku mulai bertatap dengan mata pria di depan ku ini. Aku merasakan perasaan berbeda di hatiku. perasaan yang mengatakan hal ini untuk tidak berlalu.


"Jane..!"


Dave memanggil nama ku. Bisa kurasakan ia menyebutnya lembut.


"Iya Dave?"


kutanya pada nya.


"Aku mau berterimakasih pada mu."


Aku masih fokus pada pria di hadapan ku. Pria yang ikut berbaring miring untuk saling menghadap di atas ranjang kami berdua. Posisi berbaring bersama di ranjang memang bukanlah hal baru.


Dave memang sudah tidur di sini bersama ku sejak ia mengijinkan ku mengurus putrinya loly. Namun kali ini berbeda. kami saling bertatap dan mengamat. Mengamati wajah sang lawan tatap dan mulai berbicara dengan nada berbeda.


"Untuk apa Dave?"


Merasa kurang paham apa yang sumiku ini katakan, aku bertanya lagi.


"Terimakasih sudah menyayangi putriku loly"


Mata ku sedikit melebar, terkejut akan apa yang pria ini katakan.


'Apa dia tulus?'


'Apa dia mulai menerimaku?'


'Apa kami akan menjalani yang lebih baik dari sekedar status saja?'


Seketika semua fikiran berusaha bertanya dan menyisakan harapan di hatiku. Harapan agar jawaban dari semua tanya itu cuma satu kata. Ya. Cuma itu.


"Terimakasih telah membantuku banyak hal Jane"


Dave memejam matanya sejenak. pandangan nya berubah saat ia kembali membuka mata. pandangan mata sendu yang tak dapat ku tebak.


"Tidak apa - apa Dave, ku rasa itu kewajibanku."


Ku katakan dengan sedikit keraguan saat aku takut perkataan ku menyinggung nya.


"Ya.., itu kewajibanmu. kau itu istriku sekarang."


Dave memejam dan memutuskan mengahiri perbincangan ini dengan tidur. Aku kaget, sangat kaget. Ini pertama, kali pertama Dave menyebut ku istrinya. Setelah sebulan kami mengikat janji. janji yang tak pernah kami bayangkan mampu menyatukan kami.


Ada rasa senang di hatiku, rasa bahagia karna suamiku ahirnya mengakui ku sebagai istrinya. Setetes air mata jatuh membasahi batang atas hidungku dan menyentuh tempat tidurku. Sedih dan bahagia.


'Terimakasih karna telah mengakuiku'


Kukatakan itu dalam hatiku. kata pahit sekaligus manis. sakit dan bahagia. Kuputuskan untuk menyusul Dave menuju alam mimpi. Meninggalkan sejenak perihal dunia, dan bersenang senang dengan fikiran baruku di alam mimpi.


*******


Dan disinilah kami sekarang. Di tengah taman yang penuh bunga dan pepohonan hijau tertimpa senyum mentari pagi.Segar sekali.


"Jane, apa ini tidak papa?"


Dave masih risau. Takut sejak bayi kecil nya yang ada dalam gendonganku ku bawa menikmati indah nya pagi.


"Tenanglah Dave, loly akan baik baik saja. lihat..,dia tertawa melihat mu cemas!"


Aku ikut tertawa bersama loly menyaksikan Dave yang dilanda kegalauan.


"Baiklah Jane, tapi sekarang biar aku yang menggendong loly..!"


Dave mengulurkan kedua tangan nya untuk mengambil alih loly dariku. Namun saat aku hendak memberikan loly pada nya loly mulai gelisah dan menangis. Aku tersentak mendengarnya menangis.


"Sayang... ssstt... jangan nangis ya."


Ku gagalkan rencana pemindahan loly. tak ku pedulikan Dave yang masih terdiam. Ku peluk lolyku erat dan mulai bergerak untuk menenangkan nya.


"Sayang mama disini..., jangan nangis ya...!"


Masih ku coba menenangkan bayi lemah di dekapan ku ini. Tangisnya mereda setelah aku berusaha menenangkan nya beberapa menit. Memeluk nya erat dan tak ingin melepas nya. Tangan kecilnya mulai mencengkram baju depan ku erat.


'Oh... aku mencintai bayi ini, sungguh'


Hatiku tulus.


"Jane, kurasa aku harus berhati hati pada mu.!"


Kulihat Dave berdiri tenang dengan kedua tangan di saku celananya. Memberikan ku tatapan curiga.


"Kenapa Dave.,?" Kubalas dengan senyum pada nya.


"Kau lihat, bahkan sekarang putriku lebih memilih di pelukan mu dari pada aku."


Matanya tertawa merasa konyol.


"Oh, benarkah?, sebaiknya kau bersiap Dave...!"


Aku tertawa saat pria tampan di depan ku ini menaikkan sebelah alisnya. Kami tertawa. Kurasakan sedikit bahagia melanda kami bertiga. Bahagia akan keluarga kecil baruku. Keluarga yang terlihat bahagia di bawah rindang nya pepohonan pagi.


******


Ibu Enjela berucap saat ia hendak meninggal kan rumah menuju mobil kesayangan miliknya.


"Jangan khawatir ibu, aku dan Jane akan menyambut kedatangan si keras kepala itu."


Kulihat Dave tertawa santai mengejek pria yang menjadi kakak nya itu.


"Sayang, kalian sudah dewasa, jangan seperti anak - anak lagi."


Ibu Enjela menggeleng menatap Dave.


"Jane, nanti pasti akan menjadi pertemuan mu yang pertama dengan David."


Aku masih diam mendengarkan ibu mertuaku berucap.


"Dave tak bisa hadir saat pernikahan kalian. dan ibu rasa kalian belum saling mengenal.


Tapi ibu yakin kau akan cepat akrab dengan nya."


"karna dia sama dengan Dave, jangan khawatir."


Ibu menatap ku lembut.


" Iya ibu"


Suara mesin mobil ibu enjela yang menjauhi rumah membuat ku dan Dave tau bahwa ibu telah pergi.


"Jane, kurasa aku akan mandi,"


Dave tersenyum dan mulai berjalan.


"Baiklah Dave, aku akan menjaga loly, Tapi Dave...,"


Kugantung kalimatku, dan Dave berhenti lalu menoleh.


"Jangan lupakan handuk mandimu."


Aku segera mendahului nya menaiki tangga menuju kamar loly. menyusuri ruang dan menyaksikan banyak nya foto Dave dan ibu Disana. Hanya Dave dan ibu.


"Jane....!"


Hanya itu yang Dave ucapkan.


"Ibu..., kami sudah mulai akrab"


Ucap ku pelan, berharap pesan ini sampai pada ibu yang telah menjadi bintang dilangit.


******


"Nyonya..., tuan muda David sudah tiba."


Aku di kejutkan salah seorang pelayan yang berdiri di ambang pintu kamar loly.


'David.., kakak Dave.' berfikir sejenak.


"Apa Dave sudah turun menemui nya?"


"Belum nyonya, tuan muda Dave masih di dalam kamar."


"Baiklah, aku yang akan menyambutnya."


Kukumpulkan keberanian untuk menemui kakak ipar ku ini. Pria yang termasuk dalam keluarga inti Dave yang belum pernah ku temui. Gugup dan sedikit takut, ku turuni tangga dan menuju ruang keluarga.


Kulihat Dave disana. Dave dengan pakaian lengkap rapi serta sepatu.


'Ingin pergi kemana dia?' tanyaku dalam hati.


"Dave, Dimana kakak mu, pelayan bilang dia sudah tiba?"


Segera ku bertanya ingin tahu. Dave yang tadi nya tak menoleh ke arahku, kini berbalik menatapku. Tatapan yang sedikit berbeda dari biasanya. namun sepertinya aku pernah menerima tatapan itu.


"Dimana dia Dave?"


Tanyaku lagi saat Dave yang tepat dihadapanku masih diam membisu.


"Oh... David..., kau sudah datang ternyata...!"


Aku kaget. Kudengar suara Dave., Suara Dave dari belakang tubuhku. Ku arahkan pandanganku kebelakang. Kutemukan Daveku disana. Dave dengan senyum dan rambutnya yang basah. Jantungku tak berhenti berdetak., terkejut dan takut.


'David'


Kuucapkan nama itu saat ku ingat ibu enjela berkata.


"Karna dia sama dengan Dave"


***********


Shisilia-kou