
"Hei sayang..., ada apa?"
Ku arahkan pandanganku menuju asal suara. Dan seorang wanita paruh baya yang mulai melangkah mendekat itu membuat rasa gugupku seakan berkurang.
"Tidak apa - apa ibu.., aku hanya sedikit gugup."
Jawab ku sambil melempar senyum seakan aku meyakinkan bahwa kegugupanku memang benar - benar sedikit.
"Sayang, bukankah ini bukan pertama kalinya bagimu?"
Ibu mulai merapikan tatanan rambutku yang menggulung.
"Ibu benar, tapi, Aku merasa seakan ini memang yang pertama bu."
Tatap ku yakin.
"Jane, jangan terlalu gugup sayang. Tetaplah tenang, bukankah ini hari bahagia untukmu?"
"Baiklah bu"
Ucapku sambil berusaha mengumpulkan keberanian untuk mengalahkan rasa gugup. Ya.., ini adalah pernikahan ku.., Pernikahaan yang akan aku jalani setelah kejadian hari itu.
******
"Jane, kurasa kita bisa punya Loly kita sendiri."
Perkataan pria di hadapanku ini nyaris membuatku membatu. Tetap diam dengan akalku yg tetap bekerja dalam tenang. Saat semuanya tercerna, senyumnya mengizinkan ku merasakan kenyataan yang sesungguhnya. Kenyaataan dari pria dengan nama Dave ini.
Aku bahagia. Sangat bahagia
******
"Ibu rasa kita tak perlu mencemaskan loly dan David"
Ucapan ibu mertuaku sukses membuatku dan Dave menoleh dan menghentikan kegiatan sarapan kami sekejap.
"Ibu yakin sekali David telah berubah, kali ini ibu bisa merasakan ia mampu mengemban tanggung jawabnya sendiri "
Senyum ibu terlukis diwajahnya. Sesaat aku dan Dave saling berpandang dan bertukar senyum.
'Mungkin ini yang terbaik' Ungkapku dalam hati.
*******
"Jane kemarilah....,"
Ku hentikan kegiatan berbenah kamarku sejenak setelah Dave memanggilku. Ia tampak berbeda. Berbeda dari sejak pertama kali takdir ini memaksa kami tinggal bersama.
Kali ini, ada rasa nyaman di wajahnya. Rasa tak menganggapku sebagai orang asing lagi. Langkahku mendekati Dave. Ia melihat ku dengan senyum sambil memukul tempat tidur di sampingnya untuk memintaku duduk.
"Besok... Hari istimewa kan..!"
Ucapnya tak lupa dengan senyum. Aku tak menyangka ia ingat.
"Mmmm.. Kurasa 1 tahun Hari Pernikahan kita." jawabku sedikit canggung.
"Benar, kurasa aku melupakan banyak hal, termasuk hari ulang tahun mu. Tapi kurasa aku bisa menebusnya di hari ini."
Dave merubah posisi duduknya sedikit lebih menghadapku.
"Ti.. Tidak perlu seperti itu Dave,"
Jawabku gugup, aku tak tau harus berkata apa,
Bukan aku tak bahagia, jelas aku sangat bahagia. Orang yang Kucintai menunjukan rasa pedulinya pada ku.
"Tidak Jane, Kau ingat waktu pertama kita berkunjung untuk persiapan gaun pernikahan?"
Dave membawaku memulai ulang memori.
"Ya.., bukankah waktu itu seharusnya ibu yang menemaniku?"
Balasku.
"Benar.., tapi.. Sebenarnya saat itu aku ingin mengakui ini... Aku senang melihat Pengantinku terlihat begitu cantik..!"
Aku terkejut ketika mendengar ungkapan Dave. Serasa ada hal indah yang mengajakku terbang di taman kebahagiaan.
'Bukankah Dave mengabaikanku saat itu, ia lebih sibuk dengan ponselnya dan hanya melirikku sesaat'
Aku mulai berucap dalam hati.
"Namun sayang nya aku melupakan hal itu karna keadaan loly yang sedang sakit membuatku begitu khawatir."
Terlihat raut menyesal di wajah Dave. Aku masih belum bisa berucap apa pun. Rasa senang ini begitu nyaman dan membuatku bisu.
"Jadi saat ini apa ada hal yang kau inginkan jane?"
Pertanyaan Dave menyadarkanku.
"Tidak perlu Dave. Kurasa pengakuan itu sudah membuatku senang"
Ungkapku begitu saja. Tapi ini benar. Aku bahagia.
"Tapi jane, besok aku ingin mengajak mu ke satu tempat. Kurasa aku bisa membuatmu meberiku senyuman yang lebih indah lagi!"
Dan sekejap kurasakan Dave mecium pipi kananku. Sudah kulupakan rasa terkejut yang akhir akhir ini melandaku.
'Cukup terima bahagia ini di hatimu'
Kurasakan hatiku berucap tepat seperti itu padaku.
******
"Jane..., apa kau melihat jas yang baru saja ku letakkan di tempat tidur?"
Suara Dave tepat bergema setelah aku selesai menyetrika jas putihnya.
"Oh..., maaf, tadi aku melihat jas itu sedikit kusut jadi aku menyetrikanya sebentar."
Jawab ku sambil menyerahkan jas itu pada Dave. Kulihat sejenak Dave memerhatikan Jas nya dan kembali menatapku. Dan sedetik kemudian kurasakan sesuatu yang lembut menyentuh pipiku lagi.
"Trimakasi sayang..!"
Pipiku terasa panas, ini berbeda dari sekedar membisu dan terdiam. Benar - benar berbaeda
'Dave memanggilku sayang'
Ulangku dalam hati. Tak sempat berfikir dan kudengar Dave tertawa. Tawa kecil melihatku terdiam.
"Baiklah, kurasa sudah saatnya aku berangkat. Dan oh ya, jangan lupa membawakanku makan siang, sepertinya aku mulai terbiasa dengan masakanmu Jane"
"Baiklah Dave, hati - hati."
Ucapku
"Oh iya, satu lagi, jangan datang sendiri, minta supir mengantarmu, kalau begitu aku berangkat."
Bunyi mesin mobil yang menjauh menandakan Dave semakin jauh. Sejenak kuarahkan pandanganku ketaman, menarik nafas dan menghirup udara pagi di sekitarku.
'Ini kenyataan, aku telah menikah dan menjadi seorang istri. Trimakasih telah menganggapku begitu'
Inilah isi hatiku. Bersyukur dan bahagia.
******
"Suster, apa dokter Dave sedang ada jadwal penting?"
Tanyaku pada salah seorang perawat yang biasa ku temui setiap aku mengantarkan makan siang Dave. Biasanya aku langsung menuju ruangan Dave, dan tadi aku juga baru saja melakukannya namun Dave tidak ada.
"Nyonya Jane, hari ini dokter Dave sedang ada jadwal operasi."
Suster dengan nama depan Mia di sisi kanan bajunya itu menjelaskan.
"Dokter Dave harus menangani salah satu pasiennya yang baru saja sadar dari Koma Nyonya."
"Koma?, Boleh saya tau nama pasiennya suster?"
Tanyaku ketika kurasa perasaan takut dan tak tenang mulai menghampiriku.
"Atas nama Tuan Ernad"
Serasa aku terjatuh dan terlempar jauh hingga kedasar yang sangat gelap, itu ayah ku. Ada apa dengan ayahku, kenapa dia harus menjalani operasi mendadak, kenapa Dave tidak memberitahukan ini padaku dan ibu. Banyak sekali pertanyaan yang menghampiriku.
Kuabaikan suara suster Mia yang beberapa kali memanggilku. Segera ku gerakkan kakiku menuju ruangan ayah. Air mataku sudah tak terbendung, aku begitu takut dengan apa yang akan terjadi. dengan apa yang harus ku terima.
Sudah cukup ketika para dokter - dokter sebelum Dave menyuruhku dan ibu melepaskan ayah. Ketika sakit yang di derita ayahku semakin parah dan ia harus mengalami koma hampir 2 tahun. Rasanya sangat sakit kehilangan seseorang yang sangat berharga. rasa takut dan sakit itulah yang memaksa kami percaya ayah dapat sembuh kembali. Masih terlalu dini untuk menyerah. Dan sekarangpun aku tak mau melepaskan ayah aku terlalu menyayanginya
Langkahku terhenti tepat di depan pintu, kuraih gagang pintu dengan tangan bergetar dan mulai membukanya.
Mulai masuk dan melangkahkan kakiku perlahan karna rasa takut.
Kulihat Gorden penutup milik ayah masih tertutup. menghalangi pandanganku menemukan sosok ayah.
Kini tanganku bergerak menyibak gorden hijau penutup yang menghalangi ku melihat ayah. Mulai membukanya dan berusaha menahan ketakutan yang bahkan ingin membuatku berteriak dan menagis.
"TARAaaaaaa...........!!!!!"
Betapa terkejutnya aku melihat semua orang berkumpul mengelilingi ayahku sambil meniup beberapa terompet dan sedikit hiasan pesta.
Dave, ibu, dan ibu mertuaku tepat berada di sana, mereka mengunjungi ayahku. Aku segera tak dapat menahan haru, kurasakan Dave memelukku erat.
"Sayang..., apa karna kau sudah punya suami sehingga kau lupa pada ayah?"
Kudengar suara yang tak asing di telingaku. Suara yang kurindukan. Suara yg sudah cukup lama tak kudengar lagi.
"Ayah...!"
Mataku terbelalak seketika. Pandangan kami bertemu, tatapan mata yang sangat lama ku rindukan. Bagaimna ini bisa terjadi, bukankah ayah sedang di operasi?. pertanyaan mulai kembali memenuhi kepalaku, namun rasa bahagiaku melihat ayah yang mengalahkan semuanya.
"Ayah... Ayahh... "
Ucap ku yang mulai tak mengerti berapa kali aku mengucap kata itu. Aku seketika menuju Ayah dan memeluknya erat.. Sangat erat.
Pria yang memeliki mata yang sama dengan ku, pria dengan nama Ernad di belakang namanya.
Ayahku, dia ayahku
'Air mataku jatuh tanpa henti. Ini kah takdir Tuhan?, atau Tuhan hanya kasihan padaku.
Tapi apapun itu aku tak apa. Aku bahagia, merasa lebih bahagia. Trimakasih Tuhan,'
syukurku dalam hati.
*******
Kali ini aku tepat berada di hadapan Dave.., duduk di samping ayah yang kini tengah tertidur.
"Ayah masih belum pulih, ia masih perlu banyak istirahat."
Dave membuatku mengalihkan mataku yang masih menatap ayah.
"Dave, apa ini hadiah itu,?" tanyaku pada Dave, kali ini aku merasa nyaman.
'Akan aku katakan apa yang aku rasakan, tak perlu sembunyi lagi'
Tambahku dalam hati.
"Mungkin bisa di bilang begitu, tapi sebelumnya aku minta maaf Jane, ayah telah sadar dua hari yang lalu, hanya kondisinya terlalu lemah untuk membuat kejutan ini. Namun kurasa rasa cintanya pada putrinya mengalahkan kelemahan itu."
Mataku meneteskan cairan bening lagi. Tak dapat terbendung lagi. Aku beranjak dan memeluk Dave.
"Trimakasih, trimakasih banyak telah membuat ayahku membuka matanya kembali."
Kuucapkan kata itu seraya memeluk Dave erat. Bisa kurasakan balasan pelukan darinya.
"Tapi jane, ada yang seharusnya kukatakan padamu. Ini sangat penting."
Suara Dave membuatku sedikit berfikir lain. 'Tentang apa?, apa tentang ayah?'
Tanyaku dalam hati sambil menatap Dave yang berdiri menatapku balik.
Beberapa detik aku sempat takut. Namun saat itulah Dave berucap sambil menatap ku dalam.
"Aku akan menikah"
Jantungku berhenti. Terasa tak bergerak lagi.
Aku tak tau apa ini, 'apa ia ingin menceraikan ku?' tanyaku tak mampu berucap. Namun ada senyum di wajah Dave, aku sakit saat melihat senyum itu,
'Dia bahagia..., dia ingin memutuskan hubungan ini'
Simpulku dalam hati. Sejenak Dave mendekat dan bergerak menggenggam kedua tangnku erat.
'Sudah berahir jane, sudah berahir, harapanmu akan kenyataan indah sudah hilang'
Yakinku dalam hati, aku ingin menangis, bahkan terjatuh dan tak akan bangkit lagi. Namun semuanya tak mungkin, semua energiku telah menghilang di telan oleh perkataan Dave barusan.
"Jane..." suara Dave menyadarkan ku yang sejenak menerawang.
Kutatap kembali mata Dave, pria yang telah membuatku pada akhirnya jatuh cinta.
Ku siapkan hatiku saat ku lihat ia mulai membuka mulut dan berucap
"Aku akan menikahimu sekali lagi, Dihadapan Ayah"
Tarikan nafasku menyadarkanku bahwa ini bukanlah sebuah lelucon dalam mimpi.
***************
Terimakasih untuk para pembaca, kritik, saran serta dukungan dari kalian sangat berarti.
Shisilia-kou