
"Jane...,"
Ku dengar suara ibu Enjela mengetuk pintu dan memanggil nama ku.
"Ia bu.., masuk saja. tidak papa"
ku jawab cepat setelah usaha ku selesai membersihkan kedua mataku dari butiran air bening dan memastikan bahwa aku akan memberikan senyum terbaik untuk ibu mertuaku ini.
"Ada apa sayang..,? kenapa mengurung dirimu di kamar sejak kau kembali tadi."
Ibu Enjela menyapa helaian rambutku sayang.
"Tidak apa - apa bu, hanya sedang memeriksa buku buku yang baru saja ku bawa."
Kulirik buku buku yang masih tersusun rapi dalam tas itu. bukti bahwa aku belum menyentuh mereka. Kuharap ibu Enjela tidak akan tau bahwa kebohongan kecil yang kubuat ini berujung pada apa.
"Baiklah sayang.., ku rasa kita akan makan malam lebih cepat. bersiaplah dan turun kebawah.
Ibu dan Dave akan menunggu mu."
'Dave, kata itu sukses membuat halam dari lembar fikiran yang berusaha ku lupakan muncul kembali.
Berputar berulang ulang dan mengaktifkan sistem ku untuk tetap terjaga dan tak bisa berhenti memikirkan nya.
"Baik bu"
Membunuh sejenak lamunanku dan membalas perkataan ibu Enjela dengan senyum terbaikku untuk saat ini. Ibu Enjela melangkah keluar dan meninggalkan ku serta semua fikiran yang berkecamuk di hati ku.
Mengijinkan ku untuk berfikir sejenak dan menyiapkan diri untuk bertatap dengan sang dalang dari semua kegilaan ini.
"Oh Jane, ayo duduk di sini sayang."
Ibu Enjela mengajak ku bergabung di meja makan sesaat setelah aku menuruni anak anak tangga.
"Iya bu"
Kulangkahkan kaki ku berusaha tak menatap pemuda yang tengah duduk di sampingku kini.
"Baiklah.., ayo kita mulai makan malam nya."
Wanita paruh baya dengan wajah anggun di hadapan ku dan Dave kini bersiap mengisi piring cantik nya dengan beberapa menu. Merasa harus bersikap biasa dan wajar, mulai ku sendok sedikit makanan ke piring ku.
Cukup dengan menu pilihan ku, mulai ku gerakkan tangan ku untuk memerintahkan garpu segera bergerak kemulutku.
"Jane,"
Ibu Enjela berucap sesaat sebelum bibirku menyentuh makanan itu. Kulirik ibu Enjela yang sedikit menatap ku bingung.
"Jane, apa kau lupa sudah punya suami?"
Meneruskan makanan nya ibu Enjela berkata dengan sedikit tawa. Ragu dengan apa yang ku dengar, ku arahkan pandangan ku menuju pria tampan yang menjadi hantu dalam fikiran ku ini.
'Oh.. astaga'
Itu yang terucap dalam hatiku. Tak ada makanan di piring nya. Putih bersih hanya di hiasi sendok dan garpu yang tertata rapi di samping nya.
"Tidak apa - apa Jane, biar aku saja.
Kau bisa lanjutkan makan mu"
Dave tersenyum sesaat padaku. Bergegas menggerakkan tangannya untuk mengisi piring di hadapan nya.
"Aku saja."
"Terimakasih Jane"
Dave masih tersenyum padaku.
'Apa ini?', 'Apa pria di samping ku ini berusaha menutupi hubungan gelap nya dengan senyuman?', 'Apa dia berfikir aku akan diam dan memnganggap semuanya tak ada?'.
Bermacam pertanyaan menyerang kepala ku secara tiba tiba. Menyudutkan ku dan memaksa ku menemukan jawaban.
******
Mengitari taman di malam hari mungkin tidaklah buruk. Menghirup udara yang terasa segar walau tak sepenuh nya seperti itu. Menggerakkan jemariku menyapa daun daun kecil para bunga membuat sedikit ketenangan hinggap di hati ku.
"Jane,!"
Aksiku terhenti saat seseorang memanggil nama ku. Mencerna suara itu cepat dan ku temukan orang nya.
"Ada apa Dave"
Aku menoleh dan berusaha tegar. Aku tau saat ini akan tiba, saat dimana Dave akan menemuiku dan mulai membuka sesuatu yang tak ingin ku ketahui.
"Kurasa kita harus bicara"
"Bicaralah Dave"
Suara nya yang lembut seperti alunan biola mahir di telingaku. Suara pria yang tak pernah ku bayangkan mengisi sesuatu di hatiku. Dan baru ku sadari itu.
"Aku minta maaf sudah membuatmu tak nyaman dengan sikap ku Jane. Aku tau aku harus menjaga loly, tapi tak seharusnya aku bersikap seperti ini padamu."
Aku belum yakin dengan apa yang ku dengar.
"Ya..., maksudku aku senang kau menyukai loly. Terimakasih karna sudah berusaha sabar dengan ku jane."
Ada gendang kebahagian yang beratabu di hatiku. Kegembiraan, senang dan puas karna aku mendapat persetujuan. Persetujuan untuk bertemu langsung dengan bayi kecil yang beberapa kali menyita perhatianku. Melempar tawa kecil indah yang ku simpan dan ku bingkai indah di hatiku.
"Dave, apa kau mengijinkan ku menjaga loly juga?"
Belum cukup dengan penjelasan Dave, aku berusaha meminta penjelasan lebih.
"Iya Jane, ku rasa loly juga menyukaimu."
Dia tersenyum. Pria dengan mata indah dan bibir tipis nya tersenyum pada ku. Senyum berbeda yang mengandung ketulusan di dalam nya. Merasa bahagia aku tersenyum padanya. Namun seketika senyum itu hilang. Senyum yang ku berikan pada nya.
'Dave menghianatimu.'
Fikiran ku mengingatkan ku akan fakta besar yang tak mungkin hilang begitu saja. Membuatku menghentikan senyum dan menyuguhkan pandangan yang berbeda padanya.
"Baiklah Jane, kurasa ini terlalu malam. Pergilah tidur, aku akan ke kamar loly sebentar."
Perkataan nya memberiku pengertian bahwa ia akan kembali untuk tidur di kamar nya sendiri dengan ku.
"Baiklah"
Jawabku. kulihat Dave berbalik dan menjauh dari pandanganku.
'Kenapa Dave?, kenapa sikap mu berubah setelah aku tau yang sebenarnya'
Kalimat menyakitkan itu mendengung berkali kali di telingaku. membuat sakit yang tadi terobati terbuka kembali. Menyisakan air mata yang dengan senang hati turun membasahi pipi kananku.
***********
Shisilia-kou