
*Enjela POV*
"David, ibu ingin bicara dengan mu.!"
Tanyaku saat ku lihat putra sulun ku sedang duduk santai.
"Ada apa ibu, katakan saja."
Sambil menatapku ia membalas
"David..., ibu ingin kau menikah...!"
Kukatakan maksud dan tujuan utamaku tanpa menunggu lagi.
"hahaha..., ibu.. ada apa dengan ibu?"
"Apa maksud mu David, ibu memintamu untuk menikah, sudah jelaskan, lalu apa yang tidak kau mengerti?"
"Ibu, cukup. Aku tidak mau menikah.... mungkin ini juga belum saatnya bagiku untuk menikah bu."
"David, ibu harap kau menuruti keinginan ibu, dan ibu tidak mau ada penolakan dari mu.!! ingat itu."
Aku bangkit dan berjalan berusaha meninggalkn putra pertamaku ini.
"Cukup ibu.!!"
Langkahku terhenti saat kudengar ia mulai bicara lagi.
"Aku tidak mau.., dan aku tidak akan menuruti permintaan ibu..., lagi pula aku tidak mengharapkan pernikahaan, jadi kurasa lebih baik ibu jangan berhap tentang itu. Atau.... ibu boleh minta itu pada putra ibu yang lain.. Dave."
Aku terkejut..., aku tak menyangka putraku itu akan jadi sekeras ini. Dia sama sekali tak ingin menikah.
*******
"Tidak sayang kau tidak perlu khawatir, ibu sudah bicara dengan Dave."
" Tapi ibu, tidak seharusnya semunya berahir begini, menikah dengan seseorang yang tidak kita cintai adalah hal yang sangat tidak mungkin. Dan aku tak ingin menyakiti Dave."
Wanita muda dihadapan ku ini masih saja menolak semua hal yang telah ku persiapkan untuk nya. Hal yang membiarkan dirinya menikah dengan putra bungsuku Dave.
"Sayang, dengarkan ibu, ini adalah yang terbaik. Aku mengenal putraku, dan aku yakin kau juga mengenal nya, David..., dia bukanlah pemuda bertanggung jawab seperti yang kau harapkan sayang."
"Tapi aku mencintainya.,"
Air mata yang jatuh membasahi pipi merona milik wanita muda di depanku ini menyadarkan ku akan ketulusan cintanya.
"Maafkan aku ibu..,"
Selepas perkataan itu, cuma pelukan hangat yang bisa kuberikan padanya.
********
*Dave POV*
"Kenapa kau ingin pergi..?, bukankah menemuinya dan berkata jujur padanya adalah hal yang baik?"
Akhirnya kutanyakan pertanyaan yang sangat ingin kutanyakan pada kekasih kakaku ini.
"Dave, mungkin hal itu memang mudah, tapi bagiku, tak mudah melihatnya gelisah karna masalah kehamilanku. Ini akan mengganggunya."
"Lalu apa menikah denganku tak membuat mu berfikir kalau kau membawa masalah bagiku?"
Tanyaku lagi. Aku tau kali ini pertanyaanku menyakitinya.
"Maafkan aku Dave, aku sudah menolak, aku juga tak ingin merusak kehidupanmu. Maafkan aku."
"Kalau begitu kau telah mencintai orang yang salah..."
" Tidak..."
Perkataan ku terhenti saat ia berkata tidak.
********
*Enjela POV*
"Dave sudah selesai sayang?"
Tanyaku saatku lihat Dave anakku termenung di hadapan cermin.
"Sudah ibu."
segera ia menjawab perkataanku dan menyembunyikan kegelisaan nya.
"Maafkan ibu nak, ibu sangat minta maaf."
Air mataku tak dapat ku bendung, ini menyakitkan bagiku. Aku seperti wanita tua yang memaksakan kehendak bodohpada putranya sendiri.
"Tidak apa - apa ibu, jangan menangis.., aku mengerti situasinya bu., aku juga tidak ingin kakak satu satunya milikku itu akan di bunuh hidup - hidup oleh keluarga kekasihnya sendiri nantinya...haha..."
Tawa itu, dia bahkan masih berusaha tertawa saat aku memintanya menikahi seorang perempuan yang dalam keadaan hamil.
"Ibu, aku yakin acaranya akan dimulai. Dan aku tidak mau ibu menangis di hari pernikahan ku."
'Tuhan, trimakasih...,' itu yang ku ucapkan dalam hati saatku dengar ucapan dan tawanya. Dave..., putraku yang sangat ku syang'
***********
*Back to Jane POV*
"aww....!!"
"Maaf Dave..,"
Ini ke tiga kalinya Dave meringis saat aku mulai membersihkan dan mengobati luka - lukanya. Luka - luka akibat pukulan kaka kandung nya sendri.
"Jane..., kurasa aku bisa melakukannya, kau bisa istirahat.!"
Tangan ku berhenti bergerak di wajahnya saat itu.
"Kenapa aku harus membiarkanmu melakuknnya sendiri...?"
Segera kutepis sedikit rasa aneh di hatiku dan berusaha bertanya.
"mmm.., jane..., kurasa kau lupa kalau aku ini seorang dokter.."
"haha.... ,"
Sontak aku tertawa mendengar jawaban nya. sekarang aku mengerti apa yang dia fikirkan. Bukan karna tak mau di sentuh olehku melainkan tidak mau aku mengabaikan gelarnya sebagai seorang dokter.
"Kenapa jane?, apa yang lucu ?"
Tanyanya.
"hmmm, baiklah pak dokter, ku rasa aku bisa jadi perawat yang bertugas menjaga seorang pasien dengan gelar dokter sekarang."
Berkata sedikit lantang membuatnya tersenyum di hadapan ku. Senyum itu menyadarkan ku akan kembalinya Dave ku, satu kenyataan pahit yang harus ia terima itu membuatku sadar bahwa ia adalah Dave yang tangguh.
"Baiklah Dave, sekarang istirahatlah, aku akan memeriksa loly."
Aku mulai bergegas membereskan semua perlengkapan p3k yang baru saja selesai ku gunakan. Seketika gerakan ku terhenti saat Dave menahan tanganku untuk tetap diam.
"Jane, duduklah sebentar. Aku yakin sekarang sudh ada orang yang menghawatirkan Loly lebih dari pada kita."
Aku masih bingung dengan perkataannya.
***********
Shisilia-kou