
Part sebelumnya
"Gimana? Ada berita bagus?" tanya Viona sambil menyenderkan tubuhnya di sofa. Menghilangkan penat. "Ya. Belakangan ini banyak orang mencoba untuk mengontrak kita. Atau sekadar mencoba menjalin hubungan. Dan sebagian besar alasannya berkaitan antara perdagagan ilegal atau tidak kemiliteran." jelas Saera memberitahu semua informasi yang telah mereka dapat. "Hm... Perdagangan gelap ya... " gumam Viona sambil menatap langit-langit ruangan dengan pandangan datar.
Next part
"YO GUYS GUE KAMBEKKKK!!" Suara bak toak masjid juga suara pintu yang menjeblak terbuka cukup untuk menarik atensi seluruh penguni ruangan (min. Viona). Di ambang pintu berdirilah Clara dan Elizabeth yang baru saja tiba. "Yo welcome." ucap Viona santai."Ada berita apa nih?" tanya Elizabeth sambil duduk di sofa. "Ga ada yang penting." ucap Viona sambil mengeluarkan sebungkus rokok dari sakunya. Yup, ia seorang perokok.
Viona pun menyulut sebatang rokok dan menghisap nya dan menghembuskan asap nikotin dari mulutnya. "Oh ya, kapan acara lelang amal di lakukan?" tanya Viona penasaran. "Lo mau ikut?" tanya Clara yang ikut merokok. "Hm. Siapa tau ada barang bagus." angguk Viona. "3 hari lagi. Di kapal pesiar milik Michael Kim. Pukul 9 malam. Dan, katanya Black Devil akan hadir di sana." ujar Hana memberitahu. "Hm... Kayaknya bakal menarik." ucap Viona debgan smirk di wajahnya.
***
Akhirnya, sekitar pukul 12 malam VCE pun pulang ke mansion. Karena acara amalnya 3 hari lagi Viona pun mengirimkan pesan kepada desainer kepercayaannya untuk mempersiapkan 3 set dress model terbaru untuk mereka bertiga dan besok lusa harus sudah tiba di mansionnya. Untunglah sang desainer sudah mempersiapkan hal itu dari jauh-jauh hari jika tidak mungkin ia akan kelimpungan dengan permintaan Viona.
Keesokan harinya, 06.05
Lagi-lagi Viona harus berteriak-teriak di mansion karena teman serumahnya ini belum siap juga. "CEPETAN WOY!! 2 MENIT LAGI GUE TINGGAL!!" Teriak Viona bak toak masjid. "OTW!" Balas Clara tak kalah keras. Viona pun menghela nafas lelah. Ia pun mengambil jaket hitam juga kunci motor sport miliknya. Ia langsung ke garasi bagaimanapun juga mereka sudah terhitung kesiangan sekarang.
***
Untunglah, keahlian mereka di dunia balap bisa berguna untuk saat ini. Tepat pukul 06.50 mereka bertiga tiba di sekolah jadi, mereka tidak terlambat. Yah, walau hasilnya pakaian dan rambut mereka acak-acakan diterpa angin kencang selama perjalanan. Tapi, itu tidak jadi masalah sama sekali. Toh bisa mereka rapihkan di kamar mandi. VCE pun langsung menuju ke kelas mereka. Sebenarnya mereka tak akan kena hukum walau tiba di sekolah terlambat. Karena, sekolah tidak akan berani berbuat macam-macam dengan mereka yah... Karena pihak wekolah mengetahui latar belakang ketiga gadis bar-bar ini.
Mereka bertiga tiba di kelas bertepatan dengan guru yang mengajar tiba di depan pintu kelas. Setelah berbaris, mereka bertiga barulah masuk ke kelas dan menaruh tas di bangku masing-masing. Dan, pelajaran pun di mulai.
Begitu jam istirahat tiba, mereka bertiga seperti biasanya langsung ngacir ke kantin tanpa ba-bi-bu lagi. Bedanya kali ini mereka tidak mendapai Black Devil di kantin. Kelihatannya mereka bertujuh sedang berada di depan gudang sekolah. Tempat mereka biasa berkumpul selain di kantin sekolah.
***
"Vi, lo mau duduk di mana? Kita telat lagi ke kantinnya. Udah penuh duluan nih." ucap Clara sambil menatap ke seluruh penjuru kantin yang sudah sesak dengan manusia dengan raut wajah malas. "Entah. Lagian, gue juga ga niat makan." balas Viona yang sudah keburu kenyang melihat banyaknya manusia yang memenuhi kantin. "Mau jalan-jalan aja?" tawar Elizabeth memberikan ide. "Boleh tuh." angguk Viona menyetujui.
Akhirnya, mereka bertiga pun jalan-jalan ke sekitar sekolah. Sampai Viona mendspat panggilan telfon. Melihat nama yang tertera di layar ponsel nya, raut wajahnya langsung berubah. Ia pun berjalan ke arah belakang gedung olahraga. Tempat yang jarang dikunjungi oleh para murid. Clara dan Elizabeth pun langsung mengekori Viona.
***
Setibanya di belakang gedung olahraga, Viona langsung mengangkat telefonnya. "Ada apa?" tanya Viona begitu telefonnya sudah tersambung tanpa basa-basi. "Wah... Seperti biasa kamu tidak pernah basa-basi." sahut seseorang di ujung telepon. "Aku tak punya banyak waktu untuk mengurus mu." ucap Viona dingin. "Oke-oke. Lagipula ini tidak bisa di bahas lewat telepon. Malam ini, jam 10 di Bar XXY. Kamar VIP atas nama Claude. Kuharap kau datang. Ini bisnis besar yang sangat menguntungkanmu." ujar orang itu laku langsung memutuskan sambungan.
"Paling-paling juga kepala orang lagi." sungut Viona sambil mematikan ponselnya. "Bisnis, mam?" tabya Clara penasaran. "Yep. Tapi ga tau bisnis apa. Nanti malem kita ketemu dia." jawab Viona sambil menghela nafas pelan. "Hm... Orang itu paling ahli nyari keuntungan." gumam Elizabeth. "Ya. Terutama, dari kepala manusia." timpal Viona datar. "Kita berburu lagi? Yah... Lumayan lah... Ngehilangin bosen." ucap Clara sambil menunjukkan smirknya. "Tergantung." ucap Viona datar. "Tergantung apa?" tanya Clara bingung. "Tergantung berapa harga yang bakal kita dapetin kali ini." jawab Viona santai.
***
Malamnya, bar XXX, ruang VIP, 22.00
"Jadi.... Lo mau apa?" tanya Viona datar. "Udsj gua bilang di telfon kan? Membahas Bisnis." balas seseorang dengan kode nama 'Claude' itu. "Hm... Apa bisnisnya?" tanya Viona lagi. "Lo paham banget sama bisnis gue kan? Gimana? Mau nerima atau nggak?" tanya Claude dengan smirk di wajahnya. "Tergantung berapa harga yang lo tawarin." Kali ini Elizabeth lah yang angkat bicara. "Wow... Akhirnya leader angkat bicara ya..." ucap Claude sambil menatap Elizabeth tak lupa smirk yang belum hilang dari wajahnya.
"Cepat beritahu." Ucap Elizabeth dingin. "Woah... Santai. Oke oke. Gue mau kepala orang ini. Dan ini biodatanya. Dan untuk harga atas jasa itu... 17 miliar cukup?" Ucap Claude serius. Viona, Clara, dan Elizabeth pun langsung melihat foto yang di berikan juga map yang berisi biodata itu. "Bon Chul-Moo. Artinya Senjata Dari Besi Terbaik. Kebetulan yang pas dia juga pemilik perusahaan persenjataan. Oh... Dia juga menjual senjata ilegal rupanya. Boleh juga. Dan.... Berhasil membunuh 37 orang dalam waktu 6 minggu tanpa tertangkap oleh polisi? Hohoho.... Wow.... Dia menarik." Ucap Clara yang membaca biodata tersebut.
***
"Diterima." ucap Elizabeth tenang. "Gue harap kalian cepat mengurusnya. Karena... Ada orang lain yang tertarik dengan hal ini juga." ucap Claude sambil bangkit dari posisinya. "Hm. Tergantung." balas Elizabeth datar. "Oke. Gue tunggu hasilnya." ucap Claude sambil pergi meninggalkan ruangan VIP itu. Sepeninggal Claude barulah Elizabeth menghela nafas dengan lega. "Susah juga jadi orang dingjn." keluhnya.
"Ya, makanya belajar." ucap Viona terdengar santai. "Dahlah... Lain kali lo aja yang maju." ucap Clara mengambil keputusan. "Hm." sahut Viona seadanya. "Jadi, kapan mau jalan?" tanya Clara bingung. "Ya nanti. Masih harus di awasin dulu kan. Suruh si Fanny turun tangan dulu aja." ucap Viona sambil menghela nafas lelah. "Siapa yang mau nebas kepalanya?" tanya Elizabeth penasaran. "Gue lah." ucap Viona datar. "Sudah pasti itu mah." gumam Clara pelan.
*****