Bad Girl X Good Boy Psycopath

Bad Girl X Good Boy Psycopath
Episode 2



".... Ngebully murid sekolah ini sampai beberapa kali ada kasus meninggal. Entah itu emang bunuh diri atau kelakuan anak songong itu." Jawab Viona dingin. "What!? Gila kali yah otaknya!!" ujar Clara kaget sekaligus kesal. "Otaknya emang perlu di cuci pakai air rendaman kaos kaki yang udh ga di cuci selama setahun." sungut Elizabeth dengan raut wajah kesal. "Udah... Biarin aja. Kalaupun dia cari masalah.... Dia cari masalah dengan orang yang salah." ujar Viona sambil menunjukkan smirk tipis di wajahnya.


"Yah.... Keknya kita punya mainan baru nih." ujar Clara terlihat senang. "Hm... Sekarang kelarin makannya gue mo balik ke kelas." ujar Viona lagi. "Iya, iya mami." balas Clara mengiyakan. Mereka pun segera menghabiskan makanan mereka dan kembali ke kelas sebelum bell berdering. Mereka tiba di kelas 15 menit sebelum bell masuk.


***


Di kelas....


Saat ini Viona, Clara, dan Elizabeth sedang berbincang-bincang sembari menunggu bell masuk berdering. Namun, tiba-tiba saja Alicia and the genx masuk ke dalam kelas mereka dan membawa Viona keluar kelas dengan paksa. Viona pun memberi kode kepada Clara dan Elizabeth untuk tetap menunggunya di dalam kelas. Setibanya Viona dan Genx nya Alicia di koridor kelas yang masih cukup sepi Viona langsung di pegang erat oleh 2 orang teman Alicia yang Viona tahu namanya Jesicca dan Amanda.


"Mau apa lo?" tanya Viona tanpa ada niatan untuk memberontak. "Gue mau lo jauhin Briant!" ujar Alicia tegas. "Ya, lo suruh si Briant jauhin gue lah! Orang dia yang deket-deket gue, kalo gue yang di suruh jauhin dia ya percuma non. Lain kali mata sama otak sinkronin. Jangan mata nya di buka tapi otaknya pindah ke dengkul." Ejek Viona pada Alicia.


PLAAAKKK!!!!


Alicia pun menampar Viona dengan keras. Bahkan, sudut bibir Viona dibuat berdarah karena tamparan itu. Viona pun memuntahkan sedikit darahnya ke lantai.


"Cih, cuma bisa keroyokan kek gini lo? Pengecut amat." Ejek Viona lagi. "Lo, benar-benar cari masalah sama gue ya!" ujar Alicia marah. "Cia, lo kasih dia pelajaran aja. Gue sama Jesicca pegangin dia." ujar Amanda yang masih setia memegang tangan Viona. "Boleh juga." ujar Alicia terlihat senang. Sementara Viona, ia hanya menatap mereka dalam diam tanpa ada niatan untuk melawan balik.... Tidak untuk saat ini.


***


Pulang sekolah, 16.00


Viona pulang dengan keadaan wajah yang penuh lebam. Sebenarnya ia bisa saja balas memukul Alicia the genx hanya saja ia terlalu malas untuk mengurusi anak manja itu. Jadi ia memilih untuk menerima semua pukulan yang mereka layangkan padanya. Selama perjalanan pulang ia merasa ada yang mengikutinya sedari tadi jadi ia memutuskan untuk membawa si 'stalker' itu ke tempat yang cukup sepi. Ia menemukan gang yang cukup sepi dan juga sempit, ia pun masuk ke dalam. Tak lama kemudian stalker itu juga ikut masuk ke dalam gang sempit tersebut.


"Lo ngapain ngikutin gue sampai sini... Briant?" tanya Viona yang tengah bersandar di dinding. "Memangnya kenapa?" Balas Briant dengan smirk samar di wajahnya. "Hm?" tanpa sengaja mata Viona menangkap sebuah pisau lipat yang dikeluarkan Briant dari saku seragamnya. "Heehhh? Mencoba bunuh gue? Atas alasan apa? Kejadian tadi pagi? Cih, seperti anak phobia aja lo. Coba aja kalo lo mau bunuh gue." ujar Viona menatap Briant dengan tenang. Briant sejenak terdiam. Reaksi Viona benar-benar di luar ekspetasinya.


"Huh? Ga gue sangka, lo ga takut sama sekali." ujar Briant menatap Viona sambil menunjukkan smirknya. "Kenapa gue harus takut? Lo aja ga ada niatan ngebunuh gue kok." Balas Viona enteng. Briant yang mendengar hal itu sontak terdiam. Ia tak menyangka kalau Viona akan mengatakan hal itu.


***


Briant pun kembali menunjukkan smirk-nya setelah rasa keterkejutannya reda. "Kenapa lo begitu yakin kalo gue ga berniat ngebunuh lo?" tanya Briant sambil menyimpan kembali pisau lipatnya. "Mata lo ga ada kilatan pengen ngebunuh. Kedua. Aura ngebunuh lo sama sekali ga ada." jawab Viona tenang. "Memangnya gue harus nunjukkin aura ngebunuh gue?" tanya Briant lagi. "hm... Ngga juga sih. Hanya aja, kalo lo emang niat ngebunuh gue harusnya dari tadi lo uda bunuh gue kan? Bukannya menganggapi gue yang jelas-jelas coba ngulur waktu." balas Viona tenang. Briant pun terkekeh mendengar penuturan Viona.


"Udah ya, gue males nanggepin orang yang bener-bener ga niat ngebunuh gue. So, bye. Ketemu besok aja di sekolah." ujar Viona sambil berlalu pergi meninggalkan Briant. Setekah Viona hilang dari pandangan barulah Briant pergi dari tempat itu. Namun, sebelum ia pergi ia sempat membisikkan sesuatu. "Menarik." bisik Briant sebekum pergi meninggalakan tempat sempit tersebut.


***


"Akhirnya sampai juga." ujar Viona sambil menghela nafas lega. "Kenapa lo Mi?" tanya Clara sambil menatap Viona bingung. "Ga pa pa cuma tadi gue ampir mau di bunuh orang." jawab Viona sambil berjalan masuk ke dalam mansion dengan menenteng tas juga skareboardnya. "What!? Siapa mau bunuh mami!?" tanya Clara kaget. "Briant. Tapi untungnya gue liat dia sama sekali ga ada niat buat bener-bener ngebunuh gue." jawab Viona sambil merebahkan dirinya di atas sofa.


"Mami tau dari mana?" tanya Clara lagi. "Dari matanya aja ketahuan kok." jawab Viona santai. "Oh...." sahut Clara sambil mengangguk singkat. "Hem. Oh ya. Besok-besok mami ke sekolah nyetir mobil aja. Pake skateboard pegel cuy." ujar Viona lemas. "Ye.. Kan mami sensiri yang mau naik skateboard." sungut Clara pada Viona. "Iye. Iye tau gue. Bta, Elizabeth mana?" tanya Viona bingung. "Di kamar keknya." jawab Clara asal.


"Oh..." sahut Viona seadanya. Setelah beberapa menit rebahan, Viona puj beranjak pergi ke kamarnya untuk segera mandi. Bagaimanapun juga, tubuhnya sudah bau akan keringat. Sementara Viona mandi, Clara pun bermain ponsel di ruang tengah.


***


Usai mandi, Viona pun kembali turun ke bawah. Melihat keadaan kedua sahabatnya itu sedang asik bermain dengan ponsel mereka masing-masing ia pun berkacak pinggang. "Woy! Maen hp mulu! Ayo makan!" sungut Viona dari arah tangga. "Iya-iya. Lagian kita berdua main hp nungguin lo kelar mandi tau." Balas Clara sambil mematikan ponselnya. Begitu pula dengan Elizabeth. Setelah itu, mereka pun pergi ke ruang makan.


Namun, di saat mereka tengah menyantap makanan dengan khidmat. Neo, salah atu orang kepercayaan mereka, datang menghampiri. "Ada apa?" tanya Viona begitu melihat kehadiran Neo. "Begini, nona. Keluarga anda menghubungi." lapor Neo sopan. "Siapa?" tanya Viona lagi. "Ayah nona Viona, ibu nona Elizabeth dan nona Clara." Jawab Neo lagi. "Berikan ponselnya." putus Viona tenang. Lalu, Neo pun menyerahkan ponsel mereka bertiga dan undur diri.


Sepeninggal Neo, Clara pun berdecak. "Ck! Ngapain sih mereka nelfon kita?" ujar Clara kesal. "Entahlah. Kita dengerin aha bacotan mereka." balas Viona tenang. Mereka bertiga pun segera berpencar untuk mengangkat telefon.


***


POV Elizabeth


"Kenapa Mi?" tanyaku tanpa basa-basi lagi. Aku mengangkat telefon orang tuaku di dapur,  Clara di kamarnya, dan mami di taman belakang mansion. "Kamu ga ada niatan pukabg ke rumah?" tanya ibuku terdengar kesal. "Kalaupun ada aku rak akan bisa pulang. Ini masih hari-hari sekolah belum masuk libur semester. Kalau uda libur semesrer baru aku urus kapan pulang ke sana." jelasku tanpa ada niatan untuk kembali ke rumah itu lagi. "Huh, awas aja sampai ga inget pulang ke rumah gara-gara si busuk Viona itu!" ujar Ibuku lagi. "Ya. Dan satu lagi... Berhenti memanggil Viona dengan sebutan itu. Kamu tidak pantas. Bahkan, memanggil namanya pun tidak pantas." balasku dingin lalu mematikan sambungan telefon.


***


P. O. V Clara


"Kenapa mak?" tanyaku dengan nada malas. "Lo uda lupa sama rumah?" tanya emak dari ujung telefon. "Gue uda di rumah kok." jawab ku santai. "Rumah Pengasingan?" sindir emak. "Bukan. Tapi Rumah Pembebasan!" balasku tak mau kalah. "Oh, gini lo ya kalo ga ada gue. Diajarin apaan lo sama tu anak? Sampai lo berani kek gini ke gue?" ujar emak kali ini membawa mami. "Sebelum Viona ngajarin gue buat ngebantah juga gue udah sering ngebantah elo. Jadi ga usah bawa-bawa dia." balasku lalu langsung mematikan sambungan telefon tanpa peduli dengan respond emak.


***


P. O. V. Viona


"Kenapa pi?" tanya gue di telefon. "Kamu kapan pulang Ren??" tanya ayahku dari seberang telefon. "Ga tau. Palingan pas libur panjang. Ada apaan emang? " jawab Gue santai. "Nggak kok. Cuma maminya Angel udah gabung lagi sama kita." ucapan bokap gue tadi bener-bener hikin gue spot jantung mendadak. "Terus? Aku harus silahturahmi ke sana gitu?" balas gue kesal. "Ya, kamu pulang lah. Gimana juga dia kan uda ngerawat kamu dari kecil." ujar bokap gue lagi. "Iya ngerawat. Karena apa? Karena papi berduit! Karena papi masih punya banyak uang! Begitu bangkrut? Apa kenyataan nya!? 'Aku ga mau ngakuin dia anakku lagi' itu yang dia bilang ke aku. Udah ya, aku tutup telfonnya. tenang aja, aku bakal ke sana kok." ujarku panjang lebar lalu menutup telfon Tanpa menunggu balasan.


*****