
14.00, Mansion VCE, Ruang Keluarga
"Makan dulu sana baru makan kue." ujar Viona sambil menaruh sepiring kue di meja ruang keluarga. "Ngokeh!/Oke!" ucap Elizabeth dan Clara sambil berjalan ke dapur. Viona yang melihat kelakuan kedua temannya itu hanya bisa geleng-geleng kepala. "Serasa beliin mainan bocah." gumamnya pelan.
"KITA BERDUA DENGER!!" teriak Elizabeth dan Clara berbarengan. "Ye tau gue." balas Viona lalu ikut ke dapur untuk makan siang bersama. "Nanti malam mau ikut gue ga?" tanya Viona begitu sudah tiba di dapur. Tepatnya, di meja makan. "Kemana?" tanya Clara penasaran. "Bar" jawab Viona singkat. "IKUTTT!!" balas mereka berdua terdengar antusias. "Oke." angguk Viona.
***
21.00, sesuai ucapan Viona tadi siang, malam ini mereka bertiga pergi ke bar. Sebenarnya, Viona mengajak kedua sejolinya itu ke bar untuk bertemu dengan seseorang. Setibanya di bar, mereka bertiga segera masuk ke dalam. "Lo nyari apaan dah?" tanya Clara penasaran karena sedari tadi Viona hanya celingak-celinguk saja di pintu.
Tanpa sengaja, mata Viona menangkap sesuatu. Ia pun segera membawa Clara dan Elizabeth ke tempat yang ia cari tadi. Clara dan Elizabeth hanya pasrah di tarik oleh Viona hingga mereka tiba di salah satu meja bar. "Permisi. Maaf membuatmu menunggu lama." ujar Viona pada seseorang dengan nada sopan.
***
"Ah, sama sekali tidak masalah. Saya justru sangat senang anda berkenan menerima undangan ini." ujar lelaki itu seketika bangkit dari posisinya. "Ah, omong-omong silahkan duduk." lanjutnya lagi sambil mempersilahkan VCE duduk. Mereka bertiga pun duduk di kursi yang sudah tersedia. "Jadi, ada apa menghubungiku?" tanya Viona datar.
"Sebelumnya, aku minta maaf karena sudah sering merepotkanmu. Tapi, kali ini aku benar-benar tidak punya pilihan lain." ujar lelaki itu. "Kau tahu aku bukan tipikal orang yang suka bertele-tele kan, Revan?" tanya Viona dingin. "Ah, maaf. Begini, sebenarnya belakangan ini markasku sering diserang oleh sekelompok mafia yang tidak kuketahui." jelas Revan pelan.
***
"Lo ga akan di serang oleh mafia, kecuali lo yang buat masalah sama mereka." ujar Viona tenang. "Ya, belakangan ini keuangan mulai menyusut aku harus meminjam uang kesana kemari tanpa sempat mengembalikannya." angguk Revan menjelaskan akar permasalahannya. "Kalo masalahnya begitu... Gue ga bisa bantu. Masalah ini harus lo selesaiin sendiri. Jadi, gue minta maaf. Tapi, ga ada bantuan yang bisa gue kasih ke lo. Jadi, permisi." jelas Viona sambil beranjak pergi.
"Tunggu! Kumohon, jangan pergi!!" ujar Revan berusaha menahan Viona. "Lepas!" ujar Viona sambil berusaha melepas pegangan Revan yang begitu erat pada lengannya. Tiba-tiba saja pintu menjeblak terbuka. "Lho? Kalian bertiga ngapain di sini?" tanya Leo bingung. "Itu harusnya pertanyaan kami." balas Clara datar. "Kami ada urusan dengan orang itu." ujar Kevin sambil menunjuk Revan yang makin mengeratkan genggamannya. "Oy! Lepas! Sakit tau!" Viona sontak memekik saat Revan memperkuat cengkramannya.
***
Tak lama akhirnya genggaman itu pun terlepas. Baru saja Viona akan beranjak pergi tangannya sudah lebih dulu ditarik oleh seseorang. Karena tak siap, ia pun oleng dan menabrak tubuh orang itu. "Au!" Viona pun spontan mengaduh. "Jangan berani-berani lo sentuh dia." desis Briant dingin. "Lhe?" Viona pun menatap orang yang ia tubruk. Belum juga ia melihat wajahnya, Briant sudah kembali menenggelamkan wajahnya ke dada bidangnya.
"Kalian ada urusan apa dengan dia?" tanya Elizabeth penasaran. "Kami mau menagih hutang." jawab Leo santai. "Eh? Jangan-jangan kalian yang suka menye-mph!!!" belum usai Elizabeth berbicara, Clara sudah membekap mulutnya lebih dulu. "Mulut lo ga ada remnya ya?" tanya Clara yang masih membekap mulut Elizabeth.
***
Tak lama, Briant dan Viona pun menghampiri mereka berempat. "Lain kali ga perlu sampai segitunya." dumel Viona pada Briant. "Maksud?" tanya Clara bingung. "Tangan Revan ampir remuk dia cengkram." jawab Viona masih melirik Briant datar. "Itu salahnya." balas Briant enteng. "Ya... Ga sampe remuk juga." balas Viona seketika kicep.
***
Revan tidak menjawab pertanyaan Viona. Ia lebih memilih untuk diam. "Lah? Ga dijawab." ucap Viona setengah kesal. "Biarkanlah. Yang penting uang itu lo bayar sekarang." putus Leo. "Ta-tapi saya belum punya uangnya." ucap Revan takut-takut. "Ini sudah berapa bulan!?" bentak Leo kesal. Viona pun menahan Leo. Walau ia merasakan ada aura-aura menusuk di belakangnya.
"Nanti dulu." ucap Viona pada Leo. Leo pun diam setelah melihat orang di belakang Viona. Melihat Leo yang mulai tenang Viona pun melepaskan tangannya dan berjalan menghampiri Revan namun di tahan oleh Briant. "Van, kan lo bisa cicil sih. 2 milliar gue tau itu gede banget. Bisa lo cicil kan 1 bulan 1 juta gitu. Ga harus langsung 2 milliar saat itu juga." ujar Viona pada Revan. "Vio, yang mereka maksud bukan 2 milliar rupiah." ucap Revan pelan. "Terus?" tanya Viona bingung. "2 milliar US Dollar." kali ini Briant yang menjawab.
***
Mendengar jawaban Briant sontak membuat Viona terbelalak kaget. Namun kali ini ia bisa mengendalikan keterkejutannya. "Seenggaknya bisa lo cicil gitu. Walau gue juga kaget sama nominalnya." ucap Viona lagi. Revan pun mengangguk kecil. "Oke. Bulan depan gue cicil." ucap Revan pelan. "Gue pegang ucapan lo, Van." ucap Viona sambil menatap Revan tajam. Revan pun mengangguk.
"Ya udah terus lo mau ngapain lagi? Sono minggat." usir Mark pada Revan. Tanpa disuruh 2x Revan langsung angkat kaki dari lokasi. Sepeninggal Revan barulah Viona mengutarakan apa yang sedari tadi mengganggu otaknya. "Dia hutang sama kalian sejak kapan?" tanya Viona penasaran. "Sekitar 2 tahun lalu." jawab Leo mengingat-ingat. Viona pun mulai mengingat-ingat apa yang terjadi 2 tahun lalu sampai harus membuat Revan meminjam uang dengan jumlah besar.
***
"Kenapa memangnya?" tanya Markbingung namun tak di jawab oleh Viona. "Clar." panggil Viona. "Apa?" balas Clara bingung. "2 tahun lalu ada problem apa yak? Gue lupa." tanya Viona serius. "Kalau lo aja lupa apa kabar gue coba?" balas Clara speechless. "Yee.... Siapa tau lo masih inget kan." sungut Viona sambil cemberut kecil. "2 tahun lalu... " gumam Elizabeth sambil berusaha mengingat-ingat.
"2 tahun lalu itu kalau ga salah. . . Masalah penipuan saham itu bukan sih?" tanya Viona mengingat sesuatu. "Kalau ga salah sih itu." angguk Elizabeth. "Kenapa dengan 2 tahun lalu?" tanya Leo penasaran. "Gue kenal Revan cukup lama. Dia ga bakal ngutang kecuali kalau terpaksa. Apalagi utangnya sebanyak ini." jelas Viona pelan. "Berapa lama lo kenal dia? Tanya Briant setengah penasaran. "Sekitar 10 tahunan." jawab Viona santai.
***
"Nah, urusan gue di sini udah kelar. Yok balik." ajak Viona pada Clara dan Elizabeth. "Lo ga mau minum dulu?" tanya Clara bingung. "Ga deh. Besok sekolah cok. Ga mau tepar gue besok." geleng Viona. Ia tak bisa membayangkan kalau besok ia telat ke sekolah hanya karena mabuk. "Hm... Iya juga sih." ucap Clara setelah memikirkan kata-kata Viona tadi. "Ya udah. Gue balik dulu." pamit Viona pada Briant dkk.
"Kalian di jemput?" tanya Mark penasaran. "Nggak. Bawa mobil sendiri." jawab Viona santai. "Bawa mobil malam-malam gini ga bagus lho." ucap Leo khawatir. "Ga apa. Lagipula aku ga mabuk." ucap Viona santai. "Hm. Hati-hati." ucap Briant sontak membuat Viona terdiam sesaat. "Ah. Iya. Kalian juga. Bye." balas Viona lalu segera keluar ruangan bersama dengan Clara dam Elizabeth.
***
Selama di perjalanan pulang menuju mansion tidak ada satupun yang menbuka suara. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. "Mak. Itu nanti mereka bertiga bakal curiga ga sama kita?" tahya Clara bingung. "Kalau curiga sih udah pasti. Mau diapain lagi. Bertingkah kayak biasa aja besok." jawab Viona masih fokus menyetir. Clara pun menghela nafas kesal. Kejadian pertemuan tak disengaja itu benar-benar membuat mereka ousing sekarang.
Setibanya di mansion, mereka langsung pergi ke kamarnya masing-masing. Karena waktu yang sudah cukup malam danbesok mereka harus berangkat pagi ke sekolah. Beberapa kali Viona menghela nafas lelah. Diantara ke 3 kamar, hanya kamarnya yang masih menyala. Ia tak daat fokus mengerjakan pekerjaan kantornya. Pikirannya tengah terbagi-bagi saat ini.
*****