Bad Girl X Good Boy Psycopath

Bad Girl X Good Boy Psycopath
Episode 4



Elizabeth P. O. V


Sudah 1 jam kuhabiskan untuk mengerjakan seluruh pekerjaan yang menumpuk ini. Sungguh, benar-benar suntuk. Mengerjakan pekerjaan tanpa henti benar-benar menyiksa. Aku bingung kenapa mami bisa tahan mengerjakan seluruh pekerjaan ini lebih dari 10 jam. Karena terlalu suntuk, aku pun memutuskan untuk pergi membeli camilan dan meninggalkan tumpukan pekerjaan ini sejenak.


***


Viona P. O. V.


"Ada kali. Kalo dia ngedukun dulu." balasku asal. Aku benar-benar malas berurusan dengan ***** titisan lampir ini. Benar-benar menguras kesabaran. "Kamu... " ucap Sarah menahan amarahnya. "Apa? Mau tampar? Tampar aja. Dari dulu juga anda suka memukuli saya. Kenapa di tahan-tahan? Takut ga di kasih duit? Tenang, saya bakal ngasih duit. Duit untuk anda pergi dari keluarga saya." ujarku panjang lebar dengan raut wajah dingin.


"Kenapa ga kasih duit untuk dia bundir aja?" tanya Clara dengan muka watados. "Gak deh. Nanti di pake buat nyewa pengacara segala. Males. Mending buat foya-foya sejenak." jawabku seolah orang yang di maksud tak ada di sini. "Keterlaluan!" ucap Sarah sambil bersiap menamparku. "Heh? Keterlaluan? Lalu, yang selama ini lo lakuin ke dia ga keterlaluan? Oh ya, gue lupa. Dalam kamus lo itu, yang benar hanya lo seorang. Dan orang lain ga lebih dari sekadar barang di mata lo." ujar Clara sambil menahan tangan Sarah dan kulihat dia mencengkramnya dengan cukup kuat.


***


Clara P. O. V


Mau pukul mami? Oh tentu ga bisa. Dia sana sekali ga pantas buat pukul mami. Gue pun mencengkram tangannya cukup kuat. Gue lihat dia meringis kesakitan. Baguslah kalau dia masih bisa ngerasain sakit. Lagian, rasa sakit ini masih sebagian kecil dari rasa sakit yang mami rasain dulu.


"Udah lepasin aja. Kasian tangan lo. Banyak kumannya entar." ucap mami terdengar santuy bener. "Kena kuman ga masalah. Masih bisa cuci tangan. Asal jangan rabies deh." balas gue masih mencengkram tangannya. "Udah lepasin aja. Kena guna-guna males gue ngatasinnya." ucap mami dari raut mukanya sih uda dongkol banget sama lampir satu ini. Akhirnya, gue ngelepasin tu tangan ho... Tentunya gue juga dorong badan dia aga kasar.


"Ups. Sorry. Tangan gue gatel soalnya." ucap gue pura-pura ngerasa bersalah. "Ga usah minta maaf. Sayang maaf lo kalo dia aja ga ngehargain kata 'maaf' itu. Yah, walau lu juga maaf nya ga niat sih." ujar mami dari belakang gue nadanya santai banget. "Iya juga sih." angguk gue menyetujui ucapan mami barusan.


***


Viona P. O. V.


Astaga, meglihat muka ***** titisan lampir ini benar-benar bikin gue ingin tertawa. Tapi, kutahan agar masalah ini tidak semakin lama. Sudahlah, biar Clara berbuat sesuka hatinya saja. Gue keluar dari rumah ini sebentar. Yah, nyari udara segar sebentar bukan pilihan buruk kan? Karena rumah ini satu daerah dengan rumah adek bokap yang lain jadi gue pun main ke rumah adeknya bokap. Toh ga sampe 3 menit juga uda sampe di rumahnya.


"Om, tante." pangg gue begitu sampe di rumah paman. "Lho? Udah pulang kamu Vi?" tanya tante gue kaget. "Iya. Baru sampe. Palingan kalo ga besok ya, nanti malem uda pulang. Ini aja pulang gara-gara ada lampir di rumah jadi di suruh pulang sama papi." jelas gue ke mereka.


***


Clara P. O. V.


Habis ngeliat mami keluar ruangan baru gue bisa nyindir ni lampir satu sepuasnya. "Lo mungkin emang ngerawat dia dari kecil. Tapi, alasannya apa? Karena duit kan? Ya lo ga usah ungkit-ungkit itu di depan anaknya lah. Cih, anak lo pun males sama lo. Kalo punya ibu matre, mending ga usah punya ibu sekalian." cecarku meluapkan sekua emosiku. "Memabgnya kamu tahu apa soal hidup saya!? Saya rela-relain anak di kandungan saya meninggal, berharap kalau dia bisa jadi penggantinya!" ujar lampir ini dengan raut wajah yang pengen gue cabik-cabik.


"Ya itu urusan lo! Dia tau ga!? Dia masih kecil. Udah lewat! Jauh! Otak lo itu di pake buat mikir bukan untuk duduk! Pengganti? Emabgnta barang rusak lo ganti!?" ujar gue dengan nada bicara yang sudah naik beberapa oktaf. 'Enak aja mami dijadiin pengganti anak dia. Gue cari mami kek dia aja susah bener.' batin gue kesal setengah mati.


***


Viona P. O. V.


"Lo ke sini sendirian?" tanya paman Andrew. "Ngga. Bawa temen tadi. Tu lagi di rumah. Biarin lah. Aku mau refreshing bentar. Dia masih betah di sana juga." jawab gue jujur. "Sekolah lo gimana?" tanya om Andrew lagi. "Lancar. Lancar aja kok, om. Ga ada masalah." jawab gue apa adanya. "Oh... Baguslah. Moga sukses." ucap Om Andrew. "Aminn" balas gue.


***


Clara P. O. V


"Heh! Kamu itu kalau ngomong sama yang lebih tua sopan dikit!" ucap lampir ini entah kenapa demen bener ngalihin pembicaraan dah. "Gue udah pernah bilang sama lo. Kalau lo aja ga bisa sopan sama orang lain, kenapa gue harus sopan sama lo? Emang lo siapa? Hanya 'perempuan pengganti' ga lebih." sindir gue yang kesal nya udah sampe urat sabar gue nyaris putus kali.


Ga lama, pintu rumah terbuka. "Dari mana lo?" tanya gue ke Viona. "Refreshing ke rumah tetangga." jawab Viona santai bener astaga-_-. "Oh... Enak bener jawabnya. Gue di sini ceramah ke lampir satu ini lu malah minggat." sungut gue kesal. "Lah? Terus gue harus ngapain? Jadi pendengar dadakan? Males amat." balas Viona sumpah pengen bener mulutnya gue sentil tapi nanti gue ga di kasih uang jajan lagi. Kan ga lucu man.


***


Viona P. O. V


"Yaudah, sono lu lanjut perang. Gue mau nyari barang dulu." ucap gue sambil berlalu ke kamar. Sungguh malas sekali untuk melihat wajah ***** itu. Gue pun masuk ke kamar umtuk mengambil beberapa barang yang sekiranya bakal gue bawa 'pulang' nanti. Seperti beberapa buku, dompet, dan beberapa barang keperluan lainnya. Aku pun memutuskan seluruh barang itu ke dalam tas dan membawanya ke mobil.


"Lo udah selesai belom? Gue mau telfon Elizabeth dulu." ujarku begitu sudah keluar dari dalam kamar. "Udah. Males gue lama-lama liat muka dia. Kapan mau balik?" tanya Clara yang sudah merasa tidak betah. "Kalo lo mau balik sekarang, ya ayo." Ajak gue yang sudah tidak betah di tempat ini. "Gas lah yok balik." ajak Clara sambil menggeret gue keluar rumah.


***


Clara P. O. V


Setelah mendengar Viona bilang gitu tanpa ba bi bu lagi, gue langsung seret dia keluar. Sampai di dalam mobil, Viona mukanya sudah kusut tapi, ia tetap menancap gas pergi dari rumah sialan ini. Di mobil Viona langsung telfon Elizabeth.


"Halo, Beth, lo di hotel kan?..... Langsung pulang aja... Ok. Gue sama Clara juga otw balik. Nanti di rumah gue tinggalin lu berdua. Gue mau langsung ke kantor..... Udah ntar gue beliin makanan dah... Hm. Ya." ujar Viona di telfon laku mematikan sambungan dan kembali fokus ke jalanan.


***


Author P. O. V


Mereka pun kembali ke luar kota. Sebenarnya, bisa saja mereka pulang besok, tapi Clara dan Viona sudah malas berurusan dengan keluarga itu. Terlebih, masih ada pekerjaan yang menanti Viona di sana. Selama di perjalanan, raur wajah Viona kusut. Ia benar-benar di buat kesal oleh keluarganya.


"Ga usah kusut gitu kali mam mukanya." ucap Clara yang sudah bosan melihat raut wajah kusut Viona. "Hm." sahut Viona seadanya. "Kenapa ga ngebut aja bawa mobilnya? Kan lumayan tuh ngilangin stress." usul Clara yang sabgat ingin kebut-kebutan di jalan. "Kebut-kebutan ga legal di sini ini bukan Mexico yang bisa seenak jidat kebut-kebutan di jalan." ujar Viona masih menyetir mobil dengan kecepatan stabil.


*****