Bad Girl X Good Boy Psycopath

Bad Girl X Good Boy Psycopath
Episode 10



"Kasih tau gue, Siapa lo sebenarnya, Lilika Alexandra Viona." ujar Briant dingin. "Haaaahhh!? Maksud lo?" tanya Viona semakin tidak mengerti dengan apa yang tengah terjadi. "Kemarin lo ketemu siapa di bar XX?" mendengar pertanyaan itu seketika membuat Viona terdiam mati kutu. "Oh.... I... Itu... Kawan lama." jawab Viona ngasal. "Kawan lama, heh?" ucap Briant sambil menunjukkan smirknya.


Viona hanya bisa merapal dalam hati semoga nyawanya selamat kali ini. "Jangan ngira gue goblok. Lo kira gue ga tau dia siapa? Si Claude. Pengoleksi kepala sialan itu." bisik Briant di telinga Viona. Seketika itu juga sekujur tubuh Viona menegang. Kalau Briant ada hubungan dengan Claude maka dia ada kaitannya dengan mafia. Apa dia punya hubungan dengan salah satu korban Claude kali ini?


***


Kring... Kring....


Beruntung kali ini bell masuk kelas menyelamatkannya. Jika tidak, ia tak tahu bagaimana nasibnya nanti. "A... Ahahah! Bell udah berdering, kita ngobrol nanti ya! Bye!" Viona langsung ngibrit ke kelasnya. Sepertinya mulai hari ini ia harus menjaga jarak sejauh mungkin dari Briant dkk, jika tidak, nyawa mereka bertiga akan dalam masalah.


Setibanya di kelas, Clara dan Elizabeth langsung kebingungan melihat Viona yang ngos-ngosan. "Kenapa lo?" tanya Clara bingung. "Hosh... Hosh.... Hosh.... Mulai... Sekarang... Hosh... Hosh... Jauhin Briant dkk!!" ucap Viona dengan nafas terputus-putus. "Lah? Nape?" tanya Clara lagi. "Mereka.... Kenal Claude." ucap Viona seketika membuat Clara dan Elizabeth terbelalak kaget.


***


Begitu jam istirahat tiba, mereka bertiga langsung pergi ke atap sekolah. Karena kejadian tadi pagi, membuat mereka harus memikirkan ulang rencana. Setibanya di atap, Viona langsung duduk bersender pada dinding diikuti oleh kedua sejolinya yang duduk di kanan dan kirinya. "Jadi.... Kita harus gimana?" tanya Elizabeth yang otaknya udah buntu duluan. "Gue aja ga tau." balas Clara kesal. "Untuk urusan Claude itu kita bahas di rumah. Yang jelas... Kita sementara ini jauhin mereka dulu. Seenggaknya sampai tu 'barang' sampai di tangan Claude." jelas Viona serius.


"Lo tau kan, kabur dari mereka bukan hal gampang lho. Dan lagi, gimana kalo mereka sda kaitannya sama si 'mr. X' ini?" tanya Clara sambil melirik Viona yang menghela nafas kasar. "Itu yang lagi gue pikirin. Yang pasti sekarang hati-hati aja. Terutama sama Briant, Vincent, Kevin, sama Evan. Mereka berempat kayaknya yang paling berpotensi selain Mark." ucap Viona serius.


***


"Kalau kalian mau bergosip lain kali bisik-bisik aja. Ga enak kalo orang lain yang dengar. Apalagi, kalo dia itu orang yang lagi kalian bicarain loh." ujar seseorang dari atas mereka. Seketika Viona, Clara, dan Elizabeth langsung bangkit dan sedikit menjauh dari posisi duduk mereka untuk melihat siapa orang yang mengganggu 'rapat' dadakan mereka ini.


'****!' umpat mereka bertiga dalam hati. Kelompok yang harusnya mereka jauhi saat ini malah berada di lokasi yang sama dengan mereka. Ditambah lagi dengan tatapan yang cukup tajam. "Oh.... Kami mengganggu kalian ya, kalau begitu permisi." ucap Viona sambil bergegas menuju pintu keluar. Tapi, langkah mereka seketika langsung terhentj begitu Evan dan Mark turun dari atap dan berdiri persis di depan pintu keluar.


***


"Ck." Clara pun berdecak pelan sembari menatap ke sekeliling. Mencoba mencari cara untuk kabur dari 7 lelaki ini. "Kami belum bilang kalau kalian boleh pergi lho~" ucap Mark sambil berjalan menghampiri mereka bertiga. Viona, Clara, dan Elizabeth pun berjalan mundur hingga mereka terhalang oleh palang.


"Lo mau apa?" tanya Elizabeth waspada. "Hm? Cuma nyamperin doang kok." jawab Mark sambil mengangkat bahu sekilas dengan santai. Viona langsung menyikut kedua temannya sebagai kode. Kedua nya langsung paham dan membuat jarak. Antara bingung mau mengejar yang mana atau memang malas mengejar, Mark dan Evan hanya membiarkan ketiga gadis itu melewati mereka.


***


Tapi, Viona, Clara, dan Elizabeth melupakan 1 hal. Member yang lain. Mereka masih ada di atap. Begitu mereka akan mencapai pintu, tiba-tiba saja tubuh mereka di balik secara paksa dan di dorong hingga terantuk dengan pintu dan tembok di belakang mereka. Hingga terdengar bunyi dentuman yang cukup nyaring.


BANGG!!


BRUKKK!!


***


Briant pun langsung mengepalkan tangannya dan meninju Viona.


BANG!!!


Pukulan itu terhenti tepat di sebelah kepala Viona. Tampak, pintu itu sedikit penyok karena pukulan Briant yang cukup kuat. Viona hanya menatapnya datar. Tak ada kilatan takut di matanya. "Jangan coba-coba mancing kesabaran gue. Gue ga segan-segan mukul orang sekalipun itu cewek." ucap Briant dengan nada tajam. "Gue ga mancing. Lo sendiri yang emosi. Memang kenapa kalo gue ga mau kasih tau? Lagian suka-suka gue juga." balas Viona dengan nada bicara tak kalah tajam.


"Briant, stop." ucap Mark sebelum Briant membalas ucapan Viona tadi. "Mau lo paksa dia ngomong sampai kapan juga gue yakin dia ga bakal buka suara." lanjut Mark dengan nada tenang. "Bahkan temen lo aja tau kalo gue ga bakal buka suara." ucap Viona dengan smirk nya.


***


BUAGH!!!!


Pukulan telak pun mengenai Viona. Ia langsung memuntahkan sedikit darah dari mulutnya. Briant benar-benar tidak berbohong dengan ucapannya. Ia benar-benar memukul Viona yang notabene seorang perempuan. Beruntung, Briant tidak menggunakan 100% tenaganya. "Puih!" Viona langsung meludahkan darahnya tepat di sebelah kakinya. Elizabeth dan Clara langsung bersiap untuk protes tapi Viona mengangkat salah satu tangannya mengkode mereka berdua untuk tetap diam.


BUGH!!!


Tak tanggung-tanggung, Viona balas memukul wajah Briant hingga ia melepas cengkramannya pada leher Viona dan sempat mundur 2 langkah. "Lo kira gue apa?" tanya Viona dengan nada dingin nan tajam. Briant hanya mengusap sekilas sudut bibirnya yang sedikit sobek. Setelah itu ia pun menunjukkan smirk-nya. "Menurut lo.... Lo itu apa?" bukannya menjawab, ia justru mengembalikan pertanyaan Viona.


***


"Manusia... " jawab Viona datar. "Nah itu udah lo jawab." balas Briant sambil menunjukkan smirk tipis. "Manusia yang bisa aja membunuh sesamanya sendiri. Bahkan... Juga punya rahasia besar. Sama kek lo." lanjutnya dengan nada tajam. Briant pun terdiam sejenak. Ucapan Viona 100% benar. "Sekarang gue tanya. Lo itu siapa?" tanya Viona datar. Tak ada jawaban dari Briant. "Lo ga jawab kan? Sama kayak gue. Ga usah paksa gue ngomong kalo lo sendiri aja ga ngomong. Dan, buat lo berdua, bisa lepasin kawan gue?" ucap Viona kali ini dengan senyum tipis menghiasi wajahnya.


Kevin dan Vincent tak banyak bicara. Mereka langsung melepaskan cengkramannya. Setelah itu, VCE¹ pun pergi dari atap. Sepeninggal VCE, tiba-tiba saja Briant tertawa cukup keras. "Hahahahahahhaha!" tawa Briant seketika langsung di tatap oleh keenam temannya dengan pandangan aneh. "Lo ga kesambet kan?" tanya Mark sedikit was-was. Briant pun meredakan tawanya. "Gak." jawabnya singkat. "Terus. Lo ketawa kenapa?" tanya Vincent penasaran. "Anak itu... Lumayan menarik." ucap Briant dengan smirk di wajahnya. "Anak itu?" tanya Vincent semakin bingung. "Viona." tebak Kevin datar dan di jawab anggukkan oleh Briant.


***


Sementara itu, di ruangan musik tak terpakai yang lokasinya berada tak jauh dari atap. Viona, Clara, dan Elizabeth berada di sana. Clara sedang duduk diatas box-box yang entah berisi apa sementara Viona duduk di kusen jendela yang sengaja ia buka. Dan Elizabeth, ia sedang berkeliling ruangan, mencari kotak P3K. Tak lama setelahnya ia kembali menghampiri Viona dengan kotak P3K di tangannya. "Itu diobatin dulu." ucap Elizabeth. Viona hanya mengangguk singkat membiarkan Elizabeth mengobati luka di wajahnya.


"Jadi?" tanya Clara tiba-tiba. "Jadi apaan?" tanya Elizabeth yang baru saja selesai mengobati luka di sudut bibir Viona dengan raut wajah bingung. "Jadi mau gimana? Tetep kita bawa itu barang apa nggak?" tanya Clara memperjelas pertanyaannya. "Oh.... Ga tau." jawab Elizabeth sambil menyimpan kembali kotak P3K di tempatnya semula. "Malam ini." ucap Viona datar. "Hah?" Clara langsung mengernyit bingung sementara Elizabeth menantikan kelanjutan kalimatnya.


"Malam ini kita bergerak."


*****