
*Mohon bijak dalam membaca novel ini mengandung konten dewasa dan kekerasan atau kalimat kasar. 🔞
________________
Di Club Malam "HighTeens"
Dug.. Jedag jedug dug jedag dug... Teeett... Huuuuu... Yeeeey... Suara musik clubing dan para pengunjung yang meramaikan suasana club malam tersebut.
Tampak Rasya duduk di sofa panjang sebelah pojok kanan club malam tersebut seorang diri.
Pesan minum dulu kali ya, Violin lama banget deh...!
"Em mas Jay, pesan dong...!" Pekik Rasya memanggil pelayan yang sedang mengantar minuman di sebelah meja Rasya.
Mas Jay pun datang setelah selesai memberikan minuman tersebut lalu menanyakan, "Eh kamu Sya, lama banget nggak ketemu. Pesan apa?"
"Ilusion aja deh mas 2. Sama Morlboring Black Mentholnya 1 bungkus." Ucap Rasya.
"Oke siap...!" Jawab Mas Jay pergi.
Rasya celingukan mencari Violin, dia merasa bosan karena temannya tak kunjung datang.
"Duh sial, kemana si Violin lama banget. Toilet dulu deh." Rasya pergi ke toilet untuk merapihkan diri.
Tap... Tap... Bruuukkk... Rasya yang sedang melangkah menuju toilet itu menabrak seseorang.
Eh? Rasanya nggak asing... Dada yang kokoh ini ditabrak sama gue nggak gerak???
Dia menengadah dan melihat siapa yang ditabrak olehnya.
Wajah ini kok kaya nggak asing ya... Duh, bikin deg-degan aja deh.
"Kamu, Rasya kan...?" Ucap pria yang berdiri tepat di depan Rasya.
Oh? Kok dia tahu namaku? Cowok ini kok mirip sama... Agatha?
Agatha...? Pekik Rasya yang memandangi wajah pria berbadan tinggi tersebut.
"Ah, maaf aku salah orang." Ujar pria itu lalu berjalan melewati Rasya yang masih berdiri di jalan menuju toilet.
Agatha? Kamu pura-pura nggak kenal sama aku?
"Tunggu...! Kamu Agatha kan? Kenapa kamu tidak mengenaliku?" Tanya Rasya memegang tangannya untuk menghentikan langkahnya.
Dia melepas pegangan tangan Rasya, "Lepaskan aku, aku harus menemui seseorang."
Rasya yang melihat punggung Agatha yang semakin jauh hanya memandanginya saja, dia enggan menghentikan langkahnya lagi mengingat sikapnya yang dingin.
Rasya...? Dia semakin cantik, tapi kenapa di tangannya ada tattoo...?
Ucap Agatha bertanya-tanya dalam hati.
Ternyata meja Rasya dan Agatha bersebelahan, dan Agatha tidak duduk seorang diri.
"Hei, Sya. Sorry ya nunggu lama, macet banget hohoho." Ujar Violin yang baru datang langsung duduk di sebelah Rasya.
"Woy, Sya! Kok bengong si? Lo marah sama gue gara-gara kelamaan?" Tanya Violin.
Agatha sama cewek, cewek itu cantik seksi pasti anak orang kaya.
"Ya ampun anak ini lihatin apa si...? Oooh liatin cowok ya ckck!" Sambung Violin.
Rasya masih terus memandangi Agatha yang duduk di meja sebelah, cewek cantik itu bergelayut sangat manja pada Agatha. Rasya merasa jijik dan risih dengan pemandangan itu.
"Ieuuuh menjijikan sekali~" Ujar Rasya mengalihkan pandangan karena Agatha melirik kearahnya.
"Vi, lihat deh. Lo masih ingat kan cowok yang gue ceritain pas itu.?"
Violin sedang mengingat-ingat cowok yang di maksud oleh Rasya.
Cowok yang di maksud Rasya itu cinta pertamanya kan.
"Aha! Gue ingat, namanya Agatha kan hahaha..." Seru Violin dengan keras.
Oooppss... Rasya membungkam mulut Violin dan mengatakan, "Jangan kencang-kencang bodoh, cowok itu ada di sebelah kanan table kita"
"Oh? Mana?" Violin menoleh ke arah kanan.
"Lho Sya, itu cowok itu kok menjijikan banget si pakai pelihara cewek kayak gitu hiiii~" Seru Violin.
"Diem Vi, itu Agatha. Lo lupa dulu pernah dekat sama dia?" Ujar Rasya mengernyitkan dahi.
Sakit yang ia rasa selama ini semakin menumpuk bersamaan dengan rasa cinta yang semakin mendalam. Rasya sangat mencintai Agatha meskipun dia tidak pernah menyatakan perasaannya dan malah mempunyai pacar bahkan memacari sahabatnya sendiri. Dia tetap memiliki perasaan yang sama pada Agatha. Karena bagi Rasya, ia adalah peri yang selalu datang saat dalam kesulitan dan kesedihan.
Walaupun sakit, aku harus bertahan. Aku akan memperjuangkan cintaku kak. Tunggulah sampai saat itu, kamu akan jatuh hati padaku.
Violin geram dengan perilaku Agatha, dengan langkah kaki yang kuat dan wajah murka ia menghampiri Agatha yang sedang bersama perempuan-perempuan itu.
"Hei, Agatha! Jadi seperti ini kelakuanmu setelah putus dariku? Hm? Mentang-mentang sudah menjadi artis, jadi begini kelakuanmu ya? Kamu bahkan mengabaikan dan pura-pura tidak mengenal Rasya yang selama ini menyimpan perasaannya? Sungguh kejam!" Gertak Violin yang geram dengan lantang berdiri mententengkan kedua tangannya.
Melihat Violin memarahi Agatha dengan keras, Rasya hanya terdiam menundukan kepalanya. Dia malu, karena Violin telah memberi tahu pada Agatha mengenai perasaannya.
Duh, Vi kenapa lo kasih tahu soal perasaan gue si.
Tiba-tiba saja Agatha bangun dari duduknya, dan berjalan menghampiri Rasya yang masih menundukan kepalanya.
Agatha membungkukan badannya tepat di depan Rasya dan mendongakkan kepala Rasya dengan satu jarinya.
"Apa benar yang dikatakan Violin...?" tatapan tajam Agatha yang membuat Rasya takut.
"Em itu... A-aku..."
Belum menyelesaikan ucapannya Rasya di tarik tangannya oleh Agatha. Entah kemana Agatha akan membawa pergi Rasya.
"Hei, Agatha mau kemana? Di luar banyak orang, reputasimu bisa hancur dengan gosipku!" Pekik Rasya seraya menghentikan langkah Agatha yang semakin cepat. Tetapi itu tidak ada gunanya, Agatha akan membawanya masuk ke dalam mobilnya.
Brakkkk...
"Pak Jung, bawa kami ke Villa sekarang juga." Ucap Agatha menyuruh supirnya.
Rasya yang duduk di kursi belakang supir itu terdiam menundukan kepalanya. Dia tidak berani menatap Agatha.
Agatha... Aku merindukanmu!
"Jelaskan kenapa ada tattoo di lenganmu!" Tegas Agatha.
"Oh? Tatto. Apa yang harus aku jelaskan...?"
Agatha menatap tajam wajah Rasya, tak sedikitpun terlewat dari pandangannya.
"Lihat! Badanmu menjadi kurus! Dan kenapa kamu mentattoo tubuhmu? Aku sudah bilang bukan, kamu harus menjaga dirimu!" Omel Agatha.
"Aku... Ini kan hak ku, kamu tidak bisa melarangnya!" Jawab Rasya.
"Aku tidak pernah melarangmu untuk merokok dan mabuk asal tidak melebihi batas. Tetapi tidak dengan tattoo, Sya! Aku tidak suka!" Sahut Agatha geram.
"Memangnya kamu siapa sampai aku harus mendengarkan pendapatmu!"
Agatha langsung terdiam mendengar ucapan Rasya.
Di Villa milik Agatha...
Dengan rasa bingung dan ragu, Rasya melangkah memasuki Villa megah milik Agatha.
Ini rumah Agatha? Dia benar-benar menjadi sukses ya sekarang. Ah rumahnya yang di dekat rumahku bagaimana ya?
"Kenapa kamu membawaku ke sini? Aku mau pulang!" Ucap Rasya.
"Hei, kamu tuli ya? Aku mau pulang." Sambung Rasya mendesak Agatha.
"Ikut aku!"
"Tidak, tidak mau kamu mau apa?" Agatha memegang tangan Rasya dan membawanya masuk ke dalam kamarnya.
Brakkk... Ceklek...
Agatha mengunci pintu kamarnya dan melempar Rasya ke dalam ranjang yang luas dan empuk itu.
Sruuukkk...
"Aduh, kamu kasar banget si sekarang!" pekik Rasya segera bangun.
"Diam Rasya, kamu tidak perlu berontak. Kamu belum mandi kan? Ayo ikut aku mandi!" Dengan mudahnya Agatha menggendong badan kecil Rasya dan membawanya ke kamar mandi.
*Adegan di kamar mandi nya sensor ya.
.
.
.
.
.
Bersambung...