Bad Girl Vs Miss Perfect

Bad Girl Vs Miss Perfect
Bab 3 ( Papi. Mami. Aku Rindu! )



Rasya menjalani hari-hari di sekolah dengan sangat berhati-hati. Meskipun ia dikucilkan oleh semua orang. Dia tetap bertahan bahkan dia bisa mempertahankan juara 1 se-sekolah. Wuah hebat ya!


1 tahun kemudian...


"Sya! Tunggu!" Pekik Tania berlari menghampiri Rasya yang masuk toilet.


Hosh... Hosh... Suara napas Tania karena berlari mengejar Rasya.


Rasya yang sedang berjalan langsung menengok ke belakang mendengar ada yang memanggilnya.


"Ada apa Tan sampai lari-lari gitu?" Tanya Rasya.


"Itu... Ada kak Jennita di depan kantor Kepsek! Katanya datang mau ambil raportmu." Jelas Tania yang masih ngos-ngosan.


Masa? Jawab Rasya tak percaya.


"Masa si? Bukannya kak Jenni bilang nggak bisa datang karena prepare fashion show butiknya?" Ucap Rasya dalam hati tak percaya.


"Em baiklah, aku akan segera ke sana setelah buang air kencing ya. Suruh dia menunggu." Ujar Rasya menyuruh Tania dan masuk ke dalam toilet.



"Wah siapa tuh cantik banget ya?" Ujar semua siswa yang melihat Jennita.


"Maaf kak lama. Hosh~ Anu Rasya lagi di toilet, tunggu sebentar ya?" Jelas Tania.


"Oh begitu ya. Kenapa semuanya menatapku seperti itu ya Tan?" Tanya Jennita keheranan.


Tania termenung, dia tidak berani menjelaskan pada kak Jennita mengenai Rasya.


"Nggak apa kok kak, biasa lah kak Jennita cantik gini yakan? Hohoho~" Jelas Tania berdalih.


Kak Jenniiiiiiii? Teriakan Rasya dari lorong terdengar kencang memenuhi seluruh ruangan.


"Mulai deh lebay! Awas saja kalau nilaimu turun, gue skors!" Ujar Jenni.


Akhirnya Rasya mengajak kakaknya ke dalam kelas untuk mengambil raport. Dalam hati Jenni bimbang, "Duh gimana ya? Apa gue bahas soal Rasya di bully ya. Kalau bukan Violin yang cerita masalah ini mungkin sampai jebot juga gue nggak bakal tahu!"


20 menit menunggu, akhirnya giliran Rasya di panggil untuk maju ke depan mengambil raport.


"Tungg sini aja lo ye, nggak usah ikut! Biar gue yang urus, okay?" Ucap kak Jenni menyuruh Rasya tetap duduk di bangku murid.


"Pagi juga." Sahut Bu Weni.


Setelah mengisi daftar kehadiran Bu Weni memberikan raport milik Rasya. "Wah mba Jennita beruntung sekali memiliki adik seperti Rasya. Selamat ya karena Rasya mendapat juara I umum!" Sapa Bu Weni.


Jennita tahu Rasya akan tetap mendapat nilai bagus meskipun pikiran dan hatinya kacau. Dia tahu adiknya berusaha sangat keras karena memiliki ambisi ingin membuktikan kepada kedua orangtua mereka, bahwa Rasya bisa maju meskipun tidak hidup bersama mereka dan kekurangan kasih sayang. Bahkan Rasya sampai begadang untuk belajar semalam suntuk.


"Iya Bu, tentunya saya merasa senang dan bangga. Tetapi kenapa teman-temannya menjauhi Rasya ya?" Tanya Jennita dengan wajah sendu.


Mendengar ucapan Jennita, Bu Weni terkejut. Wajahnya maju dan berbisik "Maksudnya apa ya mba? Tolong katakan dengan jelas."


Jennita sudah menduga bahwa tidak ada satupun pihak sekolah yang mengetahuinya. "Begini Bu, jadi kakak kelas yang bernama Calista dan teman-temannya lah yang melakukannya. Selain bully dan melakukan kekerasan, mereka juga menyebar hoax sehingga Rasya dijauhi teman-temannya." Ungkap Jennita.


Bu Weni sangat terkejut dan terpukul mendengar perkataan Jennita. Dia yang selama ini sangat perhatian kepada muridnya, kok bisa sampai tidak tahu masalah ini. Rasya adalah murid kesayangannya karena selain pintar dia anak yang baik dan ramah. Perempuan berjilbab hijau nan cantik itu terkejut dan ikut merasakan sakit yang mendalam untuk Rasya. Matanya sampai berkaca-kaca. "Ba-bagaimana mungkin nak Jenni? Rasya itu sudah saya anggap seperti anak sendiri, hiks." Sambil mengelap air matanya dia mengepalkan tangannya.


"Nak Jenni tenang saja, saya akan memberikan hukuman pada siapapun yang melakukan bullying di sekolah ini." Ujar Bu Weni.


Jennita menatap semua anak yang duduk di depannya... Dia mencari siapa yang terlibat dengan kasus ini?


Mana anak yang satu geng sama Calista? Belum pernah ngedengerin ceramah Ustadzah Jennita si yak! -,-


____


Di Butik milik Jennita "Younger"


Jennita dan Bu Weni sepakat untuk menyelidiki secara diam-diam kasus bullying yang terjadi pada Rasya ataupun anak yang lain.


Setelah selesai mengambil raport, Jennita mengajak Rasya ke butik miliknya yang berada di Kota X.


"Kak, lo ngajak gue ke butik pasti ada maunya deh." Ujar Rasya.


"Ya emang benar. Bantuin ngrekap! Gue bayar." Ucap Jennita dengan santuy.


Sampai Di Butik...


"Sya, lo pakai ini deh! Cepat!" Suruh Jennita memberikan baju pada Rasya.


Bersambung...