Bad Girl Vs Miss Perfect

Bad Girl Vs Miss Perfect
Bab 4 ( Kalau Ada Mami... )



Jennita sengaja menyuruh Rasya memakai baju yang agak feminim, karena Agatha akan datang mengajaknya pergi.


"Nah, lihat deh Sya. Kamu cantik banget pakai baju kayak gini. Besok-besok tetap seperti ini yaa..." Ujar Jennita memujinya.


Rasya tidak senang dan hanya menjawab, "Paan yang cantik, tattoo gue kelihatan nih!" Jawab Rasya dengan wajah tak senang.


Hahahahahahaha... Suara tawa Jennita yang terkekeh melihat Rasya jengkel.


"Itu kan temporer hahaha ngelawak aja lo ah!" Ungkap Jennita yang masih tertawa.


"Hih ketawa aja terus. Sekarang emang temporer, tapi lihat begitu lulus langsung gue buat asli!" Ujar Rasya.


Mendengar ucapan Rasya yang akan membuat tattoo asli, Jennita reflek memukul adiknya itu.


Plaaaaaakkkk...! Suara tersebut berasal dari paha Rasya yang di pukul oleh Jennita.


"Aw sakit kak! Emangnya gue lalat apa main tabok aja." Pekik Rasya memegangi pahanya kesakitan.


"Assalamualaikum..." Sapa Agatha yang datang tiba-tiba sampai Jennita dan Rasya tak menyadarinya.


Seketika wajah Rasya menjadi merah merona melihat kedatangan Agatha. Dia merasa malu karena penampilannya, terlebih ini pertama kalinya Rasya memakai make up. Good Job, Jennita! Mantuuuullll. 👍


"Ayo Sya! Kamu ngga lihat nih, aku udah dandan ganteng gini buat jalan sama kamu? Ya kan kak Jen?" Ujar Agatha.


Tunggu! Bukannya malam ini ada promnight ya? Jangan-jangan dia mau ajak gue ke acara perpisahan lagi?


Ujar Rasya bertanya-tanya.


Dengan menaiki mobil berwarna hitam mengkilap milik Agatha, merekapun pergi.


Rasya memecahkan suasana canggung di dalam mobil dengan mengajaknya bicara, "Kak, emang kamu nggak ke acara promnight?"


Agatha hanya tersenyum dan melirik ke arah Rasya. "Aku malas, malam ini aku mau jalan aja sama kamu. Kita ken,can ya?" Ucap Agatha dengan wajah serius menatap Rasya yang terlihat gugup.


Ckiiiiiiiiiittttt... Agatha menginjak rem secara mendadak. Ia dikagetkan dengan tinta hitam di tangan Rasya. Sontak ia menarik tangan Rasya, "Sya, kamu bikin tattoo?" Tanya Agatha meraba tangan Rasya.


Rasya yang pipinya menjadi merona karena disentuh oleh Agatha. "Eheiy ini temporer kak slow down okay?" Menarik tangannya yang dipegang oleh Agatha.


"Sya, aku tahu kamu jauh dari papi sama mami kamu. Tetapi jangan sampai itu membuatmu berubah menjadi anak yang nakal ya? Untuk masalah Calista, kamu tenang saja. Aku udah memutuskannya, sekarang dia tidak akan mengganggumu lagi." Ungkap Agatha.


Putus? Kok gue ngerasa lega dan senang ya. Tetapi masih ada Meli yang satu kelas sama gue dan Ditha adik kelas gue.


"Benarkah? Huh akhirnya..."


"Akhirnya? Kenapa? Kamu senang?" Tanya Agatha.


Jelas dong...! Rasya menjawab sangat cepat dan tanpa sadar dia sudah mengakui perasaannya.


Oh? Jadi kamu senang ya? Dengan pelan dan serius Agatha mengatakannya di dekat telinga Rasya.


"Eh kak, enggak bukan gitu. Maksudnya aku senang karena akhirnya Calista lulus kan. Hohoho ayo jalan lagi, ngapain bengonf." Jelas Rasya.


Agatha tersenyum, dia senang karena kelihatannya perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan. "Ah, iya."


Sial, aku benar-benar tak berkutik didepanmu Rasya. Sampai kapanpun aku akan mempertahankan perasaanku ini.


Di Cafe Romantis...


Setelah melalui perjalanan 35 menit dari butik Jennita, akhirnya mereka sampai di cafe "Romantis".


Ketika melihat-lihat pemandangan di sekitar cafe itu, pandangan Rasya berhenti di sebelah selatan cafe itu. "Calista? Itu Calista kan? Yasalam itu kak Calista sama.... Kak Geri?"


Rasya dan Agatha masuk ke dalam cafe tersebut.


Tap... Tap... Tap...


Agatha melihat Calista dan Geri, dia langsung menghampiri mereka.


Drap.. Drap.. Drap.. Suara langkah kaki Agatha yang semakin cepat.


"Oh, jadi seperti ini ya kalian dibelakangku...?" Sapa Agatha dengan lantang.


Agatha yang bediri di depan meja nomor 10 itu hanya menatap dengan tajam dan mengernyitkan dahinya. Ternyata kecurigaannya selama ini benar.


Tetapi hal itu tidak membuat Calista menyesal, justru ia menyerang balik perkataan Agatha. "Hei jaga ucapanmu Ga! Lihat dirimu, kamu juga bersama cewek murahan itu setelah putus denganku kan? Hm? Selama ini kamu mempunyai hubungan spesial kan sama dia? Dasar anak broken home" Pekik Calista kesal.


"Iya benar Ga. Kamu itu orang yang dingin, cuek dan pendiam. Aku saja yang temanmu sejak lama belum pernah mendapat perhatian khusus darimu. Tetapi apa, kamu sangat hangat dan perhatian pada Rasya...?" Ungkap Geri seraya membela Calista.


Cukup! Ingat Calista, aku belum pernah menyentuh Rasya sekalipun. Tetapi kamu? Apa yang sudah kalian lakukan aku tahu semuanya. Yang MU-RA-HAN itu KA-MU...!!!


Rasya yang terdiam di dekat pintu masuk itu akhirnya menghampiri Agatha dan Calista yang sedang beradu argumen. Dia ingin menjelaskan mengenai hubungannya dengan Agatha.


Tap.. Tap.. Tap.. Langkah kaki Rasya berhenti di antara Agatha dan Calista.


"Calista, aku tidak mempunyai hubungan melebihi sahabat dengan Agatha. Dan aku bukan perempuan murahan. Jadi jangan pernah menyebutku murahan...!" Ucap Rasya.


Segera Rasya pergi meninggalkan cafe tersebut dengan penuh air mata dan amarah. Dia merasa sangat tersentuh dengan kata broken home. Bagaimana tidak, selama beberapa tahun tidak bertemu dengan orangtuanya membuat Rasya sedih. Hanya ada kakaknya Jennita yang selalu ada menemani Rasya menghadapi semua masalahnya.


"Hiiiikkss... Hiiiks... Mami....Coba mami di sini, pasti beban di hatiku sedikit berkurang miiii huweee~" Rasya menangis di bangku taman yang letaknya tak jauh dari cafe.


Kak Agatha... Apa dia belum rela melepas Calista? Apa dia terpaksa memutuskan Calista hanya karena kasihan terhadapku...?


___________________________________________


6 tahun kemudian...


"Kak, aku mau macarena nih sama Violin dan Milka. Mau ikut nggak?" Tanya Rasya yang baru selesai berdandan berdiri di depan pintu kamar Jenni.


Setelah mengetahui kakaknya membuat tattoo untuk dirinya. Rasya tidak mengurungkan niatnya untuk pergi. Dia tetap pergi bersama teman-temannya.


"Kak... Jangan sedih-sedih lagi deh yaoow! Ayo ah mending ikut gue macarena sama Violin." Ujar Rasya menghibur kakaknya yang masih meneteskan air mata.


"Enggak ah, kakak malam ini ada janji sama Richard. Sana gih jalan. Ingat jangan mabuk ya! Pulang lho! Awas kalau nggak pulang!" Jennita menyentil hidung Rasya dengan gemas.


"Iya kak, eh kak gaun yang kemarin lo tawarin ke gue mana?"


"Eh tumben? Aaah itu di lemari kakak, ambil gih. Gue mau garap kerjaan dulu sebentar sambil nunggu Richard" Jawab Jennita lalu mengambil laptopnya yang berada di meja.



"Kak gue jalan ya." Ucap Rasya pamit pada kakaknya yang masih memainkan laptopnya.


"Eh tunggu. Duh pas banget di elu ya Sya. Mantul pasti pulang-pulang dapet jodoh hahaha" Ujar Jennita tertawa.


Bersambung...