Bad Girl Vs Miss Perfect

Bad Girl Vs Miss Perfect
Bab 1 ( Macarena )



*Mohon bijak dalam membaca novel ini mengandung konten dewasa dan kekerasan atau kalimat kasar dan tidak sopan. 🔞


Di Kediaman Rasya


"Kak, aku mau macarena nih sama Violin dan Milka. Mau ikut nggak?" Tanya Rasya yang baru selesai berdandan berdiri di depan pintu kamar Jenni.


Karena kakaknya tidak menjawab, Rasya lantas mengetuk pintu kamarnya beberapa kali.


Tokk..tokk...tokkk... Karena tak ada jawaban juga, Rasya mengetuknya lebih keras lagi.


Tokk...tokk...tokk!!! Sampai tangannya menjadi sakit karena terlalu kencang. Karena geram kak Jen tak memberi respon akhirnya Rasya menerobos masuk.


Ceklek... Ternyata pintunya tidak terkunci.


Rasya terkejut sampai bola matanya hampir keluar. Melihat kondisi kak Jen yang seperti itu dia langsung menghampirinya. Rasya tampak kesal, kak Jen selama ini selalu mengkritik penampilan Rasya yang mempunyai tato di beberapa bagian tubuhnya. Tentu saja Rasya terkejut melihat pinggang kak Jen yang bertato.


"Ini asli atau temporer ya? Coba cek ah!" Ujar Rasya mendekati kakaknya yang tertidur pulas.


Rasya menyentuh dan meraba pinggang kakaknya yang terbuka. Dia tidur hanya memakai tangtop dan celana dalam saja tentu saja auratnya kemana-mana.


Oh My God, ini tato asli! Nyata! Sejak kapan kak Jen bikin tato ini? Batin Rasya bertanya-tanya.


Kyaaaaaaaaaaaaa...!!! Jennie terkejut bukan main melihat adiknya yang tengah meraba-raba pinggangnya.


"Ngapain si kamu raba-raba gitu!" Bentak Jennie duduk dan menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Sejak kapan kakak punya tato macan di pinggang?" Sahut Rasya menanyakan tentang tato tersebut.


Jennie hanya menunduk dan terdiam, dia malu dan sedih. Dia tak sanggup mengatakan yang sesungguhnya.


"Ah ketahuan deh hehe. Ya ini kakak buat 1 bulan yang lalu" Jawab Jenni gugup.


Tetapi seorang Rasya, tidak ada satupun orang yang bisa luput dari pengamatannya yang sudah seperti intel. "Kak Jenni bohong kan. Jawab sejujurnya atau aku akan mencari tahu sendiri." Desak Rasya agar kakaknya berkata jujur.


"Baiklah Sya, akan aku katakan." Belum menjelaskan apapun Jennita malah menangis tersedu-sedu.


Hiiikss...Hikks... Huweeeee~ Suara tangis itu berasal dari mulut Jennita.


"Seorang kakak mana yang tega melihat adiknya dikucilkan. Biar impas kakak juga membuat tato, meskipun aku belum berani membuat di bagian yang terlihat" Ungkap Jenni yang masih menangis.


Mendengar jawaban kakaknya itu, Rasya hanya terdiam seakan hatinya dilempari kaca beling yang tajam menancap ke seluruh bagian hatinya. Tubuhnya menjadi lemas, ia tersungkur di ranjang kakaknya. Detak jantungnya menjadi tak karuan dan keringat dingin terus bercucuran menetes bersama air mata yang terus saja keluar. Rasya tak dapat mengeluarkan sepatah katapun, saat ini hanya tubuhnya yang berbicara.


Sejak pindah di Kota Hujan, Rasya tak memiliki banyak teman. Hanya Agatha yang berteman dengannya, semua orang menjauhi Rasya. Berbeda dengan Jennita yang selalu banjir pujian dari semua orang. Jadi orang-orang menjauhi Rasya karena dia terlalu pintar sampai mereka tidak percaya dengan kemampuannya dan mengira Rasya curang dan menyontek. Untung saja itu hanya terjadi di sekolah saja. Di rumah, Rasya memiliki tetangga yang merupakan kakak kelas di sekolahnya.


Saat itu Rasya menduduki bangku SMP, awal memasuki sekolah semuanya berjalan dengan lancar. Tetapi setelah ujian kenaikkan kelas berakhir...


Flashback 6 tahun yang lalu...


Setelah ujian akhir semester berakhir sekolah mengadakan classmeeting. Saat itu adalah perlombaan Volley anak perempuan, karena tidak terpilih menjadi peserta Rasya hanya menonton di bangku penonton.


Rasanya aneh... Di sini ramai, banyak anak-anak tetapi kenapa mereka seperti mengabaikanku ya? Ujar Rasya dalam hati.


Wah ada sms..


Sms dari Agatha : "Sya, kamu di mana? Makan bareng di kantin mau? Aku traktir. Aku tunggu di kantin sebelah barat ya😊"


Bibirnya langsung tersenyum lebar membaca sms dari Agatha. Tanpa ragu-ragu Rasya langsung bergegas ke kantin sebelah barat untuk menghampiri Agatha yang menduduki kelas 3 saat itu.


Di Kantin


"Tahu ih, gatel banget emang ya! Ih geuleuh aku tuh!" Sahut senior Ditha.


Calista si ketua geng senior yang populer itu hanya diam saja. Dia melirik ke arah Rasya yang tengah berbincang dengan Agatha.


"Ini bakso pesanan kamu Sya. Di makan ya, nanti bisa di makan sama Gery lho!" Ujar Agatha menyuruh Rasya memakan bakso tersebut.


Rasya menyadari bahwa ada yang tengah mengawasinya dari jauh. Untuk memastikannya dia menengok mencari siapa yang sedang mengawasinya.


Tepat sekali dugaanku! Uuh geng senior yang alay itu. Mereka dari tadi mengawasiku? Oke akan ku buat mereka panas! Hahaha.


"Kak, nanti nebeng ya. Kak Jenni nggak bisa jemput katanya." Ucap Rasya.


"Oh? Kemana kak Jen? Ya sudah nanti biar Geri pulang bareng Elios saja ya haha" Jawab Agatha.


"Aduh Ga, kasihan Elios dong. Rumahnya kan nggak searah sama aku?" Ujar Geri seraya protes.


Elios yang tengah memainkan handphonenya jadi ikut komen. "Wailah Ger, santai saja kayak baru sekali dua kali saja deh! Ckck" Sahut Elios.


"Hmm ya sudah lah, biarkan pangeran kita mengantar putri Rasya hari ini hahaha" Sambung Geri tertawa meledek Agatha dan Rasya.


Mata Calista langsung terbelalak mendengar ucapan Rasya meminta Agatha pulang bersama.


Sial! Kenapa Rasya akrab banget sama teman-teman Agatha ya? Awas kau Rasya!!!


Gerutu Calista dalam hati.


***


Kring...kring... Suara bel berbunyi tanda jam pelajaran berakhir. Semua murid di sekolah itu tentunya langsung bergegas pulang.


Wah biarpun cuma jadi penonton, ternyata malah di suruh beresin peralatan olahraga dan menata untuk lomba besok.


Ujar Rasya dalam hati yang sedang berkaca di toilet perempuan.


"Heh pec*n! Aku peringatkan ya jauhi Agatha atau akan ku buat reputasimu lebih hancur daripada sekarang?" Ucap Calista yang muncul tiba-tiba dan menjambak rambut panjang berkilau milik Rasya.


Kyaaaaaaa...!!! Rasya berteriak kesakitan, tapi dia tidak hanya diam. Rasya menepis tangan Calista dengan keras dan mendorongnya sampai jatuh.


"Aw! ******! Beraninya kau mendorongku hah? Sini biar ku hajar lebih parah" Teriak Calista bangkit dan menyerang wajah Rasya menggunakan kukunya.


Srekk... Suara itu berasal dari pipi Rasya yang berdarah karena tergores kuku panjang Calista.


Namun Rasya tak membalas. Kondisi Rasya sangat berantakan, rambutnya acak-acakan bajunya juga kusut dan yang paling parah pipi kiri Rasya terluka cukup dalam.


"Awas kau senior saiko! Aku bisa melakukan visum dan menuntutmu untuk hal ini dan sebelumnya." Ucap Rasya dengan wajah menyeramkan.


Dia pergi meninggalkan senior Calista di toilet sambil merapihkan rambut dan bajunya. Tetapi tidak dengan luka di pipi kirinya, dia melupakannya.


.


.


.


.


Bersambung...