
Januari 2020
Mataku terbuka saat mendengar ponselku berdering, aku melirik ke arah jam alarmku dan rupanya saat ini pukul satu pagi. Rasanya ingin sekali aku segera memejamkan mataku kembali dan menikmati waktu istirahat di atas kasur. Namun, aku tahu siapa yang menghubungiku dan aku tak bisa menghindarinya.
"Hai, Rey!" Sapaku dengan suara yang lemah dan mata terpejam. Aku sangat lelah dan mengantuk.
"Kau belum tidur? Uhuk!!" Rey bertanya, bersamaan dengan suara batuknya. Ini bukanlah kali pertama ia mengeluarkan suara batuk.
"Sudah." Jawabku singkat.
"Sungguh? Apakah aku mengganggu?" Ia bertanya lagi.
Aku diam. Sejujurnya aku mulai terganggu tetapi aku tidak bisa menolak panggilannya. Jika jujur, hatiku cukup senang jika berbicara dengannya tetapi aku harus memusnahkan perasaan itu dari hidupku.
Ini bukan kali pertama Rey menghubungiku, tak hanya tengah malam bahkan saat aku bekerja. Aku tahu jika ia memang mengalami insomnia semenjak ibunya meninggal.
"Uhuk!" Ia batuk lagi.
"Kau benar-benar berhenti merokok?" Tanyaku setelah mendengar suara batuknya.
"Tidak, aku masih merokok." Jawabnya.
Ia benar-benar sering berbohong padaku.
"Kamu sungguh akan menikahi pria itu?" Ia bertanya.
"Tidak ada alasan untuk menolak." Jawabku. Jawaban yang berhasil membuat mataku terbuka lebar meski saat ini aku mengantuk.
"Lalu, apa alasanmu untuk menerimanya?" Rey bertanya lagi.
Saat itu aku sangat ingin menjawab 'dia sangat berbeda denganmu sehingga dia takkan membuatku haus akan rindu dan menyakiti hatiku', andai aku bisa. Keadaan psikologisnya membuatku tak bisa menjawab pertanyaannya dengan pernyataan di hati dan kepalaku.
"Rey..." Aku menyebut namanya dan mengabaikan pertanyaannya.
"Iya, Chel?" Balasnya.
"Kau tahu, cinta itu tak hanya mencintai orang lain atau orang yang berhasil memasuki hidupmu. Jika kau mencintai orang lain, tidak akan menghapus kemungkinan jika kau akan disakiti oleh orang lain. Dan-"
"Seperti aku yang menyakitimu, bukan?" Balasnya saat ia memotong perkataanku.
Aku pun menarik nafas dalam, berusaha menata emosi, sedih dan kekhawatiranku.
"Apakah kau mencintaiku?" Tanyaku padanya.
"Tidak tahu." Jawabnya.
"Apa?"
"Hatiku sangat menginginkan kau menjadi milikku, tetapi rasanya aku terlalu jahat jika memiliki wanita sebaik dirimu. Dari segala yang aku alami, hanya ada satu wajah yang berhasil membuatku merindukanmu. Entahlah memang rasanya berlebihan, mungkin saat aku terpuruk hanya kau yang membuatku tersenyum. Aku tak tahu itu cinta atau bukan, tapi ada perasaan egois dalam hatiku yang menuntut agar kau kembali padaku." Lanjutnya.
Kami pun diam dalam beberapa menit. Aku tak tahu apa yang sedang ia pikirkan saat ini. Namun, aku memikirkan hatiku sendiri saat ini. Aku menatap lampu tidur yang menyala di sisi kiriku dengan tatapan kosong. Semua perkataan yang dikatan Rey membuatku bahagia tetapi tanpa diiringi senyuman. Aku masih menyayanginya, itu sebuah fakta. Sayangnya, keputusanku sejak beberapa bupan yang lalu telah bulat yaitu aku ingin mencintai diriku sendiri tanpa disakiti oleh orang lain.
"Rey, terkadang segala sesuatu yang kita cintai akan menyakiti kita. Begitupun saat kita hanya mencintai diri kita sendiri, hal itu akan mungkin menyakiti orang lain. Cinta untuk orang lain atau diri sendiri tidak akan pernah menunjukkan hasil yang sempurna jika keduanya tidak seimbang." Aku mulai mengatakannya dengan hati-hati.
"Jika yang selama ini yang aku rasakan padamu adalah cinta, aku selalu bahagia." Balasnya.
Ia menjadikanku alasan lagi. Ia mencintai dirinya sendiri terlalu berlebihan. Andai dia yang tidak memulai kisah kami, mungkin aku tidak dihantui rasa rindu yang sangat bodoh dan rasa bersalah yang menakutkan.
"Rey, aku masih mencintaimu. Tapi untuk kali ini aku memutuskan dan akan terus berusaha untuk mencintai diriku sendiri. Aku bisa menyayangimu sebagai teman, bahkan sebagai keluarga. Aku akan tetap bersamamu dan mendengar semua hal tentang dirimu." Balasku.
Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Kondisi mentalnya yang tak stabil mampu membuatnya kehilangan nyawa. Sejujurnya aku cukup takut dengan keadaan ini, keadaan dimana ia akan nekat membiarkan nyawanya tak bersatu dengan jasadnya hanya sebuah kata-kata yang mengombang-ambingkan mentalnya. Aku harus melakukan apa?
"Rachel, aku tidak bisa menjadi temanmu." Ia melanjutkan.
"Kenapa?"
"Aku akan berusaha mendapatkan dirimu dan membiarkan kita saling mencintai. Aku akan berusaha."
***
Januari 2012
"Kak, kita putus saja." Ucapku tanpa melihat wajahnya.
Kalimat itu keluar saat ia baru saja berdiri di hadapanku. Baru saja ia turun dari sepeda motornya dan baru saja aku berdiri di hadapannya, kalimat itu mengawali pertemuan kali ini.
"Tidak." Ia menolak.
Aku pun diam dan mulai menatapnya. Ia menyentuh kepalaku dengan lembut. Wajahnya terlihat ia sedang menahan marah. Saat itu hati seorang remaja perempuan sudah ia taklukan hingga aku sangat menyayanginya. Perkataan yang baru saja aku ucapkan cukup membuat hatiku sakit tetapi penolakan yang ia lakukan membuatku sangat lega.
"Kamu marah?" Tanya Rey padaku.
Aku membuang wajahku dari tatapannya. Meski aku menyayanginya, rasa sakit karena ia berkhianat masih menguasai fikiranku. Aku tak menjawab perkataannya.
"Kenapa marah?" Ia bertanya lagi.
"Kalau kamu bosan denganku, silahkan kamu lanjutkan perselingkuhanmu." Balasku. Aku pun menyingkirkan tangannya dari atas kepalaku.
"Iya, aku bosan." Balasnya.
Aku semakin kesal padanya. Ingin sekali menangis karena hati teriris tetapi aku tidak ingin menyianyiakan air mataku untuknya dan dihadapannya, memalukan.
"Siapa yang tidak bosan jika pacarnya lebih banyak menghabiskan waktu dengan tumpukan buku? Kamu tahu apa yang paling membuatku kesal? Saat masalahku memuncak, tetapi aku tidak bisa menceritakannya dan kamu tidak bisa mendengarnya." Ia menjelaskan.
"Baik, kita putus. Mungkin yang aku lakukan itu tidak akan dilakukan wanita itu." Aku mulai ketus.
"Aku selingkuh dengan wanita yang tidak bisa dibandingkan denganmu. Kau pasti datang lagi ke danau bukan? Aku tidak memiliki hubungan dengannya dan wanita itu yang selalu menghubungiku. Aku menganggapnya sebagai teman dan tak lebih." Ia menjelaskan.
Aku pun berbalik dan membelakanginya. Aku berusaha menyembunyikan hatiku yang patah dari ekspresi wajahku. Namun, langkahku terhenti saat ia menangkap tanganku.
"Kamu sungguh ingin kita putus karena wanita itu?" Tanya Rey. Sungguh? Ia masih mewawancaraiku?!.
"Iya!" Jawabku tegas.
"Aku akan menjauh dan tidak akan bertemu dengan wanita itu lagi. Rachel, bukan dia yang aku butuhkan. Bisakah kau memberikan aku kesempatan" Rey memohon dengan mata sendunya.
"Rasanya sulit, jika aku ujian pasti aku akan memilih bersama tumpukan bukuku. Aku rasa wanita itu lebih baik daripada aku." Ungkapku dengan jujur.
"Aku akan selalu memilihmu." Balasnya dengan cepat.
Sejujurnya aku tidak tahu sama sekali apa yang ada dalam fikirannya. Ia meminta padaku agar hubungan kami. Aku memaklumi jika aku adalah wanita yang membosankan, sangat membosankan. Aku sangat menjaga harga diriku, hingga hubungan kami hanya sebatas berpegangan tangan. Rutinitas makan bersama dan berbincang mungkin hal biasa. Aku juga tidak bisa memberikan seluruh waktuku padanya karena aku mengutamakan pendidikanku meski aku menyukainya.
"Perempuan yang kamu temui tidak lebih baik dari dirimu, Rachel. Tapi jika aku bertemu dengan wanita yang jauh lebih baik dari dirimu, pasti aku akan memilihmu." Rayunya, rayuan itu sebenarnya membuatku semakin kesal.
"Kenapa?" Tanyaku.
"Tidak tahu, tetapi tekatku adalah selalu berusaha mendapatkan dirimu dan membiarkan kita saling mencintai selamanya."
Sejujurnya aku memaafkannya saat itu, hanya saja tetap kesal dengan perbuatannya malam itu. Aku memaafkannya bukan karena rayuan anehnya, hanya saja aku aku terlalu mencintainya dan lupa mencintai diriku sendiri hingga melupakan luka yang ada. Saat itu aku berkata di dalam hati 'berjuanglah!' kepadanya.
***