Back To December

Back To December
6. Awal Tahun Baruku



Desember 2011 - Januari 2012


Aku lupa memberikan hadiah kepada Rey. Jika aku menundanya, maka jam ini akan semakin lama diberikan kepadanya. Aku melirik jam dinding, rupanya sudah pukul sepuluh malam.


Aku segera memasuki rumah dan berlari menuju kamar Vino. Aku mengetuk kamarnya beberapa kali, aku berharap agar ia tidak berkencan dengan kekasihnya malam ini.


"Kenapa, Rachel?!!!" Ia membentakku.


Sepertinya kakakku sedang bertengkar dengan kekasihnya karena ia menghabiskan malam tahun baru di kamarnya sambil memainkan game.


"Kak, antar aku! Aku mau ke rumah teman dan ada barang yang harus aku kasih ke dia." Aku meminta.


"Tidak!" Sambil menutup pintu.


"Aku teraktir bakso lima mangkok!" Tawarku sambil menahan pintu kamarnya tetap terbuka.


"Bakso tiga mangkok dan pulsa lima puluh ribu!" Tawarku.


"No!"


"Bakso tiga mangkok, pulsa lima puluh ribu dan aku bantu kakak supaya kak Anya maafin kakak." Tawarku lagi.


Tanpa berfikir panjang pun, kakak laki-lakiku menyetujui hal itu. Untuk memakai jasanya aku harus berhemat selama lima hari. Menyebalkan!


Kak Vino pun mengantarkan aku ke rumah Rey. Aku pun melihat arlojiku rupanya lima menit lagi pukul dua belas, semoga ia belum tidur. Aku pun memaksa agar Vino mengendarai mobilnya lebih cepat karena khawatir Rey akan tidur. Rey tidak pernah menerima atau membalas pesanku jika sudah diatas jam sembilan malam, mungkin diatas jam itu ia sedang beraktivitas lain atau bahkan sudah tertidur.


"Anak laki-laki biasanya tidur jam dua malam, Chel!" Vino membalas, ia tidak suka jika aku terus mendesaknya mempercepat laju mobilnya.


"Kamu sms dia, bilang kamu lagi di perjalanan menuju rumahnya. Bilang kalau kamu cuma mampir lima menit karena kakakmu yang baik hati ini gak mau menunggu lama dan gak mau dipanggang sama mamanya." Lanjut Vino.


Aku baru sadar jika aku tidak membawa ponsel. Aku tidak bisa mengabari Vino lagi.


"Pacar kamu?" Tanya Vino.


"Katanya dia mau lamar aku kalau selesai sekolah." Jawabku. Vino tertawa geli mendengarnya.


"Gak akan! Sekolah kamu aja berapa lama, Rachel! Haha." Ia memang kakak yang menyebalkan.


Aku pun melewati danau yang baru saja kami kunjungi. Melihat danau ini kembali mengingat kejadian yang baru terjadi beberapa saat yang lalu.


Mataku membesar saat melihat sesuatu.


"Berhenti, kak!!!" Aku berteriak dan Vino menginjak rem mobilnya.


Malam tahun baruku tidak hanya melihat kembang api di langit. Satu hal yang tidak pernah terbayang oleh diriku sendiri. Awal tahun baruku diisi untuk menyaksikan Rey memiliki wanita lain. Aku berusaha menahan air mataku karena aku tidak ingin Vino mengetahui apa yang aku lihat, tetapi rasanya sakit sekali. Pengkhianatan itu muncul di malam yang indah.


Pria itu merangkul seorang wanita yang memang terlihat lebih cantik dan penampilannya lebih menarik. Mungkin bukan aku cita-cita ketiganya, tetapi wanita itu.


"Pulang, kak. Aku mau buang air besar." Aku berbohong agar Vino tidak mencurigai keadaan ini. Aku tidak ingin membuat kakak terbodohku khawatir.


***


Desember 2019 - Januari 2020


"Aku memilih Harri. Aku tidak akan memilihmu, Rey. Aku tak pernah melarangmu untuk menemuiku, tetapi aku harap tujuan pertemuan kita bukanlah mengungkit masa lalu. Aku-"


"Mengapa kau mengakhiri hubungan kita sesadis itu?" Ia memotong perkataanku dengan pertanyaannya.


Aku diam.


"Karena aku merokok?" Tanya Rey dengan mata yang membesar ke arahku.


"Itu mungkin salah satu dari empat alasan. Tapi kau sudah tahu jika aku selalu memaafkanmu meski kamu merokok." Jawabku.


"Maksudmu?" Tanya Rey. Ia tidak paham, lebih tepatnya tidak tahu jika aku mengetahui kejahatannya kepadaku.


"Empat kesalahan, dan diantaranya tiga kesalahan yang tidak bisa aku maafkan." Jawabku.


"Namanya Claudia, bukan? Wanita yang menjadi selingkuhanmu." Aku membalas. Rey pun menatap langit.


Aku pun melangkah pergi. Rey pun menutup matanya dan ia kembali menangis. Suara tangisannya menghentikan langkahku. Kepalaku rasanya hampir pecah, memang seharusnya aku tidak memberi tahunya tentang kesalahannya di masa lampau. Namun, aku juga ingin mengakhiri kisahku dengannya.


Aku pun memeluknya, ia menangis lepas kedua kalinya di hadapanku. Apa yang harus aku lakukan? Aku ingin mengakhiri perasaanku kepadanya tetapi mengapa hal ini terjadi.


"Aku bisa menjadi temanmu." Ucapku sambil menepuk pelan punggungnya.


"Tidak bisakah kita memulainya lagi? Maafkan kebodohanku, Rachel." Ucapnya.


Ia pun menatapku. Matanya yang sangat sendu sangat dekat dengan mataku. Air matanya terhenti dan ia semakin menatapku. Aku pun melepas pelukanku dan memalingkan wajah ke arah langit.


Kembang api pun mulai menyala, tiupan terompet pun terdengar di telingaku. Suara orang-orang yang meneriaki "selamat tahun baru!" pun membuat suasana semakin ramai.


Tanpa aku sadari, Rey pun mencium keningku secara tiba-tiba. Ia pun menangis kembali. Aku tidak tahu harus bersikap seperti apa kepadanya.


"Aku harus bertemu keluargamu. Ayo, antar aku!" Aku pun menarik tangannya.


Langkahnya yang terhenti memaksaku untuk menghentikan langkahku. Aku pun menoleh ke arahnya, ia hanya menundukkan kepalanya.


"Ibuku baru saja meninggal di bulan Juli dan ayahku masuk penjara. Kau mau menemui adikku yang terdiagnosis skizofrenia? Ia sudah gila, mungkin aku akan sepertinya."


Aku tidak menyangka jika hidupnya akan sehancur ini. Saat ini ia membutuhkanku untuk bertahan hidup. Aku dapat mengakhiri perasaanku jika aku mengakhiri kisahku dengan pria di hadapanku. Jika aku menolongnya dan melanjutkan kisah kami, apakah aku mampu mengakhiri perasaanku kepadanya?


[Jangan pulang terlalu malam. Apakah perlu aku jemput?] Harri mengirimkanku pesan.


[Harri, maaf aku berbohong. Aku tidak bersama Lia dan Mei.] Aku membalas.


[Kamu dimana? Siapa yang menemanimu?] Balas Harri dengan cepat.


[Di rumah sakit tempat kita kerja, bersama mantan kekasihku. Bisakah kau menjemputku?] Balasku yang tak tahu malu.


[Tunggu aku, aku akan kesana.] Balas Harri tanpa butuh waktu lama.


[Terimakasih sudah jujur, aku semakin mencitaimu.] Lanjutnya.


---


Dua Jam yang Lalu


[Rachel dimana?]


Harri mengirimkan pesan kepada Mei dan Lia.


[Rachel minta aku bohong untuk bilang kalau dia sedang kumpul dengan dia. Dia sedang bertemu mantannya.] Balas Lia. Balasan yang sangat membuat Harri sakit hati.


[Cemburu, ya! Hahaha.] Balas Lia lagi.


[Dia pasti punya alasan yang tepat mengapa ia harus berbohong.] Balas Harri.


[Rachel sedang membuka hatinya untukmu. Dia sudah menggembok hatinya selama ini, bersabarlah. Good Luck!] Lia memberi semangat.


Tak lama ponsel Harri berdering. Rupanya panggilan masuk dari Mei.


"Mendapatkan Rachel sangat mudah, cukup jadi pria impiannya." Ucap Mei saat saudara jauhnya menerima panggilannya.


"Bagaimana?" Tanya Harri.


"Sebagian besar pria yang menyukai wanita pasti melakukan itu." Balas Rey.


"Ia menyetujui perjodohan itu, itu tidak mudah baginya karena sudah banyak pria yang ia tolak mentah-mentah. Tunggu saja! Jika ia sudah jujur kepadamu, artinya peluang semakin besar. Kau cukup menjadi pria yang baik, perhatian dan pengertian untuknya." Mei pun mengakhiri panggilannya.


Harri tahu jika keputusan Rachel untuk menyetujui perjodohan itu adalah keputusan yang sangat sulit. Ia hanya perlu menunggu dan kembali berjuang.


****