
Aryna tidak tau lagi harus melakukan apa sekarang. Mencari pekerjaan? Sebenarnya ia sudah direkomendasikan sebuah perusahaan oleh salah satu dosen dikampusnya. Tentu saja perusahaan itu berada di Amerika. Namun, sebelum mengambil keputusan, Aryna lebih memilih untuk pulang terlebih dahulu ke Indonesia. Niat awalnya adalah menemui Arvin, berbincang sebentar, menanyakan kabar, meminta maaf, dan... kesempatan.
Tapi ternyata ia mendapat kabar bahwa pria itu akan menikah. Yang dikonfirmasi langsung oleh pria itu sendiri. Aryna sadar, ia telah meninggalkan Arvin lebih dari 3 tahun, dan pastinya sangat mudah bagi Arvin untuk menemukan pengganti Aryna.
Mana yang lebih sakit, ditinggalkan seseorang karena mengejar mimpi atau ditinggalkan seseorang karena pernikahan?
Aryna sadar ia salah, tapi ia tidak akan pergi jika Arvin tidak turut serta mengizinkannya.
Apakah semua ini memang sepenuhnya salah Aryna?
Kalau dirinya memang bersalah, untuk itu Aryna meminta maaf. Tapi kenapa Arvin berkata untuk melupakan segalanya?
Aryna menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir pikiran-pikiran yang mulai membuat dadanya sesak. Ia menghalau air mata yang lagi-lagi akan turun kepermukaan pipinya. Aryna memutuskan untuk melanjutkan naskah yang dikerjakannya. Ya, kerjaan sampingan Aryna adalah penulis. Walaupun ia masih baru dalam hal ini.
Kata demi kata sudah tertulis di sana, Aryna hanya perlu menulis bagian akhir dari cerita itu. Bagian akhir yang seharusnya membahagiakan. Tapi Aryna mengubah bagian itu.
Akhirnya, Leo dan Kanaya tidak bisa bersatu. Mereka harus berpisah.
Sudah tidak ada kesempatan untuk Kanaya meminta maaf. Karena sekalipun ia meraung, menangis dan berteriak, Leo tetap tidak akan mendengarkannya. Leo tidak akan pernah kembali padanya. Karena Leo sudah ‘bahagia.’
Mereka berpisah dengan cara yang teramat menyakitkan. Mereka berpisah hingga tak ada kesempatan kedua untuk bersama.
Sudah. Seperti itu cukup. Kata-kata itu cukup untuk mewakili bagian akhir cerita yang Aryna buat. Apakah kisahnya juga akan sama dengan naskah yang dia buat sendiri? Aryna pun tidak tau, karena sekalipun ia mengingkan akhir yang bahagia, jika Tuhan tidak menghendakinya. Pemilik akhir yang bahagia bukanlah dirinya.
Ia menyimpan naskah mentah itu dalam satu file. Berniat untuk me-revisinya nanti, dan mengirimkannya kepada salah satu perusahaan penerbitan.
Tapi tidak untuk sekarang. Ia masih akan menyimpan naskah itu untuk dirinya sendiri. Sampai waktu menjawab apa yang harus dilakukannya kedepan.
Bertahan sudah tidak mungkin, karena Aryna tidak bisa menahan Arvin agar tetap bersamanya. Kalau ia benar-benar melakukan itu, keegoisannya akan terulang kembali. Dan Aryna tidak mau melakukan kesalahan lagi.
Keegoisannya sudah membuat Arvin menjauh, akankah ia melakukan kesalahan yang sama dan membuat Arvin semakin tak tergapai? Tidak. Melepaskanlah jalan terbaik. Aryna tidak bisa terus menerus menangisi kesalahannya.
Tapi apa yang harus Aryna lakukan?
Seharian di rumah membuat Aryna bosan, apalagi bertahan di satu tempat yang hanya akan mengingatkannya akan sosok Arvin. Yang ada malah membuat dadanya semakin sesak. Arvin yang di ruang tamunya lah, Arvin yang berada di dapurnya lah, Arvin yang menjahilinya ketika mereka menonton televisi bersama.
Bayangan dari kenangan itu seakan memenuhi kepala Aryna. Membuat Aryna tidak bisa memikirkan hal lain selain Arvin.
Justru itu, ia lebih memilih untuk jalan-jalan sebentar menghirup udara segar.
Aryna memutuskan untuk pergi ke taman komplek, karena itu satu-satunya tempat yang bisa di kunjungi dengan berjalan kaki. Tentu saja karena jaraknya dekat dari rumah Aryna.
Ia memilih untuk duduk di salah satu bangku yang tersedia di taman itu. Lalu matanya memperhatikan keadaan sekitar. Banyak anak-anak kecil bermain di sini.
Hari sudah hampir siang, terik matahari sudah mulai terasa panas di kepala. Tapi seakan bocah-bocah itu tak lelah dan tidak peduli akan terik mentari. Mereka tetap bermain ayunan.
Aryna memperhatikan itu dalam diam, hatinya menghangat kala melihat seorang anak perempuan yang bermain bersama ibunya.
Lagi-lagi bayangan ketika ia memiliki anak -dan Arvin sebagai ayahnya- datang menghampiri benaknya. Dalam angannya, Aryna akan berbahagia nanti bersama Arvin dan juga anaknya. Bermain ke taman pada hari libur. Menikmati quality time sebagai keluarga kecil yang bahagia.
Sial. Kenapa di saat ia ingin melupakan Arvin, ia malah memikirkan pria itu. Aryna menggelengkan kepala, berusaha mengusir pemikirannya.
Aryna memilih untuk melangkahkan kakinya menuju mini market terdekat. Saat ini dirinya membutuhkan sesuatu untuk menambah mood-nya yang sudah jatuh dari kemarin. Sepertinya ice cream coklat adalah pilihan yang tepat.
Saat ia sudah mengambil apa yang diinginkannya ditambah beberapa camilan tambahan, ia langsung menuju kasir untuk membayar barang belanjaannya.
Namun sialnya, saat itu juga matanya menangkap sosok pria bersama seorang wanita bergandengan tangan memasuki mini market.
Shit. Itu Arvin dan juga... Eva.
A/N : WOHOOOO... 700 words, amazing wkwk biadanya Aku kalau nulis cerita ini batasin cuma 500 words lhooo...
makanya like dan komentar dong, itung-itung kasih Aku semangat hehe^^