Back To December

Back To December
Back To December. 05



Benar-benar hari yang sial. Kenapa pula Aryna bisa bertemu dengan Arvin di tempat seperti ini? Aryna tau bahwa minimarket adalah tempat umum, yang siapa saja bisa mendatanginya. Tapi bukankah aneh kalau Arvin harus jauh-jauh ke minimarket yang berdekatan dengan rumah Aryna? Untuk apa?


Karena yang Aryna tau, rumah Arvin bukan di daerah sini. Entah kalau rumahnya Eva. Aryna tidak mau peduli.


Tadi ia langsung membayar belanjaannya tanpa menoleh lagi ke arah Arvin. Ia benar-benar melangkahkan kakinya cepat agar ia bisa sampai ke rumah. Karena Demi Tuhan, Aryna belum siap melihat wanita lain bersanding dengan Arvin.


“Bikin mood gue makin buruk aja!” Rutuk Aryna pelan.


Aryna tidak siap membandingkan dirinya dengan calon istri dari Arvin. Dirinya merasa begitu kecil, atau bahkan tak terlihat. Aryna dengan segala keegoisannya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Eva. Eva yang selalu ada untuk Arvin saat dirinya meninggalkan pria itu demi mengejar ambisinya.


Apakah Aryna bisa melakukan keegoisan sekali lagi? Satu keegoisan saja sudah cukup untuk menghancurkan hatinya.


Bahkan saat ini ice cream coklat yang dibelinya terasa percuma karena tidak bisa mengembalikan mood-nya. Bayangan Arvin yang terlihat bahagia dengan Eva kembali berputar-putar dalam benaknya.


Eva yang begitu cantik. Eva yang begitu sempurna. Eva yang begitu pengertian. Eva yang berbeda sekali dengan Aryna.


Eva... benar-benar sempurna. Aryna benci mengakui bahwa Eva terlihat jauh lebih pantas untuk bersanding dengan Arvin.


Aryna tidak mau terus-menerus terjebak dengan perasaan ini. Aryna tidak mau terus menyesal. Setidaknya ia harus bangkit. Arvin juga sudah pasti akan berbahagia dengan Eva, kenapa Aryna harus terus terjebak dengan rasa bersalah?


Aryna mengambil ponselnya, lalu men-dial nomor Rena. Ia ingin mengajak Rena untuk makan siang bersama. Masih terdengar nada sambung di sana, Aryna menunggu dengan sabar sampai Rena menjawab panggilannya.


“Hallo, Ryn. Kenapa?” suara di sebrang sana membuka pembicaraan.


“Hallo, Ren. Gue mau ngajak lo makan siang bareng, gimana? Bosen nih.”


“Yaudh, kita makan di cafe biasa aja gimana?”


“Oke, nanti gue kabarin ya kalau udah sampe.”


Dan panggilan pun terputus. Aryna langsung bergegas untuk bersiap-siap, mengambil tas kecil dan ponselnya. Dan langsung menuju tempat di cafe di mana ia sering janjian bersama Rena.


Aryna masuk ke dalam mobilnya dan menyalakan mesin mobil. Membawa mobil yang dikendarainya membelah jalanan padat kota Jakarta. Ia mengendarai dengan kecepatan yang rata-rata dan juga santai. Ia tidak ingin emosi mengambil alih jiwanya dan menyebabkan dirinya kecelakaan.


Sungguh, Aryna tidak mau mendengar kabar kecelakaan apalagi disebabkan oleh patah hati. Ia tidak ingin mati dengan konyol.


Saat ini ia sudah sampai di tempat tujuan. Ia langsung menghubungi Rena sebelum turun dari mobil. Ia membuka aplikasi chat dan mengabari Rena bahwa ia sudah sampai di cafe tujuan mereka.


Aryna memilih untuk mencari tempat duduk dahulu sebelum memesan makanan, ia akan memesan makanan nanti ketika Rena sudah datang. Ia tersenyum ketika melihat Andre –owner cafe yang sudah akrab dengan Aryna– menghampirinya.


“Lho, Aryna kan? Sejak kapan balik ke Jakarta?” Andre yang notabene-nya mengetahui bahwa Aryna tengah menempu pendidikan di Amerika lantas kaget saat melihat cewek itu berada di sini.


“Belum lama, sih. Baru beberapa hari ini, Ndre.” Aryna kembali mengulas senyum.


“Oh ya, mau pesan apa nih?”


“Gue nunggu Rena datang dulu, Ndre.” Andre mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Gue kira lo lagi nungguin Arvin.” Andre juga mengenal Arvin, tapi ia jelas tidak mengetahui apa yang telah terjadi antara Aryna dan Arvin.


“Nggak kok, gue lagi nungguin Rena. Nggak mungkin kan, gue nungguin calon suami orang.” Niat awalnya hanya ingin bercanda, namun melihat wajah bingung Andre, Aryna menjadi canggung sendiri.


“Calon suami orang, maksudnya?” Lelaki itu sungguh tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Aryna. Siapa yang akan menikah? Kenapa Andre tidak tahu? Sebenarnya Andre juga berteman baik dengan Arvin, karena ia adalah teman Arvin semasa SMA.


“Iya. Kan Arvin sebentar lagi mau nikah. Masa lo nggak tahu?”


Andre semakin mengerutkan dahinya bingung. Ia tidak pernah mendengar kabar bahwa Arvin akan segera menikah. Baru saja Andre ingin mengajukan pertanyaan lagi, tapi Rena sudah datang dan duduk disampingnya. Lantas ia menyapa Rena dengan mengulas senyum.


***********


Mereka telah selesai makan siang, tapi belum beranjak dari cafe tersebut. Kini Aryna tengah mengaduk-aduk gelas minumannya yag tersisa sedikit. Hari semakin siang, jalanan di kota Jakarta pasti terasa sangat panas. Untung saja Aryna membawa mobil.


“Oh iya, Ren. Andre kenapa bingung gitu ya pas gue kasih tau kabar pernikahan Arvin?” Aryna ingat sekali raut wajah bingung Andre tadi. Saat ia bersiap untuk mendengarkan omongan selanjutnya dari Andre, Rena langsung memotongnya.


“Mungkin... Arvin belum ngasih tau kali, Ryn.”


Hanya itu jawaban Rena, tapi tidak mengurangi rasa penasaran dalam diri Aryna. Karena setahu dirinya, Andre dan Arvin lumayan dekat. Apalagi mereka pernah satu kelas selama 3 tahun di masa SMA. Tidak mungkin kalau Andre tidak mengetahuinya.


Entah kenapa, Aryna merasa ada yang aneh.


A/N : Ayo dong like dan komentar, author butuh asupan semangat nih... hiks😢😢😢